Sabtu, 29 Agustus 2015

DAPATKAH KAU MENAHAN SIKSA?

Barusan sore tadi saya turun dari Mikrolet lalu dihampiri tukang ojek menawarkan jasanya. Saya menggeleng karena memang lebih suka jalan, lalu tukang ojek itu menyanyikan sepenggal syair lagunya Emilia Contessa;

"dapatkah kau menahan siksadari kekejaman dunia"

Coba, gimana perasaan hati anda mendengar syair lagu tersebut lalu anda menyaksikan tukang ojek yang berderet-deret yang tak mendapatkan penumpang? Hati saya tersayat sekali. Saya merasa bersalah karena mempunyai pengetahuan namun saya masih belum berbuat apa-apa. Seharusnya dengan modal pengetahuan itu saya bisa memperjuangkan nasibnya orang-orang kecil. Tapi saya harus bagaimana jika dari masyarakat sendiri masih tenang-tenang saja? Tak mungkin saya bekerja sendirian seolah-olah saya memiliki kepentingan di dalamnya. Posisi saya hanyalah menyumbangkan jiwa ini untuk bangsa ini, bukan untuk diri saya sendiri. Sebab diri saya sendiri sudah tak membutuhkan apa-apa. Jadi, saya ini menunggu mobil tumpangan. Jika ada pergerakan barulah saya menumpang membantu pergerakan itu.

Kebetulan ada rejeki, maka saya berikan Rp. 50.000,- Tapi apakah adil jika tukang ojek itu jumlahnya puluhan? Yah, tangan saya memang bukan untuk memeluk gunung, maka memeluk gulingpun jadilah. Jika tidak mungkin menjangkau semuanya, jangan menolak yang dihadapkan kepada kita. Kerjakan apa yang dihadapkan ke kita.

Oh, masih jauhkah perjalanan Pancasila - Kemanusiaan yang adil dan beradab? Di mana Jokowi?

Wahai kau burung dalam sangkarsungguh nasibmu malang benartak seorangpun ambil tahuduka dan lara dihatimu
Reff:Wahai kau burung dalam sangkardapatkah kau menahan siksadari kekejaman duniayang tak tahu menimbang rasa
Batinmu nangis hati patahriwayat tertulis penuh dengantetesan air mata
Sungguh ini satu ujiantetapi hendaklah kau bersabarjujurlah kepada Tuhan

Tidak ada komentar: