Senin, 06 Juli 2015

Detik-detik menegangkan bangkrutnya Yunani

http://www.merdeka.com/uang/detik-detik-menegangkan-bangkrutnya-yunani.html

Merdeka.com - Yunani kini resmi menjadi negara bangkrut karena tidak mampu membayar utang sebesar USD 1,7 miliar atau setara Rp 22,7 triliun ke International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo pada 30 Juni 2015 lalu.
Yunani menjadi negara maju pertama yang gagal bayar utang ke IMF, sebuah organisasi dari 188 negara yang mencoba untuk menjaga kestabilan ekonomi dunia. Akses Yunani ke IMF akan diputus hingga negara tersebut bisa melunasi utang-utangnya.
Sebenarnya Yunani bisa melunasi utangnya menggunakan dana bantuan yang diberikan tiga serangkai Uni Eropa, ECB dan IMF sekitar Rp 108 triliun. Namun, Yunani menolak syarat utang yang diajukan IMF, salah satunya pengurangan anggaran untuk gaji dan pensiun PNS dan menaikkan pajak di Yunani.
Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras mengeluarkan kebijakan untuk melakukan referendum atau voting suara rakyat terhadap tawaran baru dari Eropa dan IMF pada hari Minggu ini.
Lalu, bagaimana sebenarnya drama dan detik-detik kebangkrutan Yunani tersebut. Merdeka.com mencoba merangkumnya seperti yang dilansir dari CNN.

1.
Mulai bangkrut

 
Merdeka.com - Cerita bangkrutnya Yunani berawal Selasa lalu di mana negara tersebut angkat tangan dan tidak mampu membayar utang ke IMF senilai Rp 22,7 triliun. Yunani mencetak rekor sebagai negara maju pertama yang mengalami kebangkrutan. Selama ini Yunani telah hidup dengan utang dan sekarang tidak mampu membayarnya.
Kemudian pada hari yang sama, Yunani meminta bailout atau bantuan ke Eropa. Langkah ini diambil di detik-detik terakhir karena negara tersebut sudah merasa putus asa. Namun, pimpinan negara Eropa tidak mau memberi begitu saja bantuan ini, mereka masih meminta beberapa syarat yang disebut akan lebih berat dari syarat berikutnya.
Menteri Keuangan Belanda, Jeroen Dijsselbloem, yang memimpin pertemuan ini mengatakan setiap penyelamatan baru memerlukan kondisi yang lebih keras. Secara umum, Eropa ingin Yunani memangkas dana pensiun dan menaikkan pajak. Hal ini tidak membuahkan hasil dan masih dalam proses pembicaraan.

2.
Investor masih tunggu kelanjutan drama Yunani



Merdeka.com - Pasar keuangan global merespon negatif kebijakan Yunani yang tidak mau menerima bantuan dari Uni Eropa, ECB dan IMF sekitar Rp 108 triliun. Terbukti pada hari Senin atau sehari sebelum keputusan bangkrutnya Yunani, pasar saham seluruh dunia mengalami penurunan termasuk IHSG.
Namun kini setelah benar-benar bangkrut, investor masih wait and see dan menahan uang mereka agar tidak keluar dari Eropa. Investor masih berharap segera ada pembicaraan antara Uni Eropa dan Yunani. Hal ini terbukti dari menguatnya pasar saham Eropa sebesar 1 persen pada Rabu kemarin.
Sebagian investor berpikir, Yunani banyak berutang pada lembaga besar dan Eropa. Ini diyakini tidak akan memberi dampak besar pada perbankan.Dengan kata lain, bangkrutnya Yunani tidak memberi hantaman pada sistem keuangan global.

3.
Eropa buka diri



Merdeka.com - Kanselir Jerman, Angela Merkel masih membuka diri untuk berdialog dengan Yunani terkait dana bantuan. "Pintu masih terbuka untuk dialog," katanya.
Namun, walaupun ada dialog, keputusan Yunani tetap akan menunggu hasil referendum atau voting suara rakyat apakah Yunani perlu menerima bantuan atau tidak. Referendum akan dilakukan pada 5 Juli 2015 nanti.
Jika hasil voting mengatakan tidak, maka Yunani tidak akan mempertimbangkan bantuan Eropa. Kekacauan akan terjadi sebagai proses Yunani akan keluar dari Zona Euro. Negara tersebut akan kembali ke mata uang asalnya yaitu Drachma.
Namun, jika hasil voting mengatakan iya, maka Yunani akan tetap berada di zona Euro. Istilah baru akan dinegosiasikan.

4.
Yunani masih punya utang selain ke IMF



Merdeka.com - Utang sebesar Rp 22,7 triliun ke IMF bukanlah satu satunya utang Yunani. Total utang Yunani sendiri sejauh ini tercatat berjumlah USD 360 miliar atau 323 miliar Euro atau setara Rp 4.795 triliun. Pada 20 Juli 2015, Yunani harus membayar sejumlah utang lagi ke Bank Sentral Eropa.

5.
Kondisi ekonomi masih terpuruk



Merdeka.com - Perbankan di Yunani masih tutup hingga saat ini. Nasabah hanya boleh mengambil uang di ATM dengan jumlah terbatas. Kebijakan ini dikeluarkan pemerintah Yunani agar likuiditas di perbankan tidak habis dalam waktu yang cepat. Ini sekaligus untuk menyelamatkan perbankan dari kolaps.
Dalam sehari, nasabah hanya boleh mengambil uang USD 67. Hal ini memicu antrean panjang hampir di seluruh ATM di Athena.
Kondisi perekonomian Yunani beberapa tahun ini memang berdarah-darah. Pertumbuhan ekonomi anjlok hingga 25 persen. Selain itu, pengangguran di Yunani juga meroket mencapai 25 persen dari total penduduknya.

6.
Menyerah pada Eropa



Merdeka.com - Kabar terakhir yang beredar menyebut Pemerintah Yunani telah mau dan bersiap menandatangani paket bantuan dari Eropa. Namun, bantuan dana atau bailout ini tidak akan memperbaiki kondisi perekonomian negara tersebut.
Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras disebut telah mengirim surat kepada para pemimpin Eropa. Tsipras disebut menerima sebagian besar syarat yang diberikan karena pemerintahannya membutuhkan uang.
Salah satu pejabat Eropa yang tidak disebutkan namanya mengatakan isi surat pertama kali dilaporkan Financial Times. Menteri Keuangan Eropa dijadwalkan akan segera bertemu petinggi Yunani untuk membahas pembalikan sikap dramatis pemerintahan Yunani tersebut.

5 Dampak hancurnya Yunani bikin Obama bereaksi

http://www.merdeka.com/uang/5-dampak-hancurnya-yunani-bikin-obama-bereaksi.html

Merdeka.com - Kondisi Yunani saat ini di ambang kebangkrutan dengan nilai utang terbesar di dunia. Negara tersebut tak mampu membayar utang sekitar USD 1,7 miliar atau setara Rp 22,64 triliun ke International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo kemarin, Selasa (30/6).
Total utang Yunani sendiri nantinya akan berjumlah USD 360 miliar atau 323 miliar Euro atau setara Rp 4.795 triliun. Para ekonom memprediksi krisis Yunani bakal lebih parah.
"Kejadian ini betul-betul mengerikan," ujar seorang Profesor Universitas Georgetown, Anna Gelpern seperti dilansir dari CNN Money.
Yunani sebenarnya telah ditawarkan bantuan oleh tiga serangkai Uni Eropa, ECB dan IMF sekitar Rp 108 triliun. Namun, Yunani menolak syarat utang yang diajukan IMF, salah satunya pengurangan anggaran untuk gaji dan pensiun PNS di Yunani. Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras malah akan melakukan referendum pada 5 Juli nanti untuk mencari suara rakyat, apakah perlu berutang ke IMF atau bangkrut.
Kebangkrutan yang membayangi Yunani menarik perhatian Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Obama bahkan sampai mengundang Kanselir Jerman, Angela Merkel untuk menyiapkan dan mengambil langkah penyelesaian krisis di Yunani.
Krisis yang melanda Yunani menarik perhatian dunia. Pasar saham merespon negatif bencana yang melanda negeri tersebut. Namun, apa sebenarnya dampak kebangkrutan Yunani ini?
Merdeka.com mencoba merangkum dampak besar dari krisis yang melanda Yunani, dilansir dari CNN Money.

1.
Jadi puncak krisis keuangan

Merdeka.com - Pasar seluruh dunia merespon negatif kebijakan Yunani yang menolak bantuan utang dan memilih untuk menjadi negara bangkrut. Pada perdagangan Senin (29/6), hampir seluruh pasar saham mengalami penurunan termasuk Indeks Harga saham Gabungan (IHSG).
Pemerintah Yunani menolak syarat utang dari IMF dan memilih bangkrut serta keluar dari Zona Euro yang disebut dengan skenario Grexit.
Kondisi ini tentu berdampak pada negara lain. Misalnya, beberapa dana Amerika Serikat yang diinvestasikan di perbankan Yunani dan telah mengalami kerugian besar. Sebagian besar perbankan global juga menanamkan modal di Yunani namun dengan jumlah yang tidak banyak.
Sementara itu, negara seperti Spanyol dan Portugal mengambil untung dari krisis Yunani. Imbal hasil obligasi pemerintahnya naik pada hari Senin lalu. Ini menandakan investor sudah kabur dari Yunani.
Kebangkrutan Yunani akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dan menguji kekuatan bank sentral Eropa dan lembaga lainnya yang telah membangun sejak 2012 silam.
Beberapa investor kembali teringat kasus 2008 ketika runtuhnya Lehman Brothers, sekaligus menjadi pertanda puncak krisis keuangan. Namun, apakah krisis Yunani ini akan menjadi cerita yang sama dengan Lehman Brothers?

2.
Jadi awal kegagalan Eropa

Merdeka.com - Yunani dan Eropa saat ini dalam masa tegang dengan berbagai macam tuduhan, mulai dari pemerasan, penghinaan, pengkhianatan dan bohong.
"Dalam satu malam, Eropa mengalami pukulan besar," ucap Presiden Komisi Eropa, Jean Claude.
Dalam istilah praktis, drama perpecahan Yunani bisa juga menentukan apakah mata uang Euro bisa dipertahankan seperti yang ditegaskan oleh penggagasnya, atau malah bisa berantakan.
Namun, pemerintah Eropa kembali menegaskan tidak akan mengubah Euro. Bank sentral Eropa akan melakukan apapun untuk mempertahankan Euro.
Namun, sulit dibayangkan dan akan berdampak buruk jika ada negara lain yang memilih mengikuti Yunani keluar dari keanggotaan zona 19 negara pengguna mata uang bersama. Pengamat mengatakan pasar akan segera memusatkan perhatian pada negara yang diperkirakan akan mengikuti langkah Yunani.

3.
Bencana lebih buruk untuk Yunani

Merdeka.com - Yunani sebelumnya telah mengalami kepahitan, di mana pertumbuhan ekonomi anjlok 25 persen. Selain itu pengangguran meroket hingga mencetak rekor tertinggi. Dikatakan, satu dari dua pemuda di Yunani tidak punya pekerjaan. Selain itu, upah dan pensiun PNS juga telah dipotong dan banyak toko yang tutup.
Namun, kondisi ini akan jauh lebih buruk jika Yunani keluar dari zona Euro. Beberapa analis mengatakan bakal terjadi devaluasi atau penurunan nilai tukar sehingga biaya impor akan meroket dan inflasi akan melonjak tinggi.
Bencana sosial bisa jauh lebih buruk dari yang terjadi pada tahun awal program bailout Yunani.

4.
Kekacauan di wilayah Eropa

Merdeka.com - Risiko kebangkrutan Yunani akan mengganggu pemerintahan negara lain di wilayah tersebut. Pasalnya, Yunani saat ini menjadi negara garis depan Eropa untuk menangani aliran pengungsi dari Mediterania.
Para pengungsi yang melarikan diri dari perang di Suriah, Libya dan tempat lain akan menuju Eropa untuk mencari tempat baru. Selama ini Yunani menampung mereka. Sekitar 60.000 pengungsi atau imigran telah mendarat di Yunani selama tahun ini.

5.
Yunani mendekat ke Rusia

Merdeka.com - Yunani sudah menjadi anggota NATO sejak 1952. Negara tersebut juga memiliki hubungan komersial, budaya dan agama dengan Rusia.
Sejak pemilu pada Januari silam, pemerintah sayap kiri Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras berusaha memperkuat hubungan dengan Rusia. Bahkan mereka telah mengunjungi Presiden Vladimir Putin dan menandatangani kesepakatan untuk membuka pipa gas Rusia di Yunani pada tahun depan.
Amerika dan Eropa masih mencoba menekan Putin dan mereka tidak terima hubungan hangat antara Moskow dan Athena.
Informasi saja, Yunani bersama dengan Turki dan Iran bergabung dalam aliansi militer NATO pada 1952. Mereka menjadi bagian dari poros negara-negara otoriter untuk menjaga wilayah selatan dari rengkuhan blok Uni Soviet.
Hingga kini masih banyak warga Yunani yang membenci Amerika Serikat karena mendukung junta militer yang memerintah negara itu antara 1967 dan 1974.
Namun demikian, Yunani akhirnya bergabung dengan Uni Eropa pada 1981, negara itu menerima bantuan dana setiap tahun untuk pembangunan ekonomi hingga bergabung dalam zona Euro pada 2001.
Mempertahankan zona Euro merupakan motif utama dua paket penyelamatan Uni Eropa/IMF, dengan syarat Yunani harus melakukan penghematan besar-besaran dalam pengeluaran, menaikkan pajak, swastanisasi dan reformasi struktural yang tidak diterapkan sepenuhnya.

Penyebab Krisis di Yunani: Banyak yang Kemplang Pajak

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/375489-penyebab-krisis-di-yunani--banyak-yang-kemplang-pajak

VIVAnews - Salah satu penyebab krisis keuangan yang parah di Yunani adalah besarnya nilai pajak yang selama ini dikemplang. Sebagai bagian upaya selamat dari krisis, Yunani harus mereformasi pemungutan pajak dan sekaligus menindak kecurangan pajak. 

Demikian saran dari pejabat tinggi Uni Eropa urusan pajak, Algirdas Semeta. Dalam wawancara dengan surat kabar Yunani, seperti yang dikutip kantor berita Reuters, Semeta menilai bahwa pendapatan yang hilang dari sektor pajak bisa mencapai lima persen dari output nasional negara itu.

Bahkan menurut perkiraan para pakar, perekonomian Yunani yang tidak terpantau sistem pajak berjumlah lebih dari seperempat dari output tahunan negara itu pada 2011. Ini merupakan level tertinggi di kalangan anggota Uni Eropa.

Di Yunani, sudah menjadi lumrah bagi para pelaku usaha kecil untuk melaporkan penjualan yang lebih rendah dari sebenarnya sehingga membayar pajak pertambahan nilai yang lebih rendah dari seharusnya. Para wirausaha seperti tukang ledeng dan tukang listrik memilih dibayar secara tunai dan tidak membuat tanda terima.

"Menurut perkiraan kami di Komisi Eropa, dari 53 miliar euro pajak yang jatuh tempo kepada negara Yunani, 15 hingga 20 persen seharusnya bisa dipungut," kata Semeta kepada surat kabar Kathimerini.

Dia menyarankan sistem pajak Yunani perlu dirombak dengan peraturan yang lebih ringkas dan mudah. Peraturan baru sedang dirancang untuk mencabut sejumlah pengecualian pajak dan menaikkan pajak properti, korporat dan rumah tangga yang berpendapatan di atas rata-rata. Pemerintah juga berencana memungut pajak atas pendapatan modal dari harga saham yang diperdagangan di bursa Athena.

Langkah-langkah itu diharapkan bakal menambah pemasukan dari sektor pajak sekitar 2,5 miliar euro selama 2013-2014. Menggenjot pendapatan dari sektor pajak perlu bagi Yunani untuk mengatasi krisis utang. (adi)


Defisit Anggaran Yunani Melebar

http://www.monexnews.com/world-economy/defisit-anggaran-yunani-melebar.htm

Monexnews - Defisit anggaran Yunani melebar dalam 4 bulan pertama tahun 2012 sebagai akibat dari pembayaran biaya bunga yang lebih tinggi yang termasuk dalam perjanjian restrukturisasi hutang negara. Kendati demikian, defisit tersebut masih lebih rendah dibandingkan target defisit yang telah ditetapkan sebelumnya, menurut pernyataan Kementerian Keuangan hari Jumat.
Melalui sebuah pernyataan resmi, Kementerian Keuangan menyampaikan jika defisit anggaran untuk periode bulan Januari hingga bulan April mencapai €9,1 milyar, naik dari €7,4 milyar yang tercatat dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara target defisit ditetapkan pada kisaran €11 milyar.
Kenaikan pembayaran bunga sebesar €3,6 milyar yang harus ditanggung pemerintah Yunani atas €200 milyar kesepakatan restrukturisasi hutang yang jatuh tempo bulan lalu telah mendorong kenaikan belanja anggaran pemerintah menjadi €25,3 milyar dari €22,5 milyar pada 4 bulan pertama tahun 2011.
"Peningkatan belanja anggaran pemerintah sampai akhir bulan April pada dasarnya diakibatkan oleh pembayaran bunga yang lebih tinggi sebagai bagian dari keterlibatan sektor swasta," menurut pernyataan tersebut.
Sementara dari sisi income, pendapatan pemerintah juga mencatat kenaikan menjadi €16,2 milyar dari sebelumnya €15,1 milyar.
Perhitungan anggaran negara tersebut hanya mencakup operasional pemerintah pusat Yunani, dan tidak meliputi anggaran pemerintah keseluruhan yang terdiri dari pemerintah lokal, rekening dana jaminan sosial, belanja militer, dan beberapa rekening negara tambahan. (vid)

Bursa Eropa Mencemaskan Perkembangan Yunani

http://www.monexnews.com/stock-index/bursa-eropa-mencemaskan-perkembangan-yunani.htm

Monexnews - Bursa Eropa lebih mengkhawatirkan outlook finansial Yunani yang masih dipenuhi ketidakpastian walau pemerintahan Alexis Tsipras telah membayarkan cicilan 750 juta Euro kepada International Monetary Fund (IMF). Aksi agresif Tiongkok memacu perekonomiannya melalui kebijakan pelonggaran moneter lanjutan pun tidak mampu mengubah sentimen pasar Eropa. Investor Eropa mengkhawatirkan Yunani tidak mampu membayarkan cicilan yang jatuh tempo beberapa bulan mendatang, termasuk sekitar 2 miliar Euro kepada IMF dan hampir 7 miliar Euro kepada European Central Bank.
Dalam indeks DAX Jerman, Saham perusahaan otomotif Volkswagen dan Continental turun masing-masing 2,03% dan 1,29%, terpukul laporan penjualan China yang turun di bulan April. Sementara itu, sektor energi indeks FTSE Inggris mengikuti pelemahan pasar minyak mentah dengan saham BP turun 0,78% disertai penurunan 0,96% saham Royal Dutch Shell.
Indeks spot FTSE berakhir 0,24% lebih rendah di level 7029.85 dan indeks spot DAX Jerman menutup perdagangan di level 11673.35 atau turun 0,31%. (YS)

REFERENDUM YUNANI: 61,31% Rakyat Yunani Pilih Tidak, Menteri Eropa Kaget

http://finansial.bisnis.com/read/20150706/9/450466/referendum-yunani-6131-rakyat-yunani-pilih-tidak-menteri-eropa-kaget

Bisnis.com, JAKARTA— Setelah kertas suara terakhir dihitung dalam proses referendum Yunani, pilih ‘Tidak’ memenangkan pemungutan suara tersebut secara dramatis dengan angka 61,31% berbanding 38,69% untuk pilihan ‘Ya‘.
Kemenangan kelompok yang menolak tawaran bantuan kreditor asing dengan persyaratan ketat tersebut, membuat para menteri zona euro kaget. Menteri Ekonomi Jerman mengatakan tidak terbayangkan untuk memikirkan perundingan baru terkait utang negara itu.
Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel mengatakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras telah memupuskan harapan terakhir untuk mempertahankan hubungan dengan Eropa.
Namun Menlu Italia Paolo Gentiloni mengatakan sekarang saatnya untuk merundingkan kesepakatan baru.
Di Spanyol, Pablo Iglesias, pemimpin partai penentang penghematan Podemos, menyambut hasil referendum sebagai kemenangan untuk demokrasi.
Sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan mereka akan meminta diadakannya KTT zona Eropa pada Selasa besok (7/7/2015) terkait hasil referendum Yunani.
Partai yang berkuasa di Yunani, Syriza, mengatakan persyaratan penyelamatan internasional dari para kreditor sangat memalukan sebagaimana dikutip BBC.co.uk, Senin (7/7/2015).

Dampak Bangkrutnya Yunani Tidak Dapat Dibayangkan

http://www.dw.com/id/dampak-bangkrutnya-yunani-tidak-dapat-dibayangkan/a-15383424

Wacana mengenai ancaman bangkrutnya Yunani, memicu tumbuhnya rasa tidak aman di pasar, yang kemudian terus memuncak. Ini reaksi wajar dari sebuah ramalan kemungkinan bangkrut.


DW-Grafik: Per Sander
2010_08_11_symbolbild_finanzkrise_griechenland_4.psd Gambar simbol krisis keuangan Yunani
Menimbang skenario kebangkrutan Yunani, Menteri Ekonomi dan Teknologi Jerman Philipp Rösler akhir pekan lalu melontarkan pertimbangannya, "Untuk menstabilkan Euro, tidak boleh ada tabu pemikiran. Termasuk konsekuensi terakhir berupa kebangkrutan terkendali, jika secepatnya tersedia instrumen yang diperlukan untuk itu."

Politisi Turut Andil
Reaksi pasar amat tegas. Kurs saham di seluruh Eropa merosot. Index saham gabungan Jerman DAX, bahkan untuk sementara jatuh ke nilai terendah sejak dua tahun terakhir. Juga nilai tukar mata uang Euro terhadap Dollar AS mengalami penurunan.
Pakar strategi pasar dari Monument Securitas di London, Marc Oswald, menuding politisi Jerman ikut bertanggung jawab mengguncang situasi pasar, dengan perdebatan terbuka yang kasar mengenai kemungkinan bangkutnya Yunani. Dan bahkan mengenai dikeluarkannya negara itu dari zona Euro. Pasar bereaksi dengan menarik diri dan melindungi kapitalnya.
Pasar memang memerlukan perlindungan. Sebab, jika Yunani benar-benar bangkrut, uang yang dipinjamkan ke negara ini, sebagian akan hangus. Negara-negara pengguna mata uang Euro telah memberikan pinjaman atau menjamin kredit Yunani senilai milyaran Euro. Jika uang ini hangus, artinya volume utang negara penggunan Euro juga akan meningkat secara sepadan. Demikian dikatakan Stefan Homburg, pimpinan Institut Ilmu Ekonomi di Universitas Hannover.
"Jika terjadi seperti ramalan, bahwa Yunani suatu saat mengatakan, tidak mampu lagi membayar utangnya, maka tingkat utang Jerman akan naik, jauh melewati batasan utang, yang juga dapat membahayakan bonafiditas Jerman," tambah Stefan Homburg.
Dampak Bangkrutnya Yunani
Index saham DAX turut jatuh
Jika itu terjadi, sebagai konsekuensinya Jerman harus membayar bunga lebih tinggi bagi utang barunya. Dampak lanjutannya, negara-negara yang sudah dilanda krisis keuangan, seperti Portugal, Spanyol, Italia dan Irlandia, dengan cepat akan dilanda kesulitan, akibat naiknya tingkat suku bunga pinjaman.
Di pasar keuangan, diduga akan muncul dua kemungkinan. Di satu sisi, kesiapan memberikan pinjaman uang kepada negara-negara Euro yang lemah akan terus menurun. Dan di sisi lainnya, akan muncul spekulasi, negara Euro mana yang akan menyusul Yunani. Artinya akan terjadi efek domino.
Akibat bangkrutnya Yunani, banyak bank yang juga terancam bahaya. Memang beberapa bulan lalu, sejumlah bank telah menjual surat utang Yunani kepada Bank Sentral Eropa. Tapi dalam beberapa hari terakhir terlihat, bahwa saham perbankan di Jerman dan Perancis terus mengalami kerugian besar.
Dalam situasi darurat, negara kembali harus melakukan intervensi, menolong perbankan dengan uang pendapatan pajak. Pada akhirnya, mata uang Euro yang akan mendapat tekanan. Sebab Bank Sentral Eropa saat ini ibaratnya sudah tertimbun gunung surat utang Yunani. Jika negara itu bangkrut, surat utang itu tidak ada nilainya lagi. Juga nilai tukar Euro akan terus jatuh. Sejauh mana kemerosotannya tidak dapat diramalkan.

Kebangkrutan Yunani jadi Ancaman Bagi Rupiah dan Bursa Saham

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150701135304-78-63594/kebangkrutan-yunani-jadi-ancaman-bagi-rupiah-dan-bursa-saham/

Jakarta, CNN Indonesia -- Meski bukan mitra dagang utama Indonesia, Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandi memperkirakan krisis utang Yunani secara tidak langsung akan turut menekan bursa saham dan nilai tukar mata uang Indonesia.

"Dampaknya ke kita itu indirect, secara psikologis berpengaruh terhadap financial," tuturnya kepada CNN Indonesia, Rabu (1/7).

Menurutnya, kejatuhan ekonomi Yunani akan mengganggu psikologis investor terhadap euro. Hal ini akan membuat dolar Amerika Serikat semakin menguat terhadap seluruh mata uang di dunia, tak terkecuali rupiah.

"Kalau rupiah melemah, maka investor akan mengalami potential loss. Tapi ini hanya bersifat jangka pendek," tuturnya.

Eric mengatakan krisis yang terjadi di Yunani sebenarnya sudah berlangsung lama. Menurutnya, negara tersebut sejak awal belum siap untuk bergabung dengan komunitas ekonomi Eropa.

"Jadi meskipun default, Yunani tidak serta merta terdepak dari Uni Eropa," tuturnya.

Sebagai informasi,  ketika Yunani bergabung dengan Uni Eropa dan mengganti mata uangnya dengan euro tahun 2001, keadaan ekonomi negara ini diprediksi akan terus tumbuh dan diikuti oleh ledakan ekonomi. Namun prediksi ini seketika berubah ketika krisis keuangan menerpa tahun 2008.

Kala itu, semua negara di Eropa mengalami resesi, namun karena Yunani merupakan salah satu negara yang paling miskin dengan hutang bertumpuk, negara itu yang paling menderita dan merasakan dampaknya.

Yunani memiliki beban utang yang sangat besar, mencapai 177 persen dari produk domestik bruto, atau PDB, membuat negara ini sulit mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran utang.

Selama lima tahun terakhir, Yunani melakukan negosiasi dengan Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional terkait bantuan keuangan untuk mengatasi beban utang mereka. Ketiga lembaga ini dikenal dengan sebutan "troika". Sejak 2010, Troika memberikan pinjaman kepada Yunani dengan syarat penaikan pajak dan pemotongan belanja.

Namun, Yunani tak juga mampu menyelamatkan kondisi finansialnya. Keadaan ini berujung pada kegagalan Yunani untuk membayar utang sebesar US$1,7 juta kepada Dana Moneter Internasional, atau IMF, dengan tenggat waktu yang ditentukan, yaitu Selasa (30/6), menjadikan Yunani sebagai negara maju pertama yang gagal membayar utang dan hanya hidup dari uang pinjaman untuk sementara waktu.

Dilaporkan CNN, sesaat sebelum dinyatakan default, atau gagal bayar utang, Yunani kembali meminta dana talangan dari Eropa. Ini merupakan upaya di ujung keputusasaan, para pemimpin keuangan Eropa berjanji akan mengadakan pertemuan untuk mempertimbangkannya.

Cegah Efek Kebangkrutan Yunani ke Indonesia, BI Lakukan Pengamanan Rupiah

http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/06/29/cegah-efek-kebangkrutan-yunani-ke-indonesia-bi-lakukan-pengamanan-rupiah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Bank Indonesia (BI) mengaku sudah melakukan antisipasi untuk menjaga nilai tukar rupiah, menyusul akan jatuh tempo pembayaran utang Yunani ke International Monetary Fund (IMF) pada 30 Juni 2015.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas mengatakan, persoalan utang Yunani pasti ada dampak dalam negeri karena pada saat ini perekonomian terangkai. Sehingga, apa yang terjadi di Eropa, pasti ada pengaruh ke ekonomi domestik.
Menurut Ronald, Bank Indonesia (BI) bukan hanya memperhatikan ekonomi domestik saja, tetapi juga memantau pergerakan ekonomi di dunia, termasuk utang Yunani. Dengan mencermatinya, Bank Indonesia dapat melakukan berbagai langkah agar tidak berdampak besar ke Indonesia.
"Ke rupiah, kita sudah ambil langkah-langkah pengamanan karena BI kan selalu menjaga nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya," ujar Ronald di Jakarta, Senin (29/6/2015).
Namun, mengenai langkah apa yang telah dilakukan bank sentral tersebut. Ronald enggan mengungkapkannya dan akan disampaikan secara resmi.
"Tunggu saja statement resmi dari Bank Indonesia," ucapnya.
Pada hari ini kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah kembali mengalami pelemahan ke level Rp 13.356 dari posisi hari sebelumnya pada angka Rp 13.338 per dolar AS.‎

Apa yang Akan Terjadi Jika Yunani Keluar dari UE?

http://www.beritasatu.com/dunia/288581-apa-yang-akan-terjadi-jika-yunani-keluar-dari-ue.html

Athena, Yunani - Hari ini, rakyat Yunani melakukan referendum untuk menentukan nasib mereka di Uni Eropa. Jika mayoritas menerima syarat pengetatan ekonomi (austerity) UE maka Yunani masih bisa mendapatkan dana talangan.
Pemerintahan Alexis Tsipras akan kehilangan legitimasi dan kemungkinan pemilu yang dipercepat akan terjadi. Akan tetapi, Yunani berpotensi mendapatkan dana talangan yang dapat digunakan untuk menggerakkan roda perekonomian.
Namun apa yang terjadi jika mayoritas menolak atau menyatakan "tidak" pada referendum?
UE, Bank Sentral Eropa dan International Monetary Fund (IMF) mengatakan bahwa jika ternyata rakyat Yunani menolak, maka akan berarti akhir dari semua negosiasi penyelamatan perekonomian Yunani. Menolak syarat UE berarti akhir dari semua dana bantuan dan keluarnya Yunani dari UE.
Namun, PM Yunani Alexis Tsipras berjanji akan tetap mengusahakan negosiasi dengan UE.
Jika Yunani keluar dari UE, maka bank-bank akan menjadi bangkrut, perekonomian Yunani akan jatuh drastis dan hiperinflasi akan meledak karena mata uang lama Yunani, drachma, akan terdevaluasi dalam waktu semalam.
Kemungkinan kerusuhan dan keresahan sosial akan terjadi, perbatasan akan ditutup dan dana di Yunani akan keluar. Harga barang-barang impor akan melesat.
Guncangan politik akan terjadi. Pemerintahan sayap kanan akan berusaha menggulingkan pemerintahan sayap kiri yang kini berkuasa. Beberapa pengamat mengatakan Yunani akan menjadi negara dunia ketiga di benua Eropa.
Yang kaya tidak akan terlalu terpengaruh. Mereka bisa membeli properti dengan harga murah dengan uang yang mereka datangkan dari luar negeri. Yang miskin akan tercekik hiperinflasi.
Faisal Maliki Baskoro/FMB

Mengenal Krisis di Yunani

http://www.beritasatu.com/dunia/288676-mengenal-krisis-di-yunani.html

Krisis ekonomi di Yunani makin memburuk dan harus dilakukan referendum hari Minggu (5/7) kemarin untuk memutuskan apakah negara itu akan mengambil dana talangan lagi dari Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Yunani telah benar-benar bangkrut dan menjadi negara maju pertama yang dinyatakan tak bisa membayar utang atau default. Tanpa tindakan penyelamatan baru, kehancuran ekonomi sangat mungkin terjadi: bank-bank kehabisan uang, uang pensiun warga lanjut usia hangus, tingkat pengangguran -- yang sudah sangat tinggi hingga 25% -- akan memburuk.
Apa akar masalah di Yunani?
Utang. Yunani terlalu banyak memilikinya, padahal dia bukan negara besar. Populasinya cuma 11 juta dan skala ekonomi hanya setara negara bagian Oregon di Amerika Serikat. Pariwisata mencakup 16% dari output ekonomi Yunani.
Utangnya begitu besar sehingga para investor tak mau lagi membeli obligasi darinya. Dengan kata lain, tak ada yang mau memberinya utang lagi.
Semua negara yang sehat, bahkan juga yang tidak terlalu sehat ekonominya, meminjam uang dengan cara menjual obligasi/surat utang kepada investor besar dan kecil. Tujuannya adalah menggunakan uang untuk memperkuat negara misalnya dengan membangun transportasi yang lebih baik, infrastruktur atau memajukan pendidikan.
Amerika juga memiliki banyak utang, namun perekonomiannya sangat besar sehingga mampu membayar. Negara yang memiliki utang lebih banyak dari kemampuannya membayar akan terjerumus dalam masalah besar. Itulah yang terjadi pada Yunani.
Kapan masalah utang Yunani ini bermula?
Ada perdebatan tentang awal mula krisis di Yunani. Namun yang pasti, seperti banyak negara Eropa lainnya, Yunani tidak benar-benar berada dalam krisis sampai perekonomian global mengalami melt down atau kelesuan pada 2007 dan 2008 disusul krisis keuangan dunia.
Saat situasi mulai memburuk, pemerintah membelanjakan uang lebih banyak. Pengeluaran ini menambah uang di kantong rakyat dan memberi jaring pengaman atau safety net pada warga yang rentan, namun di sisi lain menambah utang pemerintah.
Sebagian besar negara bisa melewati masa ini dengan kepala tetap di atas air, namun sejumlah negara Eropa nyaris tenggelam. Yunani adalah yang terburuk dari semuanya.
Kapan dana talangan yang pertama dikucurkan untuk Yunani?
Tahun 2010. Para pemimpin Eropa bersama IMF menggelontorkan ratuan miliar Euro untuk Yunani dan sejumlah negara lain agar mereka bisa membayar utang.
Dana talangan atau bailout ini disertai kesepakatan barter: negara-negara yang dilanda krisis mendapatkan dana darurat, dan sebagai balasannya mereka memangkas belanja dan melakukan efisiensi ekonomi. Langkah pengetatan ekonomi (austerity) membuat hidup menjadi sulit.
Yunani dipaksa memotong gaji pegawai dalam jumlah besar, menaikkan pajak, membekukan dana pensiun negara dan melarang pensiun dini. Para ekonom mengatakan austerity akan membuat kondisi lebih buruk, yang lain berdalih Yunani memang tak punya pilihan.
Yunani memang kemudian bisa mengurangi utangnya, namun tidak membuat kemajuan dalam membayar pinjaman bailout atau mereformasi ekonomi seperti yang dilakukan negara-negara lain senasib. Dan pengetatan ekonomi membuat penderitaan rakyat bertambah.
Bulan Januari lalu, partai politik Syriza yang berjanji mengakhiri austerity menang pemilu. Pemimpin partai tersebut, Alexis Tsipras, menjadi perdana menteri. Ketika itu Tsipras tahu dana talangan bakal dikucurkan dan bahwa Yunani tak punya cukup uang untuk membayarnya. Dia perlu bernegosiasi dengan Eropa.
Namun Tsipras mengambil kebijakan garis keras, dan berkukuh bahwa para pemilik dana talangan harus megendorkan persyaratan. Ini menjadi adu kuat dengan pertaruhan besar. Para pemilik dana talangan menolak berkedip duluan, dan pekan lalu Yunani dinyatakan gagal bayar (default) utangnya atas IMF, sekaligus negara maju pertama yang mendapat predikat itu.
Apa opsi yang tersedia untuk Yunani sekarang?
Tak banyak. Utangnya masih tinggi dan perekonomian Yunani juga bertambah buruk tahun ini. Bank-bank di negara itu sudah hampir kehabisan uang.
Karena Yunani termasuk satu dari 19 negara Eropa yang menggunakan Euro, dia tidak bisa menentukan nilai mata uangnya. Jadi Yunani tidak bisa menggunakan senjata kuno yang acap digunakan berbagai negara ketika terlalu banyak berutang, yaitu devaluasi. Devaluasi adalah kebijakan membuat nilai mata uang lebih rendah. Saat mata uang terdevaluasi, biaya membayar utang ikut turun.
Pernyataan bangkrut juga bukan opsi bagi Yunani. Korporasi yang tenggelam dalam utang bisa meminta tolong hakim untuk mengurangi utang mereka dengan keputusan bangkrut di pengadilan. Namun tidak ada pengadilan bangkrut bagi sebuah negara.
Utang bisa terhapus jika ekonomi tumbuh kencang. Namun Yunani berutang jauh lebih banyak dari kemampuan ekonominya, sehingga butuh keajaiban untuk bisa mewujudkan hal tersebut dalam waktu dekat ini.
Lalu apa berikutnya?
Tidak terlalu bagus. Referendum hari Minggu meminta rakyat untuk menerima atau menolak dana talangan baru dengan persyaratan yang lebih ketat.
Tsipras, yang menginisiasi referendum itu, ingin agar rakyatnya memilih “oxi” yang artinya “tidak.” Menurutnya, pilihan “tidak” akan memperkuat posisi tawarnya di depan para pemilik dana talangan.
Kelompok oposisi tidak setuju dengan pendapatnya, dan berargumen pilihan “oxi” hanya akan memberi sinyal ke seluruh Eropa bahwa Yunani tidak mau lagi bergabung di Eurozone.
Dalam titik ini, keluar dari Eurozone dan kembali ke mata uang lama, Drachma, akan sangat mengganggu. Nilai uang yang dipegang rakyat dan bank akan jatuh. Harga-harga akan melonjak. Hidup akan menjadi lebih sulit. Selain itu, utang masih ada dan dana yang ada tak cukup untuk membayarnya. Ujungnya adalah bencana ekonomi.

Hasil Referendum Yunani Seperti Kiamat Bagi Ekonomi Dunia

http://www.sharia.co.id/2015/07/06/hasil-referendum-yunani-seperti-kiamat-bagi-ekonomi-dunia/

sharia.co.id – Rakyat Yunani sudah mengambil keputusan terkait masa depan negerinya. Dalam referendum akhir pekan lalu yang diperkirakan akan berlangsung ketat antara kelompok yang setuju bailout dengan yang menolak, ternyata berakhir dramatis. Rakyat yang memilih ‘No’ menang mutlak dengan perolehan 61% suara. Pendukung bailout hanya memperoleh 39% suara ‘Yes’.
Diberitakan Reuters, Minggu (5/7), lebih dari 60 persen rakyat Yunani mendukung Perdana Menteri Alexis Tsipras yang mengatakan bahwa Eropa tidak bisa lagi “memeras” mereka. Hasil ini diharapkan mendorong Eropa memberikan dana talangan tanpa persyaratan yang memberatkan.

Sebelumnya Eropa dan IMF telah menyelamatkan Yunani dua kali dari krisis ekonomi sejak tahun 2011 dengan total pinjaman hingga 240 miliar euro.
“Kalian membuat keputusan yang berani. Mandat yang kalian berikan pada saya bukanlah mandat untuk berseteru dengan Eropa, tapi mandat untuk memperkuat posisi negosiasi demi solusi yang tepat,” kata Tsipras.
Ribuan rakyat Yunani turun ke jalan mengibarkan bendera dan memasang kembang api. Dikhawatirkan akan terjadi aksi kekerasan. Kebanyakan mereka sudah jengah dengan penghematan dan pemotongan tunjangan pensiun yang disyaratkan oleh Troika -IMF, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Uni Eropa- demi utang baru.
“Pesan dari ‘tidak’ adalah bahwa kami tidak takut tekanan dari Eropa. Kami ingin hidup dengan adil dan bebas di Eropa,” ujar seorang warga, Stathis Efthimiadis, 47.
Belum jelas apa respons Eropa menghadapi hasil referendum ini. Namun Yunani kini dihadapkan dalam risiko besar, yaitu bangkrutnya perbankan yang bisa memaksa mereka keluar dari euro dan kembali mencetak uang sendiri, drachma.
Tanpa pendanaan darurat dari ECB, bank-bank di Yunani akan kehabisan uang dalam hitungan hari. Jika demikian, pemerintah terpaksa mencetak uang baru untuk membayar tunjangan pensiun dan gaji. Namun nilai drachma diperkirakan akan terpuruk jauh terhadap euro.
Pemerintah Yunani bersikeras pilihan “tidak” terhadap langkah penghematan akan memperkuat posisi mereka dalam bernegosiasi dengan kreditur. Namun tidak demikian halnya dengan Eropa yang mengatakan bahwa Tsipras telah membawa Yunani ke gerbang kehancuran.
“Tsipras dan pemerintahnya membawa rakyat Yunani ke jalan pengabaian dan keputusasaan,” ujar menteri perekonomian Jerman Sigmar Gabriel seraya menambahkan bahwa Yunani telah memotong jembatan dengan Eropa.
Menteri-menteri Eropa akan bertemu pekan ini untuk membicarakan hasil referendum tersebut. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande rencananya akan bertemu Senin pagi ini.
Tsipras mengatakan bahwa Yunani akan kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih kuat. ECB diperkirakan masih akan memberikan dana darurat untuk bank-bank di Yunani.
Referendum digelar atas seruan Tsipras delapan hari lalu setelah berbulan-bulan negosiasi tanpa hasil untuk meminta utang baru. Tujuh tahun sudah Yunani hidup dalam krisis, bergantung utang, menyebabkan satu dari empat warganya menanggur, perekonomian terpuruk.
Lima tahun terakhir, rakyat Yunani harus mengencangkan ikat pinggang karena utang baru berarti penghematan dan pemotongan gaji.
Tidak mampu meminjam uang di pasar modal, utang publik Yunani adalah salah satu yang terbesar di dunia. IMF memperingatkan pekan lalu Yunani butuh dana segar sebesar 50 miliar euro.
Survei menunjukkan kebanyakan rakyat Yunani ingin tetap ada di euro. Namun kebanyakan meragukan ancaman kehancuran dari Eropa. Mereka yakin utang bisa didapatkan tanpa harus menaikkan pajak dan menyunat dana pensiun yang disyaratkan kreditur.
“Saya sudah menganggur selama hampir empat tahun dan tetap mengatakan pada diri sendiri untuk bersabar. Tapi kami sudah muak dengan kerugian dan pengangguran,” kata Eleni Deligainni, warga berusia 43 tahun.
Euro Jatuh Eropa Kelimpungan
Mata uang euro jatuh tajam di perdagangan Asia-Pasifik setelah diketahui hasil sementara referendum Yunani, yang menyatakan menolak pemberian dana talangan. Nilai euro jatuh hingga 1,4 persen terhadap dollar AS, di angka tukar 1,0992 dollar AS untuk 1 euro.
“Ini menegaskan dua hal, pertama melegitimasi sikap Pemerintah Yunani serta menyerahkan bola ke tangan Uni Eropa,” kata analis ANZ Bank, seperti dikutip dari Reuters, Senin (6/7/2015).
Belum diketahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras sudah mengaku siap untuk melakukan pembicaraan lanjutan. Sedangkan Jerman dan Perancis memilih akan membahasnya terlebih dulu dalam pertemuan dengan negara Eurozone, sesama pengguna mata uang euro.
Sejumlah negara yang tergabung dalam Eurozone pun akan melakukan pertemuan untuk membahas hasil referendum yang menolak pemberian utang baru yang disertai syarat itu. Pertemuan akan dilakukan besok, Selasa (7/7/2015), setelah pertemuan yang akan dilakukan pemimpin Jerman dan Perancis.
“Saya telah meminta untuk pertemuan EuroSummit, Selasa malam pukul 18.00 untuk membahas situasi setelah referendum di Yunani,” kata Presiden Uni Eropa Donald Tusk, dalam akun Twitter miliknya, seperti dikutip dari AFP, Senin (6/7/2015).
Adapun Eurogroup yang merupakan forum pertemuan menteri keuangan di negara pengguna mata uang euro, juga akan melakukan pertemuan pada Selasa besok. Menurut juru bicara Pemimpin Eurogroup Jeroen Dijsselbloem, Michel Reijins, pertemuan itu akan dilakukan sebelum EuroSummit.
“Pertemuan Eurogroup akan dilakukan Selasa, 7 Juli 2015 untuk mempersiapkan EuroSummit terkait Yunani. Waktu pertemuan akan dikonfirmasi kemudian,” demikian tweet yang ditulis Reijins.
Sedangkan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengungkapkan, pihaknya menghargai hasil referendum yang dilakukan rakyat Yunani. Meski begitu, Juncker akan melakukan pembicaraan dengan Kepala Bank Sentral Eropa Mario Draghi dan Pemimipin Eurogroup Jeroen Dijsselbloem.
Dampak Krisis Yunani Mengglobal
Sentimen Yunani mempengaruhi laju bursa saham Asia di awal pekan ini. Yunani menentang menerima penghematan lebih lanjut sehingga meningkatkan kemungkinan negara itu keluar dari zona Euro.
Indeks saham MSCI Asia Pacific melemah 0,5 persen menjadi 145,65 pada pukul 09.01 waktu Tokyo. Penurunan indeks saham acuan regional ini juga diikuti indeks saham Jepang Topix merosot 1,5 persen seiring Yen menguat 1,2 persen terhadap Euro. Indeks saham Jepang Nikkei turun 1,7 persen ke level 20.200,15 di awal perdagangan saham.
Penurunan indeks saham juga diikuti indeks saham Australia tergelincir 1,7 persen ke level 5.442,10. Indeks saham Korea Selatan Kospi melemah 1,3 persen. Indeks saham Selandia Baru NZX merosot ,06 persen.
Sentimen Yunani mempengaruhi laju bursa saham Asia di awal pekan ini. Pemerintah Yunani menggelar referendum pada 5 Juli 2015. Sekitar 61 persen pemilih mendukung penolakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras tentang pemotongan belanja dan kenaikan pajak lebih lanjut. Hal ini membuat negara tersebut berada di jurang kehancuran keuangan. Riset JP Morgan menyebutkan skenario mendasar adalah Yunani bakal keluar dari zona Euro.
“Ada berbagai macam hasil tak terduga. Ini mengejutkan terutama hasil referendum yang begitu meyakinkan. Hal ini menempatkan risiko apalagi ditambah sentimen China,” kata Kepala Riset Craigs Investment Partners Ltd, Mark Lister,” seperti dikutip dari lamanBloomberg, Senin (6/7/2015).
Sementara itu, Presiden Uni Eropa Donald Tusk akan menggelar KTT zona Euro pada Selasa pekan ini. Dewan pemerintahan bank sentral Eropa akan berbicara di awal pekan ini apakah akan tetap mendukung memberi pinjaman ke Yunani.
Di Asia, China mulai menangguhkan penawaran umum saham perdana. Para broker pun akan membeli saham untuk menghentikan penurunan indeks saham dalam tiga minggu ini. Indeks saham China jatuh membuat kapitalisasi pasar susut sekitar US$ 3,2 triliun sehingga pasar khawatir terhadap hal tersebut. Apalagi valuasi saham telah mahal. Di pasar komoditas, harga minyak West Intermediate melemah 4,4 persen menjadi US$ 54,44 per barel.

Tidak ada komentar: