Rabu, 19 Agustus 2015

Israel Vs Palestina : Perang Suku 3 Ribu tahun

http://www.kompasiana.com/jacksonkumaat/israel-vs-palestina-perang-suku-3-ribu-tahun_551991ada33311ae19b65927

Pertempuran tentara Israel dengan kelompok bersenjata di Palestina selama delapan hari, akhirnya berakhir. Hingga kini, banyak negara terus menyuarakan perdamaian di kawasan tersebut, sekaligus mengajukan tuntutan ke pihak yang bersalah ke pengadilan hak asasi manusia (HAM).
Perlukah kita (Indonesia) ikut campur dalam urusan Israel dan Palestina?
Sejumlah literatur sejarah mencatat, pertempuran antara tentara Israel dan Kelompok Hamas, yang menguasai wilayah Gaza, sebenarnya merupakan rangkaian dari sebuah konflik panjang yang berakar sejak lama. Konflik dua bangsa ini sudah terjadi sejak seorang penggembala domba bernama Daud dari Bangsa Israel, berhadapan dengan satu dari lima tentara bertubuh besar setinggi 3 meter bernama Goliat. Goliat ini adalah perwakilan bangsa Filistin, yang kini bernama Palestina. Pada tahun 1000 SM kala itu, bangsa Filistin itu sempat mengungsi karena kalah berperang, sedangkan bangsa Israel bermigrasi menempuh perjalanan Tanah Kanaan. [Baca: Goliat: Pertempuran dengan Daud]
Itulah cikal bakal konflik Israel dan Palestina yang akhirnya kembali mengemuka saat ini. Hingga akhirnya, wilayah Palestina tanpa otoritas pemerintahan dan kerajaan pada tahun 1800-an. Di akhir abad ke-19 sebelum pecahnya Perang Dunia I, seluaruh wilayah Timur Tengah merupakan wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman Turki selama lebih dari 400 tahun. Palestina saat itu disebut Suriah Selatan, dipecah menjadi Provinsi Suriah, Beirut, serta Jerusalem oleh penguasa Ottoman.
Niat mendirikan negara Yahudi muncul sekitar 1859-1880, ketika gelombang anti-Semit mulai melanda Eropa dan Rusia. Inilah yang memicu terbentuknya Gerakan Zionisme pada 1897. Gerakan ini menginginkan pembentukan sebuah negara Yahudi sebagai suaka untuk semua bangsa Yahudi di berbagai pelosok dunia. Kelompok ini pernah mempertimbangkan beberapa lokasi di Afrika dan Amerika sebelum akhirnya memilih Palestina sebagai tujuan akhir.
Saya beranggapan, konflik saat ini antara Israel dan Palestina seperti layaknya perang saudara kandung. Sejumlah negara tetangga selama ini turut memprakarsai mediasi agar kedua bangsa ini hidup dengan damai. Namun demikian, berbagai perundingan yang digelar selalu dilanggar kedua pihak.
Komisi Peel dari Inggris (1936-1937) pernah mengajukan solusi dua negara, mengusulkan agar Palestina dibagi dua, satu bagian untuk bangsa Yahudi dan satu bagian lainnya diberikan bagi bangsa Arab. Negara Yahudi, sesuai rekomendasi komisi, meliputi kawasan pantai, Lembah Jezreel, Beit She'an, dan Galilea. Sementara Negara Arab akan meliputi Transjordania, Yudea, Samaria, Lembah Jordania dan Negev. Awalnya, solusi ini direspon positif, tapi kemudian dalam perjalanannya mereka menolak pembagian wilayah. Kini, penganut agama Yahudi di wilayah Palestina suda mencapai 50 persen. Semua Negara-negara di Timur Tengah sudah lama tahu, bahwa konflik ini adalah konflik antar elit politik dan militer dan bukan perang agama.
Perang Delapan Hari di Palestina dan Israel pekan lalu, membuka mata dunia tentang pentingnya perdamaian. Tentara Israel dan semua elemen bersenjata di Palestina termasuk Hamas, Fatah, PLO dan kelompok lainnya harus tunduk pada gencatan bersenjata yang diprakarsai oleh Mesir.
Sebagai bangsa yang berdaulat, menurut saya, Indonesia tak perlu terlibat dalam menyelesaikan konflik Irael dan Palestina. Di tulisan sebelumnya berjudul ‘Tak Semua Rakyat Israel Suka Kekerasan dan Tak Semua Rakyat Palestina Cinta Damai’, saya ingin menggambarkan bahwa masih ada kelompok warga Israel dan Palestina yang menginginkan kedamaian. Namun demikian, ternyata masih ada kelompok kecil di antara mereka yang menyukai peperangan. Jika ditanya apa kontribusi kita yang perlu diberikan untuk Palestina saat ini adalah bantuan tenaga medis dan obat-obatan. Keikutsertaan Indonesia dalam bantuan militer akan membuat ‘blunder’ proses perdamaian di Timur Tengah.
Seandainya saya memiliki mesin waktu yang dapat mengantarkan saya ke masa lalu, saya ingin sekali kembali ke zaman Daud ketika memenangkan pertarungan melawan Goliat. Saya ingin tahu bagaimana status hukum wilayah pertempuran saat itu, setelah bangsa Filistin meninggalkan wilayah Palestina dan bangsa Israel mencari Tanah Kanaan.
Salam Kompasiana!

Tidak ada komentar: