Kamis, 09 Juli 2015

CHINA BERJOGET INDONESIA SEMPOYONGAN

Sebagai negara komunis, China masih tetap menyisakan misteri sekalipun negeri itu dalam upaya untuk lebih terbuka. Karena itu keperkasaan China yang sempat menggemparkan dunia patut dicermati secara seksama, apakah itu benar-benar perkasa atau hanya kamuflase saja - tong kosong yang nyaring bunyinya? Fakta membuktikan utang China itu 2,5 kali lipat dari pendapatannya, pasti pusingnya seperti anda yang kebanyakan utang sehingga anggaran belanjanya banyak yang untuk membayar utang sehingga tak bisa bergerak banyak untuk mencapai kemajuan. Banyak orang dibuat miskin oleh utang yang tak tertakar. Dan negara Yunani telah membuktikannya.

Beberapa tahun terakhir ini China mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat dan mencapai puncaknya saat ini China diguncang kemerosotan di pasar saham. Kedua hal inilah yang saat ini sedang mencemaskan Indonesia, mengingat China memainkan peranan yang sangat penting bagi Indonesia. China adalah pasar eksport yang ke-4 bagi kita, sehingga melambatnya perekonomian China mau tidak mau berdampak pada melambatnya pertumbuhan perekonomian kita.

Umpama anda adalah toko grosir yang kebesaran anda disokong oleh seorang pelanggan besar, lalu pelanggan besar anda itu kini tak bisa kulakan dalam jumlah yang besar seperti kemarin-kemarin, tidakkah itu akan mengguncangkan toko anda? Omset menurun drastis, pasti anda pusing!

Nah, seluruh dunia kini sedang menaruh perhatian besar terhadap kondisi perekonomian China. Semua orang kuatir China akan bernasib seperti Yunani. Dan itu akan mempunyai dampak yang luas bagi perekonomian dunia, bukan hanya Indonesia saja yang akan merasakannya.

Jika benar kecantikan China itu berkat polesan lipstik doang[tong kosong yang nyaring bunyinya], maka kekecewaan besar pasti akan segera kita nikmati. Ramalan kiamat tahun 2017 tentu bukanlah tanpa dasar, jika perubahan-perubahan dunia berlangsung begitu drastis. China begitu cepat melesat, begitu cepat pula merosotnya.

Saya pernah mempunyai seorang tetangga yang seperti itu. Mendadak punya rumah, punya mobil, punya ini dan punya itu. Namun itu hanya berlangsung beberapa tahun saja. Sebab tahun berikutnya adalah dikejar-kejar penagih utang. Ternyata semua itu adalah dari utang dan dari kredit, bukan dari penghasilannya sebagai seorang manager. Bangkrutlah!

China sedang menunggu hari?!

Media Inggris : China Akan Menghadapi Tahun Pergolakan Hebat Akibat 3 Masalah - See more at: http://erabaru.net/detailpost_ars/6832-media-inggris-china-akan-menghadapi-tahun-pergolakan-hebat-akibat-3-masalah#sthash.sLQTW67f.dpuf
Media Inggris : China Akan Menghadapi Tahun Pergolakan Hebat Akibat 3 Masalah
http://erabaru.net/detailpost_ars/6832-media-inggris-china-akan-menghadapi-tahun-pergolakan-hebat-akibat-3-masalah


Ekonomi China berada dalam kondisi lesu dan kurang menguntungkan sejak awal 2014. Para ahli memprediksi bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi China bakal mengalami penurunan hingga 50%.
Hal serius lainnya adalah tentang logika pergerakan ekonomi China yang telah berjalan selama lebih dari 20 tahun akan menemui titik kegagalan. Memaksa para pengambil kebijakan untuk menentukan langkah bertahan atau beralih pada model pertumbuhan ekonomi yang baru.
Hutang Pemerintah Daerah dan perusahaan serta masalah-masalah sistemik ekonomi lainnya yang tersembunyi di balik masalah hutang akan menyebabkan pergolakan hebat dalam masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Artikel tulisan kolumnis dan manager International Hedge Fund, Liu Haiying yang dimuat dalam 'Financial Times' berbahasa Mandarin menyebutkan, perbedaan ekonomi China 2014 yang menyolok dengan masa sebelumnya selain pada masalah penurunan pertumbuhan, masalah serius jutru terletak pada pemerintah China yang masih mengharapkan pertumbuhan ekonomi melalui model lamanya yang jelas sedang bergerak cepat menuju titik kegagalan.
Pada 2014 ini, pergerakan ekonomi China akan mencapai persimpangan jalan antara model lama dan baru. Kondisi ini akan menyebabkan berbagai pergolakan hebat di masyarakat. Tindakan pemerintah dalam menangani pergolakan yang terjadi akan menjadi penentu bagi perkembangan ekonomi China di masa mendatang.
Menurut Liu, jumlah hutang yang terus membesar merupakan dampak dari ekonomi model lama, terutama tergambar dalam 3 isu berikut ini.
Pertama, Kewajiban (hutang) perusahaan China menempati posisi teratas di antara negara ekonomi utama dunia, adalah sifat dari ekonomi model lama.
Kedua, Kualitas aset milik Pemerintah Daerah yang dibangun dengan dana hutang tidak mampu manghasilkan dana likuid.
Ketiga, Hal lain yang lebih mengerikan dari pada masalah hutang adalah hubungan ekonomi yang terkait, perusahaan sekarat dan industri dengan kelebihan kapasitas akan terus meminta pembiayaan perbankan untuk bertahan hidup. Hal ini menyebabkan sumber daya dari masyarakat terus dialirkan ke proyek-proyek gagal investasi. Selain itu, dana yang disalurkan oleh perbankan untuk menghidupi perusahaan dengan kelebihan kapasitas akan berakibat pada tingginya pembiayaan pinjaman.
Getaran dari krisis hutang ini selanjutnya muncul sampai permukaan keuangan negara. Kurangnya pengontrolan terhadap kegiatan Bank bayangan / gelap menyebabkan dana terus mengalir ke Pemerintah Daerah digunakan untuk pembiayaan real estate, menunjang industri dengan kelebihan kapasitas dan perusahaan-perusahaan sekarat. Akhirnya menimbulkan penurunan ekonomi, deflasi dan tingkat bunga yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan-perusahaan gagal memenuhi kewajiban mereka dan membawa efek domino yang mengkhawatirkan.
Dilukiskan oleh Liu, ketika beberapa industri berjuang tetapi tidak mampu menyelesaikan kewajiban mereka terhadap Bank, setelah melanggar pembayaran keras, kesenjangan yang timbul akan berdampak pada lembaga-lembaga kepercayaan dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Mengingat Industri China memiliki rasio hutang yang tinggi, profitabilitas dan efisiensi modal rendah, maka resiko yang mereka bawa lebih besar.
"Sulit untuk membayangkan bila masalah hutang ini tidak berakibat pada penyebaran masalah lainnya," kata Liu. Belakangan berkembang menjadi krisis keuangan.
Media asing : Krisis hutang China sudah tiba
Dalam laporan lembaga pemeringkat Fitch bulan Oktober tahun lalu menilai, total hutang China akhir 2012 mencapai 198% Produk Domestik Bruto mereka. Meningkat 125% dari 2008. Tetapi dalam kenyataannya yang dilaporkan oleh pemerintah China menyebut pertumbuhan ekonomi China tahun 2012 mencapai 7.6%. Sementara itu lembaga-lembaga investasi internasional memprediksi pertumbuhan ekonomi China tahun 2014 akan merupakan yang paling buruk sejak 1990. Pemenang hadiah Nobel di bidang ekonomi Robert Samuelson bahkan berpendapat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi China paling tinggi hanya mencapai sekitar 3-4%.
Laporan Bloomberg 5 Februari menyebut Bill Gross dari Pacific Investment Magement Company mengatakan, China merupakan pasar dengan resiko tertinggi di antara negara berkembang dunia. Pertumbuhan ekonomi China 2014 yang tidak pasti akan meningkatkan kecemasan investor.
30 Desember 2013, laporan hasil audit pemerintah China menunjukkan, jumlah seluruh hutang dalam negeri meningkat 67% sejak 2010. Angka itu sudah mencapai RMB,17.9 triliun (sekitar USD.3 triliun) di Juni 2013, yang setara dengan 33% dari PDB China. Sedangkan perbanding itu hanya mencapai 10% di tahun 2008 dan hampir 0% di 1997.
Menurut perhitungan JP Morgan, total hutang dalam negeri China pada 2012 mencapai RMB 65 triliun setara 124% PDB, naik 30% selama 5 tahun terakhir. Tertinggi dalam 15 tahun. Hutang korporasi terkonsentrasi pada industri konstruksi dan bidang usaha yang terkait pembangunan infrastruktur, seperti baja, semen, batubara, mesin konstruksi. Perusahaan tersebut merupakan perwakilan dari industri-industri kelebihan kapasitas dalam perekonomian China.
'Washington Post' pada 31 Desember 2013 melaporkan, mengutip ekonom Bank UBS Wang Tao yang mengatakan bahwa setelah krisis keuangan global 2008, PKC sangat tergantung pada proyek-proyek konstruksi baru untuk meredam dampak negatif yang timbul dari permasalahan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek termaksud dibiayai dari kas Pemerintah Daerah.
Sekarang, ketergantungan pada pengeluaran investasi membuat pemerintah berada dalam posisi dilematik, bila jumlah hutang mengenai pembiayaan pembangunan ini dihapus terlalu cepat, maka angka kinerja ekonomi akan memburuk. Tetapi bila pengeluaran tidak segera dihambat maka resiko krisis keuangan akan meningkat akibat dari pembiayaan proyek-proyek tersebut yang tidak efektif / menghasilkan uang.
Selain itu, ekonom dari Peterson Institute, Nicholas Lardy menyampaikan, banyak proyek pembangunan di China yang tidak menghasilkan output yang cukup untuk membayar kembali pinjaman yang didapat. Krisis keuangan akibat dari hutang menjadi masalah terbesar dalam perekonomian China sekarang. (Sinatra/rahab)

Utang China Melonjak Dua Kali Lipat dari Pendapatannya

http://bisnis.liputan6.com/read/2081566/utang-china-melonjak-dua-kali-lipat-dari-pendapatannya

Liputan6.com, Beijing - Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, China kini tengah berhadapan dengan jumlah utang yang sangat masif.
Utang China melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dipicu kesulitan yang dihadapi pemerintah dalam menyeimbangkan pertumbuhan dengan risiko penggelembungan pada perekonomiannya.

Mengutip laman CNBC, Selasa (22/7/2014), total pinjaman keuangan China melonjak 251 persen dari produk domestik brutonya (PDB). Peningkatan tersebut terjadi dari utang sebesar 147 persen di akhir 2008.

"Ekonomi China akan terus bergoyang dan pasar keuangannya tercatat tetap mengkhawatirkan," ungkap Kepala Ekonom Standard Chartered China Stephen Green.

Mengacu pada laporan keuangannya, pemerintah lokal China saja memiliki total utang hingga US$ 3 triliun pada akhir Juni 2013.

Sejak krisis finansial 2008, China telah terlibat pinjaman dalam jumlah besar untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonominya.
Tapi tingkat pertumbuhan kreditnya telah memicu kekhawatiran di kalangan para investor mengingat banyak negara lain mengalami krisi karena terjerat utang.

Akibatnya, pemerintah China kini tengah menghadapi tugas yang sulit untuk mencoba melambatkan pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih stabil dan berkelanjutan. Semua itu harus dilakukan tanpa dampak negatif hingga perekonomian tidak mengalami pertumbuhan sama sekali.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menerapkan sejumlah kebijakan yang dirancang untuk menstimulasi perekonomian China. Langkah kebijakan yang diambil di antaranya memangkas ketentuan rasio cadangan devisa di sejumlah bank guna menyediakan pinjaman di bidang pertanian.

Meski demikian, banyak analis yang masih mengkhawatirkan pertumbuhan kredit dan risikonya terhadap kesehatan perekonomian China.

"Masyarakat mengabaikan banyak risiko di China, lihat pasar properti, amati betapa cepatnya utang negatif yang mengalir dalam sistem finansial sektor tersebut," ungkap Kepala China Equities di Bank of America Merrill Lynch, David Cui.

Meski demikian, perbandingan utang China terhadap PDB-nya masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

AS memiliki rasio utang terhadap PBD sekitar 260 persen pada akhir tahun lalu. Sementara rasio utang Inggris mencapai 277 persen dapat setahun. (Sis/Nrm)

Lupakan Yunani, kondisi China lebih parah & bisa sulut krisis dunia

 http://www.merdeka.com/uang/lupakan-yunani-kondisi-china-lebih-parah-bisa-sulut-krisis-dunia.html

Merdeka.com - Mata masyarakat dan investor dunia kini tertuju pada drama bangkrutnya Yunani. Namun, investor seharusnya lebih khawatir dengan apa yang terjadi di negara dengan penduduk sekitar 1,4 miliar orang dengan PDB terbesar kedua dunia, yaitu China.
Pasar saham China mulai dari The Shanghai Stock Exchange Composite Index dan Shenzhen Stock Exchange Composite Index merosottajam mencapai 30 persen dari angka tertingginya. Ini terjadi karena kekhawatiran investor pada saham perusahaan China yang sedang mengalami gelembung atau bubble. Pemerintah China bahkan telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi anjloknya pasar saham. Namun ini malah balik menyerang pemerintah sendiri.
Regulator pada hari Minggu mengatakan bahwa mereka akan menyediakan lebih banyak modal untuk entitas dan memungkinkan pinjam uang untuk membeli margin lebih atau praktik meminjam uang untuk membeli saham. Membeli margin ini sangat berisiko.
Para ahli menyebut, naiknya pasar saham China pada awal tahun ini disebabkan karena banyaknya investor membeli saham dengan utang. Dan, ketika saham pertama mulai jatuh bulan lalu, banyak investor menjual saham mereka dengan cepat untuk membayar utang. Hal ini menjadi pemicu merosot tajamnya pasar saham China.
Bahkan kondisi ini diperkirakan bisa lebih buruk karena investor menyadari bahwa perlambatan ekonomi China mengikis keuntungan perusahaan.
"Pasar saham China tidak didukung oleh fundamental negara. Sebaliknya, pasar sedang diangkat oleh pinjaman pemerintah dan manipulasi," ucap pendiri Pento Portofolio Strategies, Michael Pento seperti dilansir dari CNN di Jakarta, Selasa (7/7).
Penyelamatan pasar saham juga dilakukan oleh broker China dengan membeli saham di Shanghai Composite. Namun hal ini diyakini akan menimbulkan masalah baru.
Asisten profesor bidang keuangan dari Warwick Business School di Inggris, Lei Mao mengaku khawatir dengan kebijakan pemerintah China yang dapat menggembungkan nilai perusahaan besar dengan mengorbankan banyak perusahaan kecil. Kebijakan pemerintah terbukti tidak terlalu efektif, hal ini dilihat dari Shanghai Composite yang hanya mampu naik tidak lebih dari 2 persen. Sedangkan Shenzen Composite tetap turun hampir 3 persen.
Pasar saham China tenggelam dengan cepat beberapa waktu terakhir. Apakah ini pertanda krisis ekonomi dan kekacauan seperti 2008?
China saat ini adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, China adalah adalah salah satu konsumen komoditas terbesar dunia. Penurunan harga saham tentu akan mempengaruhi ekonomi dunia secara langsung.
Harga minyak dunia turun pada hari Senin kemarin dan banyak yang menyalahkan Yunani dan penurunan nilai tukar Euro. Tidak banyak yang berpikir kalau kondisi ini terjadi karena pengaruh kondisi di China.
"Lihatlah cerita yang ditulis tentang penurunan harga minyak dunia saat ini, dan mereka akan berbicara tentang bagaimana permintaan minyak turun di Yunani. Saya harus berpikir lagi, ini permintaan Yunani? menurut saya permintaan China," ucap Direktur EverBank Global markets, Chuck Butler dalam laporannya.
Melihat kondisi China saat ini, menurut Chuck Anda bisa mengabaikan Yunani seutuhnya. Jangan terlalu terjebak dengan berita di Eropa. China lebih berpengaruh pada ekonomi global dan bisa menyulut krisis.

Pasar Saham China Bubble, Sofyan Djalil: Tinggal Tunggu Pecahnya

http://finance.detik.com/read/2015/07/09/192026/2965056/6/pasar-saham-china-bubble-sofyan-djalil-tinggal-tunggu-pecahnya?f991104topnews

Jakarta -Bursa saham China kemarin anjlok 8% dan membuat pasar saham negeri tirai bambu itu tengah kritis. Namun, kondisi tersebut sebenarnya sudah diprediksi banyak orang.

Hal tersebut seperti diungkapkan Menko Perekonomian Sofyan Djalil, ditemui usai menghadiri acara Presiden Jokowi menjawab tantangan ekonomi di ruang cendrawasih JCC, Jakarta, Jalan Senayan, Kamis (9/7/2015).

"Kalau kita lihat secara lebih objektif, kenaikan harga saham mereka setahun ini kan begitu tinggi, dua bulan lalu orang bilang sudah bubble, jadi tinggal tunggu pecahnya," kata Sofyan.

Seperti diketahui, dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan pasar saham China seperti roller-coaster, dan kapitalisasi pasarnya turun hingga US$ 3 triliun, atau sekitar Rp 39.000 triliun. Indeks utamanya, yaitu Shanghai Composite, sudah turun 30% di tahun ini. Lebih parah lagi, 2.800 perusahaan yang terdaftar di bursa tersebut dibekukan perdagangannya, karena nilai sahamnya jatuh dalam.

Sofyan mengakui, dengan kondisi ekonomi global saat ini, begitu ada satu saja pasar saham di suatu negara mengalami kritis, tentu akan berpengaruh pada pasar saham banyak negara.

Selain kejatuhan bursa saham, China saat ini juga tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang terendah sejak krisis keuangan 2008. Kedua kondisi tersebut membuat ekonom khawatir.

"Sampai hari ini, yang namanya pasar global ini, apa yang terjadi di satu belahan dunia pasti akan berpengaruh. Tapi kita belum lihat. Kalau di Yunani memang masalah, karena persoalan yang sudah lama tapi bukan hari ini, tapi puncaknya sekarang kan," ungkapnya.

Ia berharap kondisi di China segera pulih, karena banyak orang khawatir bila ekonomi di China melambat maka dampaknya bisa ke ekonomi global.

"Mudah-mudahan nggak ya. Tapi China juga berusaha semaksimal mungkin. Pemerintah China lebih concern daripada kita. Walaupun itu akan berpengaruh terhadap ekspor kita," tutup Sofyan.
(rrd/dnl)

Perlambatan Ekonomi China Jadi Ancaman Pasar Modal Indonesia

http://bisnis.liputan6.com/read/2268620/perlambatan-ekonomi-china-jadi-ancaman-pasar-modal-indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Perlambatan ekonomi China mesti diantisipasi karena berdampak langsung pada pasar modal Indonesia. Analis Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Hans Kwee mengatakan China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia sehingga akan jika terjadi perlambatan ekonomi di China akan juga berdampak kepada perusahaan Indonesia.

Hans melanjutkan, melambatnya perekonomian China berdampak pada menurunnya permintaan komoditas Indonesia. China merupakan konsumen nomor 1 untuk batu bara, nomor 2 untuk minyak dan nomor 3 untuk CPO di dunia. "Beberapa komoditas ini sangat berhubungan dengan kita," kata dia, di Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Ia melanjutkan, melambatnya perekonomian China disebabkan oleh berubahnya basis perekonomian yang semula ditunjang investasi menjadi konsumsi. "Dia mau switch tidak akan tumbuh 10 persen lagi. Paling 7 persen hingga 8 persen mungkin turun 6 persen," ujarnya.

Artinya, dipastikan bahwa pertumbuhan ekonomi China akan melambat dalam dua sampai tiga tahun ke depan. "Dampaknya pada Indonesia kalau lihat Bursa Shanghai jatuh dampaknya tidak akan besar bagi kita. Dampaknya ekonomi slowing down akan 2 tahun hingga 3 tahun ke depan sehingga harga komoditas sulit bergerak ke atas," paparnya.

Namun begitu, dalam waktu dekat untuk harga CPO diperkirakan akan naik. Hal itu mengingat efek El Nino akan berdampak pada menurunnya produktivitas CPO yang imbasnya pada kenaikan harga. "Isu El Nino harga mengangkat CPO ke atas, berpengaruh 6 bulan ke depan," tandas dia.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia juga mewaspadai perkembangan ekonomi China dan berusaha memperkuat ketahanan ekonomi nasional. "Yah kita ini yang penting menjalankan ketahanan ekonomi nasional," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), di Kantor Wakil Presiden.

Terkait krisis yang terjadi di China, JK tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia menuturkan krisis yang terjadi membawa dampak bagi Indonesia. "Pasti ada dampak," tutur dia singkat.

Kemudian, JK pun menunjukkan sebuah kertas yang bertuliskan: Greece Crisis is Nothing Compared to China. Dilansir dari CNNMoney, Selasa 7 Juli 2015, pasar saham China mengalami gelembung atau bubble karena The Shanghai dan Shenzen Stock Exchange Composite Index turun hingga 30 persen dari angka tertingginya. Dalam laporan tersebut disebutkan, para investor harus lebih berhati-hati terhadap krisis di China dibandingkan dengan krisis Yunani.

Sementara itu, Ekonom pasar global Bank Permata Joshua Pardede menjelaskan dampak krisis Yunani terhadap nilai tukar Rupiah tidak akan lebih besar daripada normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed.  Isu mengenai keluarnya Yunani dari kawasan pengguna mata uang tunggal euro, menurut Joshua, juga hanya akan bersifat jangka pendek. (Amd/Gdn)

Giliran Tiongkok yang Menghantui Ekonomi Indonesia

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/07/09/113459526/Giliran.Tiongkok.yang.Menghantui.Ekonomi.Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonomi Indonesia kembali mendapat cobaan. Kali ini, datangnya dari Tionglok. Adalah, pasar saham China yang mengalami koreksi tajam belakangan ini.  Setelah menggelembung atau bubble, pasar saham China mulai  memecah dengan terjadinya koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini diperburuk adanya eksposure pemerintah China pada surat utang Yunani yang gagal bayar (default).
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, ekonomi China sangat dekat dengan Indonesia. Risiko yang menimpa China lebih tinggi dampaknya dibanding krisis finansial di negeri para dewa, Yunani. Saat ini, kondisi yang terjadi di China efeknya bukan hanya akan menimpa pasar keuangan, namun juga perdagangan Indonesia.
Agus bilang, saat ini pasar saham China sedang terkoreksi. Dalam satu bulan terakhir, pasar saham Tiongkok terkoreksi hingga 30 persen. "Kita harus antisipasi karena China menjadi pusat bagi pertumbuhan regional dan dunia," ujarnya, Rabu (8/7/2015).
Jika koreksi pasar modal China terus terjadi dan cukup tajam, lanjut Agus, dampaknya berantai. Dampak yang langsung terasa adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sebab itu, Agus mengingatkan, dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus menjaga fundamental ekonomi. Inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan lebih sehat  ke arah 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) harus terus dipantau. "Daya tahan ekonomi Indonesia harus dijaga," kata Agus.
Ekspor bisa makin drop
Kekhawatiran Agus tak berlebihan. China adalah negara tujuan ekspor keempat Indonesia setelah AS, India, dan Jepang. Sebab itu, BI telah merevisi proyeksi penurunan pertumbuhan ekspor Indonesia tahun ini lebih dalam dari 11 persen menjadi 14 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS), ekspor pada 2014 tercatat sebesar 176,29 miliar dollar AS atau menurun 3,43 persen dibanding periode yang sama 2013. Jadi, jika BI memperkirakan ekspor drop hingga 14 persen, berarti tahun ini kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2015 hanya 151,61 miliar dollar AS.
Salah satu penyebab kinerja ekspor yang lebih buruk ini diakibatkan perekonomian China melemah. BI memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh 7,1 persen di 2015.
Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS mengakui, tren pelambatan ekonomi China telah berdampak  terhadap ekspor Indonesia di tahun ini. Sasmito bilang, dengan gejolak ekonomi di China saat ini, ekspor Indonesia bisa semakin turun lebih dalam.
Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, nilai tukar rupiah masih rentan tekanan eksternal. Kondisi ekonomi Yunani dan China yang dikhawatirkan mengalami krisis, menjadi persoalan yang bakal menekan rupiah.
Namun, Ekonom Bank BCA David Sumual menilai, anjloknya indeks saham China tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Alasannya, kondisi itu belum berdampak kepada sektor riil China. Jadi, dampaknya belum akan dialami Indonesia.
Lagi pula, pasar keuangan China belum terlalu terbuka. Selain itu, pasar bursa China tidak sebesar bursa AS.  Menurut David, jebloknya pasar saham China lebih disebabkan faktor bubble di sektor keuangan. Pemicunya, pemerintah China melakukan intervensi untuk menstabilkan harga saham. Sebab, indeks saham China selalu naik berlipat beberapa tahun terakhir.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop juga bilang jatuhnya harga saham China belum berdampak terhadap ekonomi China.  Sebab, hingga kini sektor riil di negara tirai bambu tak terpengaruh.
Diop juga menilai jatuhnya saham di China belum mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global,  meskipun  China merupakan mitra dagang terbesar Amerika Serikat (AS) dan Eropa. (Adinda Ade Mustami, Asep Munazat Zatnika, Margareta Engge Kharismawati)

Ekonomi China Melemah, BI: Indonesia Harus Waspada

 http://finansial.bisnis.com/read/20150709/9/451713/ekonomi-china-melemah-bi-indonesia-harus-waspada

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menyatakan perekonomian China yang melemah perlu terus diwaspadai karena berdampak pada perekonomian Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan apabila pertumbuhan ekonomi China mengalamai koreksi atau pelemahan sebesar 1%, maka akan berdampak pada ekonomi Indonesia yang akan tergerus sekitar 0,4% hingga 0,6%.
"Kita harus antisipasi karena China menjadi pusat ekonomi regional dan dunia. Kalau koreksinya tajam dan terlihat dari beberapa indikator itu bisa ada dampak berantai," ujarnya di Gedung BI, Rabu (8/7/2015) malam.
Dampak terhadap ekonomi Indonesia itu terjadi karena komoditas perdagangan utama Indonesia selama ini diekspor ke China seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), karet, dan yang lainnya.
Apabila permintaan ekspor ke China itu berkurang, maka akan berdampak pada industri dalam negeri. "Kalau koreksinya sangat tajam dan sekarang sudah terlihat beberapa indikatornya, maka akan ada dampak untuk Indonesia," kata Agus.
Namun demikian, dia memperkirakan, kondisi China tersebut sifatnya hanya sementara. Hal itu terlihat dari keberanian otoritas terkait untuk menyediakan likuiditas yang memadai, membeli saham, dan melakukan holding.
"Itu sebetulnya kalau surat utsng negara lebih lazim dilakukan intervensi. Tapi, kalau saham biasanya dibiarkan sesuai dengan kondisi atau mekanisme pasar. Jadi, kita melihat dana yang sudah di-spend US$16 miliar- US$18 miliar. Kita harus tetap waspadai," tutur Agus.

Tidak ada komentar: