Rabu, 08 Juli 2015

Awas, Ada Klorin di Pembalut Wanita, Ini Daftar Mereknya

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/08/173682043/awas-ada-klorin-di-pembalut-wanita-ini-daftar-mereknya?ref=yfp

TEMPO.COJakarta - Penelitian oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menunjukkan sebagian besar pembalut yang umum beredar di pasaran mengandung klorin yang membahayakan kesehatan.

Anggota Pengurus Harian YLKI, Ilyani Sudrajat, mengatakan selama ini cukup banyak keluhan dari perempuan yang mengatakan pembalut yang mereka gunakan menyebabkan iritasi. "Kami sendiri orang-orang YLKI juga merasakan dampak buruk pembalut yang merugikan kesehatan," kata Ilyani dalam konferensi pers di kantornya, Selasa, 7 Juli 2015.

Adapun di Indonesia sendiri, Standar Nasional Indonesia (SNI) pembalut dan pantyliner belum mencantumkan kadar klorin di dalamnya. Ilyani menyatakan konsumen harus berhati-hati memilih produk pembalut karena menyangkut ancaman bahaya yang cukup serius.

"Ini menyangkut reproduksi perempuan sehingga harus diperhatikan dengan baik. Sayangnya, pemerintah kita belum membuat regulasi tentang hal ini," ujar Ilyani.

Dalam pengujian yang dilakukan di laboratorium independen TUV NORD pada Januari-Februari 2015, terbukti sembilan merek pembalut dan tujuh merek pantyliner mengandung klorin dengan kadar beragam, dengan hasil sebagai berikut

Pembalut:
1. Charm: 54,73 ppm
2. Nina Anion: 39,2 ppm
3. My Lady: 24,44 ppm
4. VClass Ultra: 17,74 ppm
5. Kotex: 8,23 ppm
6. Hers Protex: 7,93 ppm
7. Laurier: 7,77 ppm
8. Softex: 7,3 ppm9. Softness Standard Jumbo Pack: 6,05 ppm

Pantyliner:
1. V Class: 14,68 ppm
2. Pure Style: 10,22 ppm
3. My Lady: 9,76 ppm
4. Kotex Fresh Liners: 9,66 ppm
5. Softness Panty Shields: 9,00 ppm
6. CareFree Superdry: 7,58 ppm
7. Laurier Active Fit: 5,87 ppm

Produsen dari merek tersebut tidak mencantumkan kandungan klorin pada komposisi. Namun hasil pengujian YLKI menunjukkan pembalut dan pantyliner itu mengandung klorin yang biasa digunakan sebagai pemutih.



Apa itu Gas Klorin? Sifat, Kegunaan & Bahayanya

http://www.amazine.co/26378/apa-itu-gas-klorin-sifat-kegunaan-bahayanya/

Gas klorin (chlorine gas) adalah seyawa yang umum digunakan dalam industri.
Gas ini juga bersifat sangat beracun dan pernah digunakan selama Perang Dunia I.
Pada tekanan atmosfer dan suhu kamar, unsur klorin     berbentuk gas dengan warna hijau kekuningan dan memiliki bau khas seperti pemutih.
Gas klorin memiliki kepadatan lebih besar dari udara, sehingga cenderung melayang dekat dengan permukaan tanah.
Ketika didinginkan dan diberi tekanan, senyawa ini menjadi cair sehingga memudahkan transportasi dan penyimpanan.
Gas klorin bersifat racun karena amat reaktif dengan air yang terdapat di selaput lendir paru-paru dan mata.
Reaksi yang terjadi akan menghasilkan asam klorida dan asam hipoklorit yang memicu iritasi pada mata dan paru-paru serta memicu korosi pada jaringan.
Saat terpapar gas klorin, seseorang harus segera mencari pertolongan medis. Belum ada penawar bagi gas ini sehingga pengobatan segera menjadi kuncinya.
Selain dari industri, seseorang bisa terpapar gas klorin di rumah saat mencampur pemutih dengan bahan pembersih lainnya yang mengandung asam atau amonia.
Penggunaan gas klorin sebagai senjata perang dilakukan di Perancis pada tahun 1915 oleh Angkatan Darat Jerman.


Efek gas ini terbukti sangat menghancurkan karena pasukan Perancis tidak dilengkapi dengan masker.
Penggunaan gas klorin lantas digantikan dengan gas lain yang memiliki cara kerja berbeda.
Unsir klorin memiliki rumus kimia Cl2 dan merupakan anggota dari kelompok unsur halogen.
Lemahnya ikatan antara dua atom membuat molekul klorin sangat reaktif. Klorin merupakan oksidator kuat dan memicu oksidasi dengan menerima elektron dari senyawa lain.
Kondisi ini menyebabkan reaksi pembakaran dengan senyawa organik lain, seperti amonia, terpentin, dan gas alam.
Sifat reaktif ini membuat gas klorin digunakan dalam berbagai industri kimia, antara lain sebagai perantara dalam sintesis berbagai bahan kimia, termasuk polyvinylchloride (PVC), pestisida, produk pembersih rumah tangga, serta pemutih kertas dan tekstil.
Senyawa klorin biasanya digunakan untuk disinfeksi air minum, kolam renang, dan di pabrik pengolahan limbah.
Senyawa klorin lain yang sering digunakan dalam bentuk cair dan gas adalah klorin dioksida, ClO2.
Gas klorin dioksida digunakan sebagai disinfektan untuk laboratorium dan peralatan pabrik serta kamar bersih.
Gas klorin dioksida juga berbahaya bagi manusia karena bertindak sebagai iritan mata dan paru-paru.
Paparan kronis dapat menyebabkan emfisema dan bronkitis. Selain itu, dekomposisi klorin dioksida dapat melepaskan gas klorin.

Apakah Klorin pada Kolam Renang Memicu Asma?

http://www.amazine.co/23070/apakah-klorin-pada-kolam-renang-memicu-asma/

Apakah klorin dalam kolam renang meningkatkan keparahan asma?
Beberapa penelitian mengungkapkan hasil yang meyakinkan bahwa klorin bisa menjadi pemicu asma.

Di lain pihak, berenang merupakan latihan kardio yang sangat baik, termasuk bagi penderita asma.
Lantas adakah solusinya?
Air Mengandung Klorin dan Asma
Pada dasarnya, klorin merupakan disinfektan dan ditambahkan ke dalam air kolam renang untuk membasmi mikroba berbahaya.
Namun saat berenang, klorin yang bercampur dengan keringat perenang, air liur, folikel rambut, sel-sel kulit, kosmetik, dan bahkan urin akan menghasilkan senyawa kimia yang dikenal sebagai trihalomethanes (THMs).
THMs yang juga bisa terbentuk ketika klor bereaksi dengan air adalah substansi yang memicu dan memperburuk asma.
Pertanyaannya, jika perenang tidak minum air kolam renang, bagaimana bahan kimia mencapai paru-paru?
Jawabannya, meskipun bahan kimia ini dalam keadaan padat atau cair, setelah mencapai permukaan air, mereka menjadi tidak stabil dan sebagian berubah menjadi gas.
Gas inilah yang kemudian terhirup ke paru-paru saat berenang dan memicu efek buruk.

THMs yang sering terhirup akan menimbulkan peradangan pada lapisan saluran pernapasan, yang pada akhirnya memicu gejala asma.
Hal ini terjadi karena klorin membuat saluran pernapasan menjadi teriritasi.
Oleh karena itu, menghirup THMs memicu respon inflamasi yang memicu penyempitan saluran udara sehingga menyebabkan asma.
Dalam sebuah penelitian, sekitar 200 subyek berusia 8-10 tahun diminta duduk di dekat kolam renang selama 15 menit setiap hari pada periode waktu tertentu.
Setelah itu, kondisi paru-paru subyek diteliti. Hasilnya menunjukkan terjadinya penurunan kondisi jaringan paru-paru.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan kolam renang yang sarat dengan THMs berkontribusi terhadap kerusakan jaringan paru-paru dan memicu asma.
Dalam studi lain ditemukan bahwa orang yang sensitif terhadap alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami asma karena klorin dari kolam renang.
Alternatif untuk Klorin
Lantas adakah cara lain mensterilkan kolam renang dari bakteri selain menggunakan klorin?
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Belgia menunjukkan bahwa disinfektan berbasis tembaga atau perak diketahui tidak menimbulkan efek negatif pada kesehatan.
Menggunakan disinfektan yang merupakan kombinasi ion klorin dan tembaga/perak juga merupakan pilihan yang baik.

Tidak ada komentar: