Minggu, 23 Agustus 2015

ISRAEL DITIRU ATAU DIHABISI?

Simak dulu artikel dibawah ini, baru ambillah keputusan sebaiknya bangsa Israel ini ditiru atau dimusnahkan?
Jika melihat kegagalan-kegagalan pertanian di Indonesia yang bertanah subur makmur, sebaiknya Indonesia menjalin hubungan baik dengan Israel supaya maju atau memposisikan diri sebagai pengutuk Israel supaya pertaniannya gagal terus?

Sayang presiden-presiden kita harus beragama Islam yang harus nekat bodoh-bodohan asal Islam. Coba seandainya saya yang menjadi presiden, maka saya akan usahakan menjadi sahabat terdekatnya bangsa Israel. Saya akan datangkan orang-orang Yahudi untuk mengubah Indonesia. Soal Yahudi itu jahat dan kejam, biarlah itu urusan malaikat Jibril. Yang penting bagaimana bangsa Yahudi bisa membantu memakmurkan bangsa Indonesia.

Daripada Jokowi bersahabat dengan Tiongkok? Daripada SBY bersahabat dengan Amerika? Mengapa tidak sekalian menjalin persahabatan dengan Israel, si kecil-kecil cabe rawit?!

Carilah ilmu ke negeri China! Ajaran yang salah sekali itu! Yang benar adalah carilah ilmu ke bangsa yang diberkati TUHAN.

Demi Indonesia, apapun akan saya lakukan, termasuk untuk memeluk bangsa Yahudi. Rugi sekali jika demi Islam, Indonesia harus terbelakang terus-menerus seperti sekarang ini. Masak umur 70 tahun masih tertatih-tatih jalannya?! Masak semakin tua semakin buruk citranya, yakni sebagai negara sarang koruptor? Apakah anda mendengar negara Israel itu sarang koruptor?

Tidakkah Islam bertanggungjawab atas kegagalan-kegagalan yang terjadi di Indonesia ini? Sebab kita harus melihat pada fakta bahwa kemajuan zaman dipegang oleh bangsa Yahudi. Dan dibalik bangsa Yahudi adalah YAHWEH. Maka kita harus mengkaji keunggulan-keunggulan dari ALLAH bangsa Arab. Apa saja keunggulan-keunggulan dari ALLAH itu?!



Pertanian di Israel

https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_di_Israel

Pertanian di Israel merupakan industri yang sudah maju: Israel memimpin dalam teknologi pertanian.
Kondisi geografis Israel tidak mendukung untuk pertanian. Lebih dari setengah wilayah Israel merupakan padang pasir. Iklim yang tidak mendukung dan kurangnya sumber daya air tidak mendukung pertanian. Hanya 20% wilayah Israel yang dapat ditanami.[1]
Kini, pertanian meliputi 2.5% dari jumlah PDB dan 3.6% dari ekspor Israel.[2] Pekerja yang terserap ke sektor pertanian hanya 3.7%.

Irigasi tetes

https://id.wikipedia.org/wiki/Irigasi_tetes

Berkas:Dripperwithdrop.png

Irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan emitor.
Irigasi tetes telah digunakan pada zaman kuno dengan mengisi pot tanah liat yang terkubur dengan air, yang pelan-pelan merambat ke rumput. Teknologi irigasi tetes modern ditemukan di Israel oleh Simcha Blass dan anaknya Yeshayahu.

Ide Yahudi di Lahan Tandus
https://id-id.facebook.com/last.armageddon/posts/658097610879179

Kompleks Kibbutz, komunitas pertanian di Israel. Terlihat di kiri kanan tempat itu adalah gurun tandus. Saat ini di tanah air sedang heboh buah-buahan impor asal Israel, khususnya jenis kurma dan jeruk. Alhasil anggota Dewan Perwakilan Rakyat kebakaran jenggot meminta pemerintah tegas memperbaiki kekeliruan itu. Indonesia sampai saat ini tidak mengakui keberadaan Israel. Meski ada beberapa pihak main belakang guna memasukkan produk Negeri Zionis itu. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 7 Agustus 2012 lalu, dua di antara sembilan jenis buah impor terbesar diminati konsumen Indonesia berasal dari Israel. Juni lalu, 20,6 ton buah kurma senilai USD 191.300 asal Israel masuk ke Indonesia. Sedangkan April lalu jeruk jenis Shantang sebanyak 0,666 ton dengan nilai USD 709 ribu diimpor pengusaha dalam negeri.
Bidang pertanian Israel maju pesat dan menguasai hampir seluruh pangsa pasar di dunia tidak alam waktu singkat. Tidak pernah terbayang di benak para imigran Yahudi mereka harus meninggalkan segala kenikmatan telah dibangun di seluruh belahan dunia berdatangan dan dihadapkan pada kenyataan Tanah Yang Dijanjikan tandus. Alhasil mereka harus putar otak guna mencari cara bertahan hidup. Mereka lalu menggarap wilayah itu sekuat tenaga.
Dahulu mereka hidup berdampingan dengan warga Arab-Palestina. Tetapi lantaran ladang mereka sering diserang oleh suku Baduin, para petani itu pun membentuk komunitas Kibbutz dan Moshav. Setelah Negara Israel berdiri, gantian mereka meneror dan merampas ladang serta perkebunan warga Palestina.
Kibbutz adalah sebuah komunitas pertanian. Semua anggota kibbutz tinggal bersama dalam satu tempat mirip barak tentara. Mereka menggarap ladang bersama-sama dan hidup kolektif. Sementara Moshav adalah wilayah perkebunan milik pribadi, tetapi tetap dalam satu wilayah perkampungan. Setiap hari mereka mencangkul, membajak, serta menanami tanah mereka yang tandus dengan harapan akan membawa berkah buat mereka di kemudian hari. Jangan bayangkan hal itu dilakukan dengan peralatan modern. Dicangkul yang ditemui hanyalah pasir dan batu. Mereka lalu membuat sistem irigasi terpadu buat pengairan perkebunan dan ladang mereka terbentang dari wilayah utara sampai selatan. Maklum saja iklim di Timur Tengah panas bukan main. Musim hujan pun hanya terjadi pada September sampai April.
Hasil unggul pertanian Israel meliputi 40 jenis buah, di antaranya jeruk, anggur, lemon, alpukat, pisang, apel, ceri, plum, strawberi, pir, dan buah pome. Berkat penelitian dan teknologi, mereka mampu menghasilkan buah dengan kualitas nomor satu dan tampak menarik jika dilihat. Bahkan kini mereka sedang mengembangkan tanaman ganja tidak memabukkan buat kepentingan medis.
Negara Kecil dengan Ide Besar
Meski miskin kekayaan alam, Israel berhasil membangun dirinya sebagai kekuatan teknologi. Gurun Negev yang kering, berhasil diubahnya menjadi lahan pertanian produktif. Israel juga pelopor dalam inovasi dan teknologi biomedis dan telah berkontribusi besar bagi dunia dalam ilmu pengetahuan, kedokteran, teknologi, seni dan humaniora.
Israel sangat maju untuk inovasi biomedis :
* Teknologi lengan dan kaki robot bermotor yang merespon perintah otak untuk membantu penderita lumpuh
* Regenerasi sumsum tulang belakang.
* Vaksin untuk mengobati anthrax.
* Penelitian awal untuk menghasilkan molekul yang akan membunuh sel-sel kanker tetapi tidak mempengaruhi sel normal.
* Terobosan penelitian untuk perawatan atau pengobatan untuk diabetes type 1, Parkinson , Alzheimer dan emfisema.
* Camera mini video untuk mendiagnosis penyakit, misalnya usus dan kanker payudara.
* Teknologi untuk menghancurkan bakteri jerawat (bakteri menghancurkan diri sendiri) tanpa merusak kulit di sekitarnya.
* Terbesar di dunia perusahaan obat generik, Teva Pharmaceuticals.
Israel sangat maju dalam inovasi ramah lingkungan.
Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang memasuki abad ke-21 dengan peningkatan jumlah pohon.
Seorang ilmuwan Israel mempelopori penggunaan bakteri untuk membersihkan polusi minyak di kapal tanker, jaringan pipa dan di pantai.
Israel mengembangkan teknologi baru untuk menggantikan bahan kimia, pestisida, dan fungisida dalam pertanian hidroponik.
Perusahaan Israel, Evogene, memperkenalkan teknologi untuk mengubah gen makanan secara alami melalui "evolusi teknologi akselerator," yang mengembangkan gen dari tanaman yang sama.
Israel mengembangkan sistem irigasi yang merevolusi dunia pertanian.
Israel mengembangkan pemanaskan air bertenaga matahari, yang mengubah energi matahari menjadi energi termal.
Para peneliti Israel, Amerika dan Kanada membentuk Nanoteknologi Air Bersih untuk mengatasi kekurangan air di Timur Tengah dan bagian dunia lainnya.
Pertanian di gurun Negev yang kering
Penghijauan Padang Gurun
Israel adalah negara yang terkemuka dalam upaya konservasi air lewat berbagai pekerjaan mereka dalam mendaur ulang air limbah dalam persentase yang tinggi sekali untuk dipakai lagi dalam sektor pertanian. Kita dapat lihat beberapa video di Youtube yang menunjukkan bagaimana para petani Israel mengubah Padang Gurun Negev menjadi kebun sayur dan buah yang subur. Para petani Israel menciptakan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) untuk mengairi setiap tanaman yang mereka pelihara di tanah yang tandus. Air hujan tidak cukup. Untuk mendukung para petani, pemerintah Israel mendaur ulang air limbah dari kota-kota besar di negara itu dan memompanya kembali ke tanah-tanah pertanian Israel.
Saat ini 75% dari air limbah tersebut telah berhasil didaur ulang. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi di seluruh negara maju. Israel berusaha untuk meningkatkan persentase tersebut hingga 90%. Karena air daur ulang tidak digunakan untuk air minum, maka air tersebut dipompakan ke lahan-lahan pertanian untuk menghasilkan buah, sayur dan bunga yang saat ini menjadi komoditas pertanian utama negara tersebut yang diekspor ke Pasar Eropa. Untuk penyediaan air minum, Israel membangun 39 pabrik pengubah air asin menjadi air tawar (desalination plant) di sepanjang garis pantainya yang berjarak 230 km. Hadera adalah lokasi pabrik air tawar terbesar di dunia dengan kapasistas pemompaan air sebanyak 23.000 meter kubik air per jam.
Israel membangun pula danau-danau buatan di padang pasir untuk mengumpulkan air selama musim hujan sehingga bisa dipakai untuk pertanian, air minum dan kebutuhan industri. Sekarang, para petani Israel berbagai keberhasilan mereka dengan "sepupu" mereka - para petani Palestina untuk membantu mereka meningkatkan produksi pertanian buat kebutuhan konsumsi domestik dan pasar eksport. Dalam tahun-tahun belakangan ini, mahasiswa dan petani dari berbagai negara berkembang seperti Kenya dan India berkunjung ke Israel untuk mempelajari teknologi air negara Timur Tengah tersebut.
Israel bukan merupakan negara satu-satunya di dunia yang memiliki padang pasir. Kebanyakan wilayah Timur Tengah, sebagian Afrika, China, Australia dan Amerika Serikat memiliki tanah padang pasir yang tandus. Namun demikian, Israel adalah pemimpin dalam teknologi rekayasa air yang saat ini dilihat sebagai contoh dan inspirasi bagi banyak negara lain yang tertarik untuk memperbaiki sektor pertanian dan kuantitas serta kualitas air minum mereka. Meskipun lebih dari separuh tanahnya adalah padang pasir, Israel sangat berhasil dalam menghijaukan dataran mereka.
Negara kecil yang ukurannya kira-kira sama dengan New Jersey juga mengembangkan energi alternatif menggunakan panel surya photovoltaic, panel terkonsentrasi dan pembangkit listrik tenaga angin. Kemajuan-kemajuan Israel merupakan hal positif yang bisa menginspirasi seluruh dunia. ditulis oleh C
Sistem Pertanian Israel
Mendengar nama Negara Israel atau bangsa Yahudi langsung dalam benak kita ada rasa antipati karena dianggap Negara yang jahat dan tidak bersahabat, namun ternyata berbanding terbaik dari yang dibayangkan, penduduknya ramah dan baik. Satu ketika teman tersesat,lepas dari rombongan Ziarah, kita beranggapan ini berbahaya, ternyata orang Yahudi baik mereka mengantar kembali ke Hotel dan diberikan uang taxi sopir Yahudi itu menolak. Jadi adanya kebencian terhadap bangsa Yahudi akibat pemberitaan media masa yang tidak netral. Terlepas dari itu semua sebenarnya ada hal yang patut kita teladani, dan hargai untuk belajar mengapa Negara Israel menjadi Makmur, karena merekalah Bangsa Pilihan Allah, dan otaknya cerdas salah satunya dari Nutrisi makanannya dan memiliki teknologi tinggi.
Bangsa Israel sebelum mengenal teknologi tinggi, mereka sudah membuat fondasi yang kokoh dalam bidang pertanian. Puluhan tahun yang lalu sebelum imigran Yahudi seluruh dunia kembali ke negeri Israel, tanah disana gersang dan delapan puluh lima persen (85 %) berupa gurun pasir yang kering, tanah subur hanya sebesar 15 % saja, sangat sedikit, karena curah hujan disana dalam setahun hanya 0.01 % jadi sangat kecil kemungkinan jika mengandalkan tadahan air hujan, sehingga ketersediaan sumber daya air menjadi kendala utama disana, tetapi Puji Tuhan mereka berhasil mengatasinya. Caranya bagaimana ? .
Untuk merubah tanah kering, gersang dan gurun pasir yang susah air tersebut, salah satunya mereka membangun saluran-saluran air dan pipa-pipa air raksasa berpuluh kilo meter panjangnya dan mengambil air dari sungai-sungai dan danau , salah satunya adalah Danau Tiberias, kemudian air disedot ke tempat yang tinggi , pada puncak-puncak pengunungan dibuat semacam dumb, bak air raksasa ditampung airnya disitu, kemudian mereka mengalirinya, sebanyak 20 % untuk konsumsi perumahan dan Kota dan bahkan airnya suci hama sehingga langsung dapat diminum tanpa dimasak. Selanjutnya 80 % airnya dialiri ke sektor pertanian, kebanyakan di daerah Gunung Negev yang gersang dan selanjut dilahan pertanian tersebut, pipa-pipa tersebut dipecah-pecahkan menjadi pipa-pipa kecil sampai pada tiap akar tanaman dengan menggunakan teknologi system computers diatur waktu penyiraman saat mana akar tanaman membutuhkan air.
Sehingga dengan demikian jika terjadi pemboikot dunia terhadap Negara Israel, tidak menjadi masalah karena Negara Israel sangat mandiri dari sisi pangan, ekonomi dan teknologi ditengah 5 negara arab yang mengapitnya, Hampir mirip dengan ide mengalirkan air dengan membuat saluran besar ke Southern California di Amerika susah air tetapi sejuk dari daerah sekitar nya, siapa tau insinyur perancangnya orang Yahudi yg sama juga, hebat kan…
Setelah masalah ketersediaan air dipecahkan, dalam rangka mempertahankan system pertanian modern yang terus berlanjut, maka mereka membentuk komunitas-komunitas pertanian yg dikenal dengan istilah Kibutz. Kibutz dirancang dengan baik, dimana terdapat jobdescriptions / pembagian tugas yang jelas, penentuan benih tanaman yang akan ditanam ,pembagian area lokasi, pembagian tempat pertanian, tempat tinggal, pasar dan tempat umum lainnya sampai pada model pendidikan untuk anak-anak mereka.
Hampir sama dengan konsep system Subak di Bali dan system Nagari di ranah minang yang mana ada pembagian wilayah pertanian dan sosial budaya. Kalau di Nagari ada lokasi tempat tinggal, ada surau, ada kolam air sebagai sumber air, pasar, kuburan, tanah lapang untuk acara tertentu, balai adat dan lain-lain.
Jadi Kibutz, bukan saja mengenai pertanian tetapi juga mereka mengembangkan metode pendidikan baik untuk pertanian (primer) juga pendidikan umum lainnya pada komunitas dari tingkat TK sampai SMA, mereka belajar di tempat khusus (sekolah bersama ) dan mendapatkan pelajaran-pelajaran dasar ketika orang tua mereka bekerja di daerah pertanian . setelah tamat SMA anak-anak petani diberikan keterampilan khusus yg sesuai dg keahlian pertanian yg dibutuhkan, sehingga setelah lepas masa pendidikan mereka telah siap membantu orang tuanya mengembangkan usaha pertanian.
Jadi tidak repot lagi, tenaga ahli pertanian yang muda, produktif dan fress sudah tersedia, mereka terus mengembangkan teknologi pertanian yang telah dikembangkan orang tua mereka. Bagaimana jika dibandingkan dengan Indonesia, pendidikan Indonesia, misalnya seorang anak petani telah Sarjana, ketika ditanya apakah mau bekerja di Desanya atau di Kota, pasti memilih di Kota ? apa sebabnya, karena di sekolah mendapatkan pelajaran yang tidak sejalan dengan kegiatan pertanian, mereka malah diajari ilmu-ilmu dan keterampilan yang jauh dari dunia sehari hari mereka, sehingga mereka terasing sendiri dg lingkungan asalnya,setelah lulus sekolah tak mau turun ke sawah atau ladang , tapi pergi mencari kerja ke kota , karena itu tidak heran pertanian di tempat kita tidak mendapat kemajuan berarti dari sisi teknologi dan bisnis.
Tanggaban Admin....:
Mereka tidak peduli dengan segala tudingan penuh kebencian yang diarahkan kepada mereka.
Bahkan ada bangsa dan para pemimpin bangsa atau komunitas yang menginginkan agar bangsa mereka dihapus dari peta dunia.
Entah sadar atau tidak, peradaban kita, pencerahan hidup, teknologi yang kita pakai, adalah hasil kerja keras dan ide jenius mereka.
Bahkan perangkat lunak yang kita pakai yang begitu besar manfaatnya seperti komputermu, PC-mu, notebook-mu, internetmu, twittermu, facebookmu, jaringan teleponmu, adalah kreasi mereka.
Masihkah Anda memandang mereka dengan penuh kebencian...???
Yang jelas, orang, komunitas, atau bangsa yang memberkati mereka akan diberkati.
Dan orang, komunitas, atau bangsa yang membenci dan mengutuki mereka akan terkutuk Nubuat itu sedang digenapi saat ini.....
Lihatlah kenyataan: Negara-negara yang membenci mereka sampai ke tulang sumsum ------> pergolakan dan pertumpahan darah, tangisan pilu selalu terjadi tanpa henti.
Tetapi bangsa-bangsa atau negara yang mengakui dan memahami nubuat tentang bangsa itu, semakin diberkati.
Selamat malam dan beristirahat, sobat....
Tuhan Sejati menjagamu seperti Dia menjagaku juga....

Tidak ada komentar: