Minggu, 19 Juli 2015

KERUSUHAN TOLIKARA - PAPUA

Suatu perbuatan yang tidak ada dasarannya dari Alkitab, dari Injil, maka itu bukanlah perbuatan orang Kristen. Sebab yang disebut orang Kristen adalah orang yang berbuat menurut ajaran Alkitab yang dipegangnya. Karena itu kasus kerusuhan di Tolikara supaya diselidiki baik-baik seperti apa kejadiannya, dan apakah itu Alkitabiah. 

Jika ada orang Kristen[Alkitabiah] yang jatuh ke dalam dosa atau suatu kesalahan, baiknya itu diselesaikan secara hukum yang ada[berlaku] dan tidak sekali-sekali disebut sebagai perbuatan orang Kristen. Itu adalah perbuatan pribadi, sedangkan yang disebut orang Kristen itu mengikat seluruhnya. 

Alkitab tidak pernah menyatakan orang Kristen itu sempurna. Karena itu tidak menampik kemungkinan terjadinya kesalahan terhadap pribadi-pribadi. 

Karena itu jika kerusuhan Tolikara itu benar-benar tidak Alkitabiah, maka harus dinyatakan: "Terkutuklah dia!" Orang itu harus dihukum yang setimpal. 

Demikian pula dalam menyikapi surat edaran Gereja Injili Di Indonesia[GIDI] yang melarang agama lain berada di wilayah Tolikara, surat edaran itu jelas tidak Alkitabiah. Karena itu surat edaran itu bukan merupakan pikiran orang Kristen. Bahkan saya berani menyatakan bahwa Gereja Injili Di Indonesia itu juga bukan gereja Kristen. Saya siap mempertanggungjawabkan pernyataan saya ini, bahwa gereja GIDI bukanlah gereja Kristen. 

 

Kronologi Kerusuhan Saat Sholat Ied di wamena, Tolikara Papua

http://arrahmahnews.com/2015/07/17/kronologi-kerusuhan-saat-sholat-ied-di-wamena-tolikara-papua/

PAPUA, Arrahmahnews.com – Pada tanggal 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT bertempat di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga distrik karubaga kabupaten Tolikara telah berlangsung kegiatan shalat idul fitri 1436H yang dipimpim oleh Ustad Junaedi dan berujung pada keributan antara Jemaat Gidi yang sedang melaksanakann seminar internasional yang dipimpin oleh Pendeta Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Korlap) dengan Umat muslim yang sedang melaksanakan shalat Ied,.


Kios-kios Yang Terbakar
Berikut Kronologi kejadian :
Tanggal 11 Juli 2015 telah memberikan surat selebaran yang mengatasnamakan Jemaat GIdi dan berisi “GIDI Wilayah Toli, selalu melarang agama lain dan gereja Denominasi lain tidak boleh mendirikan tempat-tempat ibadah lain di Kabupaten Tolikara” dan melarang berlangsungnya kegiatan ibadah shalat Ied Umat muslim di kabupaten Tolikara yang ditandatangani oleh Pendeta Mathen Jingga S.Th Ma dan Pendeta Nayus Wenda S.Th.
AgS87QzuS3oOogmWeqiDJxPUnKDWrAhGHtmQAbOZGSLG
Pukul 07.00 WIT saat Jamaah muslim akan memulai kegiatan shalat Ied di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga Pendeta Marthen Jingga dan sdr. Harianto Wanimbo (koorlap) yang menggunakan megaphone berorasi dan menghimbau kepada jamaah shalat Ied untuk tidak melaksanakan ibadah shalat Ied di Tolikara.
Pukul 07.05 WIT Saat memasuki Takbir ke 7 ketika shalat massa yang di koordinir dari Pendeta Marthen Jingga dan Harianto wanimbo (Koorlap) mulai berdatangan dan melakukan aksi pelemparan batu dari bandara Karubaga dan luar lapangan Makoramil 1702-11/karubaga yang meminta secara paksa untuk membubarkan kegiatan Shalat Ied dan mengakibatkan kepanikan jamaah shalat Ied yang sedang melaksanakan shalat.
Pukul 07.10 WIT Massa pimpinan pendeta Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Koorlap) mulai melakukakan aksi pelemparan batu dan perusakan kios-kios yang berada dekat dengan masjid baitul Muttaqin.
Pukul 07.20 WIT Aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan mengeluarkan tembakan namun massa semakin bertambah dan melakukan pelemparan batu kepadan aparat keamanan.
Pukul 07.052 WIT massa yang merasa terancam dengan tembakan peringatan dari aparat keamanan melakukan aksi pembakaran kios yang berada didekat masjid milik bapak Sarno yang bertujuan agar api bisa merembet ke masjid Baitul Muttaqin.
Pukul 08.30 WIT Api yang sudah membesar merambat kebagian-bagian kios yang lain dan menjalar kebagian masjid.
Pukul 08.53 WIT bangunan kios-kios dan masjid habis terbakar.
Pukul 09.10 WIT Massa dari Pendeta Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Koorlap) berkumpul di ujung bandara karubaga untuk bersiaga.
Berikut daftar kios-kios milik warga yang terbakar
  1. Kios Klontong milik bpk. Sarno habis terbakar.
  2. Kios pakaian milik Bpk. Masara habis terbakar.
  3. Kios Pakaian milik Bpk. Mansyur habis terbakar.
  4. Kios Pakaian milik Bpk.Yusuf habis terbakar.
  5. Kios Pakaian milik Bpk. Darman habis terbakar.
  6. Kios Pakaian milik Bpk. Agil habis terbakar.
  7. Kios Pakaian milik Bpk. Bustam habis terbakar.
  8. Kios Pakaian milik Bpk. Asdar habis terbakar.
  9. Kios Pakaian milik Bpk. Sudir habis terbakar.
  10. Kios milik Bpk. Halil usman habis terbakar.
  11. Kios milik Bpk. Ali muhtar habis terbakar.
  12. Kios milik Bpk. Sudirman habis terbakar.
  13. Kios milik Bpk. Febi habis terbakar.
Dan Saat ini situasi pasca keributan sudah mulai mereda, anggota gabungan (TNI,Polres,Brimob) melaksanakan patroli terus menurus guna mengantisipasi aksi lanjutan dari massa yang melarang kegiatan ibadah shalat Ied. (ARN/MM/InfoGusdurian)

Ternyata Dua Kerusuhan Meletus Sebelum Penyerangan di Tolikara

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/19/nrpm9e-ternyata-dua-kerusuhan-meletus-sebelum-penyerangan-di-tolikara

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesian Police Watch (IPW) menemukan ada dua kerusuhan yang meletus sebelum terjadi penyerangan di Tolikara. Kerusuhan itu terjadi di Kampung Yelok dan Panaga.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mempertanyakan kinerja aparat hukum di Papua. Ia menilai terjadinya insiden Tolikara akibat ketidakpedulian pimpinan kepolisian dan buruknya kinerja intelkam Polda Papua.

"Hingga akhirnya insiden keji itu terjadi," kata Neta di Jakarta, Ahad (19/7).

Dari pantauan IPW Neta mengatakan seharusnya aparat hukum dapat mencegah terjadinya penyerangan. Pasalnya, sebelum insiden Tolikara terjadi, ada dua konflik yang meletus yakni di Desa Yellok dan Panaga.

Pertama, pada 9 Juli 2015, rumah warga di Desa Yellok dibakar oleh sekelompok massa. Kedua, pembakaran juga terjadi terjadap sejumlah rumah Hanoi di Panaga.

"Kemudian, tanggal 11 Juli 2015 muncul surat edaran dari GIDI tujuh hari sebelum insiden pembakaran meletus di Tolikara," ujar Neta.

IPW sangat menyayangkan intelkam Polda Papua tidak melakukan deteksi dan antisipasi dini. Hal itu, lanjut Neta, juga menunjukan tingkat kepedulian para pejabat Polda Papua sangat rendah.

IPW mendesak untuk melakukan investigasi secara menyeluruh terkait insiden penyerangan itu. IPW juga menegaskan agar polisi dapat melakukan tindakan hukum kepada pelaku penyerangan.

Sebelumnya, aksi penyerangan terjadi saat umat Muslim melakukan Salat Idul Fitri di Tolikara. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang berteriak-teriak dan disusul lemparan batu serta pembakaran bangunan. Sekitar 70 bangunan termasuk masjid terbakar dalam insiden tersebut.

PGLII: Kerusuhan Tolikara Didahului Adanya Penembakan

http://m.news.viva.co.id/news/read/651353-pglii--kerusuhan-tolikara-didahului-adanya-penembakan

Adrianus Mandey, Nila Chrisna Yulika Sabtu, 18 Juli 2015, 12:23 WIB
VIVA.co.id - Ada beberapa versi terkait kronologi kekerasan di Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015. Salah satunya dikemukakan Persekutuan Gereja-gereja Injil Indonesia (PGLII), yang membawahi Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Tolikara.

Ketua PGLII, Ronny Mandang, mengatakan, Sabtu, 18 Juli 2015, bahwa pihaknya sangat terkejut dan prihatin atas peristiwa yang terjadi di Tolikara. Oleh karena itu dia akan memberikan klarifikasi atas beberapa versi yang beredar.

Ronny menyebut, menurut cerita yang didapatnya, pada Jumat pagi ada suara keras speaker dari lokasi dilaksanakannya salat Ied, yang dianggap mengganggu para peserta seminar, di lokasi yang berdekatan.

Kemudian ada sekelompok orang dari gereja, mendatangi lokasi salat Ied dan mengajak berdialog. Tiba-tiba terjadi penembakan. Ada 12 orang yang tertembak, dengan satu orang meninggal.

Penembakan membuat situasi menjadi kacau, hingga terjadi pembakaran. "Saat mendengarkan aspirasi, ada tembakan. Kami menyesalkan aparat keamanan, seolah-olah ini konflik antar agama," kata Ronny di Jakarta.

Tapi Ronny juga menyesalkan, beredarnya surat edaran bernada provokatif pada 11 Juli 2015. "Kami sangat menyesalkan, menyayangkan ada surat edaran dan dianggap lumrah. Seharusnya itu bisa dicegah dari awal," katanya.

Atas peristiwa itu, PGLII menginstruksikan seluruh jajarannya untuk tenang, tidak terpengaruh pada hal-hal bersifat provokatif, sehingga dapat berdampak lebih luas. "Keadaan di sana sudah sangat tenang, kami ingin jaga ini bersama-sama," kata dia. (ren)

Stafsus Presiden: Ada Korban Jiwa dalam Kerusuhan Tolikara

http://m.news.viva.co.id/news/read/651381-stafsus-presiden--ada-korban-jiwa-dalam-kerusuhan-tolikara

VIVA.co.id - Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya mengungkapkan ada satu orang korban meninggal dalam kerusuhan di Karubaga, Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015.

"Ada 12 orang terluka, satu meninggal," kata Lenis pada Sabtu, 18 Juli 2015 di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta. Saat ini para korban terluka masih dirawat di rumah sakit.

Untuk menangani persoalan di Karubaga, Lenis mengatakan diserahkan pada pemerintah daerah setempat. Dia berharap proses hukum, dapat berjalan dengan benar.

"Ini sudah pelanggaran hukum. Maka kalau memang ada salah, ya, dihukum saja. Jadi ini ada yang sudah mati, bisa diproses siapa yang melakukan kekerasan, baik masyarakat atau aparat," kata dia. (ren)

Kronologi Pembubaran Salat Id di Tolikara Papua

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/651243-kronologis-pembubaran-salat-ied-di-tolikara-papua

Sebelas kios serta enam rumah dibakar.


VIVA.co.id - Salat Idul Fitri yang digelar di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat pagi, 17 Juli 2015, diwarnai kericuhan, yakni aksi pelemparan oleh ratusan orang ke lokasi ibadah itu. Akibatnya jemaah muslim yang sedang menggelar salat ketakutan dan membubarkan diri. 

Dari informasi yang berhasil dihimpun, kronologi kejadian berawal dari imam salat Id mengumandangkan takbir pertama. Namun, tiba-tiba ratusan orang dari beberapa penjuru melempari jemaah yang sedang salat, sambil berteriak bubarkan. 

Aparat keamanan dari kesatuan Brimob dan Yonif 756 yang melakukan pengamanan saat Idul Fitri itu, langsung mengeluarkan tembakan peringatan guna membubarkan massa yang melakukan pelemparan. Warga muslim yang salat kemudian memutuskan membubarkan diri. 

Juru Bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Rudolf Patrige Renwarin, membenarkan peristiwa itu. Dia menceritakan saat umat muslim menggelar salat takbiran pertama, datang sekelompok orang berteriak melarang pelaksanaan salat. "Massa berteriak melarang salat Id di Tolikara," katanya. 

Masyarakat yang sedang melaksanakan salat ketakutan dan membubarkan diri dengan bersembunyi ke kantor Koramil dan pos tentara, tidak jauh dari lokasi kejadian. Namun, selang sejam kemudian, sekelompok massa melakukan pelemparan ke arah Musala Baitul Mutaqin. Setelah itu massa membakar musala dan sebelas kios serta enam rumah.

Meski demikian, Patrige mengklaim, situasi Karibaga masih aman dan terkendali. "Situasi masih aman dan kondusif,” katanya.

Sebelumnya Bupati Tolikara, Usman Wanimbo, memberikan jaminan keamanan untuk penyelenggaraan salat Id di Tolikara. Tapi masyarakat sama sekali tidak mengindahkannya.
 
 http://tasbihnews.com/komnas-ham-rusuh-di-tolikara-polisi-penyebabnya/
 
Kabupaten Tolikara
 
 TasbihNews.com – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai menyesalkan sikap Kepolisian Daerah Papua dalam menangani kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Jumat, 17 Juli 2015. Tindakan polisi menembaki massa yang rusuh, dinilainya membuat bentrokan meluas.
“Kenapa aparat langsung melakukan penembakan ketika menghadapi protes warga? Ini kejahatan negara,” kata Pigai seperti dilansir Tempo, Sabtu, 18 Juli 2015.
Seperti diberitakan sebelumnya, jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Tolikara terlibat bentrok dengan kepolisian dan warga setempat yang tengah melaksanakan salat Idul Fitri, pada Jumat, 17 Juli 2015.
 
 Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mengungkapkan kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, bukan semata-mata konflik agama antara umat Islam dan Kristen Gereja Injil di Indonesia (GIDI). Ia mengatakan konflik tersebut juga dipicu penembakan warga GIDI oleh polisi.
“Ada isu yang keliru, seolah masyarakat GIDI memusuhi Islam. Padahal, mereka tak merencanakan bakar masjid. Masyarakat marah karena polisi menembak warga,” kata Pigai kemudian.

Awalnya, pada 11 Juli 2015, Ketua GIDI wilayah Tolikara Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga melayangkan surat imbauan kepada umat Islam di Tolikara. Nayus meminta masyarakat muslim menyelenggarakan perayaan Idul Fitri pada 17 Juli 2015 di Karubaga Tolikara. Muslim hanya boleh menggelar salat Idul Fitri di luar wilayah itu karena pada 13-19 Juli 2015 GIDI menyelenggarakan seminar dan KKR pemuda GIDI tingkat internasional.
“Mereka meminta agar muslim mengecilkan (suara) speaker karena kegiatannya bersebelahan dengan penyelenggaraan KKR,” kata Pigai. Jemaat GIDI juga meminta muslim tak menggunakan jilbab.
Meski ditujukan untuk umat muslim, pada surat itu GIDI menjelaskan pelarangan peribadatan agama lain dan gereja Denominasi lain. Mereka melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di Tolikara. Jadi bukan agama islam saja karena semua penganut agama kristen yang tidak sealiran dengan GIDI juga dilarang.
“Dan Gereja Adven di Distrik Paido sudah ditutup. Itu sudah banyak terjadi di Tolikara. Mereka menutup tempat gereja lain,” kata Pigai.
Surat imbauan ditembuskan ke Kepolisian Resor dan Pemerintah Daerah Tolikara beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Namun, Jumat lalu masyarakat muslim Tolikara tetap menggelar salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir dengan pengeras suara di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702/Karubaga. Lapangan tersebut berdekatan dengan penyelenggaraan KKR jemaat GIDI.
Pigai mengatakan jemaat GIDI langsung marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan. “Mereka protes karena sudah memberi imbauan, kemudian polisi balik menembak warga,” kata Pigai.
Karena kerusuhan itu, kemudian jemaat GIDI mulai melemparkan batu ke arah kios dan Musala Baitul Mutaqin. Mereka juga membakar beberapa rumah dan kios. Diantara kios yang terbakar itu akhirnya  menyerembet api nya ke mushola.
Peristiwa itu terjadi pada pukul 07.30 WIT. Saat pembakaran terjadi, seluruh jemaah salat Idul Fitri membubarkan diri. Warga diungsikan ke Koramil 1702/s. Hingga kini Komnas HAM, Kementerian Agama, dan kepolisian Papua masih mengusut kasus ini.

“Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah musala. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti reaksi mereka berbeda,” kata Pigai.
Menurut Pigai, polisi seharusnya tidak melontarkan tembakan untuk membubarkan warga. Pendekatan semacan itu, kata dia, justru memicu kerusuhan lebih besar. “Masyarakat dihadapi seolah kriminal. Penegakan hukum seperti ini harus diubah,” kata Pigai.
















Tidak ada komentar: