Sabtu, 08 Agustus 2015

LAGI-LAGI PENYALAHGUNAAN HAK PREROGATIF

Jokowi Ajukan 33 Nama Calon Dubes, Fadli Zon: Terlalu Banyak dari Parpol

http://news.detik.com/berita/2986924/jokowi-ajukan-33-nama-calon-dubes-fadli-zon-terlalu-banyak-dari-parpol

Jakarta - Presiden Joko Widodo mengajukan 33 nama calon duta besar Indonesia untuk negara tetangga kepada DPR. Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai pemilihan nama-nama tersebut ada nuansa politik dan terkesan bagi-bagi kekuasaan.

"Kalau menurut saya sepintas dari nama-nama itu terlalu banyak nama-nama dari Parpol dan berafiliasi dari penguasa. Jadi ya ini kayak bagi-bagi kekuasaan," ungkap Fadli di Waroeng Daun, Cikini, Jakpus, Sabtu (8/8/2015).

Fadli mengakui, untuk pemilihan dubes memang hak presiden. Namun ia mengingatkan seyogyanya Presiden Joko Widodo untuk lebih mempertimbangkan kapasitas calon. Menurutnya penunjukkan dubes lebih baik dimayoritasi oleh calon diplomat karir

"Presiden harus mempertimbangkan orang-orang yang punya kapasitas. Walaupun penunjukkan diplomat karir dan non harusnya lebih banyak yang diplomat karir, tapi harus kompeten," kata Fadli.

Presiden Jokowi telah mengajukan 33 nama calon dubes ke DPR pada 6 Agustus 2015 lalu. Saat ini beredar nama-nama calon dubes di media sosial yang diakui Fadli belum ia lihatnya.

"Saya nggak tahu yang di sosmed kayak apa. tapi saya sendiri sudah melihat usulan resminya. Saya lihat ada yang mumpuni, ada yang kurang," tutur Fadli.

"Kalau dari diplomat karir pasti mumpuni. Kalau ternyata ujug-ujug ngerti nggak diplomasi kayak apa? Politik luar negeri kayak apa? Ngerti nggak dia? Apalagi Jokowi ingin jadiin kedutaan jadi garda depan marketing kepentingan nasional kita," sambung politis Gerindra itu.

Pengajuan nama-nama dubes itu, kata Fadli, akan dibahas pada sidang paripurna mendatang. DPR pun menyerahkan proses pengajuan ini kepada Komisi I yang diminta untuk menerapkan fit dan proper test kepada calon.

"Nanti akan kita bahas pada masa sidang ini, dimulai pada tanggal 14 Agustus dan masa sidang besok akan jadi masa sidang yang sangat panjang sampai 30 Oktober. Kita serahkan ke komisi I agar diterapkan 1 pertimbangan atau fit and proper test di masa sidang besok," jelas Fadli.

Dari 33 nama calon dubes yang beredar, memang ada beberapa di antaranya yang bukan nama baru. Seperti Amelia Achmad Yani yang merupakan pengusaha dan juga politisi. Anak dari pahlawan nasional Achmad Yani itu diajukan Jokowi untuk ditempatkan di Sarajevo, Bosnia Herzegovina.

Selain Amelia, juga ada nama Ahmad Rusdi yang menjabat sebagai Dirjen Protokol dan Konsuler Kemenlu. Ia juga merupakan Kepala Protokol Negara yang pernah meraih penghargaan MURI karena telah melayani 6 Presiden RI selama 17 tahun pengabdiannya. Rusdi diusulkan untuk ditempatkan sebagai Dubes di Bangkok, Thailand.

Ada juga nama Rizal Sukma yang diusulkan untuk menjadi dubes di London, Inggris dan Irlandia. Ia merupakan Ketua Lembaga Hubungan Luar Neger PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS). Namanya pernah masuk daftar 100 pemikir global versi majalah Foreign Policy, AS.

Jokowi juga mengajukan calon yang memiliki latar belakang unsur TNI. Seperti Mayjen TNI (Purn) Mochammad Lutfie Wittoeng untuk Dubes Caracas, Venezuela. Juga Marsekal Madya TNI (Purn) Muhammad Basri Sidehabi sebagai dubes Doha, Qatar.

Berikut 33 nama calon dubes baru yang diusulkan Jokowi ke DPR:

1. Hasan Bagis, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
2. Safira Machrusah, Alffer, Aljazira
3. Bambang Antarikso, Baghdad, Irak
4. Husnan Bey Fananie, Baku, Azerbaijan
5. Ahmad Rusdi, Bangkok, Thailand
6. Yuri Octavian Thamrin, Brussel, Belgia dan merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa
7. Helmy Fauzi, Kairo, Mesir
8. Mayjen TNI (Purn) Mochammad Luthfie Wittoeng, Caracas, Venezuela
9. Mansyur Pangeran, Dakar, Senegal
10. I Gusti Agung Wesaka Puja, Den Haag, Belanda merangkap OPCW
11. Marsekal Madya TNI (Purn) Muhammad Basri Sidehabi, Doha, Qatar
12. Ibnu Hadi, Hanoi, Viietnam
13. Alfred Tanduk Palembangan, Havana, Kuba
14. Wiwiek Setyawati Firman, Helsinski, Finlandia
15. Iwan Suyudhie Amri, Islamabad, Pakistan
16. Muhammad Ibnu Said, Kopenhagen, Denmark
17. Rizal Sukma, London untuk Inggris dan Irlandia
18. Tito Dos Santos Baptista, Maputo, Mozambique
19. Mohammad Wahid Supriyadi, Moscow, Rusia
20. Musthofa Taufik Abdul Latif, Muscat, Oman
21. R Soehardjono Sastromihardjo, Nairobi, Kenya
22. Marsekal Madya TNI (Purn) Budhy Santoso, Panama City, Panama
23. Dian Triansyah Djani, New York untuk utusan tetap PBB
24. Diennaryati Tjokrisuprihatono, Quito, Ekuador
25. Agus Maftuh Abegebriel, Riyadh, Arab Saudi
26. Amelia Achmad Yani, Sarajevo, Bosnia-Herzegovina
27. I Gede Ngurah Swajaya, Singapura
28. Sri Astarai Rasjid, Sofia, Bulgaria
29. R Bagas Hapsoro, Stockholm, Swedia
30. Octaviano Alimudin, Tehran, Iran
31. Antonius Agus Sriyono, Vatican
32. Eddy Basuki, Windhoek, Namibia
33. Alexander Litaay, Zagreb, Kroasia

Tidak ada komentar: