Senin, 31 Agustus 2015

JOKOWI ITU PRO ANTEK-ANTEKNYA

Jokowi menjadi presiden hanya untuk kepentingan antek-anteknya, sementara antek-anteknya adalah musuh kita, musuh rakyat. Karena itu jika ini dibiar-biarkan, kita akan hancur. Sudah cukup kita ini dikibuli dengan perkataan: "Tenang, tenang...." Kejam sekali orang tenggelam tak ditolong tapi disuruh tenang. Dolar anjlok terus tanpa daya, orang disuruh tetap tenang? Padahal kalau di pesawat terbang jika kondisi pesawat darurat, pramugari akan memberitahu penumpangnya dan penumpang dipersiapkan untuk menyelamatkan diri supaya tidak mati konyol dengan tenang. Tapi kita disuruh mati tenang tanpa perjuangan apapun.

Posisi kita "maju kena mundurpun kena." Di depan kita memang menghadapi peperangan, tapi di belakang kita juga menghadapi ketidakpastian. Dolar mengancam, harga-harga mengancam, pengangguran mengancam, kemiskinan mengancam, kesulitan dan kesengsaraan hidup meluas mengancam. Di depan yang kita pertaruhkan tubuh/fisik kita. Tapi di belakang yang kita pertaruhkan adalah jiwa kita. Kita memang tidak perang fisik. Tapi pikiran kita akan terbebani masalah segunung yang membuat kita stress dan gila.

Mana yang anda pilih? Mati dalam perjuangan atau hidup dalam penderitaan panjang dan menjadi orang gila? Mari kita inspeksi. Periksa satu-persatu kondisi tetangga di kampung kita. Hitung berapa banyak yang telah stress oleh sebab ekonomi?

Miskin, menganggur, penghasilan tak pasti, sementara harga terus-menerus melambung. Coba gunakan nalar, hitung kekuatan orang itu dan pastikan hari gilanya.

Ambil layah, taruhlah beberapa buah cabe lalu tumbuklah. Bisakah anda menghitung kapan cabe itu akan hancur lumat? Jika tak lumat itu bukan cabe melainkan batu. Demikian pula jika menghadapi tekanan ekonomi orang tak gila, maka dia bukanlah manusia.



Tidak ada komentar: