Sabtu, 04 Juli 2015

ADA WAKTUNYA BERHENTI MEMARAHI ANAK

Nasehati, marahi dan hajarlah anak-anak anda sebelum hal yang buruk, yang tidak kita inginkan terjadi, sebagai usaha pencegahan kita. Namun bila hal yang buruk itu telah benar-benar terjadi, misalkan anak gadis yang hamil diluar nikah, maka pada saat itu kemarahan sudah tidak ada gunanya sama sekali. Berbaliklah pada kasih - mengasihinya. Sebab setiap orang itu bisa jatuh, dan pada saat jatuh orang membutuhkan pertolongan, membutuhkan bantuan, membutuhkan perhatian, membutuhkan teman, membutuhkan dorongan mental. Jangan anda malah membuat posisi anak itu menjadi: "sudah jatuh tertimpa tangga."

Lingkungan keluarga; bapak, ibu, kakak dan adik harus memainkan peran untuk menjadi penolong dan perisai dari anak yang jatuh itu. Keluarga harus siap menerima resiko hal-hal yang buruk yang menimpa anak-anaknya. Jangan mengambil sikap yang serupa dengan masyarakat, melainkan harus melindungi dan membantu anak yang jatuh itu bangkit kembali. Keadaan yang sudah terlanjur rusak harus diperbaiki, bukan malah dibikin tambah rusak. Jangan hancurkan anak anda dan masa depannya!

Menjaga kesehatan itu berguna sebelum jatuh sakit, tapi ketika sakit yang dibutuhkan adalah mengobatinya. Peraturan itu berguna sebelum terjadinya pelanggaran, namun setelah terjadi pelanggaran yang dibutuhkan adalah penyelesaiannya. Demikian halnya dengan ALLAH. ALLAH itu keras sebelum orang berbuat dosa. Namun setelah orang berbuat dosa sikap ALLAH adalah kasih dan menyediakan pengampunan dosa.

Mengingat peran orangtua adalah sebagai pendidik - guru, maka orangtua perlu bisa dan pandai berbicara sebagaimana seorang guru. Karena itu saya sarankan setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan supaya belajar ngomong, sebagaimana ALLAH itu berfirman, sehingga Alkitab disebut sebagai Firman/Perkataan ALLAH.

Iya, berbicara, pandai berbicara dan pandai berdiskusi harus merupakan kemampuan setiap orang. Asalkan untuk kebaikan, bukan untuk disalahgunakan, pandai berbicara itu sangat-sangat penting.

Nabi Musa ketika hendak diutus TUHAN menghadap Firaun, berusaha menolak tugas itu dengan alasan dia tidak pandai bicara, dan TUHAN tidak menyangkali perlunya seorang nabi itu pandai berbicara, melainkan TUHAN menunjuk Harun, abangnya, sebagai jurubicaranya. Jadi, seorang nabi atau penginjil itu harus memiliki kemampuan berbicara.

Keluaran 4:10     Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai
                           bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-
                           Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."
               4:11     Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah
                           manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang
                           melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?
               4:12     Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar
                           engkau, apa yang harus kaukatakan."
               4:13     Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut
                           Kauutus."
               4:14     Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman:
                           "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa
                           ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan
                           apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.

Tidak ada komentar: