Minggu, 23 Agustus 2015

Benci Tapi Tergantung Kepada Israel

http://www.odiyaiwuu.com/2015/06/benci-tapi-tergantung-kepada-israel.html

Kenyataan adanya penindasan terhadap bangsa Palestina dan pencaplokan tanah Palestina oleh Israel selama ini selalu mendapat reaksi keras dari sejumlah besar umat Muslim di seluruh belahan dunia. Dengan alasan warga Palestina sebagai sesama umat Muslim dan menganggap Yerusalem yang diduduki oleh Israel sebagai tempat suci ketiga agama Islam, maka berbagai kecaman dan kutukan kepada Israel hampir tidak pernah pudar. Umat Muslin menempatkan Israel bersama Amerika Serikat sebagai sekutunya sebagai musuh nomor satu mereka. Bahkan lebih tegas lagi, Presiden Iran sampai pernah mengatakan “Israel harus dihapuskan dari peta dunia”. Di Indonesia pun kecaman dan kutukan hampir tidak pernah berhenti. Bahkan berbagai kelompok Muslim di Indonesia selalu memberikan berbagai bentuk bantuan kepada warga Palestina, terutama mereka yang menghuni Jalur Gaza yang selalu berhadap-hadapan dengan tentara Israel.

Di tengah kecaman, protes, kutukan dan kebencian umat Islam kepada Israel, apakah pernah menyadari bahwa aksi kekerasan Israel terhadap warga Palestina dan pencaplokan tanah Palestina justru ikut dibiayai juga oleh sejumlah besar umat Islam? Tentu jelas tidak pernah ada sumbangan dana langsung (dengan sadar) oleh umat Islam kepada Israel. Tetapi secara tidak langsung sesungguhnya sejumlah besar umat Islam juga ikut menyumbang dana pembantaian warga Palestina dan pencaplokan tanah Palestina. Caranya adalah dengan membangun (membuka cabang) dan/atau membeli barang-barang produk kaum Yahudi.

Di banyak negara yang warganya mayoritas Islam banyak perusahaan yang dimiliki, dikelola, bernuansa dan berhubungan erat dengan Yahudi. Perusahaan-perusahaan inilah yang menyediakan barang yang ikut dibeli dan dikonsumsi oleh sejumlah umat Islam. Misalnya, produk makanan dan minuman (McDonald’s, Coca Cola, kopi Starbucks, rokok Marlboro, dan lain sebagainya); minyak wangi dan kosmetika (Aramis, Clinique, Dikny, Prescriptives, Origins, Mac Cosmetic, Bobby Brown, Tommy Hilfiger, dan lain sebagainya); pakaian (Jeans, dan lain sebagainyua; minyak bumi (yang diproduksi oleh Shell, Texaco, Axxon, British Petroleum, dan lain sebagainya); dan berbagai barang-barang yang diproduksi atau ada kaitan dengan orang Yahudi. Perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang ini selalu menyumbangkan sejumlah besar dana pendapatan pertahunnya kepada Israel, yang tentunya oleh Israel (sebagian besarnya) digunakan untuk membiayai pembantaian warga Palestina dan pencaplokan tanah Palestina.

Aneh memang. Di satu sisi umat Islam di seluruh belahan dunia tak henti-hentinya mengutuk, mengecam, dan membenci Israel, tapi di sisi lain justru mereka tergantung atau ketagihan mengkonsumsi barang-barang produk Yahudi. Jika demikian, apakah kekerasan terhadap warga Palestina dan pencaplokan tanah Palestina hanya dilakukan oleh orang Yahudi semata? Apakah umat Islam yang mengkonsumsi barang-barang produk Yahudi tidak ikut menyumbang biaya kekerasan terhadap warga Palestina dan pencaplokan tanah Palestina? Wajarkah kebencian umat Islam kepada orang Yahudi dalam kondisi yang seperti ini? Barangkali inilah yang disebut “benci tapi rindu” (membenci orang Yahudi, tetapi merindukan barang-barang produksinya).


Demi Hak CIPTA Jangan HAPUS Sumber ini : http://www.odiyaiwuu.com/2015/06/benci-tapi-tergantung-kepada-israel.html#ixzz3jdf2INmF

Tidak ada komentar: