Minggu, 30 Agustus 2015

ADA MASALAH APA DI JATIGEDE?

Jokowi, Jokowi, lagi-lagi masalah, lagi-lagi masalah. Masalah apa yang kini sedang kau hadapi, Hah?! Kenapa dijadwalkan datang ke Jatigede tapi kau tak datang? Takut? Pengecut?

Setelah rakyat bangsa ini kau rendam dengan masalah harga-harga yang melambung, kini engkau hendak merendam 28 desa di Jatigede - Sumedang - Jawa Barat, setelah Ahok menggusur warga Kampung Pulo?! Wouh, lengkaplah keperkasaanmu dalam menindas rakyat.

Desa di Jatigede Mulai Ditenggelamkan, Jokowi Batal Hadir

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150831082158-20-75532/desa-di-jatigede-mulai-ditenggelamkan-jokowi-batal-hadir/

JakartaCNN Indonesia -- Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, akan mulai digenangi air dari Sungai Cimanuk pukul 10.00 WIB, Senin (31/8). Namun Presiden Jokowi yang semula direncanakan meresmikan pengairan Waduk Jatigede didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, batal hadir. 

“Jokowi hari ini tidak ke Jatigede,” kata anggota Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki. Ada sekitar 19 desa yang akan tenggelam akibat pengairan Waduk Jatigede.

Persoalan ganti rugi terhadap tanah dan rumah milik warga di desa-desa itulah yang membuat penggenangan Waduk Jatigede mundur dari 1 Agustus menjadi 31 Agustus. (Baca juga: 'Pak Jokowi Saya Tunggu Bapak di Jatigede')

Penggenangan Waduk Jatigede juga akan ikut menenggelamkan sekolah-sekolah di wilayah itu. Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat yang didapat dari Pemerintah Kabupaten Sumedang, sedikitnya terdapat 20 Sekolah Dasar yang bakal tenggelam.

Dua puluh SD tersebut tersebar di beberapa desa seperti Desa Cipaku, Cibogo, Pakualam, Leuwihideung, Cibungur, Sukakersa, Jemah, Wado, dan Cisurat. Sekolah-sekolah itu antara lain SD Negeri Sundulan, SD Negeri Bojongsalam, SD Negeri Jemah, dan SD Negeri Jatibungur.

Siswa yang sekolahnya terdampak oleh penggenangan Waduk Jatigede mau-tidak mau harus direlokasi. Sebanyak 91 murid SD Negeri Cadasngampar dan 33 murid SD Cidadap misal direlokasi ke wilayah SD Negeri Ciboboko di Desa Mekarasih. (Baca juga: Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya Gempa)

Begitu pula dengan 90 siswa SD Negeri Buahngariung I dan 80 siswa SD Negeri Buahngariung II yang ‘bedol desa’ ke Blok Pangangonan Desa Wado. Di sana mereka akan ditempatkan dalam satu bangunan. 

Adapun 89 siswa SD Negeri Cisurat dan 129 siswa SD Negeri Bojongsalam mesti diungsikan ke Blok Pamondokan Desa Padajaya. 

Tak hanya membutuhkan tempat baru, siswa sekolah yang terdampak penggenangan Waduk Jatigede juga membutuhkan biaya rata-rata Rp 250 juta sampai Rp 1 miliar per sekolah. 

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat Dadan Ramdan mengatakan belum tahu persis apa saja yang menjadi ukuran kebutuhan siswa sehingga Pemerintah Kabupaten Sumedang mengeluarkan biaya sebesar itu. Yang jelas biaya itu belum disetujui oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.  (Ikuti pemaparan infografis: Berhambur Uang di Jatigede)

"Pemprov tidak menyetujui. Sampai saat ini belum ada dan belum jelas sumber pendanaannya," ujar Dadan kepada CNN Indonesia, Ahad (30/8). 

Hingga kemarin, masih banyak warga yang bertahan meski Jatigede akan mulai digenangi hari ini. “Beberapa warga di lima desa masih banyak yang bertahan. Mereka ada di Desa Cipaku, Paku Alam, Sukakersa, Cibogo, dan Leuwih Hideung," kata Dadan.

Warga masih bertahan karena urusan ganti rugi dan kompensasi. Apalagi banyak pula warga yang tidak tahu akan pindah ke mana.

Nilai ganti rugi untuk kategori A yang mencapai Rp 122 juta dan kategori B sebesar Rp 29 juta dinilai tidak cukup. Jangankan untuk mendapatkan tempat tinggal, untuk membeli tanah dan kebutuhan lainnya pun dinilai warga tidak mencukupi.

Waduk Jatigede

https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Jatigede

Waduk Jatigede merupakan sebuah waduk yang sedang dibangun di Kabupaten Sumedang.[1] Pembangunan waduk ini telah lama direncanakan dan proses pembangunannya masih berlangsung hingga kini. Waduk ini dibangun dengan membendung aliran Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan JatigedeKabupaten Sumedang.

Berkas:Aliansi Rakyat Jatigede.jpg

Proyek Waduk Jatigede telah dirintis sejak era Sukarno tersebut menyisakan persoalan yang kompleks selain mengakibatkan enam belas ribu warga Kabupaten Sumedang yang terdampak, bencana ekologi yang menyebabkan hilangnya sekitar 1 juta lahan hijau produktif, ancaman pengangguran massif, puluhan situs kebudayaan Sunda sejak era abad ke-8 hingga Kerajaan Pajajaran terancam tenggelam. Proyek multinasional tersebut menyisakan persoalan yang belum terselesaikan hingga detik peluncuran penggenangan yang dibuka oleh Presiden Jokowi akhir Agustus 2015

Sejarah

Pembangunan waduk ini telah direncanakan sejak zaman Hindia Belanda. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembangunan tiga waduk di sepanjang aliran Sungai Cimanuk, dan waduk Jatigede merupakan waduk utama dan yang paling besar. Namun, pembangunan ketiga waduk itu mendapatkan tentangan dari masyarakat sekitar, sehingga pembangunannya pun dibatalkan. Baru pada tahun 1990-an, rencana pembangunan waduk Jatigede kembali menghangat. Langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah adalah merelokasi masyarakat yang tinggal di wilayah calon genangan. Relokasi pertama dilakukan pada tahun 1982.

Fungsi

Seperti waduk lainnya, Waduk Jatigede pun memiliki fungsi. Goldsmith menyatakan bahwa fungsi utama dari sebuah waduk adalah untuk sarana irigasi dan pembangkit listrik tenaga air.[butuh rujukan] Di samping kedua fungsi utama tadi, waduk pun berfungsi sebagai sarana budidaya perikanan air tawar, sarana olahraga air, sarana rekreasi, dan lain sebagainya. Untuk Waduk Jatigede, fungsi utamanya adalah sebagai sarana irigasi dan pembangkit listrik tenaga air. Waduk Jatigede dibangun dengan cara membendung aliran Sungai Cimanuk. Pembendungan ini mengakibatkan aliran air terhalang, sehingga air terakumulasi dalam sebuah kolam yang besar. Air yang terkumpul dalam bendungan tersebut digunakan sebagai cadangan air tawar untuk mengairi areal pertanian di wilayah MajalengkaIndramayu, dan Cirebon. Selain berfungsi sebagai sarana irigasi, Waduk Jatigede pun berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air. Saat ini, di wilayah itu terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Parakan Kondang. Dengan dibangunnya Waduk Jatigede, kapasitas pembangkit listrik tenaga air tersebut dapat ditingkatkan.

Berhambur Uang di Jatigede

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150730145030-23-69117/berhambur-uang-di-jatigede/

Berhambur Uang di Jatigede

'Pak Jokowi Saya Tunggu Bapak di Jatigede'

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150730123054-20-69071/pak-jokowi-saya-tunggu-bapak-di-jatigede/

'Pak Jokowi Saya Tunggu Bapak di Jatigede'Aden Tarsiman (50), warga asli Desa Cipaku, merupakan salah satu sesepuh desa tersebut. Ia mengaku mengetahui seluk-beluk permasalahan pembangunan Waduk Jatigede sejaka awal pembangunan di tahun 1980-an. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)

JakartaCNN Indonesia -- Aden Tarsiman, lelaki berusia 50 tahun asal Sumedang dengan kumis tebal melintang, berupaya melempar ingatannya kuat-kuat tiga bulan ke belakang. Kala itu, ia bersama Danuri warga Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede, Suharyana warga Desa Tarunajaya, dan Yayan Taryana dari Desa Jatibungur, berjalan kaki sejauh 350 kilometer ke ibu kota. Tujuannya: Bertemu Presiden Joko Widodo.

Pada Mei 2015 itu, besar harapan Aden, agar Jokowi -sebutan populer presiden- bisa berkunjung ke desanya: Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat. Jika Bendungan Jatigede nanti sudah resmi direndam, Desa Cipaku adalah satu dari enam desa yang akan benar-benar hilang tenggelam. Dalam proyek pembangunan Jatigede, nantinya bukan hanya Cipaku yang akan hilang dari peta, ada Desa Desa Wado, Padajaya, Leuwihideung, Cibogo, dan Jatibungur, dari total 28 desa yang terkena dampak.

“Proyek itu terbengkalai berpuluh tahun, karut marut tak keruan,” kata Aden saat bertemu CNN Indonesia di desanya medio Bulan Ramadan Silam. (Baca juga: Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya Gempa)

Aden merupakan satu dari ribuan saksi hidup proyek pembangunan bendungan Jatigede. Sejak awal kusutnya proyek pembebasan lahan pada awal 1980-an, hingga hari ini. “Sampai sekarang belum juga beres, banyak lahan yang belum diganti,” kata Aden.

Itu mengapa kemudian merasa pantas untuk bertemu Jokowi. Ia ingin presiden melihat dan merasakan langsung denyut para warga yang kehidupannya terombang-ambing lantaran proyek Jatigede.

“Pak Jokowi, kami ingin bapak datang dan lihat sendiri kondisi disini. Jangan hanya percaya apa kata menteri atau gubernur, lihat kondisinya, tolong,” kata Aden. “Pak Jokowi serius akan menutup pintu air Jatigede 1 Agustus? Tidak mungkin, Pak Jokowi jangan hanya percaya yang dikatakan Aher (Ahmad Heryawan-Gubernur Jawa Barat), atau menterinya, tapi kami mohon datang langsung ke Jatigede, lihat langsung.”  (Fokus: Kisah Tiga Orde Waduk Jatigede)  
Warga Desa Cipaku tengah membakar cemilan khas yaitu opak. Kegiatan itu biasa dilakukan oleh ibu-ibu setempat sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)


Memang sebelumnya, 1 Agustus merupakan tengat waktu yang ditetapkan Jokowi bagi pengampu proyek untuk mulai mengisi waduk dengan air yang mengalir dari Sungai Cimanuk. Namun rupanya itu bakal terhalang dan isyarat dari pemerintah perendaman kemungkinan bakal ditunda. Lantaran apa? Faktor terbesar adalah pembebasan lahan. 

Data yang diterima CNN Indonesia hingga Juli 2015 menunjukkan sedikitnya 10.924 KK masih dalam proses penggantian yang memakan nominal uang penggantian sebesar Rp 740 miliar. Hal itu belum dengan 12 ribu komplain terkait masalah pertanahan dan juga lahan pengganti. Itu semua diluar masalah yang belakangan ramai diperbincangkan. yakni kemunculan rumah-rumah ‘hantu’ tak berpenghuni yang juga tercatat akan menerima ganti rugi.

“Sepanjang saya hidup di sini, orang-orang memanfaatkan kebodohan orang desa. Kami ingin pemerintah perhatikan nasib rakyatnya,” ungkap Aden sambil menggosokan batu akik peninggalan ayahnya di ruang tamu bambu rumahnya, di atas sebuah sofa bututnya. (Baca juga: Penggenangan Waduk Jatigede Terancam Tertunda Lagi) 

Kepala Bagian Umum Satuan Kerja Waduk Jatigede Nindyo Purnomo memastikan jika secara fisik Jatigede sudah siap sebagai bentuk monumental sebuah waduk yang akan mengairi 90.000 hektare pesawahan di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka termasuk memberi sumbangan pembangkit listrik sebesar 110 megawatt dengan dua turbin penggerak. Ditemui di kantornya di lokasi waduk Nindyo membenarkan jika 0,25 persen sisa pengerjaan waduk hanyalah berupa peresmian alias penutupan pintu waduk, yang jika benar-benar terjadi akan dilakukan Jokowi 1 Agustus 2015.

“Intinya, kami diinstruksikan 1 Agustus itu sudah tidak ada lagi proyek. 1 Agustus semua kegiatan di Jatigede selesai dan berakhir,” katanya.

Meski ia mengetahui begitu banyak persoalan terkait rencanan penggenangan Jatigede, Namun permasalahan sosial ia sadari bukan ranah pekerjaannya untuk ia tanggulangi, karena ia bertanggung jawab untuk pengerjaan secara fisik Waduk Jatigede.

“Banyak masalah seperti banyak yang ingin pindah tapi masih di desanya sendiri, ada yang meminta untuk disediakan lahan relokasi. Situs-situs peninggalan zaman dahuku pun ada yang meminta direlokasi tapi ada juga yang rela tidak apa-apa dibiarkan tenggelam. Masih ada masalah sebenarnya.” (Baca juga: Warga Bertahan di Desa yang Bakal Tenggelam oleh Jatigede) 

Wakil Bupati Sumedang Eka Setiawan menegaskan pihaknya akan sekuat tenaga memastikan pengenanagan Jatigede berjalan sesuai rencana, 1 Agustus 2015. Meskipun ia menyadari banyak permasalahan yang belum selesai.

Proyek itu terbengkalai berpuluh tahun, karut marut tak keruanAden Tarsiman warga Desa Cipaku, Sumedang. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)
“Kami sempat mengikuti rapat terbatas dengan gubernurm wapres dan pak presiden juga beberapa menteri untuk program Jatigede ini agar digenangi awal Agustus, tentu kami sekuat tenaga akan merealisasikan program itu. Meskipun kami sadari banyak masalah yang tidak mudah di lapangan.”

Kembali ke permintaan Aden. Rupanya tak salah jika para pejabat melawat ke beberapa desa yang terdampak. Sebab puluhan tahun sudah warga di sekitar proyek Jatigede menanti kepastian. (Ikuti pemaparan infografis: Berhambur Uang di Jatigede)

“Presiden sudah mendengarkan menteri, gubernur dan bupati, saatnya presiden mendengarkan dan langsung mendatangi rakyatnya,” kata Aden lantang dengan kumisnya yang melintang.

Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya Gempa

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150730114927-20-69064/siloka-jatigede-dan-cerita-soal-bahaya-gempa/

Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya GempaBuku Layang Cipaku Darmaraja Sumedang yang berisi cerita leluhur Sumedang, termasuk ramalan mengenai bendungan Jatigede. Konon buku ini dituliskan sekitar tahun 1700-an. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)


JakartaCNN Indonesia -- Dahi Abah Rahmat seketika berlipat. Lelaki berusia 65 tahun yang dikenal sebagai tokoh masyarakat Desa Sukaratu, Darmaraja, Sumedang itu mengaku terkejut ihwal beredarnya informasi yang menyatakan waduk Jatigede berdiri megah di dekat daerah rawan gempa.

Ya, beberapa waktu lalu tersiar kabar konstruksi waduk Jatigede berdiri di atas salah satu lempeng tektonik aktif atau active fault yakni zona sesar Baribis. Sesar Baribis merupakan lempeng tektonik aktif yang membentang dari wilayah Cilacap di Jawa Tengah hingga ke kawasan Subang, melintasi beberapa daerah Jawa Barat.

Seakan diingatkan satu siloka -cerita Sunda lama, lelaki berusia 65 tahun itu pun megisahkan cerita leluhur Sumedang yang hingga kini masih dipercaya beberapa tokoh dan tetua. (Baca juga: Jatigede dan Tanda Tanya Tak Kunjung Sirna)

“Disini ada kacandran (pepatah) Cipelang Cipangayaman, Cimanuk Mareugih Deui. Walau terdengar mengerikan namun banyak orang sini masih mempercayai hal seperti itu," ujar kepada CNN Indonesia, saat bertemu di Sumedang, medio Ramadan lalu.

Abah mengungkapkan, sejatinya pepatah Cipelang Cipangayaman, Cimanuk Mareugih Deui memiliki arti akan ada suatu masa di mana Sungai Cimanuk dibendung oleh tanggul besar. Lantaran tanggulnya tak cukup kokoh, airnya pun akan kembali mengalir seperti biasa.

Apakah ini sebuah sinyalemen gagalnya proyek Jatigede? "Abah juga tidak tahu. lihat saja nanti,” cetus Abah. 

Meski menjadi pihak yang mendukung pembangunan proyek, ia memperkirakan isu seperti ini akan ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat terdampak. 
Dan benar saja, rumor mengenai keberadaan lempeng tektonik menjadi salah satu isu hangat yang bergulir di tengah penyelesaian pembangunan waduk, selain pembebasan lahan dan ancaman tergenangnya situs-situs bersejarah. 
Pintu air waduk Jatigede dilihar dari bawah tanggul. (CNN Indonesia/


Lantaran berada di atas lempeng tektonik, pembangunan waduk seluas 4.980,3 Hektare itu kembali diisukan bakal mengancam keselamatan warga oleh sejumlah pihak yang tidak terima dengan upaya ganti rugi yang saat ini tengah diproses pemerintah.

“Kalau Abah mengharapkan supaya tanggul nggak jebol. Kasihan juga pemerintah yang sudah keluar banyak uang ganti rugi dan bangun waduk ini,” ujarnya.

Dari penelurusan data yang dilakukan CNN Indonesia, informasi mengenai keberadaan sesar sendiri kembali beredar takkala sejumlah pengajar di Fakultas Geologi, Universitas Padjadjaran melalukan penelitian di kawasan Jatigede. Adalah Emi Sukarsih, Nana Sulaksana, Achmad Sjafrudi, dan Edi Tri Haryanto, empat geolog yang beberapa waktu lalu meneliti pengaruh keadaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Cimanuk yang diketahui menjadi sumber pasokan, terhadap tingkat erosi dan pendangkalan di Waduk Jatigede. (Baca juga: Jatigede: Cerita Panjang Persoalan Pembebasan Lahan)

Dari hasil penelitiannya, Edi menyatakan bahwa DAS di kawasan waduk Jatigede terbentuk dari beberapa struktur geologi yang mengindikasikan wilayah tersebut rawan erosi dan longsor. Akan tetapi, ia mengaku belum dapat memastikan perihal keberadaan sesar aktif di wilayah Jatigede.
Pasalnya penelitian yang dilakukan baru sebatas mendalami karakteristik bentuk DAS Cimanuk dan pengaruhnya terhadap konstruksi Waduk Jatigede. Namun Edi tak menampik bahwa dengan tingginya tingkat intensitas erosi di kawasan hulu sungai akan mengganggu kinerja alat-alat yang dipasang di sekitar waduk.

“Butuh penelitian lebih detil dan rinci kalau memang mau membuktikan bahwa Jatigede berada di kawasan sesar, walaupun di penelitian ini juga mengindikasikan hal tersebut,” ujarnya.

Isu Memanas

Rumor mengenai keberadaan sesar aktif di kawasan Jatigede sendiri kian berkembang tatkla gempa berkekuatan 3,6 skala ritcher mengguncang kota yang dikenal sebagai penghasil tahu tersebut, Minggu (5/7). Mengutip data Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 08.32 dengan Pusat gempa di 4 km sebelah tenggara Kabupaten Sumedang dengan kedalaman 10 km.

Meski gempa tersebut terbilang tak cukup bahaya, informasi sumir ini lagi-lagi menjadi bahan pemberitaan di beberapa media nasional dan lokal jelang pengenangan waduk Jatigede pada 1 Agustus mendatang. (Baca juga: Warga Bertahan di Desa yang Bakal Tenggelam olehJatigede) 

Butuh penelitian lebih detil dan rinci kalau memang mau membuktikan bahwa Jatigede berada di kawasan sesar, walaupun di penelitian ini juga mengindikasikan hal tersebutPengajar di Fakultas Geologi, Universitas Padjadjaran
Yang menarik, kali ini rumor tersebut beredar dan dikemas dalam bentuk infografis yang membuat para awak media dan pembaca dapat dengan mudah mengetahui duduk permasalahan dan kendala yang ada. Tak pelak, gelombang penolakan terhadap peresmian waduk pun kian terkoordinasi dan masif.

Padahal saat ini konstruksi waduk sendiri telah mencapai 99,75 persen. “Sebenarnya kami tinggal tunggu perintah (untuk mengairi waduk Jatigede) karena sejauh ini konstruksi waduk telah selesai. Tinggal dipoles sana-sini sedikit saja jika ada kekurangan,” ujar Ketua Bagian Umum Satuan Kerja unit Bendungan Jatigede, beberapa waktu lalu.

Di tengah beredarnya informasi mengenai Waduk Jatigede yang berdiri di atas lempeng aktif, Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan proyek yang ditaksir menelan dana tak kurang dari Rp 7 triliun akan tetap diresmikan dalam waktu dekat. Ini mengingat pengorperasian waduk akan bermanfaat pada upaya irigasi dalam rangka menjaga cadangan pangan nasional. 

Menyoal potensi gempa yang bisa muncul sewaktu-waktu, Basuki bilang pemerintah meyakni bahwa kontraktor yakni China Sinohdyro dan PT Wijaya Karya (Tbk) telah merancang konstruksi waduk Jatigede dengan mempertimbangkan struktur tanah dan memitigasi bencana yang mengintai. (Baca juga: Penggenangan Waduk Jatigede Terancam Tertunda Lagi) 

“Pasti sudah dihitung. Sekarang (masalahnya) hanya pada pembebesan lahan dan harapannya dialiri mulai Agustus,” tuturnya beberapa waktu lalu di kantornya di Jakarta.

Sejatinya, Abah dan Menteri Basuki memiliki kesamaan agar proyek yang sudah dimulai sejak 1960-an itu segera dioperasikan. Akan tetapi, di area yang akan digenang sana tak kurang dari 11 ribu kepala rumah tangga yang masih enggan beranjak lantaran mereka masih menunggu penggantian uang relokasi dan kerohiman yang sebenarnya bisa selesai asal ada komitmen dari semua pihak. 

Apakah 1 Agustus, penggenangan waduk Jatigede akan benar-benar dimulai?

“Saya rasa tidak bisa. Pak Jokowi harusnya bisa kesini, liat langsung supaya tahu duduk permasalahannya. Siapa yang salah, siapa yang benar, dan siapa yang bermain,” kata Nanang, warga Darmaraja, Sumedang. (Fokus: Kisah Tiga Orde Waduk Jatigede)

Waduk Jatigede Diisi Air Tanpa Jokowi

http://finance.detik.com/read/2015/08/31/102042/3005360/4/waduk-jatigede-diisi-air-tanpa-jokowi

Waduk Jatigede Diisi Air Tanpa Jokowi
Sumedang -Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat hari ini resmi diisi air untuk pertama kalinya setelah molor bertahun-tahun. Acara seremoni penggenangan waduk berlangsung tanpa kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang awalnya dijadwalkan akan hadir, terlihat dari spanduk penyambutan di lokasi.

"Saya ditugasi Pak Presiden Jo‎kowi untuk meresmikan penggenangan hari ini," ucap Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono di Bendungan Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Senin (31/8/2015).

Basuki tiba di lokasi menggunakan kendaraan dinas bernomor polisi RI 34 sekitar pukul 10.00 WIB. Basuki tampak rapi mengenakan kemeja putih dengan topi berlogo PU.

Tampak kehadiran Basuki disambut oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wakil Duta Besar China untuk Indonesia Sun We De.‎

Kehadiran perwakilan Kedutaan Besar China ini merupakan tanda kehadiran Negeri Tirai bambu tersebut yang turut ambil bagian dalam pembangunan Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat yang dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 2x55 megawatt (mw) ini.

Sebelumnya, ‎PT PLN (Persero) secara resmi menunjuk perusahaan China Sinohydro Corporation Limited sebagai kontraktorengineering procurement construction (EPC) pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede di Sumedang, Jawa Barat. 

Dalam proyek pembangkit berkapasitas 2 x 55 mw ini, Sinohydro akan menggandeng PTPP Tbk sebagai kontraktor bangunan dengan membentuk perusahaan patungan bernama Deng Xi.‎

Ini 28 Desa yang Akan Tergenang Waduk Jatigede

http://finance.detik.com/read/2015/08/31/100524/3005341/4/ini-28-desa-yang-akan-tergenang-waduk-jatigede

Ini 28 Desa yang Akan Tergenang Waduk Jatigede


Jatigede -Hanya dalam hitungan jam, penggenangan waduk Jatigede akan dilakukan, Senin (31/8/2015). Ada 28 desa di Kecamatan Darmaraja, Wado, Jatigede dan Jatinunggal yang terkena dampak genangan.

Desa Jemah Kecamatan Jatigede, merupakan desa yang pertama kali digenangi air Sungai Cimanuk. Butuh 18 hari menenggelamkan desa ini. Sementara untuk menenggelamkan 28 desa, butuh waktu sekitar enam bulan.

Dalam peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakat Pembangunan Waduk Jatigede, 28 desa itu disebutkan berada di lima kecamatan di Kabupaten Sumedang.

Di kecamatan Jatigede ada lima desa yang terendam, yaitu Desa Jemah, Ciranggem, Mekarasih, Sukakersa dan Cijeungjing.

Kecamatan Jatinunggal hanya ada dua desa, yaitu Desa Sirnasari dan Pawenang. Kemudian Kecamatan Wado, Desa Wado, Padajaya, Cisurat, dan Sukapura.

Sementara desa yang paling banyak terendam berada di Kecamatan Darmaraja. Ada 13 desa yaitu Desa Cipaku, Pakualam, Karangpakuan, Jatibungur, Sukamenak, Leuwihideung, Cibogo, Desa Sukaratu, Tarunajaya, Ranggon, Neglasari, Darmajaya.

Di Kecamatan Cisitu, Desa Pajagan, Ciguntung, Cisitu, dan Sarimekar tergenang Bendungan Jatigede.

Rencananya penggenangan akan disaksikan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan juga Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Sekitar 587 polisi mengawal prosesi penggenangan ini.

Sekitar 10.920 kepala keluarga yang rumahnya terkena genangan sudah diberi uang ganti rugi dan dipindahkan ke wilayah baru yang disediakan Pemerintah.

Cerita 'Rumah Hantu' Masih Bermunculan di Waduk Jatigede


http://finance.detik.com/read/2015/08/31/075125/3005198/4/cerita-rumah-hantu-masih-bermunculan-di-waduk-jatigede

Cerita Rumah Hantu Masih Bermunculan di Waduk Jatigede


Sumedang -Ada-ada saja ulah oknum di sekitar Waduk Jatigede yang hari ini resmi akan diisi air. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan, hingga beberapa hari menjelang pengisisan, ada warga yang sengaja mendirikan rumah di area genangan.

Basuki menjelaskan, oknum warga yang mendirikan rumah baru ini mengincar uang ganti rugi dari pemerintah.

"Sekarang ada rumah baru lho, bayangkan, di Desa Jemaah itu, coba ayo. Teman-teman tidak lihat, ditinggal sebentar, rumah baru muncul minta ganti rugi. Bukannya mau suudzon, tidak. Tapi kenyataannya begitu," ujar Basuki, ditemui saat berbincang santai dengan awak media di Resto Jumbo, Sumedang, Minggu (30/8/2015) malam.

Alasan ini yang membuatnya mengambil keputusan besar, mengapa akhirnya bendungan tetap diisi air, meskipun proses pembayaran ganti rugi belum tuntas dan masih ada warga yang berdiam di lokasi.

Basuki mencatat, hingga Minggu malam kemarin, proses pembayaran uang kerohiman sudah mencapai 90% dari total jumlah warga tercatat mencapai 10.920 kepala keluarga.

"Tapi yang 10% warga mereka bermukim di atas (dataran yang lebih tinggi). Jadi ketika digenangi tahap awal ini tidak masalah bisa jalan terus," ujarnya.

Keputusan penggenangan ini juga, kata Basuki, diambil setelah dirinya malakukan komunikasi dengan Pangdam TNI Siliwangi II.

"Kalau ini ditunda malah memperbesar masalah. Jadi kita harus masuk Pak Menteri harus tutup, ada masalah harus kita selesaikan," ujar Basuki menirukan ucapan Pangdam saat dihubunginya melalui sambungan telpon.‎

Seperti diketahui, jelang masa penggenangan, berbagai aksi penolakan gencar dilakukan oleh segelintir warga. Bukan hanya penolakan, aksi nekat dengan mendirikan 'rumah hantu' pun dilakukan oknum warga dengan tujuan untuk mendapat keuntungan pribadi. Istilah 'rumah hantu' ini karena rumah dibuat non permanen, tujuannya agar dapat ganti rugi saja. Apalagi rumah tersebut tidak berpenghuni.

"Kami pindahkan, anggota TNI diperintahkan Panglima (Pangdam), menyisir membersihkan. Membantu pembongkaran rumah, menyediakan transport. Semua difasilitasi, kalau nggak kita juga salah," pungkasnya.
(dna/dnl) 

Waduk Jatigede siap digenangi, warga tuntut ganti rugi

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150830_indonesia_gantirugi_wadukjatigede





Image captionWaduk itu rencananya akan berada di areal sebesar hampir 4.900 ribu hektar yang meliputi lima kecamatan dan 30 desa di wilayah Sumedang, Jabar.
Pemerintah berencana mulai menggenangi Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, pada Senin (31/08), tetapi sebagian masyarakat di wilayah itu mengaku belum mendapatkan ganti rugi yang layak.
Mahmudin, yang berusia 50 tahun, adalah penduduk di Desa Paku Alam, Sumedang, yang mengaku tidak mendapatkan ganti rugi yang adil.
"Kami kalau mau pindah dari desa ini, harus punya rumah. Nah, uang Rp29 juta yang kami terima, nggak cukup buat beli rumah. Bikin rumah sekarang minimal Rp250 juta," kata Mahmudin, yang mengaku bekerja serabutan, Minggu (30/08).
Dia mengaku dirinya dan teman-temannya tidak bermaksud melawan pemerintah terkait pembangunan waduk Jatigede.
"Kami hanya menuntut hak kami, agar diberi kehidupan yang layak," katanya kepada Wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.
Mahmudin termasuk kategori A yaitu warga yang mendapatkan uang santunan sekitar 29 juta Rupiah, dan bukan kategori B untuk penerima uang tunai rumah pengganti sekitar 122 juta Rupiah.

Kucurkan Rp 741miliar untuk ganti rugi

Waduk itu rencananya akan berada di areal sebesar hampir 4.900 ribu hektaryang meliputi lima kecamatan dan 30 desa, termasuk Desa Paku Alam tempat Mahmudin tinggal.

Tidak ada komentar: