Selasa, 25 Agustus 2015

JOKOWI PRESIDEN SONTOLOYO - TAK BERPERASAAN

SBY Minta Jokowi Belajar dari Krisis Global 2008

http://nasional.kompas.com/read/2015/08/25/13461641/SBY.Minta.Jokowi.Belajar.dari.Krisis.Global.2008

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta Presiden Joko Widodo untuk waspada dengan potensi krisis ekonomi global yang dapat berdampak pada kondisi ekonomi Indonesia. SBY meminta Jokowi belajar dari pengalamannya saat menghindari krisis ekonomi global pada 2008 lalu.
"Indonesia memang sering alami gejolak. Dlm krisis 98 ekonomi kita jatuh, tetapi dlm krisis gobal 2008 kita selamat. Ambil pengalamannya," kata SBY melalui akun Twitter-nya, @SBYudhoyono, Senin (24/8/2015) malam.
Pada tahun 2008-2009 lalu, kata SBY, pemerintah bisa meminimalkan dampak krisis global karena pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, BUMN, ekonom, dan pimpinan media bersatu. (Baca: Masih Tertekan, Rupiah Pagi Melemah ke Posisi Rp 14.065 Per Dollar AS)
Jika ingin terhindar dari dampak krisis global sekarang ini, kata dia, hal yang sama harus dilakukan. Dia meyakini, di jajaran kabinet dan pemerintahan saat ini, tidak sedikit yang memahami ekonomi dan bisa ikut membantu mengatasi gejolak yang terjadi. Kuncinya adalah kerja sama yang solid dan efektif.
"Saat ini, yg diperlukan adlh kepemimpinan dg direktif yg jelas; solusi, kebijakan & tindakan yg cepat & tepat; serta dukungan semua pihak," tulis Ketua Umum Partai Demokrat ini. (Baca:Politisi PKS: Pak Jokowi Mungkin Lagi Pusing Mikirin Rakyat Kecil yang Semakin Sulit...)
SBY mengamati, masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai terdampak potensi krisis global yang dialami oleh negara-negara lain. Namun, dia mengaku masih percaya pemerintah Jokowi bisa mengatasi gejolak ekonomi saat ini.
"Menurut saya, manajemen krisis harus diberlakukan. Jgn 'underestimate' & jangan terlambat. Apalagi pasar & pelaku ekonomi mulai cemas," ucap dia. (Baca: Kalau Rupiah Tembus 15.000, Pebisnis Terancam Gulung Tikar)

Presiden Jokowi : Jangan Pesimistis, Kita Masih Pegang Duit

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/25/155450226/Presiden.Jokowi.Jangan.Pesimistis.Kita.Masih.Pegang.Duit

SURABAYA, KOMPAS.com - Presiden Jokowi, mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak pesimistis menghadapi turunnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dollar AS. 

Jokowi menegaskan, negara masih memiliki anggaran yang cukup untuk menggairahkan kembali perekonomian dalam negeri. "Jangan mengikuti arus psikologi lemahnya nilai tukar mata uang, harus ada terobosan agar kita bisa tetap survive," kata Jokowi usai membuka Munas MUI IX di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (25/8/2015). 

Pemerintah, kata Jokowi, masih memiliki anggaran yang cukup untuk membangkitkan perekonomian dalam negeri. "APBN masih Rp 460 triliun, APBD Rp 273 triliun, dan BUMN masih punya Rp 130 triliun, itu belum termasuk dana pihak swasta. Intinya kita masih pegang duit," jelasnya. 

Dia mengaku sudah mengintruksikan untuk melakukan deregulasi besar-besaran, agar anggaran tersebut bisa terserap efektif. Deregulasi yang dimaksud Jokowi adalah terobosan administrasi yang memutus rantai birokrasi yang menhgambat terserapnya anggaran negara. 

Tidak hanya itu kata Jokowi, Bank Indonesia (BI), Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan sudah membuat instrumen untuk mencari jalan keluar terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Sayangnya, menurut Jokowi, pengaruh eksternal yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar memang lebih mendominasi. 

"Pengaruh eksternal dalam konteks saat ini lebih kuat, seperti krisi Yunani, naiknya suku bunga di Amerika, dan banyak lagi yang terjadi di negara luar," terangnya. 

Untuk itu, dia meminta semua pihak termasuk media untuk membuat masyarakat Indonesia tetap optimis menghadapi masalah ekonomi global ini, dan meyakinkan bahwa negara ini masih bisa melewati Krisis global dengan potensi yang dimiliki. "Jangan membuat berita-berita yang membuat masyarakat menjadi semakin tidak optimistis," pungkasnya.

Rupiah Melemah, "Money Changer" Diserbu Warga

http://regional.kompas.com/read/2015/08/25/16502411/Rupiah.Melemah.Money.Changer.Diserbu.Warga?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menembus angka Rp 14.000 membuat warga berbondong-bondong menukarkan uang dollar AS yang mereka miliki. Peningkatan aktivitas penukaran uang ini mulai terjadi sejak beberapa hari lalu. 

"Ya melihat nilai dollar AS saat ini saya memutuskan untuk menukarkan," ucap Nanik (32), warga Kota Yogyakarta, Selasa (25/8/2015).

Dia mengaku memang sering menukarkan dollar AS sebab suaminya bekerja di luar negeri. Hanya saja, untuk kali ini, nominal dollar AS yang ditukarkan lebih banyak, bahkan mencapai dua kalinya dari hari biasanya. 

"Kalau saat ini nominalnya lebih banyak dari sebelumnya. Mumpung nilai dollar naik drastis," ujarnya. 

Sementara itu, Budi Waluyo, Direktur Utama Money Changer Mulia, yang berada di Jalan Malioboro, mengungkapkan, saat dollar AS mencapai angka Rp 13.000, jumlah dollar AS yang ditukarkan juga meningkat. 

Namun, beberapa hari lalu, peningkatan transaksi penukaran dollar AS tampak signifikan. Peningkatan transaksi penukaran ini pasca-nilai dollar AS menyentuh angka Rp 14.000. 

"Pasca-Rp 14.000 itu banyak yang melakukan transaksi penukaran dollar AS. Peningkatannya cukup tajam," katanya. 

Budi menuturkan, di Money Changer Mulia di Jalan Malioboro, warga menukarkan pecahan 100 dollar AS sampai dengan 500 dollar AS.

"Peningkatannya untuk transaksi penukaran dollar AS sampai 45 persen sendiri," ucapnya.

Kalau Rupiah Tembus 15.000, Pebisnis Terancam Gulung Tikar

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/25/114400626/Kalau.Rupiah.Tembus.15.000.Pebisnis.Terancam.Gulung.Tikar?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

JAKARTA, KOMPAS.com — Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat kian memusingkan pengusaha. Pengusaha khawatir jika gejolak tak juga reda, bisnis mereka berpotensi rugi, bahkan gulung tikar.
Seperti diketahui, nilai tukar valas menurut kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp 13.998 per dollar AS. Sementara itu, di pasar spot, Senin (24/8/2015) pukul 19.05 WIB, rupiah menembus level 14.050 per dollar AS.
"Kalau dollar terus anjlok di Rp 14.500, kami sudah sulit sekali bertahan. Kalau sudah Rp 15.000, kami bisa kolaps," kata Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (Inaplas), kepada Kontan, Senin (24/8/2015).
Efek tekanan rupiah ini sangat berat bagi industri kimia. Alasan pertama, permintaan pasar saat ini terus menyusut lantaran daya beli masyarakat juga lemah. Industri kimia, khususnya plastik kemasan, berhubungan langsung dengan industri consumer goods, seperti makanan dan minuman. Jika permintaan industri ini turun, maka permintaan kemasan plastik juga ikut turun.
Alasan kedua, bahan baku berbasis impor sehingga berpotensi mengerek ongkos produksi yang harus dikeluarkan industri ini. Untung dari sisi suplai ini adalah harga minyak mentah sebagai bahan baku industri kimia tengah mengalami penurunan, yakni di kisaran 40 dollar AS per barrel.
Meski saat ini kondisi bisnis tengah sulit, Fajar menegaskan bahwa hingga kini belum ada perusahaan yang memutuskan hubungan kerja dengan karyawan. "Utilitas masih kami jaga di 80 persen, jadi banyak stok menumpuk di gudang karena kami optimistis kondisi akan membaik, dan barang akan banyak terserap di akhir tahun," ujar Fajar.
Makin sulit dan PHK
Tekanan rupiah juga memberatkan industri tekstil. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy menerangkan, saat ini industri tekstil mulai kesulitan lantaran bahan baku industri tekstil di Indonesia mayoritas masih impor. Padahal, mereka harus menjual produk di dalam negeri dengan memakai harga rupiah. Kondisi ini jelas menyulitkan saat nilai tukar rupiah terus melemah.
Meskipun industri tengah dirundung masa sulit, Ernovian tidak bisa memastikan berapa lama produsen tekstil lokal ini masih bisa bertahan dalam gejolak. "Beban biaya bahan baku yang semakin tinggi secara otomatis akan mengerek harga jual produk tekstil menjadi semakin mahal," ungkapnya.
Ketua API Ade Sudrajat menambahkan, sekitar 80 persen bahan baku tekstil masih diimpor sehingga industri ini sulit bersaing. Misalnya, bahan pembuatan serat kapas hanya diproduksi di Eropa, begitu juga bahan baku garmen.
Ade mengatakan, efek pelemahan rupiah tidak hanya berimbas terhadap harga jual produk tekstil, tetapi juga berefek terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK). "Sudah ada 36.000 tenaga kerja yang kena PHK," ungkap Ade kepada Kontan, Senin.
Meski begitu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan berharap, kondisi ini bisa menjadi momentum bagi investor asing untuk merealisasikan investasinya di Indonesia karena secara kurs saat ini lagi murah," ujar Putu.
Semoga investor yang datang bukan spesialis pencaplok perusahaan sakit. (Benediktus Krisna Yogatama, Galvan Yudistira)

Rupiah Melemah, Siap-siap Rogoh Kocek Lebih Dalam...

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/25/103400926/Rupiah.Melemah.Siap-siap.Rogoh.Kocek.Lebih.Dalam.?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Bersiaplah merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Para peritel siap mengerek harga jual barang lantaran para pemasok sudah mengerek harga produk yang mengandung bahan baku impor. Ini lantaran mata uang Garuda sudah menyentuh batas psikologis Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS).
Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama Wiwiek Yusuf menjelaskan, peritel biasanya mengerek harga barang, mulai dari proses stok. Biasanya, jangka waktu stok barang impor atau berbahan baku impor sekitar tiga bulan. Setelah stok habis, para pemasok kembali berbelanja dengan harga yang baru.
Masalahnya, saat berbelanja barang bertepatan dengan kursrupiah yang  melemah. Alhasil,  maka pengeluaran biaya (cost) akan membengkak. Ujungnya mau tidak mau harga barang harus naik. "Kenaikan harga barang maksimal 5 persen," kata Wiwiek, kepada Kontan, Senin (24/8/2015).
Jenis barang bersiap berganti harga lebih mahal adalah barang impor atau barang yang mengandung baku impor. Misalnya susu, detergen, biskuit, sampo, dan sabun. Sedangkan, barang yang memiliki kestabilan harga lantaran berbahan baku lokal adalah  beras, gula, dan minyak.
General Manager of Marketing & Communication PT Kawan Lama Sejahtera, Teresa Wibowo menambahkan, pihaknya juga  segera menaikkan harga jual barang untuk produk furnitur di gerai Ace Hardware, gerai milik anak usaha Kawan Lama, PTPT Ace Hardware Tbk (ACES).  
Langkah ini untuk antisipasi kenaikan biaya impor dan persaingan harga dari kompetitor. Namun, Teresa  juga memastikan, kenaikan harga produk di gerai Ace Hardware tidak akan mengekor prosentase depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang sudah merosot 11,8 persen. "Kenaikan harga barang hanya sedikit, demi menyesuaikan daya beli konsumen," ujar dia.
ACES tidak berani mengerek harga produk terlalu besar karena berharap bisa memperbesar penjualan volume penjualan barang. Dengan begitu, pertumbuhan pendapatan bisa mengimbangi beban perusahaan.
Kelas atas masih kuat

Pasalnya, bila gejolak rupiah tidak segera diantisipasi dengan baik, untuk jangka panjang bisa menggerus perolehan laba perusahaan ritel. Apalagi,  saat ini, porsi barang impor di Ace Hardware masih 80 persen terhadap total barang. 
Namun, tak hanya itu saja.Demi menyeimbangkan beban dan pendapatan, pengelola gerai seperti Ace Hardwere ini juga terus berupaya mengurangi produk impor untuk memangkas biaya.  Misalnya dengan mulai menjajakan produk furnitur lokal di gerai-gerainya. "Kami mulai memasukan barang lokal ke pasar," tambah Teresa.
Bagi pengelola gerai ritel dengan target menengah atas mengklaim, pelemahan rupiah terhadap dollar AS,  belum terlalu mempengaruhi peritel yang menyasar pasar atas.
Nugraha Setiadharman, Direktur Utama PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) menyebut konsumen Ranch Market serta Farmers Market belum terpengaruh kenaikan harga.
Meski begitu, mereka kini berhati-hati untuk ekspansi bisnis. Supra Boga juga akan melakukan efisiensi dan strategi promosi kreatif supaya bisa menjaga pertumbuhan bisnis tetap bisa positif.
Nugroho mengakui, beberapa gerai masih mampu mencatat pertumbuhan penjualan dua digit di tengah pelambatan ekonomi. "Karena segmen  pasar yang kami garap masih cukup resilience terhadap situasi, jadi pelambatan bisnis belum terjadi," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRI) Tutum Rahanta, menjelaskan, keputusan peritel untuk menaikan harga jual bukan  semata untuk mengambil keuntungan. Ia mengklaim langkah ini dilakukan untuk menyehatkan kinerja peritel dari pengeluaran biaya akibat efek pelemahan rupiah. (Nina Dwiantika)

Pengamat: Rupiah Tembus 14.000 karena Tim Ekonomi Jokowi Tak Dipercaya Pasar

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/24/213933326/Pengamat.Rupiah.Tembus.14.000.karena.Tim.Ekonomi.Jokowi.Tak.Dipercaya.Pasar?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat ekonomi Didik J Rachbini menilai melorotnya nilai tukar rupiah hingga di atas 14.000 per dollar AS tak hanya disebabkan faktor eksternal tetapi juga internal. Menurutnya, faktor internal tersebut yaitu belum dipercayainya tim ekonomi pemerintah oleh pasar.
"Tim ekonomi pemerintahah baru yang tidak bisa meyakinkan publik dan pasar secara khusus. Dengan tim seperti ini meskipun pemilu berhasil dan ekonom-ekonom bilang rupiah akan kuat menjadi Rp 10.000 per dollar AS apabila Jokowi terpilih, tetapi karena tim ekonomi tidak meyakinkan maka rupiah terus merosot," ujar Didik saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/8/2015).
Selain itu, respons pemerintah menjaga stabilitas rupiah dalam satu tahun terakhir ini juga dinilai tak maksimal. Masalahnya kata dia, lantaran pasar sebenarnya tak memiliki kepercayaan kepada tim ekonomi pemerintah.
"Dalam waktu kurang setahun rupiah sudah merosot dari Rp 12.000 ke Rp14.000 karena pemerintah masih belum dipercaya pasar untuk dapat meredam dampak faktor eksternal," kata dia.
Dari sisi neraca perdagangan, pemerintah juga dinilai tidak berhasil merespons penurunan ekspor sehingga neraca berjalan yang awalnya surplus menjadi negatif. Menurutnya, dari situlah awal masalah dan pelelahan nilai tukar terjadi.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah sore hari ini melemah. Meski sempat menguat, mata uang Garuda makin tak berdaya terhadap dollar AS dan diperdagangkan di Rp 14.049 per dollar AS atau turun sebesar 0,78 persen.

Tidak ada komentar: