Rabu, 29 Juli 2015

PERKAWINAN BEDA AGAMA

Kata-kata: "perkawinan" sendiri merupakan usaha mempersatukan antara dua hal yang berbeda, yaitu antara laki-laki dengan perempuan, antara egoisme laki-laki dengan egoisme perempuan. Dan di sini sudah ada solusinya, yaitu laki-laki yang mengepalai perempuan, sehingga tidak terjadi dualisme kepala dalam rumahtangga itu. Kedua pribadi itu sudah berhasil dipersatukan dengan tanda perempuan dihilangkan namanya. Kalau tadinya bernama Tutik, sekarang disebut orang: nyonya Budi. Jadi, masalah perkawinan sudah beres, tidak ada perbedaan melainkan telah menjadi satu. Dalam rumahtangga itu hanya ada satu, bukan dua.

Tapi perbedaan agama yang dibawa ke perkawinan menyatakan masih dua, masih belum ada penyatuannya. Suatu masalah yang belum selesai sedang dimasukkan ke dalam rumahtangga itu sehingga mau tak mau rumahtangga itu sedang memelihara masalah atau memelihara bara api yang beresiko membara. Itu adalah langkah awal yang sangat keliru. Memasuki perkawinan janganlah dengan membawa masalah. Selesaikan segala masalah hingga tuntas sebelum memasuki perkawinan. Jangan ada akar masalah di perkawinan itu, sebab di dalam perkawinan sudah tersedia banyak masalah, sehingga jika ditambahkan dengan masalah yang berakar dari luar perkawinan akan menjadi masalah yang menyeramkan.

Kata-kata: "beda" dari "perkawinan beda agama" sudah memberikan sinyal adanya dua hal yang belum dipersatukan. Ada agamaku dan agamamu. Dan perbedaan merupakan awal dari peperangan. Semula hanya berupa perbedaan pendapat, lalu meningkat menjadi pertentangan, meningkat lagi menjadi perseteruan, meningkat lagi menjadi permusuhan atau peperangan. Ada pertentangan bapak dengan ibu, orangtua dengan anak, kakak dengan adik, antar tetangga, antar kampung, antar suku, hingga peperangan antar bangsa. Semua akarnya adalah perbedaan. Dengan saudara seiman saja bisa bertengkar, antara denominasi Kristen A dengan Kristen B, antara Kristen dengan Katolik, antara Kristen dengan Islam, antara Islam golongan yang satu dengan golongan yang lain. Berita terbaru adalah peristiwa kerusuhan di Tolikara yang melibatkan kelompok Islam dengan Kristen. Golongan Kristen membakar mesjid setelah sebelum-sebelumnya golongan Islam yang membakari gereja.

Yang berbeda dari perkawinan itu adalah agama. Celakanya agama merupakan keyakinan masyarakat. Banyak orang dibuat membabi buta oleh sebab apa yang diyakininya. Hukum pembuktian sering dikesampingkan oleh adanya keyakinan. Artinya, tidak nalar, tidak menggunakan akal pikiran. Padahal manusia wajib mengenakan akal pikirannya. Manusia harus berjalan dengan pikirannya. Jika tidak maka akan disebut ngawur.

Karena agama merupakan keyakinan, maka orang tak lagi berpikir apakah agamanya salah atau benar melainkan itulah keyakinannya. Keyakinan yang lebih dipegang daripada kebenarannya. Kalau orang berpegang pada kebenarannya, maka akan tergiring pada satu agama saja. Tapi keyakinan membuat orang bertahan lama dengan apa yang diyakininya. Biar bumi berguncang dia tetap dengan agamanya. Karena itu perkawinan beda agama sangat tidak dianjurkan.

Perkawinan beda agama bisa bukan masalah jika agama bukan suatu masalah bagi pasangan itu. Jika agama bisa mereka kesampingkan dengan lebih mementingkan hal-hal yang lainnya. Artinya, TUHAN bukanlah apa-apa bagi mereka. TUHAN tidak penting bagi mereka. Tapi bagi orang Kristen yang TUHAN-nya menuntut dinomorsatukan di atas segala-galanya, karena YAHWEH itu ALLAH yang cemburu, tidak memungkinkan untuk tidak mementingkan KETUHANAN.

Tidak ada saran yang lebih baik daripada menghentikan perkawinan beda agama!

Efesus 4:3,5             Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:      
                               satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

2Korintus 6:14        Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
                              orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat
                               antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang
                               dapat bersatu dengan gelap?

Tidak ada komentar: