Rabu, 22 Juli 2015

NKRI HARGA MATI ADALAH KONSEP PREMAN

Kalau kita berpikir bahwa kesatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi jelas itu merupakan pemaksaan kehendak yang bertentangan dari asas musyawarah untuk mufakat. Janganlah ada orang yang bergabung ke Indonesia karena keterpaksaan, melainkan atas sukacita dan kebahagiaannya.

Indonesia harus menjadi semacam toko sementara masyarakat sebagai pembeli yang berhak menentukan pilihannya untuk membeli atau tidak, membeli apa atau tidak membeli apa-apa. Sama seperti undang-undang mengijinkan orang Indonesia untuk melepaskan kewarganegaraannya, demikianlah secara kolektif harus diberikan pilihan juga untuk tetap bergabung ke Indonesia ataupun untuk keluar. Mengapakah kita harus memaksa warga Papua untuk tetap menjadi bagian NKRI, jika Indonesia nyatanya tak mampu mengurusi mereka secara baik dan benar?! Mereka telah berpartisipasi mendukung kemajuan Indonesia melalui kekayaan alam mereka yang melimpah, namun kenyataannya pemerintah tak pernah bersikap adil terhadap mereka.

Jadi, demi asas demokrasi harusnya mereka diberikan kesempatan untuk melakukan jajak pendapat atau referendum; apakah tetap masih ingin bergabung dengan NKRI ataukah memilih memisahkan diri dari NKRI.

Tidak ada komentar: