Selasa, 25 Agustus 2015

KAYAK KEHABISAN CEWEK SAJA

Pernikahan usia dini? Memangnya sudah kehabisan stok cewek? Mengawini cewek dibawah umur itu sama saja dengan makan buah mangga yang masih mentah. Kelaparankah, atau mengidap kelainan? Tanya, donk daripada sesat di tengah jalan.

Bagaimana Muhammad, seorang nabi besar bisa melakukan itu? Tidak bisakah beliau mengendalikan hawa nafsunya sebagaimana amanah bulan suci ramadhan - berpuasa 30 hari?



Menkum Malaysia: Jika Islam Izinkan Nikah Dini, Kita Tak Akan Menentang

http://www.voa-islam.com/read/world-news/2010/12/10/12215/menkum-malaysia-jika-islam-izinkan-nikah-dini-kita-tak-akan-menentang/#sthash.Hbrs0Ql8.M57sxpKJ.dpbs

Menkum Malaysia: Jika Islam Izinkan Nikah Dini, Kita Tak Akan Menentang


Kuala Lumpur (Voa-Islam.com) -Polemik pernikahan dini seorang siswi Muslimah Malaysia masih terus bergulir. Beberapa pihak yang menentang pernikahan ini, termasuk Menteri Pengembangan Wanita, Keluarga dan Masyarakat dan kelompok aktivis perempuan menginginkan pemerintah pusat melarang pernikahan tersebut, namun seruan itu ditolak oleh Menteri Hukum Malaysia yang mengatakan pelarangan tersebut bertentangan dengan hukum Islam.
Menteri Hukum Malaysia pada hari Rabu (08/12) menolak seruan untuk melarang pernikahan di bawah umur, meskipun terjadi kegemparan atas pernikahan seorang siswi Muslimah 14 tahun di nenegeri itu baru-baru ini.

Siti Maryam Mahmod menikah dengan seorang guru, Abdul Manan Othman, 23, akhir pekan lalu dalam sebuah pernikahan massal di sebuah masjid raya, setelah diberi izin pengadilan Syariah Islam.

Muslim Malaysia di bawah usia 16 tahun diperbolehkan untuk menikah selama mereka mendapatkan izin dari pengadilan agama setempat. hukum Syariah berjalan secara paralel dengan hukum perdata di negara multi-etnis tersebut.

Nazri Aziz, seorang menteri di departemen Perdana Menteri yang bertanggung jawab terhadap urusan hukum, mengatakan, pemerintah tidak mempunyai rencana untuk meninjau undang-undang yang memungkinkan pernikahan di bawah umur karena praktek ini diizinkan dalam Islam.

"Jika agama (Islam) mengijinkannya, maka kita tidak bisa membuat undang-undang untuk menentang hal itu," katanya dalam konferensi pers.
"Islam mengizinkan pernikahan tersebut asalkan gadis itu dianggap telah mencapai tahap umurnya, sekali ia telah mendapatkan haidnya," tambahnya.
..Jika agama (Islam) mengijinkannya, maka kita tidak bisa membuat undang-undang untuk menentang hal itu..
Bagaimanapun, pernikahan Siti Maryam telah memicu kritik termasuk dari Menteri Pengembangan Wanita, Keluarga dan Masyarakat, Shahrizat Abdul Jalil, yang bersikeras pemerintah tidak membenarkan praktek tersebut.

Kelompok Aktivis juga menyerukan agar undang-undang yang mengijinkan pernikahan di bawah umur dicabut, mengatakan bahwa praktek ini meluas dengan sekitar 16.000 anak perempuan Malaysia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah.

"Tidak ada perkawinan seorang anak kecil bisa dianggap diterima," kata juru bicara kelompok akativis Sister in Islam, Yasmin Masidi.
Tetap diizinkan bersekolah
Sementara itu, meski telah menikah, Siti Maryam dapat melanjutkan sekolahnya bahkan jika dia nanti hamil, sebagaimana diungkapkan oleh Deputi Menteri Pendidikan Malaysia, Datuk Dr Wee Ka Siong, walaupun tetap menyatakan keprihatinannya tentang bagaimana ia akan mengatasi menjadi murid dan ibu di usianya.

"Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya untuk menerima pendidikan ketika itu adalah haknya.

"Tapi saya khawatir tentang bagaimana dia akan berhubungan dengan teman-temannya dan ia hanya akan mengetahui hal ini setelah dia nanti hamil.

"Bagaimana dia merawat bayi dan keluarganya sambil sekolah?" ia bertanya saat dihubungi kemarin.

"Ini adalah kasus yang jarang terjadi tetapi tidak ada hukum atau panduan dari Departemen Pendidikan yang melarang ibu-ibu muda dari bersekolah," tambahnya.

Dr Wee mengatakan kasus seperti ini harus dipertimbangkan secara ad hoc.
..Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya untuk menerima pendidikan ketika itu adalah haknya..
"Kita harus memastikan bahwa itu ditangani dengan baik dan dengan bijaksana.
"Namun dari sudut pandang logis, dia akan dihadapkan dengan dua budaya yang benar-benar berbeda - kehidupan sekolah dan ibu.

"Saya tidak tahu bagaimana dia akan mengatasinya," tambahnya.

Wakil Menteri juga mengatakan kementerian tidak mendorong pernikahan atau kehamilan di bawah umur.

Siti menikah dengan seorang guru berusia 23 tahun Abdul Manan Othman, yang merupakan seorang teman keluarga, pada pernikahan massal 1Malaysia pada hari Sabtu.

Dia dikutip mengatakan bahwa akan sulit baginya menyeimbangkan peran sebagai seorang siswi, istri, dan segera, seorang ibu, tapi dia telah mengambil keputusan tersebut.

Suaminya Abdul Manan mengatakan pendidikan istrinya itu penting baginya.

Sekolah pertama di Malaysia untuk remaja hamil, Sekolah Harapan, di negara bagian Malaka resmi dibuka pada bulan September lalu. (aa/ANN,DA)

Pemerintah Malaysia Tidak Benarkan Pernikahan Dini

http://www.voa-islam.com/read/malaysia/2010/12/06/12131/pemerintah-malaysia-tidak-benarkan-pernikahan-dini/;#sthash.6cblBVpq.dpbs

Kuala Lumpur (Voa-Islam.com) - Pemerintah pusat Malaysia tidak membenarkan perkawinan anak dan akan melihat ke dalam atas pernikahan seorang gadis remaja 14 tahun dengan seorang guru sekolah berusia 23 tahun.

Menteri Pengembangan Wanita, Keluarga dan Masyarakat Malaysia, Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil mengatakan pemerintah jelas dalam bersikap bahwa mereka tidak membenarkan perkawinan anak. Shahrizat mengatakan kebijakan kementrian Perempuan, Keluarga dan Pembangunan Masyarakat adalah bahwa anak-anak di bawah 16 tahun masih membutuhkan bimbingan, perlindungan dan kesempatan untuk membentuk karakter mereka sendiri.

"Pernikahan adalah tentang tanggung jawab. Dia (Siti Maryam) masih anak-anak. Sejauh yang saya tahu, dia memang mendapat persetujuan dari pengadilan. Tapi aku mohon pengadilan untuk berhati-hati," katanya saat ditemui di Barisan Nasional Konvensi sini kemarin.
..Pernikahan adalah tentang tanggung jawab. Dia (Siti Maryam) masih anak-anak. Sejauh yang saya tahu, dia memang mendapat persetujuan dari pengadilan. Tapi aku mohon pengadilan untuk berhati-hati..
Remaja perempuan, Siti Maryam Mahmod menikah dengan Abdul Manan Othman, 23, seorang teman keluarga pada bulan Juli. Mereka adalah salah satu dari 250 pasangan pada pernikahan massal 1Malaysia yang diadakan di Masjid Wilayah Federal pada hari Sabtu.

Menteri di Departemen Perdana Menteri Datuk Seri Khir Jamil Baharom, yang menjadi tamu kehormatan dalam acara tersebut, dilaporkan telah mengatakan perkawinan itu sah karena telah mendapat persetujuan Mahkamah Syariah.

Saat ini, gadis Muslim di bawah usia 16 bisa menikah dengan persetujuan Mahkamah Syariah negara bagian sementara gadis-gadis non-muslim antara 16 dan 18 tahun bisa menikah dengan otorisasi dari Mentri Besar atau Ketua Menteri. -  (THE STAR)

Batas Usia Kawin Cegah Pernikahan Dini
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt536ced2eafaf5/batas-usia-kawin-cegah-pernikahan-dini

Pengaturan batas umur perkawinan memberi kepastian hukum.

Pemerintah menganggap Pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur batas usia pernikahan sebagai kesepakatan nasional yang merupakan kebijakan (open legal policy) pembentuk undang-undang. Sebab, dalam hukum Islam maupun hukum adat tidak menyebut batas usia minimum seseorang diperbolehkan menikah.
 
Hal itu disampaikan oleh Plt Dirjen Peraturan Perundangan-undangan Mualimin Abdi dalam sidang lanjutan pengujian UU Perkawinan di Gedung MK. Dia memaparkan dalam hukum Islam persyaratan umum yang lazim disebut sudah aqil baligh. Namun, Sedangkan secara adat ada perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya.
 
Misalnya, di Jawa Barat, perempuan yang sudah berusia 14 tahun, telah aqil baligh, dan dianggap cakap dibolehkan untuk menikah. Sementara di Jawa Tengah, perempuan yang sudah berusia 20 tahun belum menikah dapat dianggap “perawan tua”.
 
Mualimin mengingatkan UU Perkawinan menganut prinsip bahwa calon suami-istri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan pernikahan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari perkawinan di bawah umur, sehingga tujuan perkawinan untuk mendapatkan keturunan yang baik dan sehat tercapai.
 
Faktanya, batas usia lebih rendah bagi seorang wanita untuk kawin mengakibatkan laju kelahiran lebih tinggi. Atas dasar itu, UU Perkawinan menentukan batas usia untuk kawin bagi pria 19 tahun dan bagi wanita 16 tahun. ”Pembatasan ini hakikatnya mencegah perkawinan di bawah umur (dini) dan menunjang keberhasilan program nasional Keluarga Berencana
 
“Ini juga dikehendaki masyarakat dengan adanya tendensi pengunduran usia kawin,” lanjutnya.
 
Dia tegaskan perbedaan batas usia antara UU Perkawinan dan undang-undang lainnya seperti UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menentukan batas usia anak 18 tahun memang dimungkinkan. Sebab, berdasarkan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukkan Peraturan Perundang-undangan terkait perbedaan batas usia ini disesuaikan materi muatan yang akan diatur.
 
Karena itu, menurut pemerintah anggapan pemohon bahwa frasa “16 tahun” dalam Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menimbulkan ketidakpastian, ketidakserasian, dan ketidakseimbangan hukum berpotensi menimbulkan ketidakadilan adalah keliru. Justru, sambung Mualimin, diberikan pengaturan batas umur perkawinan memberi kepastian hukum dan mencegah perkawinan di bawah umur.              
 
Sebelumnya, Dewan Pengurus Yayasan Kesehatan Perempuan Zumrotin mempersoalkan batas usia  perkawinan bagi wanita, yakni 16 tahun melalui pengujian Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan. Alasannya, perkawinan anak dengan kehamilan dini di bawah usia 18 tahun berisiko tinggi. Si ibu masih dalam masa pertumbuhan sehingga terjadi perebutan gizi antara si ibu dengan janin.
 
Pemohon berpandangan norma Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan bertentangan dengan konstitusi karena menjadi landasan dan dasar hukum dibenarkannya adanya perkawinan anak dalam hal ini anak perempuan yang belum mencapai 18 tahun. Padahal, usia kedewasaan jika seseorang sudah mencapai usia 18 tahun sesuai Pasal 26 UU Perlindungan Anak dan Pasal 131 ayat (2) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
 
Karenanya, pemohon meminta MK menyatakan Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan sepanjang frasa “16 (enam belas) tahun” bertentangan dengan konstitusi dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
 
Pemohon juga meminta agar MK mengubah Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan sepanjang mengenai frasa ‘16 (enam belas) tahun’ yang berada dalam norma hukum ‘pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun’ menjadi frasa “18 (delapan belas) tahun”. Sehingga, bunyi Pasal 7 ayat (1) menjadi, ‘Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 18 (delapan belas) tahun’.

Berdasarkan catatan hukumonlinedukungan menaikkan batas usia perkawinan anak perempuan datang dari Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Jika dinaikkan, hak untuk tumbuh dan berkembang bagi anak menjadi terpenuhi.

Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya

http://www.smallcrab.com/others/1278-pernikahan-usia-dini-dan-permasalahannya

Pernikahan usia dini telah banyak berkurang di berbagai belahan negara dalam tigapuluh tahun terakhir, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Pernikahan usia dini terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di Indonesia serta meliputi berbagai strata ekonomi dengan beragam latarbelakang.1 

Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.2 

Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang.3-6 Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan.3 Implementasi Undang-Undangpun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.4-6

Suatu studi literasi UNICEF menemukan bahwa interaksi berbagai faktor menyebabkan anak berisiko menghadapi pernikahan di usia dini. Diketahui secara luas bahwa pernikahan anak berkaitan dengan tradisi dan budaya, sehingga sulit untuk mengubah.4,6-8 Alasan ekonomi, harapan mencapai keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua mendorong anaknya untuk menikah di usia muda.5 

Komunitas internasional menyadari pula bahwa masalah pernikahan anak merupakan masalah yang sangat serius.1 Implikasi secara umum bahwa kaum wanita dan anak yang akan menanggung risiko dalam berbagai aspek, berkaitan dengan pernikahan yang tidak diinginkan, hubungan seksual yang dipaksakan, kehamilan di usia yang sangat muda, selain juga meningkatnya risiko penularan infeksi HIV, penyakit menular seksual lainnya, dan kanker leher rahim.3-10 Konsekuensi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan tentunya merupakan hambatan dalam mencapai Millennium Developmental Goals.4,8,10

Definisi

Anak adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi sampai akhir masa remaja. Definisi umur anak dalam Undang-undang (UU) Pemilu No.10 tahun 2008 (pasal 19, ayat1) hingga berusia 17 tahun. Sedangkan UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 menjelaskan batas usia minimal menikah bagi perempuan 16 tahun dan lelaki 19 tahun. Definisi anak berdasarkan UU No. 23 tahun 2002, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk dalam anak yang masih berada dalam kandungan.11 Pernikahan anak didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum anak mencapai usia 18 tahun, sebelum anak matang secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk bertanggungjawab terhadap pernikahan dan anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut.13

Tinjauan epidemiologis pernikahan anak di penjuru dunia

Hasil penelitian UNICEF di Indonesia (2002), menemukan angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun berkisar 11%, sedangkan yang menikah di saat usia tepat 18 tahun sekitar 35%.8 Praktek pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Di Amerika Latin dan Karibia, 29% wanita muda menikah saat mereka berusia 18 tahun. Prevalensi tinggi kasus pernikahan usia dini tercatat di Nigeria (79%), Kongo (74%), Afganistan (54%), dan Bangladesh (51%).8 Secara umum, pernikahan anak lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun. Selain itu didapatkan pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki.3

Analisis survei penduduk antar sensus (SUPAS) 2005 dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) didapatkan angka pernikahan di perkotaan lebih rendah dibanding di pedesaan, untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan dan 11,88% di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita usia muda di perdesaan lebih banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda.2 Meskipun pernikahan anak merupakan masalah predominan di negara berkembang, terdapat bukti bahwa kejadian ini juga masih berlangsung di negara maju yang orangtua menyetujui pernikahan anaknya berusia kurang dari 15 tahun.5

Permasalahan dalam pernikahan anak

Beberapa permasalahan dalam pernikahan anak meliputi faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak, pengaruhnya terhadap pendidikan, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dampak terhadap kesehatan reproduksi, anak yang dilahirkan dan kesehatan psikologi anak, serta tinjauan hukum terkait dengan pernikahan anak.

Faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak

Di berbagai penjuru dunia, pernikahan anak merupakan masalah sosial dan ekonomi, yang diperumit dengan tradisi dan budaya dalam kelompok masyarakat. Stigma sosial mengenai pernikahan setelah melewati masa pubertas yang dianggap aib pada kalangan tertentu, meningkatkan pula angka kejadian pernikahan anak.4-8,10 

Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua menyetujui pernikahan usia dini. Alasan orangtua menyetujui pernikahan anak ini seringkali dilandasi pula oleh ketakutan akan terjadinya kehamilan di luar nikah akibat pergaulan bebas atau untuk mempererat tali kekeluargaan.7

Secara umum, pernikahan anak lebih sering dijumpai di kalangan keluarga miskin, meskipun terjadi pula di kalangan keluarga ekonomi atas. Di banyak negara, pernikahan anak seringkali terkait dengan kemiskinan.5,6,8 Negara dengan kasus pernikahan anak, pada umumnya mempunyai produk domestik bruto yang rendah.8,9 Pernikahan anak membuat keluarga, masyarakat, bahkan negara mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan dan hal ini tentunya menyebabkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan yang rendah baik anak maupun keluarga dan lingkungannya. 6,8,13

Pernikahan anak dan derajat pendidikan

Semakin muda usia menikah, maka semakin rendah tingkat pendidikan yang dicapai oleh sang anak. Pernikahan anak seringkali menyebabkan anak tidak lagi bersekolah, karena kini ia mempunyai tanggungjawab baru, yaitu sebagai istri dan calon ibu, atau kepala keluarga dan calon ayah, yang diharapkan berperan lebih banyak mengurus rumah tangga maupun menjadi tulang punggung keluarga dan keharusan mencari nafkah. Pola lainnya yaitu karena biaya pendidikan yang tak terjangkau, anak berhenti sekolah dan kemudian dinikahkan untuk mengalihkan beban tanggungjawab orangtua menghidupi anak tersebut kepada pasangannya.8

Dari berbagai penelitian didapatkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat pendidikan dan usia saat menikah, semakin tinggi usia anak saat menikah maka pendidikan anak relatif lebih tinggi dan demikian pula sebaliknya. Pernikahan di usia dini menurut penelitian UNICEF tahun 2006 tampaknya berhubungan pula dengan derajat pendidikan yang rendah. Menunda usia pernikahan merupakan salah satu cara agar anak dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi.5,8,13

Masalah domestik dalam pernikahan usia dini

Ketidaksetaraan jender merupakan konsekuensi dalam pernikahan anak. Mempelai anak memiliki kapasitas yang terbatas untuk menyuarakan pendapat, menegosiasikan keinginan berhubungan seksual, memakai alat kontrasepsi, dan mengandung anak. Demikian pula dengan aspek domestik lainnya. 8,13 

Dominasi pasangan seringkali menyebabkan anak rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga tertinggi terjadi di India, terutama pada perempuan berusia 18 tahun.3 Perempuan yang menikah di usia yang lebih muda seringkali mengalami kekerasan. Anak yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga cenderung tidak melakukan perlawanan, sebagai akibatnya merekapun tidak mendapat pemenuhan rasa aman baik di bidang sosial maupun finansial.5,6,8 Selain itu, pernikahan dengan pasangan terpaut jauh usianya meningkatkan risiko keluarga menjadi tidak lengkap akibat perceraian, atau menjanda karena pasangan meninggal dunia.8,13

Kesehatan reproduksi dan pernikahan usia dini

Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.5,9,10 Angka kematian ibu usia di bawah 16 tahun di Kamerun, Etiopia, dan Nigeria, bahkan lebih tinggi hingga enam kali lipat.5

Tidak ada komentar: