Selasa, 07 Juli 2015

Go-Jek Ditolak karena Dinilai Tak Punya Etika -2

Pak Sonny;

Nih artikel malah puja-puji  kehebatan Gojek pak!

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Hua..ha..ha....... betul. Dari segi akal kancilnya memang patut diacungi jempol. Tapi menjadi pertanyaan yang patut direnungkan adalah: 

1. Karena tukang Gojek-nya kebanyakan bukan berasal dari tukang ojek pangkalan, 
    melainkan pendatang baru, maka jumlah tukang ojek + Gojek menjadi semakin 
    banyak. Apakah peningkatan tukang ojeknya diikuti oleh peningkatan jumlah 
    penumpangnya? Kenyataan membuktikan tanpa Gojek, penumpang memiliki 
    kecenderungan menurun dari waktu ke waktu akibat dari promosi sepedamotor
    dengan DP Rp. 500.000,- saja. 

    Artinya jumlah jagung semakin sedikit, jumlah ayam semakin banyak.

2. Penumpang siapakah yang menumpang Gojek? Apakah ada penumpang baru 
    yang khusus menumpang Gojek? Jika bukan penumpang baru, maka itu adalah 
    penumpangnya tukang ojek pangkalan. Artinya: Gojek membunuh ojek. 

    Apakah pak Sonny setuju orang mencari rejeki dari hasil bunuh membunuh?!
    Apakah akal pikiran atau kepintaran kita itu untuk mengadali orang lain?!

Sebagai mantan pedagang, saya memuji dan pro Gojek. Tapi sebagai rohaniawan apakah mungkin saya masih tetap memuji dan pro Gojek?!

Tukang ojek pangkalan saja saya tentang karena mereka suka menggorok penumpang. Saya tidak mungkin rela melihat penumpang dipermainkan oleh tukang ojek konvensional. Jadi, kalau tukang ojek pangkalan saja saya tentang, apalagi kehadiran Gojek yang membunuh ojek. Masalah yang satu belum terselesaikan, sudah datang Gojek membawa masalah baru.

Tidak ada komentar: