Selasa, 16 Juni 2015

TANGAN KIRI MERANGKUL TANGAN KANAN MEMUKUL

Jalan toll Cikopo-Palimanan[Cipali] adalah jalan toll yang barusan diresmikan oleh presiden Jokowi. Tapi bukan Jokowi yang membangun, melainkan zaman SBY tahun 2011. Presiden Jokowi hanya meresmikan sekaligus mengambil keuntungan dari penetapan tarip toll yang dinilai mencekik rakyat. Bahwa keberadaan jalan toll itu bukannya membawa dampak meringankan perekonomian, justru semakin memberatkan.

Mengapa Jokowi selalu begini, ya?!

Tarif Tol Cipali Tidak Ekonomis & Kontraproduktif

http://economy.okezone.com/read/2015/06/15/320/1165450/tarif-tol-cipali-tidak-ekonomis-kontraproduktif

\Tarif Tol Cipali Tidak Ekonomis & Kontraproduktif\

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja meresmikan tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Pembangunan tol ini diharapkan mampu mengurangi kemacetan saat mudik Lebaran 40 hingga 50 persen.
 
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)  Tulus Abadi menuturkan, hal ini patut diapresiasi, namun penetapan tarif tol Cipali dinilai tidak ekonomis, bahkan kontraproduktif.
Semula, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menetapkan tarif dasarnya Rp750/km, tapi dinaikkan menjadi Rp824/km, alasannya karena miskalkulasi oleh investor.
"Penetapan tarif yang miskalkulasi itu seharusnya tidak dibebankan pada konsumen. Tarif yang mahal akan mengakibatkan, pertama Tol Cipali menjadi tidak efisien untuk memperlancar arus barang, dan artinya tidak mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi," tuturnya dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Senin (15/6/2015).
Menurutnya, ini ditandai dengan truk-truk pengangkut barang yang tidak akan lewat tol Cipali, karena tarifnya dinilai tidak ekonomis. Untuk truk tarifnya bisa mencapai Rp450 ribuan.
Kedua, tarif tol Cipali justru menjadi beban ekonomi baru, karena akan menambah logistic fee bagi sektor usaha.
"Endingnya, akan terjadi kenaikan harga pada sisi ritel," tuturnya.
Ketiga, tol Cipali tidak akan mampu mengalihkan tingginya traffic dan volume kendaraan di Pantura, sekalipun pada arus mudik. Kendaraan pribadi akan tetap memilih Pantura, atau jalur alternatif lain.
Oleh karena itu, Tulus mengatakan bahwa Kementerian PUPR harus tetap konsisten dengan tarif semula, yakni Rp750/km. Atau kalau perlu tarif itu pun masih bisa diturunkan lagi.
"Apa gunanya tarif tol diturunkan selama mudik, tapi kemudian konsumen dicekik dengan tarif tol Cipali," tegasnya.


Tidak ada komentar: