Kamis, 11 Juni 2015

Sekolah rumah

Manusia sedang kembali ke asal mulanya, ke keadaan tanpa lembaga-lembaga, kembali ke fitrahnya. Sebab lembaga-lembaga yang manusia dirikan telah menjadi sarang kejahatan, tidak bisa dipercayai, dan malah merusakkan.

Lembaga pemerintahan, lembaga DPR, lembaga hukum, lembaga agama, lembaga gereja, lembaga amal, lembaga sosial, lembaga pemasyarakatan, lembaga sekolahan, dan lain-lainnya. Bangsa Amerika sebagai bangsa yang mendahului kemajuan, kini mulai menyadari tiada gunanya lembaga-lembaga itu. Khususnya dalam masalah pendidikan anak, mereka lebih suka menangani sendiri dari pada anak diserahkan ke lembaga pendidikan atau sekolahan.

Sebuah lembaga sedianya dimaksudkan sebagai pengganti kepribadian seseorang, merupakan system yang dirancang sempurna seperti mesin untuk menghasilkan kebaikan sebagaimana yang diharapkan. Contohnya UUD 1945 dimaksudkan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila. Namun pada kenyataannya UUD 1945 masih bisa diotak-atik, diamandemen oleh kekuasaan seseorang. Saya tidak mengatakan amandemen itu lebih baik atau lebih buruknya, tapi kekuasaan seseorang itu bisa merubah system, sehingga akhirnya kelembagaan itu bukan lagi berupa lembaga, melainkan menjadi pribadi. Akibatnya suatu peraturan bisa diubah-ubah menurut selera siapa yang memimpin.

Misalnya, ketika SBY yang menjadi presiden, seharusnya SBY itu presiden, bukan presiden itu SBY. SBY presiden terjadi jika SBY menuruti aturan kepresidenan, sehingga SBY bukan SBY, melainkan seorang presiden yang bekerja menurut garis-garis yang telah ditetapkan. Tapi jika SBY tidak hidup menurut garis-garis kepresiden, maka yang terjadi presiden itu SBY. Kalau sekarang presiden itu Jokowi, sehingga pemerintahannya bercorak kepribadian Jokowi, bukan bercorak presiden Republik Indonesia.

Hal demikian itulah yang terjadi di semua lembaga, termasuk lembaga pendidikan. Setiap ganti menteri ganti pula peraturannya. Ganti pimpinan ganti aturan berdasarkan kepribadian pemimpin tersebut. Kelembagaannya hilang, yang kelihatan pribadi pemimpinnya. Itu bukan lagi lembaga melainkan seperti perusahaan perseorangan. Lembaga itu bukan milik bersama, melainkan telah menjadi milik pribadi yang dikendalikan seenak-enak ususnya sendiri. Jika pemimpinnya baik, baiklah aturannya, jika jahat, jahat pula aturannya.

Kalau kelembagaan sudah berubah menjadi kepribadian, ya buat apa kita pergi ke lembaga? Mending pergi ke pribadi. Buat apa ke sekolahan, mending mencari guru yang kita cocoki.

Begitu pula dengan lembaga amal. Ketika lembaga amal sudah tidak bisa dipercayai, maka masyarakatpun lebih suka menyalurkan sumbangannya ke yang berhak secara langsung. Ketika lembaga gereja sudah tidak bisa dipercayai, maka orang pergi ke Alkitab secara langsung - belajar otodidak.


Sekolah rumah

http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_rumah

Sekolah rumah atau Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, dibawah pengarahan orangtua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.
Homeschooling Bukanlah lembaga pendidikan, bukan juga bimbingan belajar yang dilaksanakan di sebuah lembaga. Tetapi homeschooling adalah model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai guru utama dan bisa juga mendatangkan guru pendamping atau tutor untuk datang ke rumah. Homeschooling juga bukan berarti kegiatannya selalu dilaksanakan di rumah, siswa dapat belajar di alam bebas baik di laboratorium, perpustakaan, museum, tempat wisata, dan lingkungan sekitarnya. Tetapi inti dari homeschooling tetap yaitu model pendidikan yang dilaksanakan di rumah dengan orang tua sebagai guru utama.
Para orangtua memiliki sejumlah alasan yang membuat mereka memilih model pendidikan homeschooling untuk anak-anak mereka. Tiga alasan yang kebanyakan dipilih oleh orangtua di Amerika Serikat adalah masalah mengenai lingkungan sekolah, untuk lebih menekankan pengajaran agama atau moral, dan ketidaksetujuan dengan pengajaran akademik di sekolah negeri atau sekolah swasta.
Saat ini, homeschooling sangat populer di Amerika Serikat, dengan persentase anak-anak 5-17 tahun yang diberikan homeschooling meningkat dari 1.7% pada 1999 menjadi 2.9% pada 2007.[1]

Homeschooling di Indonesia

Makna homeschooling di Indonesia telah disalah artikan oleh beberapa pihak. Saat ini banyak lembaga pendidikan non-formal yang berdiri dengan menggunakan merek homeschooling tetapi kegiatan belajar dilaksanakan di lembaga. Tentunya hal ini tidak jauh berbeda dengan model sekolah non-formal lainnya. Padahal di luar negeri tidak ada istilah lembaga homeschooling, kecuali konsultan homeschooling, atau komunitas homeschooling. Adapun terkadang orang tua memanggil tutor datang ke rumah melalui perusahaan jasa penyedia tutor atau semacam lembaga les privat, atau juga mencari tutor dengan cara mencari informasi pada konsultan homeschooling dan komunitas homeschooling.
Di Indonesia, homeschooling semakin dikenal masyarakat setelah berdirinya beberapa lembaga pendidikan non formal elit yang menggunakan merk homeschooling. Selain itu, banyak para artis, seniman, hingga atlet memilih model pendidikan seperti ini. Hal ini membuat homeschooling terkesan esklusif dan hanya untuk kalangan masyarakat menengah keatas. Padahal pada hakikatnya, kegiatan homeschooling dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dari kalangan menengah atas hingga kalangan menengah bawah dengan syarat orang tua benar-benar mengatur model kegiatan belajar mengajar dan kurikulum yang paling efektif, sesuai dan benar bagi anak-anaknya.

Macam-Macam Homeschooling

Ada Beberapa klasifikasi model homeschooling diantaranya:[2]
1. Homeschooling tunggal
Model ini dilaksanakna dalam satu keluarga dan tidak bergabung dengan keluarga lainnya yang melakukan homeschooling terhadap anak-anaknya.
2. Homeschooling majemuk
Model ini dilaksanakan oleh beberapa keluarga dengan kegiatan-kegiatan tertentu juga kegiatan pokok dan kegiatannya tetap dilaksanakan di rumah masing-masing.
3. Komunitas homeschooling
Komunitas homeschooling adalah gabungan dari komunitas majemuk dan mereka menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan hal-hal lainnya.

Apa Keuntungan dan Kerugian Homeschooling?

http://101301025s.blogspot.com/2011/01/apa-keuntungan-dan-kerugian.html

Pada posting sebelumnya, saya sudah membicarakan mengenai cara-cara untuk menjadi pengajar yang efektif. Yang ingin saya ketahui adalah mengenai fenomena pendidikan tentang adanya Homeschooling?? Apakah Homeschooling bisa menjadi suatu proses pengajaran yang baik?? Apa keuntungan dan kerugian dari Homeschooling ini sendiri??

Untuk menjawab pertanyaan mengenai homeschooling tersebut, saya sudah berusaha mencari berbagai referensi ilmiah. Oleh karena itu, saya akan mencoba membahasnya berdasarkan referensi yang saya baca.


Homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar, teratur dan terarah yang dilakukan oleh orangtua atau keluarga (kadang menggunakan bantuan tutor) dan proses belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang kondusif. Biasanya Homeschooling adalah program pendidikan alternatif yang memungkinkan anak untuk berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Untuk masalah mengenai apakah Homeschooling itu baik atau tidak, sebenarnya banyak sekali pandangan yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan Homeschooling itu jauh lebih efektif. Ada juga yang mengatakan program pendidikan reguler di sekolah jauh lebih baik. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh adanya keuntungan dan kerugian dari Homeschooling itu sendiri.


Adapun beberapa keuntungan dari Homeschooling adalah:

1. Jadwal yang fleksibel. Artinya orangtua bisa mengatur sendiri suatu waktu belajar yang cocok untuk anak.
2. Anak lebih bisa memperdalam ilmu pengetahuan yang diminatinya.
3. Bisa mengetahui kegiatan anak. Ini merupakan salah satu keuntungan terbesar dari Homeschooling karena orangtua dapat mengamati bagaimana anaknya belajar dan tumbuh setiap hari.
4. Lebih dapat bergaul dengan orang dewasa sebagai panutannya.
5. Suasana belajar yang lebih baik dan kondusif.
6. Anak diberi kesempatan untuk terjun langsung mempelajari materi yang disediakan, jadi si anak tidak hanya belajar teori saja.
7. Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olharaga keluarga.
8. Anak terlindung dari tawuran antar pelajar, kenakalan dan sebagainya.

Bila ada keuntungan, maka pasti akan hadir yang namanya kerugian Homeschooling. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Waktu orangtua tersita banyak. Biasanya dalam Homeshooling, orangtua akan sibuk mengurusi pelajaran anak sehingga menjadi tidak punya waktu banyak untuk mengurusi hal lainnya.
2. Butuh tenaga ekstra. Dalam hal ini orangtua harus bekerja ganda yaitu menyiapkan pelajaran anak, membersihkan rumah dan sebagainya.
3. Salah satu kerugian dari Homeschooling yang cukup besar adalah mengenai perbedaan sosialisasi. Dengan Homeschooling, si anak akan kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat.
4. Sekolah reguler merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya. Jadi apabila anak belajar secara Homeschooling, otomatis dia akan kekurangan skill daya bersaing.

Itulah sekilas mengenai Homeschooling. Apabila ada kesalahan dalam pembahasannya, silahkan saja dicomment di bawah ini. Saya berharap bisa mendapatkan informasi tambahan dari para readers mengenai Homeschooling ini.. THANKS!!

Tidak ada komentar: