Kamis, 30 Juli 2015

PERMASALAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA

Kira-kira apa saja permasalahan perkawinan beda agama?

1. Mengganggu kebersamaan; harusnya suami-istri itu senantiasa bersama-sama, tidak satu ke mesjid
    satunya ke gereja.

2. Mengganggu kekuatan; syarat doa kumpulan itu minimal 2 orang. Doa untuk pribadi dengan doa
    untuk keluarga/rumahtangga itu berbeda. Doa untuk keluarga harus ditopang oleh seluruh isi
    keluarga itu.

    Matius 18:20        Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ 
                                Aku ada di tengah-tengah mereka."

3. Bagaimana mendoakan suami/istri yang sakit? Sebab doa kita tidak diimaninya karena 
    perbedaan agama. Dan doa yang tidak dilandasi oleh iman adalah doa yang sia-sia - 
    mengandung dosa.

4. Bagaimana mendidik anak; pola siapa yang dikenakan? 

5. Bagaimana pola penyelenggaraan rumahtangga itu? Jika dominan suami yang Islam, tidakkah 
    sama halnya dengan mengecilkan Kristen, atau yang sebaliknya?! Agama atau TUHAN menjadi 
    diseret oleh status kita. Karena status kita hanya istri yang kalah dominan dari suami, maka 
    TUHAN kita menjadi ikut dikecilkan. Kristen dikalahkan Islam atau Islam dikalahkan Kristen?! 

6. Dan lain-lainnya. Saya yakin ada banyak persoalannya kelak dalam prakteknya. 

Menjadi pertanyaan adalah; membentuk rumahtangga yang tujuannya kebahagiaan itu harusnya memadamkan titik-titik api yang diketahui, mengapa malah memelihara titik-titik api yang bakal mengganggu kebahagiaan itu?!

Menurut saya masih lebih baik kakak-beradik yang berbeda agama daripada suami-istri yang berbeda agama.

Untuk anda yang belum terlanjur memasuki perkawinan, yang masih pacaran, alangkah baiknya melakukan pengkajian kembali terhadap kriteria-kriteria anda tentang pasangan anda. Rasanya perlu lebih disederhanakan kriteria-kriteria itu. Sebab kalau menurut Alkitab kriteria-kriteria calon pasangan itu tidak harus cantik, tidak harus kaya, tidak harus berhidung mancung, berkulit putih, S2, dan lain-lainnya, tapi asalkan laki-laki dan perempuan itu sudah dewasa. Itu saja syarat perkawinan Alkitab. Firman TUHAN itu sempurna, tak perlu ditambah-tambahi dengan pikiran kita. Sebab letak kebahagiaan bukan pada hidung mancungnya, tapi pada kesetiaannya pada TUHAN.

Saat ini dia mungkin pacarmu. Saat ini dia yang ada di depanmu. Namun itu bukan berarti harus menjadi milikmu. Nabi Elia harus menunggu yang ke-3 barulah itu TUHAN. Ketika yang pertama datang angin, ternyata tak ada TUHAN di dalam angin itu. Lalu datanglah gempa dan ternyata bukan TUHAN juga. TUHAN baru muncul di dalam angin yang sepoi-sepoi basa;

1Raja-raja 19:11              Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di
                                        hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat,
                                       yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu,
                                       mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu.
                                       Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN
                                       dalam gempa itu.
                 19:12             Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN
                                       dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi
                                       basa.

Tidak ada komentar: