Senin, 20 Juli 2015

TOLIKARA RUSUH, JOKOWI MENGANTONGI KEUNTUNGAN

Hsst........! Tolikara ribut, diam-diam Jokowi sedang mengumpulkan keuntungan dari anjloknya harga minyak dunia, lho. Seharian saja terjadi penurunan harga minyak dunia, jika tidak langsung disertai dengan penurunan harga BBM di dalam negeri, Jokowi sudah untung ratusan milyar perhari. Apalagi jika sampai seminggu atau sebulan harga BBM masih belum juga diturunkan karena konsentrasi kita semua sedang ke Tolikara, Jokowi bisa jadi trilyuner.

Jika selama ini yang dituding menikmati keuntungan BBM adalah mafia migas yang berbendera Petral, kini Petral sudah dibubarkan. Lalu siapa atau lembaga mana yang mengurusi audit untung ruginya penjualan BBM, jika bukan main mata presiden dengan Pertamina?! Mengapa DPR tidak ada usaha mengusut untung ruginya BBM setelah pencabutan subsidinya?! Jangan-jangan mafia Petral kini digantikan oleh mafia Jokowi, Luhut Panjaitan, Hendropriyono dan Sutiyoso[kepala BIN yang baru]. Pantas saja terjadi kerusuhan Tolikara jika di belakang Jokowi ada sosok Hendropriyono dan Sutiyoso-nya, yang jago dalam membuat skenario isu-isu nasional.

Nah, bagaimana membuktikan kebenaran analisa saya ini?!

Harga Minyak Turun Terimbas Susutnya Ekspor Arab Saudi

http://bisnis.liputan6.com/read/2275986/harga-minyak-turun-terimbas-susutnya-ekspor-arab-saudi

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah dunia susut seiring jatuhnya ekspor minyak Arab Saudi, ke posisi level terendah dalam lima bulan. Juga karena penurunan kegiatan pengeboran minyak di Amerika Serikat (AS) di awal bulan ini.

Melansir laman Reuters, Senin (20/7/2015), minyak mentah berjangka membukukan pelemahan mingguan untuk pekan ketiga secara berturut-turut karena ekspektasi peningkatan ekspor dari Iran, usai adanya kesepakatan untuk meringankan sanksi terhadap produsen minyak tersebut.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan September turun 12 sen menjadi US$ 56,98 per barel. Benchmark harga minyak telah jatuh hampir 3 persen pekan lalu, dan lebih dari 10 persen pada bulan ini.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), turun 17 sen menjadi US$ 50,72 usai jatuh lebih dari 3 persen pekan lalu, dan lebih dari 14 persen pada bulan Juli.

Harga minyak harus menyerah usai ekspor minyak mentah Arab Saudi berkurang pada Mei, ke posisi paling rendah sejak Desember. Data resmi menunjukan pengriman harian mencapai 6.935.000 barel per hari (bph) dibandingkan dengan 7.737.000 barel per hari pada April.

Meskipun terjadi penurunan ekspor, Arab Saudi masih menjadi pemegang rekor produksi yang mencapai 10 juta barel per hari. Ini menjadikan negara tersebut sebagai pemilik penyulingan minyak terbesar di dunia.

Sementara itu di Amerika Serikat, 7 pengeboran rig dihentikan pada pekan lalu, menurut laporan Baker Hughes Inc. Analis di Goldman Sachs menilai harga minyak WTI seharusnya kembali ke kisaran US$ 60 per barel seperti bulan lalu.
"Produsen AS akan meningkatkan aktivitasnya dengan penurunan biaya hingga hampir 30 persen, dan produsen semakin nyaman (dengan ekonomi saat ini)," menurut Goldman Sachs.
Pengeboran minyak di AS diperkirakan meningkat lebih dari 100 ribu barel per hari pada 2016. "Jika kita amati mungkin ada kenaikan dari saat ini," menurut penjelasan Goldman Sachs.

Di sisi lain, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengaku akan menggelar pertemuan dengan Sekjen OPEC Abdullah al-Badri di Moskow pada 30 Juli untuk membahas pasar minyak dan situasi Iran.

Harga minyak Brent juga dipengaruhi kenaikan produksi di ladang minyak Inggirs, di North Sea Buzzard setelah terjadi pemadaman pada hari Rabu.(Luk/Nrm)

Harga Minyak Melemah Disebabkan Situasi di Arab Saudi & AS

 http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/07/20/149007/harga-minyak-melemah-disebabkan-situasi-di-arab-saudi-as

Metrotvnews.com, Singapore: Harga minyak dunia ditaksir melemah pada Senin. Hal ini karena data menunjukkan ekspor Arab Saudi jatuh ke level terendah dalam lima bulan serta kebangkitan dalam kegiatan pengeboran minyak Amerika Serikat (AS) di awal bulan ini yang tampaknya gagal.

Minyak mentah berjangka internasional dan AS sama-sama membukukan kerugian mingguan berturut-turut tiga pekan lalu pada ekspektasi peningkatan ekspor dari Iran, menyusul kesepakatan untuk meringankan sanksi terhadap produsen OPEC.

Minyak mentah Brent September berada pada 12 sen lebih rendah pada USD56,98 per barel. Benchmark telah jatuh hampir tiga persen pekan lalu dan lebih dari 10 persen untuk bulan ini.

Selain itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), juga turun 17 sen menjadi USD50,72 pada Senin, setelah jatuh lebih dari tiga persen pekan lalu dan lebih dari 14 persen pada Juli.

Ekspor minyak mentah Arab Saudi juga jatuh pada Mei ke angka terendah mereka sejak Desember, dengan data resmi yang menunjukkan pengiriman harian mencapai 6.935.000 barel per hari (bph) dibandingkan dengan 7.737.000 barel per hari pada April.

Menurut sebuah laporan Baker Hughes Inc, di Amerika Serikat, pengebor memotong tujuh rig minyak pekan lalu. Sedangkan WTI diprediksi akan kembali ke tingkat bulan lalu sekitar USD60 per barel.

"Produsen AS akan meningkatkan aktivitas kembali dengan biaya yang turun hampir 30 persen dan produsen semakin nyaman (dengan ekonomi saat ini)," ujar analis di Goldman Sachs seperti dikutip dari Reuters, Senin (20/7/2015).

Sementara itu, Schlumberger NV mengatakan, hal tersebut dipengaruhi permintaan di jasa ladang minyak di Amerika Utara yang telah terpukul oleh penurunan tajam harga minyak. Sedangkan kegiatan pemboran saat ini menunjukkan produksi AS akan tumbuh lebih dari 100.000 barel per hari pada 2016.

Di sisi lain, Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan, akan bertemu Sekretaris Jenderal OPEC Abdullah al-Badri di Moskow pada 30 Juli untuk membahas pasar minyak dan situasi Iran.
ABD

Tidak ada komentar: