Kamis, 23 Juli 2015

Banyak Bendera Israel di Tolikara

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/23/078685989/hidayat-nur-wahid-banyak-bendera-israel-di-tolikara

TEMPO.CO, Jakarta -- Tuduhan campur tangan asing dalam kerusuhan yang terjadi di Tolikara 17 Januari lalu kembali terlontar. Politikus Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid  menyampaikan temuan tim Komite Umat untuk Tolikara kepada wartawan di Jakarta, Kamis 23 Juli 2015.

Menurut Hidayat yang juga anggota Dewan Syuro Komat, ditemukan gambaran bendera Israel di beberapa rumah di Tolikara. Juga di tempat-tempat yang mudah dilihat warga Tolikara. "Kenapa  ada bendera bangsa Israel di Papua? Ini sangat layak dipertanyakan," kata Hidayat yang juga Wakil Ketua MPR ini.

Hidayat mengatakan, fakta ini ditemukan tim Komat yang sudah terjun ke Tolikara Papua, sejak Selasa lalu. Gambaran bendera Israel itu menjadi aneh, karena selama ini Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. " Bahkan di Jakarta pun kita menemui bendera ini. Ada apa dengan hal tersebut," kata Hidayat.

Menurut Hidayat,  permasalahan di Papua sangat rentan untuk menjadikan kepentingan bagi pihak asing mengeluarkan Papua dari NKRI. Soalnya di Papua jarang terjadi konflik antaragama, sekalipun ada hanya antarsuku. Karena itu, Hidayata mencurigai, konflik sengaja diciptakan agar situasi Papua memburuk.

Jika memburuk pemerintah Indonesia bakal  dianggap lalai atau tidak mampu menjaga stabilitas keamanan di Papua. Di sinilah peran asing nantinya akan mengambil alih tanah Papua yang  banyak sumber daya alamnya. (Baca: Saat Rusuh Tolikara, Hanya 42 Aparat yang Berjaga)
Ada pihak asing yang berusaha mengganggu kerukunan hidup beragama di Papua. Salah satunya dengan menciptakan konflik antara umat Kristen dan Islam di Kabupaten Tolikara. "Permasalahan di Papua memang sangat rentan dijadikan sarana pihak-pihak asing mengeluarkan Papua dari Indonesia," ujarnya.

Indikasi yang Hidayat percaya adalah ekspos di media sosial yang seolah-olah menimpakan semua kesalahan terhadap aparat setempat. Menurutnya faktor ini mudah sekali dimanfaatkan untuk memicu gerakan yang mengancam keutuhan negara.

Pada hari sebelumnya, Kepala BIN Sutiyoso sempat mengutarakan hal senada terkait keterlibatan pihak asing dalam penyerangan Tolikara ini. Meski begitu baik Sutiyoso dan Hidayat menggarisbawahi dugaan itu masih tahap kemungkinan. Pesan utama Komat untuk Kolitara pun mendorong pemerintah memulihkan kembali perdamaian dan toleransi di Papua. (Baca: Kisruh Tolikara Ada Campur Tangan Asing?)

Komat sendiri ialah komite yang terbentuk atas inisiatif beberapa tokoh lintas agama atas penyerangan umat muslim yang menyelenggarakan salat Id. Dalam laporan tim pencari faktanya, Komat menyatakan ada sekitar 500 orang.

BINTORO AGUNG S.


Komat Duga Ada Keterlibatan Asing di Kasus Tolikara

 http://nasional.kompas.com/read/2015/07/23/15111281/Komat.Duga.Ada.Keterlibatan.Asing.di.Kasus.Tolikara

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Umat Untuk Tolikara (Komat) mencurigai adanya intervensi asing dalam insiden kerusuhan di Tolikara, Papua. Komat meminta semua pihak, termasuk TNI dan Polri menyelidiki dan menindak tegas pihak asing jika terbukti terlibat dalam insiden yang menyebabkan sejumlah kios dan sebuah mushala terbakar itu.
"Masalah Tolikara adalah masalah dalam negeri. Semua pihak perlu mewaspadai kepentingan asing atau pihak lain yang tidak bertanggungjawab terhadap kedaulatan NKRI," kata Ketua Komat Bachtiar Nashir membacakan pernyataan sikap Komat dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (23/7/2015).
Sementara itu, anggota Dewan Syuro Komat Hidayat Nur Wahid menjelaskan, pihak asing ini ingin mencoba memecah Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu indikasinya, kata dia, dapat dilihat dari isu yang beredar di media sosial bahwa insiden di Tolikara adalah kesalahan aparat.
"Dimunculkan lah ini kesalahan aparat, aparat melakukan penembakan dan terjadi korban dari masyarakat Papua, ini dipolitisasi agar Papua merdeka," ucapnya.
Indikasi lain, lanjut politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, yakni munculnya sebuah petisi yang ditujukan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Petisi itu meminta agar PBB meninjau referendum Papua merdeka," ucap Hidayat.
Lebih jauh Hidayat mengatakan, dari hasil investigasi tim Komat yang dikirim ke Tolikara, ditemukan banyak simbol berupa bendera Israel. Hidayat mencurigai, Gereja Injili di Indonesia (GIDI) berafiliasi dengan organisasi yang ada di Israel.
"Gambar bendera itu ada di banyak tempat, bahkan di tempat umum," ucap Wakil Ketua MPR RI ini.


Punya Hubungan Erat dengan Israel, GIDI Langgar Prinsip Politik Indonesia

 http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/20/nrs0qw-punya-hubungan-erat-dengan-israel-gidi-langgar-prinsip-politik-indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aliansi Nasional Anti Syi'ah (ANNAS) mengkritik organisasi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang dinilainya memiliki hubungan yang erat dengan Zionis Israel. Keterlibatan ini tentu bertentangan dengan prinsip politik luar negeri pemerintah Indonesia.

"Organisasi GIDI memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan dengan Zionis Israel. Keterlibatan Zionis Israel di Indonesia tentu bertentangan dengan prinsip politik luar negeri Negara Republik Indonesia," kata Ketua ANNAS Athian Ali dalam siaran pers yang diterima ROL, Senin (20/7).

Ia menyebut keterlibatan GIDI dalam jaringan Zionis Israel sebagaimana dalam perjanjian antara Kehilat Ha'seh Al Har Zion (KHAHZ) Jerusalem dengan GIDI tanggal 20 November 2006. Hubungan ini berujung pada teror yang dilakukan pemuda GIDI terhadap umat Islam di Tolikara, Papua saat menjalankan ibadah shalat Idul Fitri beberapa waktu lalu.
 


Adakah Hubungan Israel dan Tanah Papua?

 http://batamindependent.com/adakah-hubungan-israel-dan-tanah-papua/

BATAMINDEPENDENT, Wamena – Lambang bintang david yang menjadi simbol bendera Israel bertebaran di bumi papua. Di Wamena, Jayawijaya, terlihat banyak simbol bintang david di rumah, gereja, dan di lereng bukit.
Bahkan salah satu gereja di Wamena, Gereja Betlehem, memiliki plang nama yang di bawahnya mencantumkan lambang bintang david. Tak hanya itu, sebuah lambang bintang david pun tampak terlihat di sebuah batu di lereng bukit di Distrik Kurulu.
Seorang dokter pegawai tidak tetap (PTT) dr Dewi Sukma Sari yang bertugas di Distrik Dekkei, Yakuhimo pun mengaku sering melihat lambang bintang david di daerah tugasnya. Terakhir, ujarnya, ada seorang anak kecil yang mengenakan kaos bertuliskan ‘Merdeka Bersama Israel, Membangun Bersama Indonesia’.
Meski demikian, tokoh masyarakat pendatang di Wamena, Agus Sudarmaji, menjelaskan, banyak warga asli yang sebenarnya tidak mengerti lambang bintang david tersebut. Dia mengungkapkan, beberapa warga mengasosiasikan lambang itu dengan tempat kelahiran Nabi Isa yang menurut mereka, dikuasai oleh Israel, yakni Betlehem.
“Kebanyakan sih cuma pasang-pasang saja. Tapi mereka enggak mengerti apa itu bintang david,”ungkap Agus dikutip dari ROL. Meski demikian, dari informasi yang diperoleh dari warga setempat, banyak pejabat tinggi di Jayawijaya yang berziarah ke Israel.
(Redaksi/ROL)




DARI UNJUNG BUMI (PAPUA)
MEMBERKATI YERUSALEM – ISRAEL

 http://www.thwec.info/jsp/jsp_files/About-Us/Dari%20PAPUA%20ke%20Israel.pdf

Tidak ada komentar: