Kamis, 30 Juli 2015

GUNA-GUNA PACAR ISLAM

Sekalipun zaman sudah begitu modern, namun ilmu guna-guna masih sangat umum digunakan oleh kaum Muslim dalam berbagai aktifitas mereka, seperti; dalam berdagang, dalam perebutan jabatan dan kenaikan pangkat, dalam menundukkan suami atau istri, bahkan untuk melengketkan pacar. Karena itu jika anda Kristen yang memiliki pacar Islam perlu dilakukan pemeriksaan dan dibersihkan dari kuasa-kuasa kegelapan itu dengan nama ELOHIM JESHUA ha MASHIA.

http://ilmupeletampuh.com/




"AKHIRNYA... Setelah 10 Tahun lamanya mengembara melanglang buana untuk mendalami ilmu-ilmu hikmah, saya putuskan untuk membagikan semua rahasia Ilmu Pelet Ampuh kepada Anda... SEKARANG..!"

Anda Mengalami Kegagalan Percintaan?
Sulit Jodoh? Rumah Tangga Berantakan?
Di Khianati Pasangan? Pusing Memikirkan Kekasih/Suami/Istri Pergi Lama Tak Kembali?

STOP kebingungan anda..! Ada ilmu Pelet Ampuh sebagai solusi jitu kekasih/suami/istri pergi bisa kembali, orang yang membenci jadi mencintai, sampai yang mengkhianati berubah jadi menyayangi, temukan cara & rahasianya SEKARANG JUGA..!!!

 

Salam bahagia sahabatku semua....
'Sahabat...perhatikan dengan serius apa yang akan anda baca berikutnya...karena ini sangat penting! Anda akan diperkenalkan kepada sebuah RAHASIA besar, maha karya dahsyat ilmu hikmah, Ilmu Pelet Ampuh..!
Sudah ratusan bahkan ribuan orang yang telah merasakan manfaat langsung khasiat ilmu pelet ampuh ini & sekarang giliran anda...
Saya pernah berada pada posisi anda sekarang ini....waktu itu saya juga merasakan sangat sedih sekali, karena diputus sang kekasih, mau bekerja juga malas dll. Namun...setelah berbulan-bulan berusaha keras yang melelahkan....mencari orang pintar/paranormal kesana kemari, dan apa saja yang anda pernah lakukan saya pun juga pernah melakukannya...
Apa Yang Terjadi Kemudian..?
Tidak ada satupun usaha yang berhasil, waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang sudah saya keluarkan, mungkin saja belum waktunya tiba..hmm...
Apakah anda pernah merasakannya?
Tidak peduli seberapa keras usaha anda, anda tetap tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, belum lagi anda harus berangkat pagi pulang sore mencari bantuan paranormal, berusaha agar kekasih/suami/istri yang pergi bisa kembali, sungguh sangat  melelahkan...
Cape Deh! :)

Tapi jangan galau... Sebentar lagi anda akan memiliki kekuatan hebat ilmu hikmah tingkat tinggi Ilmu Pelet Ampuh..! Sayangnya kebanyakan orang belum tau ilmu Pelet Ampuh yang dahsyat ini. Bayangkan...! dengan menguasai ilmu Pelet Ampuh ini maka anda akan merasakan langsung khasiatnya sebagai berikut:
Memikat Sukma - untuk memikat pasangan atau membuat orang yang dituju tergila-gila menuruti apa yang kita minta, sangat cocok untuk yang bekerja di bidang marketing.
Sangkal Jodoh - bagi anda pria/wanita yang sudah berumur tapi belum ada jodoh, ilmu pelet ini akan meringankan dan membuka pintu jodoh.
Pelet Pengasihan - bermanfaat untuk pasangan suami/istri, pacar agar lebih setia, sayang, tunduk, takluk, welas asih serta keluarga akan lebih harmonis.
Aura Bersinar - secara otomatis setelah memiliki ilmu Pelet Ampuh ini wajah anda akan lebih cantik/tampan, menawan dan mempesona, setiap orang yang melihat akan tertarik dan simpati.
Berkharisma - cocok untuk mereka yang sulit mencari pekerjaan dan ingin cepat naik jabatan.
Ruwat Ghaib - berfungsi untuk menghilangkan semua apes, sial maupun karma, sehingga dengan ilmu pelet ampuh ini anda akan menjadi sukses bahagia selamat dunia akhirat.
Lebur Saketi - mantra ilmu pelet ini bisa untuk memenangkan berbagai macam persaingan bisnis, karier maupun percintaan.
Pengeretan - mantra pelet ini juga bisa di tujukan untuk bos, majikan, kekasih anda yang pelit agar memberi yang kita minta.
Mulut Bertuah - jadi apa yang kita sampaikan akan dengan mudah meyakinkan orang.
Pelaris Dagang - anda akan selalu beruntung dari setiap usaha/pekerjaan yang sedang di tekuni saat ini dan akan selalu menjadikan anda sukses tanpa hambatan.
Pemisah Asmara Kasih - memutuskan cinta Pil/Wil atau lainya dengan cara halus dan tidak menimbulan kemarahan, dendam atau sakit hati.
Berwibawa tinggi - secara otomatis dengan memiliki ilmu Pelet Ampuh ini, kawan maupun lawan akan segan terhadap kita, bisa menundukkan atasan ataupun bawahan kita.
Gembok Adam Hawa - untuk mengunci suami/istri/pacar agar tidak mudah selingkuh, sekalipun suami/istri/pacar anda berada di tempat yang jauh.
Puter Giling - mengembalikan pasangan yang pergi/minggat tanpa pamit.
Pagar Gaib - melindungi anda dari gangguan orang lain seperti santet, gendam, hipnotis, pelet.
Telepati - sebagai sarana untuk mengirimkan pesan secara jarak jauh, dll.

Sekarang coba bayangkan apa yang anda akan dapat lakukan dengan kekuatan ilmu pelet ampuh dan dahsyat seperti Itu..! jika anda tidak menemukan website ini, anda tidak akan pernah menjadi orang nomor satu dan berpengaruh besar di lingkungan anda.
Untuk itu anda harus SEGERA Memiliki rahasia ilmu pelet ampuh ini
SEKARANG JUGA ! sebelum pesaing anda yang menemukannya…Dan sebelum Maharnya dinaikkan lagi..! Jangan beli yang lain…sebelum anda memesan ilmu Pelet Ampuh ini... lalu mengapa anda harus memesan di ilmu pelet ampuh dot kom..?
Tanpa Meditasi/Tirakat atau puasa.
Proses cepat dan langsung bisa di fungsikan.
Tidak bertentangan dengan agama apapun.
Bisa di miliki pria/wanita.
Aman dan di jamin bebas efek samping.
Bekerja otomatis mengikuti kemauan hati.
Memiliki banyak manfaat dan telah teruji.
Hasil permanen bisa dirasakan seterusnya.

Jangan Hanya Dengar Apa Yang Saya Sampaikan,
Tapi Dengar Apa Yang Mereka Katakan
....


Lalu Berapa Maharnya Rahasia Ilmu Pelet Ampuh Ini…..?

Sekarang tanyakan pada hati nurani anda sendiri, betapa pentingnya arti sebuah ilmu yang sangat rahasia dan jarang yang tahu cara prakteknya.
Di sini rahasia
ilmu pelet ampuh itu DI BONGKAR…!!  

Karena dengan ILMU kita bisa punya kedudukan, dengan ILMU kita bisa berkuasa, dengan ILMU kita bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang, dengan ILMU pula kita bisa meraih sukses dan kekayaan dunia akhirat (Amin…..)


Setelah anda menguasai Rahasia ilmu pellet ampuh ini. Maka ilmu pelet ini akan terus bersama anda seumur hidup, bebas efek samping. Dan sekarang tanyakan kembali hati nurani anda berapa mahar yang pantas untuk rahasia ilmu pelet Yang dahsyat ini..?
Bukan RP.2000.000
Bukan RP.1500.000
Bukan RP.1000.000

Kabar baiknya...sekarang anda bisa memilih mahar ilmu pelet ampuh ini sesuai kebutuhan/kemampuan anda !

Lalu apa yang akan anda dapatkan dengan mengirim salah satu mahar tersebut diatas ?
Coba simak yang berikut ini….

Semua program di atas mendapatkan 1 kapsul penyelarasan termasuk bonus yang dijanjikan.
Dapat modul / petunjuk cara praktek lengkap tertulis.
Konsultasi online GRATIS 24 jam, bisa lewat email/chating/call, dll.
Ilmu sudah jadi tinggal pakai & siap praktek.
Tanpa wirid panjang yang sangat melelahkan.
Akan mendapatkan kiriman doa-doa selama tujuan belum tercapai
Paket yang dikirim dikemas rapi dan rahasia anda kami jamin.

Dan tidak Hanya itu saja, saya juga memberikan garansi uang kembali, bila paket tidak sampai tujuan...masih ada satu lagi, GRATIS biaya kirim ke seluruh Indonesia !



Kesempatan Terakhir Buat Anda...!
Klik Tombol Di Bawah Ini..!!

PERMASALAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA

Kira-kira apa saja permasalahan perkawinan beda agama?

1. Mengganggu kebersamaan; harusnya suami-istri itu senantiasa bersama-sama, tidak satu ke mesjid
    satunya ke gereja.

2. Mengganggu kekuatan; syarat doa kumpulan itu minimal 2 orang. Doa untuk pribadi dengan doa
    untuk keluarga/rumahtangga itu berbeda. Doa untuk keluarga harus ditopang oleh seluruh isi
    keluarga itu.

    Matius 18:20        Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ 
                                Aku ada di tengah-tengah mereka."

3. Bagaimana mendoakan suami/istri yang sakit? Sebab doa kita tidak diimaninya karena 
    perbedaan agama. Dan doa yang tidak dilandasi oleh iman adalah doa yang sia-sia - 
    mengandung dosa.

4. Bagaimana mendidik anak; pola siapa yang dikenakan? 

5. Bagaimana pola penyelenggaraan rumahtangga itu? Jika dominan suami yang Islam, tidakkah 
    sama halnya dengan mengecilkan Kristen, atau yang sebaliknya?! Agama atau TUHAN menjadi 
    diseret oleh status kita. Karena status kita hanya istri yang kalah dominan dari suami, maka 
    TUHAN kita menjadi ikut dikecilkan. Kristen dikalahkan Islam atau Islam dikalahkan Kristen?! 

6. Dan lain-lainnya. Saya yakin ada banyak persoalannya kelak dalam prakteknya. 

Menjadi pertanyaan adalah; membentuk rumahtangga yang tujuannya kebahagiaan itu harusnya memadamkan titik-titik api yang diketahui, mengapa malah memelihara titik-titik api yang bakal mengganggu kebahagiaan itu?!

Menurut saya masih lebih baik kakak-beradik yang berbeda agama daripada suami-istri yang berbeda agama.

Untuk anda yang belum terlanjur memasuki perkawinan, yang masih pacaran, alangkah baiknya melakukan pengkajian kembali terhadap kriteria-kriteria anda tentang pasangan anda. Rasanya perlu lebih disederhanakan kriteria-kriteria itu. Sebab kalau menurut Alkitab kriteria-kriteria calon pasangan itu tidak harus cantik, tidak harus kaya, tidak harus berhidung mancung, berkulit putih, S2, dan lain-lainnya, tapi asalkan laki-laki dan perempuan itu sudah dewasa. Itu saja syarat perkawinan Alkitab. Firman TUHAN itu sempurna, tak perlu ditambah-tambahi dengan pikiran kita. Sebab letak kebahagiaan bukan pada hidung mancungnya, tapi pada kesetiaannya pada TUHAN.

Saat ini dia mungkin pacarmu. Saat ini dia yang ada di depanmu. Namun itu bukan berarti harus menjadi milikmu. Nabi Elia harus menunggu yang ke-3 barulah itu TUHAN. Ketika yang pertama datang angin, ternyata tak ada TUHAN di dalam angin itu. Lalu datanglah gempa dan ternyata bukan TUHAN juga. TUHAN baru muncul di dalam angin yang sepoi-sepoi basa;

1Raja-raja 19:11              Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di
                                        hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat,
                                       yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu,
                                       mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu.
                                       Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN
                                       dalam gempa itu.
                 19:12             Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN
                                       dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi
                                       basa.

Rabu, 29 Juli 2015

PERKAWINAN BEDA AGAMA

Kata-kata: "perkawinan" sendiri merupakan usaha mempersatukan antara dua hal yang berbeda, yaitu antara laki-laki dengan perempuan, antara egoisme laki-laki dengan egoisme perempuan. Dan di sini sudah ada solusinya, yaitu laki-laki yang mengepalai perempuan, sehingga tidak terjadi dualisme kepala dalam rumahtangga itu. Kedua pribadi itu sudah berhasil dipersatukan dengan tanda perempuan dihilangkan namanya. Kalau tadinya bernama Tutik, sekarang disebut orang: nyonya Budi. Jadi, masalah perkawinan sudah beres, tidak ada perbedaan melainkan telah menjadi satu. Dalam rumahtangga itu hanya ada satu, bukan dua.

Tapi perbedaan agama yang dibawa ke perkawinan menyatakan masih dua, masih belum ada penyatuannya. Suatu masalah yang belum selesai sedang dimasukkan ke dalam rumahtangga itu sehingga mau tak mau rumahtangga itu sedang memelihara masalah atau memelihara bara api yang beresiko membara. Itu adalah langkah awal yang sangat keliru. Memasuki perkawinan janganlah dengan membawa masalah. Selesaikan segala masalah hingga tuntas sebelum memasuki perkawinan. Jangan ada akar masalah di perkawinan itu, sebab di dalam perkawinan sudah tersedia banyak masalah, sehingga jika ditambahkan dengan masalah yang berakar dari luar perkawinan akan menjadi masalah yang menyeramkan.

Kata-kata: "beda" dari "perkawinan beda agama" sudah memberikan sinyal adanya dua hal yang belum dipersatukan. Ada agamaku dan agamamu. Dan perbedaan merupakan awal dari peperangan. Semula hanya berupa perbedaan pendapat, lalu meningkat menjadi pertentangan, meningkat lagi menjadi perseteruan, meningkat lagi menjadi permusuhan atau peperangan. Ada pertentangan bapak dengan ibu, orangtua dengan anak, kakak dengan adik, antar tetangga, antar kampung, antar suku, hingga peperangan antar bangsa. Semua akarnya adalah perbedaan. Dengan saudara seiman saja bisa bertengkar, antara denominasi Kristen A dengan Kristen B, antara Kristen dengan Katolik, antara Kristen dengan Islam, antara Islam golongan yang satu dengan golongan yang lain. Berita terbaru adalah peristiwa kerusuhan di Tolikara yang melibatkan kelompok Islam dengan Kristen. Golongan Kristen membakar mesjid setelah sebelum-sebelumnya golongan Islam yang membakari gereja.

Yang berbeda dari perkawinan itu adalah agama. Celakanya agama merupakan keyakinan masyarakat. Banyak orang dibuat membabi buta oleh sebab apa yang diyakininya. Hukum pembuktian sering dikesampingkan oleh adanya keyakinan. Artinya, tidak nalar, tidak menggunakan akal pikiran. Padahal manusia wajib mengenakan akal pikirannya. Manusia harus berjalan dengan pikirannya. Jika tidak maka akan disebut ngawur.

Karena agama merupakan keyakinan, maka orang tak lagi berpikir apakah agamanya salah atau benar melainkan itulah keyakinannya. Keyakinan yang lebih dipegang daripada kebenarannya. Kalau orang berpegang pada kebenarannya, maka akan tergiring pada satu agama saja. Tapi keyakinan membuat orang bertahan lama dengan apa yang diyakininya. Biar bumi berguncang dia tetap dengan agamanya. Karena itu perkawinan beda agama sangat tidak dianjurkan.

Perkawinan beda agama bisa bukan masalah jika agama bukan suatu masalah bagi pasangan itu. Jika agama bisa mereka kesampingkan dengan lebih mementingkan hal-hal yang lainnya. Artinya, TUHAN bukanlah apa-apa bagi mereka. TUHAN tidak penting bagi mereka. Tapi bagi orang Kristen yang TUHAN-nya menuntut dinomorsatukan di atas segala-galanya, karena YAHWEH itu ALLAH yang cemburu, tidak memungkinkan untuk tidak mementingkan KETUHANAN.

Tidak ada saran yang lebih baik daripada menghentikan perkawinan beda agama!

Efesus 4:3,5             Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:      
                               satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

2Korintus 6:14        Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
                              orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat
                               antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang
                               dapat bersatu dengan gelap?

Senin, 27 Juli 2015

APAKAH BULAN RAMADHAN?

Apakah bulan ramadhan? Kata kaum Muslim: Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Apa saja berkahnya? Meningkatnya secara drastis angka kejahatan dan kecelakaan lalulintas.

Kecelakaan Mudik adalah Bencana Nasional

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/26/ns37kj254-ylki-kecelakaan-mudik-adalah-bencana-nasional

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai kecelakaan lalu-lintas yang terjadi sepanjang arus mudik tahun ini adalah bencana nasional.

Pernyataan Tulus tersebut berdasar pada data yang dirilis Korlantas Mabes Polri. Data tersebut menguraikan, selama H-7 dan H+7 Idul Fitri, jumlah korban meninggal dunia karena laka lantas mencapai 628 orang, luka berat 1028 orang, dan luka ringan 3808 orang.

Dengan fakta itu, selain menjadi bencana nasional, Tulus juga mengaku heran pada pernyataan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang mengklaim mudik lebaran 2015 berjalan lancar.
"Sungguh aneh bin ajaib jika Kemenhub mengklaim bahwa mudik Lebaran 2015 dinyatakan berhasil! Apakah menurunnya korban meninggal yang hanya 8 persen layak disebut berhasil?" ujarnya, Ahad (26/7).

Karena itu, Tulus bersama YLKI mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar memberikan respon konkret pada korban kecelakaan selama arus mudik tahun ini.
Selain itu, Ia juga meminta Polri agar mampu menekan penggunaan sepeda motor pada sesi mudik yang akan datang. "Ini terbukti korban laka lantas lebih dari 75 persen adalah  pengguna sepeda motor," jelasnya.

Ia juga menuntut agar pihak dan instansi terkait, terutama pemerintah daerah, agar memperbaiki sarana transportasi umum di daerahnya masing-masing. Karena kondisi transportasi umum yang kurang layak bisa menjadi faktor para pemudik memilih mengendarai sepeda motornya menuju kampung halaman.

Tulus berhatap pemerintah melihat jumlah korban kecelakaan sebagai data statistik belaka. Terlebih, tidak ada upaya serius menanggulangi dan menekan korban nyawa yang jatuh di jalanan.

Minggu, 26 Juli 2015

ANTARA SORGA DENGAN DUNIA

Suatu tempat yang banyak binatangnya itu adalah kebun binatang, sedangkan tempat yang banyak tanamannya itu adalah kebun tanaman. Demikian halnya dengan sorga dengan dunia. Yang jahat itu dunia, yang baik itu sorga. Yang salah itu dunia, yang benar itu sorga. Yang dua itu dunia, yang satu itu sorga. Yang perang itu dunia, yang damai itu sorga.

Jadi, selama di dunia yang ada adalah kejahatan, kesalahan, dosa, pertentangan dua orang dan peperangan antara dua kelompok. Antara yang baik dengan yang jahat harus terjadi peperangan supaya menjadi satu saja, seperti listrik positif dengan listrik negatif yang menghasilkan satu produk yaitu lampu saja. Sehingga lampu adalah persatuan antara listrik positif dengan listrik negatif melalui kawat lampu, kawat wolfram. Demikianlah peperangan di dunia ini harus menghasilkan satu orang yang baik dan satu orang yang jahat. Supaya yang baik ditempatkan di sorga sedangkan yang jahat ditempatkan di neraka. Dalam diri satu orang harus jelas apakah dia orang yang baik atau orang yang jahat, bukan orang yang masih campuran seperti kata orang: mukanya cantik tapi hatinya jahat atau tampangnya seram padahal hatinya baik. Kelebihannya dia di sini, kekurangannya dia di situ. TUHAN memang membuat posisi setiap orang mendua atau ganda. Tapi kita diberi tugas untuk menyatukannya, supaya jelas siapa sesungguhnya kita. Jika jahat biarlah 100% jahat, jika baik biarlah 100% baik.

Selama hidup di dunia ini tugas kita adalah mempersatukan kejiwaan kita melalui peperangan pikiran; ada barang di depan kita, kita ambil atau tidak, harus ada keputusannya, tidak boleh diambangkan. Hanya dengan cara itu sajalah kita ini disebut orang jujur atau pencuri. Sehingga jika kita ditanya: siapakah kita? Kita bisa memberikan jawaban yang benar: kita orang baik atau orang jahat, bukan setengah baik setengah jahat.

KALAU KEMAUAN MEGAWATI DITURUTI - 3

Pak Sonny:

Suara yg mana pak? Wong pas reformasi aja banyak yg gak peduli koq. Mosok skrg mereka mesti didenger?

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Suara didengar atau tidak didengar itu adalah soal hasil. Tapi saya lebih suka membicarakan soal perjuangannya, bukan hasilnya, seperti kata orang: kita berdoa TUHAN yang menentukan. Bahwa hasilnya seperti apa itu bukan kewenangan kita. Kewenangan manusia adalah berusaha. Yang harus dihargai dari manusia adalah perjuangannya.

TUHAN tidak menuntut terjadinya keadilan di dunia ini, tapi menuntut: tegakkanlah keadilan. Artinya, biar diotak-atik macam apapun dunia ini tak mungkin bisa melahirkan keadilan. Tapi kita dituntut untuk memperjuangkannya, bukan berdiam diri saja. TUHAN mengutuk jika kita berdiam diri saja terhadap suatu kesalahan.

Seorang tentara ke medan peperangan saja bukan untuk menghasilkan kemenangan, tapi supaya menunjukkan perjuangan maksimalnya. Dan kematian seorang tentara lebih dihargai daripada kemenangannya. Dia disebut pahlawan!

Penginjil juga begitu. Bukan disuruh mengkristenkan semua orang, tapi disuruh memberitakan Kekristenan kepada semua orang. Itu saja tugas kita dari TUHAN. Saya hanya sebatas memberitakan Kristen saja. Perkara anda mau menerima atau menolak, itu bukan lagi tugas saya.

Hasil reformasi seperti apa itu tak penting bagi saya. Tapi semangat reformasi harus selalu ada.

Menang atau kalah melawan Jokowi, itu tak penting. Yang penting adalah: Lawanlah Jokowi! Jangan diam saja kayak bangkai!

SOAL JOKOWI PETUGAS PARTAI - 3

Pak Sonny:

Secara teoritik, Amerika lah negara yg 100 persen menerapkan konsep presiden itu petugas parte.

Di Amerika, gak ada visi -misi cappres scr pribadi. Yg ada adalah visi-misii partai demokrat atau republik.

Presiden hanya menjalankan visi-misi yg telah dirumuskan partai.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Kalau secara teoritik, itu baru betul. Bahwa teoritisnya memang presiden itu petugas partai. Tapi kalau itu dipraktekkan benar-benar, maka negara itu pasti timbul pergolakan. Sebab antara satu partai itu berbeda dengan partai lainnya, bahkan saling bertentangan. Jika beberapa partai itu pada satu suara itu namanya koalisi atau persekutuan atau penyatuan. Tapi kita mengenal adanya partai oposisi, yaitu partai yang mengambil sikap bertentangan/melawan.

Dan kehidupan yang benar-benar hidup itu adalah jika berhasil menyatukan antara dua hal yang saling bertentangan. Suami-istri harus bersatu dalam perbedaan pendapat, bukannya dengan membunuh lawannya. Listrik positif dan negatif jika dimediasi bisa menghasilkan lampu, motor, televisi, HP, dan lain-lainnya. Coba kalau cuma satu sisi saja, bisa jadi apa?

Di zaman Soeharto atau Orde Baru itu memang pernah terjadi. Siapa yang menentang Soeharto dibunuh, maka jadilah rakyat yang zombie - mayat hidup. Tahu salah, dibiarkan saja karena takut dibunuh. Itu hanya ada di alam robotika. Di alam nyata yang ada adalah pergolakan; ada maling ada yang jujur, ada narkoba ada antinarkoba, ada perokok ada antirokok, dan lain-lainnya.

Teoritisnya harus satu, tapi kenyataannya selalu ada dua. Dan keduanya itu harus dipersatukan. Sama seperti suara peralatan musik; ada melodi, ada bass, ada piano, ada seruling dan ada drum, kesemuanya harus bersuara pada satu lagu saja. Demikian pula, secara teoritisnya presiden adalah petugas partai. Namun kenyataannya konstitusi memberikan peluang adanya calon independent atau nonpartai. Artinya, seorang presiden itu tidak harus dilahirkan oleh sebuah partai. Jadi, presiden sebagai petugas partai hanya ada di buku politiknya saja, tak bisa diwujudkan.

Kita tak bisa melarang Megawati bermimpi menjadikan Jokowi sebagai petugas partainya. Tapi kita juga tak bisa melarang jika Jokowi ada kalanya bertentangan dengan ibu kandungnya. Jika Megawati berkata: Jika tak mau disebut petugas partai: keluarlah dari PDIP. Dan itu sudah terbukti, bukan?! Kapan Jokowi pernah berkantor di PDIP selama menjadi presiden? Jokowi selalu berkantor di istana presiden, 'kan?! Kapan Jokowi menjadi presiden dengan seragam dan atribut PDIP?

Kapan Jokowi berkantor dan beratribut partai Golkar atau PPP atau PKB atau Gerindra atau Nasdem atau Hanura? Setahu saya Jokowi selalu netral sebagai presiden Indonesia tanpa bayangan partai manapun. Sedangkan ketetapan sebagai menteri saja harus meninggalkan partai politiknya, apa lagi ketetapan bagi seorang presiden. Misalnya Puan Maharani yang sekarang menjadi menterinya Jokowi, dia harusnya menanggalkan jabatan di PDIP-nya. Bukankah itu yang diprotes masyarakat saat ini?

KALAU KEMAUAN MEGAWATI DITURUTI - 2

Pak Sonny;

Kalau BG koruptor percaya dehh akan ada pemberontakan ddari internal. Pertanyaannya apa ada? Nggak toh?

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Pemberontakan dari internal kepolisian? - Hua..ha..ha...... ada banyak suara miring yang patut didengar dan diperhitungkan juga bahwa di kepolisian itu sarangnya koruptor. Jika di kepolisian itu sarangnya koruptor, mana ada koruptor makan koruptor - jeruk makan jeruk? Presiden Jokowi saja sampai berkata; "Jangan jadikan tersangka sebagai mesin ATM." Itu artinya para penegak hukum, termasuk kepolisian sering menjadikan tersangka sebagai kesempatan untuk melakukan pemerasan. Mau pasalnya ditambah atau dikurangi? Mau buktinya dibeberkan semuanya atau hanya sedikit? Mau dilanjutkan ke persidangan atau dibebaskan? Di jalanan bagaimana? Kena tilang dibereskan dengan uang damai.

Suara miring berkata: Hukum di negeri ini sudah jungkir-balik; yang salah dibebaskan yang benar dipenjarakan. Tak ada keadilan. Ada mafia hukum. Ada perdagangan hukum. Tak ada kepercayaan terhadap pejabat atau aparat pemerintahan.

Suara-suara miring itulah suara-suara yang selalu kalah di negeri ini. Suara yang tak pernah digubris, tak lagi didengarkan. Suara-suara itu menuntut dirubah menjadi reformasi, unjuk kekuatan fisik, barulah suara itu memperlihatkan kekuatannya.

SOAL JOKOWI PETUGAS PARTAI - 2

Pak Sonny:

“Konstitusi sudah menjadikan partai sebagai wahana utama rakyat dalam menyalurkan kepentingannya,” tutur Irman.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Betul. Tapi konstitusi yang lebih tua dan lebih mendasar, yaitu berdasarkan arti katanya, seorang presiden adalah kepala negara, bukan petugas partai. Beda sekali pengertian antara sebagai kepala negara dengan sebagai petugas partai. 

Bisa kasih contoh negara manakah yang presidennya petugas partai? Amerika? Barack Obama? Apa jadinya jika Barack Obama itu hanya petugas partai: Partai Demokrat. Tidakkah negara itu akan gonjang-ganjing oleh jeritan Partai Republik? Tidakkah setiap hari akan terjadi demo karena masyarakat merasa dikerdilkan?

Itulah sebabnya di DPR terjadi koalisi-koalisi. Kubu Prabowo mendirikan Koalisi Merah Putih, sementara kubu Jokowi mendirikan Koalisi Indonesia Hebat. Maksudnya apa? Supaya negara tidak dikuasai oleh kepentingan partainya Jokowi semata-mata. Harus terjadi keseimbangan. Suara minoritas perlu didengarkan. 

Tanda kemenangan partai hanyalah pada banyaknya orang partai yang duduk di DPR. Maksudnya, supaya memiliki dominasi suara. Tapi partai-partai yang kalah tidak akan menyerah begitu saja. Mereka membentuk koalisi untuk mengimbangi dominasi partai pemenang. Itu konstitusional - sah. Bukan berarti PDIP menang pemilu lalu menjadi raja di Senayan[DPR]. Belum pernah ada partai yang menjadi raja, baik di negeri ini maupun di dunia. 

Lihat saja ketika Jokowi menuruti kehendak PDIP untuk mencabut subsidi BBM, bukankah dimana-mana rakyat melakukan demo? Itu tandanya kelompok minoritas tidak mau dilindas oleh kelompok mayoritas. Seberapa bisa akan memberikan perlawanan!


Jokowi ke Mega: Antara Boneka dan Durhaka

http://www.kompasiana.com/insansn/jokowi-ke-mega-antara-boneka-dan-durhaka_54f9281ea33311f8478b4ba4


Kalaupun benar Presiden kita itu hanyalah boneka, saya berharap bukan boneka Chucky; yang menyeramkan, yang jahat, dan yang membunuh.
Tapi di sini kita berhak untuk mempertanyakan kembali: apakah benar praduga sebagian kalangan itu yang menyatakan bahwa Jokowi hanyalah Presiden boneka Megawati? Pertanyaan ini sekali lagi harus kita cari tahu kebenarannya untuk mempertegas sikap kita sebagai warga negara terhadap kepala negaranya. Karena kita tentu ogah dipimpin oleh sebuah oligarki yang kekuasaannya dititipkan kepada figur yang nyatanya hanya sebuah simbol yang berdiri tidak dengan kakinya sendiri, melainkan bergantung pada sebuah kekuatan di luar dirinya sendiri; percis sebuah wayang atau ya itu tadi: boneka.
Mari bersama kita verifikasi secara objektif:
Hukum utama sebuah boneka (benda mati) adalah ia digerakan oleh sang pemilik boneka. Maju, mundur, berputar, jatuh, bangun, semua aktivitas gerak itu tidak berasal dari motif pribadi si boneka tetapi dari keinginan dan kekuatan si yang empunya. Boneka tidak mempunyai “will” dan kontrol terhadap dirinya sendiri karena ia memang tercipta tanpa semua kemampuan itu. Dan seseorang di balik boneka itu pun tak harus berkonsultasi kepada boneka mainannya tentang bagaimana boneka itu akan diperlakukan, karena sejak semula ia mempunyai boneka hanyalah sebagai objek mainan yang bebas ia mainkan.
Tetapi di sini Jokowi sang presiden rupanya tak seperti itu. Jangankan patuh taqlid terhadap sang ketum partai, bahkan ia sepertinya mulai membandel--jika tak mau menyebutnya durhaka.
Kebandelan Jokowi terhadap Ibu Mega (dan juga partainya) dimulai saat beliau menyusun formasi kabinet yang kelak akan membantunya menjalankan roda pemerintahan yang ia pimpin. Dari 34 kursi menteri, Jokowi mengalokasikan hanya 14 kursi untuk “jatah partai” dan sisanya (20 atau lebih banyak 6 dari jatah partai) ia berikan kepada para professional yang dianggap mempunyai kapabalitas yang ia harapkan; dan media menyebutnya dengan istilah “Menteri Prefesional”—untuk membedakannya dari profesional partai.
Coba sejenak kita bayangkan diri kita menjadi Megawati, seorang Ketua Umum partai pemenang Pemilu yang pada saat bersamaan kader yang diususngnya dengan gilang gemilang terpilih rakyat menjadi presiden. Tentu yang kita inginkan—dan paralel dengan apa yang diinginkan Megawati-- hanya satu: dominasi. Terlebih kondisi di parlemen yang sangat tidak kondusif dengan segala manuver politik Koalisi Merah Putih, mendominasi pemerintahan dengan “orang-orangnya” adalah suatu keniscayaan. Dan memang seperti itulah aspirasi PDIP. Tapi nyatanya Jokowi tak bisa “disetir” dan Ketum Megawati pun rupanya tak hendak memaksa.
Dari 14 jatah partai tersebut, Jokowi hanya memilih empat orang saja dari koleganya di partai: Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, Yasonna H Laoly dan AAGN Puspayoga. Adapun Rini Soemarno, itu sama sekali bukan struktur partai dan lebih karena pilihan pribadi Pak Jokowi saja (silakan baca tulisan saya sebelumnya tentang Rini M Soemarno di Kabinet). Jatah empat ini sama dengan jatahnya PKB (Hanif Dhakiri, Mohamad Nasir, Imam Nahrawi, dan Marwan Jafar) yang notabene hanya mempunyai 47 kursi di DPR RI--kurang dari setengahnya perolehan kursi PDIP (109 kursi), selisih hanya 1 dari partai baru Nasdem dan selisih hanya dua dari Hanura yang hanya sanggup menyumbang 16 kursi saja.
Bagi kita sebagai awam mungkin ini hanya soal angka dan hitung-hitungan semata. Tak lebih. Tetapi bagi Ketua Umum partai, jatah yang diberikan Jokowi ini tentu muatannya jauh lebih kompleks dari sekedar angka. Jatah minim menteri ini nyaris mengancam soliditas internal PDIP. Bagaimana tidak, PDIP di tengah kemenangan dan euforia kekuasaan, setelah 10 tahun lamanya puasa kuasa, banyak sekali orang-orang ring pertama Megawati yang berkehendak ikut duduk di kabinet. Katakanlah Pramono Anung, Maruar Sirait, TB Hassanudin, Ryeke Dyah Pitaloka dan—tentu saja—Eva Sundari. Beberapa di antaranya mengumbar kekecewaannya di media. Tetapi Jokowi (dan juga Megawati) bergeming. Mereka sama sekali tak terpengaruh. Dengan penuh kedewasaan keduanya tidak saling menyandera (padahal mampu). Megawati begitu menghormati hak prerogatif Presiden. Alih-alih memaksa Jokowi--yang notabene adalah tokoh hasil orbitannya--untuk menambah jatah partai demi pengamanan kekuasaan dan menyenangkan kader terbaiknya yang lain, Megawati malah memberi instruksi pada mereka (yang tak jadi masuk kabinet) untuk bersabar dan menjalankan tugas partai yang lain: mengawal parlemen. Dan kita tahu, dialektika apapun di tubuh PDIP akan selesai setelah Megawai “ngomong”.
Jika hal ini diperbandingkan dengan “hukum boneka” seperti yang saya ulas di atas, maka sepertinya Jokowi bukanlah boneka Megawati. Tetapi tak hanya sampai di sini. Mari kita lihat fakta selanjutnya:
Kenaikan harga BBM. Keputusan pemerintah untuk (bukan menaikan harga) mengalihkan sebagian subsidi BBM tidak taken for granted oleh PDIP yang merupakan partai pengusung utama. Sebaliknya, partai menagih kejelasan terhadap Jokowi tentang pengalihan subsidi BBM ini, malah sebagaian di antaranya—sebut saja Effendi Simbolon dan F.X. Hadi Rudyatmo—menentang rencana pemerintah terkait hal ini. Bahkan mereka mengancam untuk tak lagi mendukung pemerintahan Jokowi jika harga BBM tetap naik. Walaupun tidak menggunakan fasilitas hak interpelasi (karena bagaimanapun juga penentuan harga BBM masuk pada domain kewenangan pemerintah), PDIP via mekanisme internalnya meminta penjelasan dari Jokowi dan diskursus pun terjadi sampai akhirnya jalan tengah pun diambil: mengijinkan pemerintah mengurangi subsidi BBM dengan catatan harus mengompensasikannya pada program yang benar-benar bersentuhan langsung dengan masyarakat atau goverment to citizen.  Yang ingin saya katakan adalah PDIP tidak secara buta mendukung pemerintahan Jokowi; ia tetap objektif dan kritis dalam memandang dan menyikapi kebijakan yang diambil pemerintah.
Mari kembali kita perbandingkan: jika Jokowi adalah PDIP dan PDIP adalah Jokowi dalam konteks relasi “boneka”, apakah mungkin perdebatan ini terjadi?
Terakhir yang dapat saya ulas dalam tulisan ini (walau banyak sekali fakta lainnya baik secara eksplisit maupin implisit yang menunjukkan bahwa Jokowi bukanlah boneka partai; terlebih boneka Megawati) adalah sikap ketidaksukaan Megawati terhap Ibu Negara, Iriana, yang diangap terlalu sering “mengekor” suaminya dalam acara-acara lawatan Presiden. Media sempat ramai menurunkan pemberitaan yang memuat sindiran Megawati terhadap Iriana. Ini artinya jelas sekali: Megawati dan partai tidak “menabikan” Jokowi dan sebaliknya: Jokowi pun kerap membandel terhadap titah Ketumnya.
Jika durhaka diartikan dengan suatu sikap pertentangan, maka Presiden yang mulai mendurhakai Ketumnya sendiri adalah tendensi positif bagi bangsa. Presiden memang semestinya mendurhakai siapapun dan apapun; kecuali konstutusi dan prinsip-prinsip Good Governance.

KALAU KEMAUAN MEGAWATI DITURUTI

Kalau kemauan Megawati dituruti oleh presiden, maka Kapolri kita adalah Budi Gunawan, bukan Badrodin Haiti, seorang yang berstatus tersangka korupsi. Nah, apa kata dunia jika Kapolri-nya seorang tersangka kasus korupsi? Apakah Indonesia akan bangga dengan Kapolri yang seperti itu?

Sekarang saja kita masih menanggung aib karena luputnya menjadi Kapolri, Budi Gunawan dipaksa dijadikan Wakapolri. Menyisakan pertanyaan: apakah di Polri sudah tidak ada lagi jendral yang lebih bersih dari Budi Gunawan? Apakah Polri sudah demikian busuknya, sehingga seorang koruptor masih dikasih jabatan strategis?

STATUS PRESIDEN

Status presiden itu adalah KEPALA NEGARA, seorang yang paling berkuasa di suatu negara. Masakan dia ditundukkan oleh seorang Ketua Umum sebuah Partai?

Kalau Ketua Umum sebuah Partai mengendalikan seorang presiden, maka apakah status presiden itu? Petugas partai atau kacungnya ketua umum partai. Maka jadilah Jokowi itu presiden boneka, sedangkan kepala negara yang sesungguhnya adalah Megawati. Apakah seperti itu seorang presiden itu?

SOAL JOKOWI PETUGAS PARTAI

Si nenek tua, mak Lampir PDIP: Megawati lagi-lagi masih berpikir bahwa Jokowi itu petugas partai. Okey, itu betul, tidak salah sama sekali. Tapi pertanyaannya adalah: Rela atau tidak Megawati/PDIP menyerahkan "petugas partai"-nya itu untuk keperluan nusa dan bangsa[yang luas], bukan sekedar menjalankan visi dan misinya PDIP[yang sempit karena Indonesia ini terdiri dari banyak partai]?!

Jika Megawati merasa sebagai bunda yang melahirkan Jokowi: Rela atau tidak ketika Jokowi hendak kawin dengan kekasih pujaan hatinya, yaitu: negara republik Indonesia?! Kalau masih merasa Jokowi itu adalah haknya, ya kawini saja Jokowi, jangan boleh kawin dengan orang lain. Jadikan dia ketua umumnya PDIP, bukan presiden Indonesia.

PDIP memang partai yang memenangkan pemilu di Indonesia. Tapi Indonesia bukanlah hanya dimiliki oleh PDIP. Ini yang harus diingat. Pemilihan umum bukanlah ajang untuk menguasai Indonesia oleh suatu partai, tapi bagaimana suatu partai pemenangnya itu memberikan warna dominan bagi Indonesia. Misalkan Indonesia itu sebuah rumah, silahkan dikasih cat merah yang dominan. Tapi apakah seluruhnya harus bercat merah, tidak boleh ada warna yang lainnya? Lihat simbolnya PDIP yang latar belakangnya warna merah, tidakkah kepala bantengnya berwarna hitam, sementara tulisannya berwarna putih? Sekalipun terdiri dari 3 warna namun PDIP adalah merah, bukan hitam atau putih. Artinya, janganlah kemenangan PDIP itu untuk membunuh visi dan misi partai-partai lainnya. Ijinkan partai-partai yang lainnya ikut memberikan warna bagi Indonesia melalui kepemimpinan presiden Jokowi.

Mega Berhak dan Bebas Sebut Presiden Jokowi Petugas Partai

http://www.cnnindonesia.com/politik/20150726124800-32-68182/mega-berhak-dan-bebas-sebut-presiden-jokowi-petugas-partai/

Mega Berhak dan Bebas Sebut Presiden Jokowi Petugas Partai

Jakarta, CNN Indonesia -- PDI Perjuangan meminta agar pernyataan Megawati ihwal presiden petugas partai tidak terus menerus dipersoalkan oleh publik. Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan berhak menyebut kapanpun soal Presiden Joko Widodo (Jokowi ) adalah petugas partai karena Jokowi adalah kader PDIP.

Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan setiap kader atau anggota PDIP adalah petugas partai. “Semuanya yang mempunyai kartu tanda anggota PDIP merupakan petugas partai,” ujar Eva kepada CNN Indonesia, Ahad (26/7).

Ketua DPP PDIP itu menuturkan, kader PDIP yang menjadi pejabat pemerintahan dari mulai wali kota atau bupati, gubernur hingga presiden pun disebutnya sebagai petugas partai. “Tidak ada pengecualian, termasuk anggota DPR dari PDIP, selama mereka masih pegang KTA PDIP,” kata Eva. (Baca: Sebutan Petugas Partai Mega ke Jokowi Terlalu Merendahkan)

Eva menegaskan, hal tersebut sudah tercantum dalam aturan di internal PDIP yang disepakati di kongres. Jadi, kata Eva, kalau Megawati kerap menyebut presiden adalah petugas partai tidak ada yang salah. “Ya memang seperti itu di konstitusi kami, sesuai juga dengan ideologi di partai kami,” ujar dia.

Pernyataan Megawati tentang presiden petugas partai yang dilontarkan lagi pada Selasa (21/7) dinilai wajar dan bebas dikatakan sebagai Ketua Umum PDIP dan tokoh nasional. (Baca: Mega Tegaskan Status Presiden Jokowi Tetap Petugas Partai)

Pernyataan tersebut muncul kembali di tengah pertanyaan publik apakah harus Megawati yang berkunjung untuk bersilaturahmi 1 Syawal ke Istana Presiden.

Ahli Hukum Tata Negara Andi Irmanputra Sidin menyatakan tidak ada keharusan protokol konsitusi bahwa Presiden tidak boleh mengunjungi tokoh senior bangsa, mantan presiden hingga ketua umum partai politik baik yang mengusungnya menjadi capres ataupun tidak guna mendahului memberi ucapan selamat hari raya. (Baca: Megawati: Jika Tak Mau Disebut Petugas Partai, Keluar!)

“Presiden tidak harus menunggu di Istana seperti simbol monarki. Presiden bisa saja keluar Istana di hari raya seperti Lebaran ini guna mendahului permintaan maaf ke Megawati atau bahkan ke tokoh bangsa lainnya,” ujar Irman kepada CNN Indonesia.

Irman mengatakan bahwa hal tersebut tidak menjatuhkan wibawa Presiden sebagai salah satu pemegang kekuasaan konsitusional. Berkaitan dengan ini pula maka presiden sebagai petugas partai juga tidak perlu dihadap-hadapkan dengan kepentingan rakyat karena partai adalah pilar utama rakyat dalam pemerintahan.

“Konstitusi sudah menjadikan partai sebagai wahana utama rakyat dalam menyalurkan kepentingannya,” tutur Irman.

Oleh karenanya, lanjut Irman, Megawati berhak menegaskan bahwa presiden adalah petugas partai. “Sama haknya dengan partai lain. Bahkan kita sebagai warga negara berhak menyatakan bahwa presiden adalah petugas kita sebagai individu warga negara,” ujarnya.

Presiden Jokowi tidak bersilaturahmi ke rumah Megawati saat Hari Raya Idul Fitri. Presiden merayakan Idul Fitri di Aceh dan setelah itu langsung pulang ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah.

Eva menyatakan, tidak bertemu Jokowi dengan Mega dalam acara silaturahmi Lebaran saat hari raya tidak menjadi masalah. “Setelah Pak Jokowi dari Solo dan sudah berada di Jakarta, keduanya sudah sempat bertemu. “Tiga hari lalu mereka bertemu untuk Lebaranan, di (Jalan) Teuku Umar (rumah Megawati),”  kata Eva.

Sebelumnya, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menyatakan bahwa sebenarnya tak ada persoalan antara Megawati dan Jokowi lantaran pada hari pertama Idul Fitri Jokowi tidak hadir berlebaran ke rumah Megawati seperti pejabat-pejabat negara dan tokoh-tokoh nasional lainnya. 

Jumat, 24 Juli 2015

Masa Integrasi Adalah Masa Terindah bagi Timor Timur

http://www.kompasiana.com/mozesadiguna/masa-integrasi-adalah-masa-terindah-bagi-timor-timur_551fdbef813311f0379df43c

Timor Timur, wilayah yang pernah menjadi provinsi ke-27 Indonesia, kini telah menjadi sebuah negara yang bernama "Timor Leste". Timor Timur awalnya merupakan wilayah jajahan Portugis hingga 1975. Kemudian berintegrasi dengan Indonesia sesuai dengan keinginan mayoritas rakyat Timor Timur saat itu. Selama Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia, rakyat Timor Timur jauh lebih sejahtera dan lebih maju dibandingkan masa penjajahan Portugis dan setelah melepaskan diri dari NKRI. Timor Timur akhirnya lepas dari NKRI setelah diadakan referendum yang penuh kecurangan pada tahun 1999. Saat ini Timor Leste menjadi negara termiskin ke-7 di dunia.
Masa Kolonial Portugis
Bangsa Portugis menjajah Timor Timur selama kurang lebih 450 tahun. Rakyat Timor Timur hidup dalam kemiskinan, sebagian besar rakyat buta huruf, dan penuh diskriminasi. Bahkan dalam pendiskriminasian, penduduk pribumi dilarang menginjak jalan aspal, sebuah diskriminasi yang dapat dinilai keterlaluan. Hanya ada sedikit sekali lulusan akademi yang dihasilkan bangsa Portugis selama menjajah Timor Timur. Orang-orang pada umumnya hanya tahu Ir. Mario Viegas Carrascalao. Bisa dikatakan nasib bangsa Indonesia ketika dijajah Belanda lebih beruntung walaupun yang namanya penjajahan selalu tidak enak.
Pemberlakuan pemberian finta (upeti) kepada pemerintah kolonial Portugis menimbulkan kebencian di antara para liurai (raja setempat) dan pernah timbul perlawanan pada tahun 1710. Pada tahun 1859, gubernur Timor Portugis Afonso de Castro membuat kebijakan tanam paksa yakni tanaman untuk diekspor khususnya kopi. Kebijakan yang menyengsarakan rakyat ini menimbulkan perlawanan terhadap penjajah Portugis yang dipimpin oleh para liurai pada tahun 1861. Sistem kerja paksa kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Jose Celestino da Silva dalam bentuk pembangunan jalan.
Perlawanan yang terbesar adalah perlawanan yang dipimpin oleh Dom Boaventura (liurai Manufahi). Dom Boaventura melanjutkan perlawanan ayahnya, Dom Duarte, yang dipaksa menyerah di tahun 1900. Dom Boaventura mulai mengadakan perlawanan di tahun 1911. Pemerintah kolonial Portugis mengerahkan pasukan pribumi Timor Portugis ditambah pasukan yang didatangkan dari Afrika Timur Portugis (sekarang Mozambik). Perlawanan berhasil ditumpas pada tahun 1912. Diperkirakan 25 ribu orang tewas selama kampanye menumpas perlawanan Dom Boaventura. Kemudian pemerintah Timor Portugis memberikan kewenangan langsung kepada suco (desa) sebagai pemerintahan lokal. Dengan demikian, kekuasaan dan pengaruh para liurai menjadi kecil dan penjajah Portugis dapat mengontrol secara langsung hingga ke pedalaman.
Tahun 1974, di Portugal terjadi Revolusi Bunga (atau disebut juga Revolusi Anyelir) yang mengakibatkan Portugal mengeluarkan kebijakan dekolonisasi dan mulai meninggalkan wilayah jajahannya, termasuk Timor Timur. Partai-partai mulai berdiri di Timor Timur : APODETI, FRETILIN, UDT, TRABALISTA, KOTA. UDT (Uniao Democratica Timorense) menginginkan Timor Timur tetap berada di bawah kekuasaan Portugal. APODETI (Associacao Popular Democratica Timorense) menginginkan Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia. FRETILIN (Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente) menginginkan Timor Timur merdeka sebagai sebuah negara berdaulat. Ketiganya merupakan tiga partai terbesar.
Kerusuhan dan pertumpahan darah merebak ke seluruh bumi Lorosae. Dari sisi kekuatan senjata, FRETILINlah yang terkuat sebab mendapat dukungan dari pasukan pribumi militer Timor Portugis. FRETILIN mulai menyerang UDT dan APODETI yang memaksa UDT untuk bersatu dengan APODETI untuk menghadapi FRETILIN. FRETILIN membantai puluhan ribu rakyat yang menginginkan Timor Timur bergabung dengan Indonesia termasuk banyak tokoh APODETI. Gubernur Timor Portugis waktu itu (gubernur terakhir), Mario Lemos Pires, yang seharusnya bertanggung jawab memulihkan ketertiban dan keamanan justru mengevakuasi sebagian besar pasukan Portugis ke Pulau Atauro dan membiarkan koloni Portugis tersebut dalam kekacauan.
FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan memroklamirkan kemerdekaan Timor Timur pada tanggal 28 November 1975. APODETI, UDT, TRABALISTA, dan KOTA segera mengadakan proklamasi tandingan di Balibo pada tanggal 30 November 1975 yang menyatakan bahwa Timor Timur menjadi bagian dari NKRI. Naskah proklamasi tersebut ditandatangani oleh Arnaldo dos Reis Araujo (ketua APODETI) dan Francisco Xavier Lopes da Cruz (ketua UDT). Tak lama kemudian, TNI datang dan membebaskan Timor Timur dari kebiadaban FRETILIN. Upaya pembebasan itu dikenal dengan nama Operasi Seroja.
Masa Integrasi dengan Indonesia
Gabungan partai yang pro integrasi membentuk PSTT (Pemerintahan Sementara Timor Timur) dan mengangkat Arnaldo dos Reis Araujo sebagai gubernur pertama serta Francisco Xavier Lopes da Cruz sebagai wakil gubernur. Timor Timur resmi menjadi provinsi ke-27 Indonesia setelah disahkannya UU no. 7 tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Timor Timur menjadi provinsi yang paling unik karena provinsi Indonesia lainnya merupakan bekas wilayah jajahan Belanda, Timor Timur merupakan satu-satunya provinsi Indonesia bekas wilayah jajahan Portugis. Presiden Soeharto menyebut bersatunya Timor Timur sebagai "kembalinya anak yang hilang".
Berbagai infrastruktur mulai dibangun di provinsi termuda itu. Mulai dari sekolah hingga bandara. Bangunan sekolah mulai dari SD hingga universitas dibangun. Bandara Komoro (sekarang Bandara Nicolau Lobato) dibangun di Dili sehingga berbagai pesawat dapat mendarat dan terbang ke dan dari Timor Timur. Banyak subsidi dari dana APBN dicurahkan untuk memajukan provinsi termuda ini. GNP per kapita Timor Timur sebesar $1500 semasa integrasi. Presiden Soeharto juga memerintahkan pembangunan patung Kristus Raja yang menjadi ikon pariwisata Timor Timur dan simbol toleransi terhadap umat Katolik. Patung itu menjadi patung Yesus Kristus terbesar kedua di dunia setelah di Rio de Janeiro, Brasil. Adalah suatu hal yang unik jika salah satu negara mayoritas Muslim terbesar memiliki patung Yesus Kristus terbesar kedua di dunia. Almarhum presiden kedua kita juga memerintahkan pendirian Monumen Integrasi berbentuk liurai dengan borgol yang terputus di kedua tangan untuk memeringati perjuangan heroik rakyat Timor Timur dari penjajahan Portugis hingga bersatu dengan Indonesia.
Para transmigran berdatangan untuk menggerakkan roda perekonomian Timor Timur. Para guru dan dokter didatangkan sehingga tingkat kesehatan dan pendidikan rakyat Timor Timur meningkat dengan cepat dibanding masa kolonial Portugis. Penggunaan bahasa Portugis dihapuskan dan diganti bahasa Indonesia untuk mengintegrasikan masyarakat Timor Timur dengan masyarakat Indonesia lainnya. Namun masyarakat Timor Timur tidak begitu terkejut dengan penggunaan bahasa Indonesia berkat jasa-jasa para tokoh APODETI yang dulu memromosikan bahasa Indonesia ke masyarakat Timor Timur. Tidak sedikit putra-putri Timor Timur yang melanjutkan studi hingga ke Pulau Jawa khususnya di Yogyakarta. Walaupun pihak separatis terus "menggonggong" menuduh TNI melakukan pembantaian terhadap orang-orang Timor Timur, ternyata ada banyak putra asli Timor Timur yang turut mengabdi menjadi prajurit TNI.
Namun PBB tidak pernah mengakui Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Setelah mencairnya Perang Dingin, AS dan Australia yang dulu mendukung Indonesia untuk segera menyatukan Timor Timur kini menjegal Indonesia dengan berbalik menuduh Indonesia telah menduduki Timor Timur dan melakukan pelanggaran HAM berat. Suatu tindakan pengkhianatan terhadap bangsa Indonesia. Australia dan Portugal membantu perjuangan diplomasi FRETILIN dan CNRT (Conselho Nacional de Resistencia Timorense, partai pecahan FRETILIN) sedangkan Indonesia harus berjuang sendiri. Untungnya ada beberapa negara mengakui Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia yaitu negara-negara ASEAN, Argentina, dll. Mengapa Australia dengan begitu munafik mendukung kemerdekaan Timor Timur? Karena Australia ingin menguasai ladang minyak di Celah Timor (Timor Gap). Australia dahulu mendukung proses integrasi Timor Timur ke Indonesia hanya karena takut bahaya komunis akan mencapai garis depan Australia jika Timor Leste merdeka sebab FRETILIN beraliran komunis.
Gerakan separatis semakin kuat dan kekacauan terjadi di seluruh Timor Timur. Untuk itu, ABRI segera membentuk berbagai kelompok milisi pro integrasi yang terdiri dari putra-putra asli Timor Timur. Nama-nama kelompok milisi yang dibentuk : Gadapaksi (Garda muda penegak integrasi), BMP (Besi Merah Putih), Saka, Sera, Mahidi (Mati hidup dengan Indonesia), Makikit, Halilintar, dll. Komando tertinggi kelompok-kelompok milisi tersebut berada di tangan Joao da Silva Tavares selaku panglima PPI (Pejuang Pro Integrasi). Para milisi siap menyerang pemberontak FALINTIL (Forcas Armadas da Libertacao Nacional de Timor Leste, sayap militer CNRT) dan para pendukung kemerdekaan dan menghancurkan tempat-tempat yang dianggap milik para pendukung kemerdekaan demi memertahankan integrasi. Salah satu aksi para milisi yakni mengepung dan menghancurkan rumah seorang tokoh CNRT, Manuel Viegas Carrascalao, sebab selama ini rumah tersebut dipakai untuk menampung 124 pendukung kemerdekaan. Di satu sisi, para pendukung kemerdekaan juga melakukan hal yang sama kepada para pendukung integrasi. Monumen Pancasila di Vikeke tidak luput menjadi salah satu sasaran pengrusakan kelompok pro kemerdekaan. Banyak warga sipil yang mengungsi ke perbatasan NTT untuk menghindari kekerasan yang terjadi di Timor Timur.
Setelah rezim Orde Baru jatuh, tahun 1999, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie memutuskan untuk mengadakan referendum. Referendum tersebut penuh dengan kecurangan. Referendum tersebut berada di bawah tanggung jawab UNAMET (United Nations Mission in East Timor) dan dipenuhi dengan berbagai kecurangan. Perekrutan local staff diambil hanya dari orang-orang yang pro kemerdekaan atau yang akan memilih opsi merdeka. Sebagian besar lokasi TPS terletak di dekat pemukiman masyarakat pro kemerdekaan. Para orangtua dan saudara yang memiliki anak atau saudara anggota milisi pro integrasi dilarang memilih. Banyak orangtua yang dipaksa bahkan diancam untuk memilih opsi merdeka. Tanggal 5 Agustus 1999 di Bobonaro, salah seorang anggota UNAMET yang bertugas menerima pendaftaran berkata : "Kedatangan UNAMET hanya untuk bekerjasama dengan FALINTIL, bukan dengan Indonesia", akibatnya sempat terjadi keributan dengan pihak pro integrasi. Pernah juga terjadi kejadian di mana beberapa petugas Palang Merah asal Australia ditangkap karena membawa kartu referendum yang opsi merdeka telah dilubangi. Hasilnya 79% memilih merdeka, 21% memilih tetap bersatu dengan otonomi luas. Pertikaian kembali pecah pasca referendum karena para pendukung integrasi merasa kesal atas kecurangan yang terjadi selama referendum. Bagaimanapun Indonesia dengan terpaksa harus mengakui hasil referendum tersebut.
Masa Setelah Lepas dari Indonesia
Timor Timur berada di bawah PBB hingga 2002. Tanggal 20 Mei 2002, Timor Timur resmi diakui kemerdekaannya secara internasional. Timor Timur menjadi sebuah negara dengan nama "Republik Demokratik Timor Leste". Kay Rala Xanana Gusmao menjadi presiden pertama dan Mari Bin Amude Alkatiri menjadi perdana menteri pertama negara itu setelah melepaskan diri dari NKRI tahun 2002.
Walaupun telah merdeka, rakyat Timor Leste tetap hidup dalam kemiskinan bahkan semakin melarat. GNP per kapita yang awalnya $1500 turun drastis menjadi $300. Penggunaan dolar AS sebagai mata uang Timor Leste menyebabkan standar hidup menjadi tinggi dan daya beli masyarakat menurun. Australia akhirnya berhasil memeroleh keinginannya, ladang minyak Celah Timor. Berdasarkan perjanjian, 80% hasil dari ladang minyak tersebut untuk Australia dan hanya 20% untuk Timor Leste. Harga BBM di Timor Leste sangat mahal sehingga tidak jarang mobil-mobil orang Timor Leste "minum" premium bersubsidi di Timor Barat padahal mereka tidak pantas mendapatkan itu sebab mereka bukan lagi warga negara Indonesia.
Pemerintah Timor Leste menerapkan bahasa Portugis dan bahasa Tetum sebagai bahasa nasional tetapi bahasa Portugis yang lebih diutamakan. Dengan begitu, pemerintah Timor Leste telah "sukses" memundurkan Timor Leste hingga 30 tahun ke belakang. Dalam semalam rakyat Timor Leste menjadi buta bahasa karena pada faktanya hanya kurang dari 3% dari seluruh penduduk Timor Leste yang fasih menggunakan bahasa Portugis. Sebagian besar yang bisa berbahasa Portugis berasal dari generasi tua. Mayoritas penduduk Timor Leste justru fasih berbahasa Indonesia karena selama 24 tahun mereka hidup bersatu dengan Indonesia.
Akibat dari kebijakan bahasa itu, wajah pendidikan Timor Leste turut menjadi bobrok. Sekolah diliburkan selama sembilan bulan hanya untuk memberi kursus bahasa Portugis kepada para guru Timor Leste. Pemerintah juga menawarkan kepada para pelajar beasiswa untuk melanjutkan studi di Portugal. Hasilnya banyak di antara mereka yang gagal dalam studi. Mereka hanya mendapat pelatihan bahasa Portugis selama lima bulan sebelum berangkat ke Portugal. Untuk ujian saringannya saja menggunakan bahasa Indonesia.
Pertikaian antar etnis juga sering terjadi. Pada tanggal 8 Februari 2006, lebih dari 400 pasukan Timor Leste etnis Loro Monu melakukan aksi mogok sebagai aksi protes karena merasa didiskriminasi. Pemerintah memecat sebanyak 594 pasukan etnis Loro Monu. Para prajurit desertir di bawah Mayor Alfredo Alves Reinado segera melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Kerusuhan juga terjadi di seluruh penjuru Timor Leste. Ratusan bangunan dibakar dan dijarah, sementara 20 orang dilaporkan tewas dalam pertikaian antara etnis Loro Monu dan Loro Sa'e. Pemerintah Dili tidak dapat mengendalikan pemberontakan tersebut hingga meminta bantuan militer Australia, Portugal, Selandia Baru, dan Malaysia tetapi hanya tentara Australia yang datang. Pasukan PBB pun akhirnya juga turun tangan menjaga keamanan dan ketertiban di Timor Leste. Tanggal 29 Mei, ratusan orang berdemonstrasi di luar istana presiden sambil meneriakkan yel-yel anti PM Mari Alkatiri, gudang pangan pemerintah di lain tempat turut dijarah. Bahkan pada tanggal 11 Februari 2008, Presiden Jose Manuel Ramos Horta nyaris terbunuh oleh tembakan anak buah Mayor Alfredo Reinado, Amaro da Costa. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya keamanan di Timor Leste. Mayor Alfredo Reinado sendiri tewas beberapa hari kemudian. Tugas pasukan PBB di Timor Leste berakhir pada bulan Desember 2012 dan keamanan dan ketertiban kembali diserahkan kepada pemerintah Timor Leste.
Bagaimanapun masa terindah atau masa kejayaan Timor Timur bukan pada saat merdeka tetapi pada saat integrasi dengan Indonesia. Mungkin ada banyak orang Timor Leste yang kini tengah merindukan masa-masa integrasi di mana mereka bisa hidup sejahtera. Akankah mereka suatu saat kembali bersatu dengan Ibu Pertiwi? Semoga.

 Xanana Ingin Timor Leste Balik ke Indonesia

source: http://nasional.sindonews.com/read/909553/12/xanana-ingin-timor-leste-balik-ke-indonesia-1412773294

 Xanana Ingin Timor Leste Balik ke Indonesia

 http://nasional.sindonews.com/read/909553/12/xanana-ingin-timor-leste-balik-ke-indonesia-1412773294

Xanana Ingin Timor Leste Balik ke Indonesia

 SURABAYA - Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao memberikan pernyataan mengejutkan saat menghadiri HUT ke-69 TNI di Surabaya, Jawa Timur, Selasa 7 Oktober 2014.

Tokoh kemerdekaan Timor Leste ini mengatakan negaranya siap bergabung dengan Indonesia.

"Timor Leste harus bergabung dengan Indonesia. Kami butuh pemimpin baru," ujar Xanana di Surabaya, Selasa 7 Oktober 2014.

Hal itu dikatakannya kepada wartawan yang meminta konfirmasi mengenai isu keinginan Timor Leste kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Mantan gerilyawan ini juga mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang telah mengundangnya untuk menghadiri HUT TNI.

Xanana juga memuji persenjataan TNI yang dinilainya berkembang pesat selama dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas undangan dan kerja samanya selama ini. Saya juga perlu ucapkan Dirgahayu TNI,” ungkap Xanana.

Negara Timor Leste terbentuk pada tahun 2002. Negara ini sebelumnya salah satu provinsi di Indonesia dengan nama Timor Timur.

Timor Timur berubah menjadi Timor Leste setelah melalui proses referendum kemerdekaan pada tahun 1999. Referendum itu di bawah pengawasan langsung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Belakangan, Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Timor Leste membantah Xanana telah menyatakan Timor Leste ingin bergabung ke Indonesia. (Baca: Timor Leste Bantah Ingin Kembali ke RI)


BJ Habibie Bicara Lepasnya Timor Timur dari Indonesia

 http://www.tribunnews.com/nasional/2015/05/17/bj-habibie-bicara-lepasnya-timor-timur-dari-indonesia

 BJ Habibie Bicara Lepasnya Timor Timur dari Indonesia


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Timor Timur (kini Timur Lester) tidak pernah diproklamirkan sebagai bagian dari Indonesia.
Demikian kata Presiden ke-3 RI, Baharudin Jusuf Habibie. Ia menyebut Timor Timur sebagai negara bebas, sama seperti Brunei Darusalam dan Singapura.
Hal itu dikatakan Habibie dalam pemaparannya di acara "Supermentor 6: Leader," di XXI Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Minggu, (17/5/2015).
Di acara tersebut, juga hadir mantan Perdana Menteri Timur Leste yang pernah menjadi buronan Indonesia, Xanana Gusmao.
"Di sini ada bapak (Xanana) Gusmao, saya tahu beliau sejarahnya bagaimana," kata Habibie.
Selain Xanana di acara itu juga hadir Wakil Presiden RI ke-6 sekaligus mantan Panglima TNI Try Sutrisno.
Xanana para tahun 1992 pernah ditangkap oleh TNI, saat itu pemimpin tertinggi TNI adalah Try Sutrinso dan sempat menemui Xanana yang masih memimpin perjuangan untuk membebaskan Timor-Timur dari Indonesia.


Timor Timur menjadi provinsi ke-27 Indonesia hingga Pada 1999 lalu saat Habibie masih menjadi Presiden, rakyat Timor Timur menentukan nasibnya sendiri untuk lepas dari pangkuan ibu pertiwi.
Dalam kesempatan itu Habibie bilang tidak ada satu bangsa pun yang berhak menjajah bangsa lain.
Indonesia, kata Habibie, tidak akan membiarkan bangsa lain dijajah.
Setelah melalui penentuan pendapat, pada 19 Oktober 1999, Timor-Timur pun dinyatakan lepas dari Indonesia.
Di depan para peserta Habibie juga mengakui hingga detik ini ia sama sekali belum menginjakan kakinya di tanah Timor-Timur itu pascamerdeka.
Ia beralasan masih banyak pihak yang belum bisa mengerti kebijakannya untuk Timor-Timur saat ia masih menjadi Presiden.
"Belum waktunya, yang penting anda ada bersama kita, anda adalah saudara kita, kita sama-sama membangun negeri ini," tandasnya.

Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap

https://id-id.facebook.com/notes/kopassus-indonesia/sejarah-lepasnya-timor-timur-yang-tak-pernah-terungkap-meneteslah-air-mata-ini/808970699162983

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.
Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA



Oleh: Kafil Yamin
Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.
Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.
“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.
Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.



“Panggil saja saya Laffae,” katanya.
“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.
“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.
Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.

Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.
Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.
“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”
Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.
Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.
Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.
Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!
Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.
Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.
Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.
Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.
Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:
“Kafil, we can’t run the story,” katanya.
“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.
“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.
“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.
“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”
“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”
“I think we still can run the story but we should change it.”
“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.
Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.
***
Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.
Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.
Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.
“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.
Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”
Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.
Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.
Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.
Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.
Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.



Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.
Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.
Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.
Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.
Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.
Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.
Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.
“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”
Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”
Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.
Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.
“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.
“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.
“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.
“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.
“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.
Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.
Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.
Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.
Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.
Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.
Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”
Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.
Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.

***
Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.
Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.
Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.
Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.
Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.



Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.
Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.
Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

***
12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.
Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?
Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun.

KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG.

'Kasus Tolikara Mirip Timor Leste Sebelum Merdeka'

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/24/058686325/kasus-tolikara-mirip-timor-leste-sebelum-merdeka

'Kasus Tolikara Mirip Timor Leste Sebelum Merdeka'  

TEMPO.CO, Cirebon - Mantan Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo, menilai kerusuhan yang meletus di Tolikara, Papua, Jumat pekan lalu, bukan masalah agama. Menurutnya, apa yang terjadi di Tolikara persis seperti yang terjadi sebelum Timor Timur lepas dari Indonesia.

"Jika terjadi ada aksi balasan, akan ada cerita pada dunia jika ada penganiayan dan penindasan di Papua," kata Suryo dalam pertemuan dengan  kiai dan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Buntet Pesantren, Cirebon, Jumat 24 Juli 2015.

Menurut asumsi Suryo, aksi kekerasan selanjutnya dapat menjadi alasan bagi negara lain untuk masuk ke Papua. "Kejadian di Timor Timur pun bisa terulang kembali," katanya.

Suryo mengatakan saat ini sudah ada ribuan pasukan dari Amerika Serikat di Australia. Mereka berlatih dan melakukan pengamanan di tempat yang sama saat tentara Australia hendak masuk ke Timor Timur mengatasnamakan pasukan pengamanan PBB.

"Alasannya pengamanan di laut Cina Selatan,” katanya. Suryo pun mengaku jika dirinya dulu ikut menandatangani pelepasan Timor Timur dari Indonesia. “Jangan sampai itu terulang kembali, “ katanya.

IVANSYAH