Jumat, 28 Agustus 2015

MELIHAT ALLAH



                              

Saudaraku, selagi masih ada yang harus kita pikirkan, selagi masih ada kesempatan untuk memikirkannya, dan selagi masih mempunyai kemampuan untuk memikirkannya, adalah
sebaiknya kita memikirkannya. Sebab jangan sampai apa yang tidak harus kita pikirkan ki ta pikirkan, jangan sampai kita kehilangan kesempatan yang menjadikan kita terlambat, dan jangan sampai kemampuan berpikir kita hilang oleh sebab ditelan ketuaan dan kepi kunan.
Karena itu bersyukurlah dan bersukacitalah jika ada orang yang datang dan mengingat
kan ini semua, sebab di zaman ini masing-masing orang sudah hidup sendiri-sendiri, ber
jalan sendiri-sendiri, dan semau-maunya sendiri.
Yah, pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda untuk melihat ALLAH, membuktikan dan mengenaliNYA secara dekat dan secara nyata. Namun sebelum itu saya ingin menga
jak anda untuk merenungkan sejenak tentang hal ini: Jika kita sudah melihat ALLAH, la lu kira-kira apa yang akan kita lakukan terhadapNYA ?
Sekarang seandainya anda sedang berhadapan dengan sebuah komputer, yaitu sebuah pi
ranti canggih yang kita masih asing terhadapnya, kira-kira apa yang anda lakukan ? Dili
hat-lihat, benda apakah ini ?! Diraba-raba dan dipegang-pegang, lalu tuts-tutsnya anda pijat-pijat, dicoba begini dan dicoba begitu. Begitukah ?
Atau, seandainya yang anda lihat sebuah mobil yang keluaran terbaru, apa yang anda la kukan? Sama seperti komputer itu ?! Atau, kalau yang anda lihat seekor kucing ? Anda mencoba ‘memanggilnya’, memberinya makanan, anda mengelus-elusnya, lalu anda per mainkan ia. Kalau yang anda lihat orang tertabrak mobil, apa yang anda lakukan ? Berta
nya; ceritanya bagaimana, anda dari mana dan mobilnya dari mana, apakah kecepatannya tinggi, apakah anda tidak apa-apa ? Begitukah ?
Sekarang seandainya yang anda lihat itu seorang presiden, apa yang anda lakukan ?Mung kin pikiran anda berkecamuk: “Oh, seorang presiden itu pakaiannya safari, dikelilingi pe ngawal, mobilnya bagus………….Oh, seorang presiden itu ternyata manusia biasa juga sa ma seperti kita; ya makan, ya berak, ya bisa sakit, ya bisa mati.”
Dan, kalau seandainya anda ketemu Setan: “Oh, Setan itu kayak gitu toh !”

Nah, apa yang bisa kita catat di sini ? Bahwa sesuatu yang terlihat oleh kita itu menjadi me rosot nilainya, menjadi rendah, menjadi murahan, menjadi sepele, menjadi sederhana, dan menjadi berada di dalam kuasa kita. Terhadap siapapun posisi diri kita sendirilah yang se nantiasa teratas, sedangkan yang lainnya menjadi tidak atau kurang berarti. Coba renung
kan baik-baik tentang hal ini ! Coba belajarlah untuk mengenali diri kita sendiri dengan  segala sifat-sifat alamiahnya.

Sebaliknya; apa yang anda pikirkan tentang sesuatu yang belum pernah anda lihat ? Mi salnya ketika anda sedang mengangan-angan membeli sebuah mobil, mengangan-angan untuk membeli sebuah rumah, mengangan-angan tentang esok pagi anda hendak diwisu dakan menjadi sarjana, tentang esok pagi anda hendak menghadap presiden atau esok pa gi anda menggelar pesta pernikahan. Apa yang kali ini berkecamuk di dalam pikiran anda ?
Tidakkah apa yang anda angan-angankan itu posisinya menjadi berada di atas, di ketinggi an, mempunyai nilai yang lebih, mendebarkan hati, sementara diri sendiri terasa lebih ke
cil dan kurang berarti ?!
Bagaimana pula tentang lukisan Affandi, barang-barang antik, emas, permata, uang, tena ga kerja yang ahli, mengapa bisa begitu mahal ? Sementara udara, tanah debu, rumput, ba tu, air , kuli, tukang becak, bisa begitu murah dan tidak ada harganya ? Apa kira-kira pe nyebabnya ? Apakah itu karena kelangkaannya, sementara yang satunya karena kelimpah annya ?
Jadi, sesuatu yang tidak kelihatan itu lebih mulia daripada yang kelihatan. Sesuatu yang langka itu lebih mulia daripada yang limpah. Jika anda setuju [hukum ekonomi] ini, pe ganglah ini sebagai point yang pertama.

APAKAH MELIHAT ITU ?
Baiklah kita mulai dari seorang bayi yang baru mulai menggunakan penglihatan matanya.
Pertama yang dilihatnya sudah pasti ibunya, karena ibulah yang paling dekat dengannya.
Wajah ibu itu, nada suaranya, gayanya, dam kelembutan belaian tangannya, itulah yang di memorikan ke dalam otaknya dan diberinya nama: “Mama.” Karena itu diketika yang lain bayi itu menjumpai seorang dengan ciri-ciri yang seperti itu, maka dia akan memanggilnya : “Mama.” Atau, mana kala ada seseorang sedang menyebut-nyebut perkataan: “Mama”, maka di benak bayi tersebut akan muncul bayangan sosok mamanya.
Lalu memorinya bertambah lagi dengan pengenalan akan papanya, kakaknya, kakek-ne neknya, dan lain-lainnya. Semuanya berproses dengan cara yang sama, yaitu menangkap ciri-ciri spesifiknya dan penamaannya.
Kemudian setelah pikiran bayi itu mulai berkembang, maka mulailah dia membedakan an tara manusia dengan hewan, antara orang laki-laki dengan orang perempuan, antara ben da hidup dengan benda mati, antara yang makanan dengan yang bukan makanan, antara yang besar dengan yang kecil, antara yang banyak dengan yang sedikit, antara orang kaya dengan orang miskin, antara orang cantik dengan orang buruk, dan lain-lain. Dan semua nya itu juga terproses sebagaimana pengenalan pertamanya, yaitu berdasarkan ciri-ciri spe sifiknya dan penamaannya.

APAKAH CIRI-CIRI SPESIFIK ITU ?
Yang dimaksud dengan ciri-ciri spesifik itu tidak lain adalah HAKEKAT-nya. Apa hakekat ayahnya, apa hakekat ibunya, apa hakekat dari seorang laki-laki, apa hakekat dari seorang perempuan, apa  hakekat dari seekor binatang, apa hakekat dari benda yang mati, apa ha kekat dari sebuah mobil, apa hakekat dari seorang bangsa Arab, apa hakekat dari seorang bangsa India, Belanda, Jepang, Korea, China, suku Madura, suku Batak, dan lain-lain nya.
Itulah sebabnya ketika seorang anak melihat ayah atau ibunya dari jarak yang jauh, ha nya kelihatan bagian punggungnya saja dan terlihatnya samar-samar, tetapi ia bisa menge nalinya dengan baik, sekalipun secara penglihatan tertangkapnya samar-samar. Atau sua tu ketika kita melihat seseorang dengan wajah yang berbeda-beda, namun kita masih bisa mengenalinya sebagai orang Arab, orang Negro, orang Batak, orang Sunda, dan lain-lain.
Atau, ketika suatu mobil mempunyai bentuk yang berbeda-beda, seperti: sedan, truk, bus, trailer, pick up, tronton, dan lain-lain, kita masih bisa mengenalinya sebagai jenis mobil.
Karena apa ? Karena hakekatnya !
Jadi, sebenarnya apa yang dilihat oleh mata itu pelaporannya ke otak bukan lagi berben tuk gambar melainkan dalam bentuk informasi tentang hakekatnya. Hakekatnya seperti a pa itulah yang dilaporkan ke otak. Jadi, kita melihat disini bahwa peranan mata sebenar nya bukanlah untuk “gambar” tetapi untuk identifikasi hakekatnya. Atau, dengan kata la in bahwa mata bukanlah segala-galanya, mata bukanlah satu-satunya yang terpenting, ma ta bukanlah pusat atau intinya melainkan hanyalah sebagai “alat” bagi kepentingan otak.

BAGAIMANA MENYERAP HAKEKAT ITU ?
Bagaimana menyerap hakekat itu dan siapakah sebenarnya yang menyerap hakekat itu ? Itu adalah pekerjaan jiwa, atau yang kita sebut sebagai naluri. Bukan otak ! Sedangkan o-tak itu hanyalah alat perekam untuk kepentingan jiwa/naluri kita. Otak itu tidak bisa apa apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa berkreatifitas, kecuali menjalankan perin tah jiwa. Sama seperti jantung kita, hanyalah alat/mesin yang tidak bisa apa-apa. Jantung kita berdetak itu adalah karena didayakan oleh jiwa kita. Seperti juga tangan atau kaki ki ta, tidak akan bergerak kalau tidak diperintahkan oleh jiwa kita. Itulah semuanya yang di sebut sebagai organ tubuh. Organ artinya adalah alat. Dan alat adalah alat !
Kalau kita sedang menghitung dalam matematika, yang menghitung itu bukanlah otak, te tapi jiwa kita mempergunakan otak sebagai alatnya menghitung. Begitu pula dengan peker jaan menghafal, adalah pekerjaan jiwa dengan memakai otak. Begitu pula dengan kalau tangan kita mengambil sesuatu, itu adalah perintah jiwa dengan memakai tangan. Begitu pula dengan kalau kaki kita berjalan, itu adalah perintah jiwa dengan memakai kaki. Jadi, bukan otak, melainkan jiwa. Tetapi orang suka menyebutkan itu sebagai pekerjaan otak, di karenakan otak itu keberadaannya nyata, ada di dalam tengkorak kepala kita, sedangkan jiwa tidak kelihatan keberadaannya. Sebab jiwa itu sesuatu yang tidak berujud dan tidak kelihatan.
Adapun jiwa itu sendiri berbeda dari roh. Tetapi orang suka menyamakannya bahwa jiwa itu adalah roh, padahal sebenarnya tidak. Roh itu adalah nafas, atau energi yang berupa “udara.” Dan oleh energi “udara” inilah organ-organ di tubuh kita bekerja dan jiwa kita dihidupkan. Energi “udara” itu menggerakkan jantung, jantung mengalirkan darah, da
rah mengaliri otak, lalu otak kita menimbulkan kesadaran dan bersamaan dengan itu jiwa kita hidup. Jadi, jiwa kita hidup bersamaan dengan bekerjanya otak dan timbulnya kesadar an berpikir.

Mengapa di dalam suatu kelas yang terdiri dari sekian puluh siswa, yang semuanya mene rima pengajaran yang sama, mempunyai telinga yang sama, mempunyai otak yang sama, tetapi memberikan hasil yang bervariasi ? Kesekian puluh siswa tersebut tidak pernah men jadi siswa yang kembar. Atau, jika ada yang sama nilainya tapi derajat nilai itu sendiri ti dak akan pernah sama. Apa sebab ? Tidak lain karena jiwanya yang berbeda-beda.
Mengapa si Anton nakal sedangkan si Tono pendiam, sementara nilai raport mereka sama  ? Mengapa orang yang kembar mempunyai jiwa yang berbeda, sedangkan mereka dilahir
kan dari kandungan yang sama, dengan usia kandungan yang sama, dan dengan meneri ma nutrisi yang sama ?! Mengapa dari satu peristiwa bisa timbul bermacam-macam cerita ? Dan uniknya cerita si A dengan cerita si B bisa timbul perbedaan yang 180 derajat, pada hal bukan disebabkan oleh salah satunya berdusta.
Contoh lainnya:
Orang Arab itu hidungnya mancung dan badannya tinggi besar. Orang India juga sama ciri-cirinya, orang Belandapun juga sama ciri-cirinya, tetapi dari mana kita bisa membeda kan mereka ? Bisakah anda menuliskan atau mengatakan ciri-ciri spesifik mereka, agar berdasarkan itu kita bisa menerapkannya secara ilmiah kepada seseorang yang identik ?!
Maksud saya hanya melalui penglihatan mata bukan melalui tes DNA.  Tetapi oleh jiwa ki ta bisa mengidentifikasikan suatu bangsa atau suku, sekalipun orang tersebut sudah kehi langan ciri-ciri spesifiknya.
Jika suatu ketika anda menjumpai suatu buah yang masih asing, yang belum pernah dili hat sebelumnya, dan anda sendiri bukanlah orang yang mempelajari secara khusus perihal buah-buahan, tetapi seringkali kita bisa menebak memperkirakan rasa buah itu apakah manis atau apakah masam.
Atau, dengan bahasa yang seperti apakah kita hendak menerangkan tentang rasa manis, rasa masam, rasa asin, rasa panas, rasa dingin, warna merah, warna putih, warna hitam,
keadaan terang atau keadaan gelap, orang tersenyum, orang marah, senyuman yang tulus, senyuman yang basa-basi, orang yang bermaksud baik atau orang yang bermaksud jahat, dan lain-lain. Bisakah semua itu diilmiahkan atau diajarkan kepada orang lain ? Tetapi ke nyataannya tidak ada seorangpun yang kesulitan untuk mengertinya. Termasuk anak yang cacat mentalpun masih sanggup untuk mengertinya.
Dan cobalah anda menanyai sesuatu kepada orang yang gila; pastilah orang gila itu tidak mungkin bisa anda ajak berkomunikasi dengan baik. Tapi kalau tentang kebutuhannya akan makanan, caranya makan dimasukkan ke mulut, kebutuhannya untuk tidur dan ba gaimana membaringkan diri dan memejamkan mata, orang gila itu bisa seperti orang wa ras. Yah, itulah jiwa !
Dari mana seorang bayi bisa mempelajari senang dan sedih, tertawa dan menangis, hal-hal yang lucu, rasa sakit, rasa lapar, dan lain-lain ? Mengapa seorang anak yang diajar dan dididik yang baik bisa menjadi nakal dan jahat ? Mengapa kita suka melanggar sesua tu yang dilarang ? Dari mana seorang pencuri mempelajari tehnik mencuri yang canggih ? Bagaimana pula kita bisa memecahkan suatu persoalan [‘kan tidak ada sekolahan peme cahan masalah] ? Apa pula yang mengilhami seseorang menemukan listrik, menemukan pesawat terbang, komputer, dan lain-lain ? Sekali lagi itulah jiwa!
Jiwa ini karena keberadaannya tidak kelihatan, maka orangpun enggan mempelajarinya, enggan mengilmiahkannya, menolak secara ilmiahnya, dan melemparkannya ke dunia per dukunan/perklenikan/kebathinan. Padahal perdukunan/perklenikan/kebathinan itu bukan lah suatu ilmu pengetahuan tetapi suatu persekutuan dengan Setan. Dan selanjutnya o -rangpun merepresentasikannya sebagai otak.
Tetapi di sini anda perlu mengerti duduk persoalan yang sebenarnya, dan bahwa tidak se tiap yang tidak kelihatan itu tidak ilmiah.

BUKTI LAIN
Kalau menurut ilmiahnya ilmu kelalulintasan, jarak kendaraan yang di belakang harus sekian meter dari yang di depannya, itulah jarak berkendaraan yang aman secara ilmiah nya. Tapi dalam kenyataannya banyak sopir yang mengabaikan aturan itu, dan terbukti ju ga aman dan selamat. Bagaimana pula dengan jarak mengerem, bagaimana pula dengan pengendara yang ugal-ugalan, bagaimana pula dengan meloloskan diri dari suatu himpit
an yang sebenarnya tidak logis ?
Pekerjaan mengendara kendaraan ini adalah pekerjaan naluriah/jiwa yang paling nyata, mengingat yang jelas tidak mungkin itu dilakukan oleh otak. Sebab pekerjaan otak itu lam ban, sementara kecepatan perputaran mesin menuntut kecepatan berpikir dan ketepatan mengambil keputusan. Kita bisa membayangkan betapa celakanya jika seorang sopir mem buat kesalahan yang sedikit saja. Menggoyangkan kemudi yang tidak tepat, dan lain-lain.
Janganlah itu semua kita anggap sebagai faktor kebetulan atau ‘perkiraan’, padahal sebe narnya secara ilmiah harus ditolak faktor kebetulan atau kira-kira itu. Jadi, kita melihat di sini ketidakkonsistenan mereka-mereka yang menyebut diri ilmiah, yang didasarkan hanya pada sesuatu yang kelihatan saja.
Apa bukti bahwa hal itu bukanlah faktor kira-kira atau kebetulan ? Buktinya adalah, jika sopir itu benar-benar ingin menabrakkan kendaraannya, sudah pasti menabrak. Tidak mungkin tidak. Tapi karena sopir itu inginnya selamat, maka selamatlah dia oleh sebab perhitungan super kilat, super tepat dan super canggih dari jiwa/nalurinya. Lalu, dari ma na bisa timbulnya kecelakaan ? Tidak lain adalah karena timbulnya kepanikan si sopir, me ragukan nalurinya dan mengoperkan pengendaliannya kepada akal pikirannya. Itulah yang menyebabkannya celaka.
Apakah seorang sopir itu mempelajari ilmu jiwa ? Bukan ! Tetapi karena jiwa atau naluri ah itu memang sudah selalu stand-by di dalam diri kita. Dialah yang memegang peranan di dalam melindungi dan menjaga keamanan tubuh kita pada semua system, dari hal-hal yang di luar kemampuan otak dan dari hal-hal yang tidak kelihatan oleh mata kita.
Misalnya: Ketika kita sedang asyik membaca koran, lalu lewatlah seseorang, maka secara naluriah kita bisa merasakan lewatnya orang tersebut. Atau ketika kita sedang tertidur, la lu masuklah seseorang yang asing, maka kitapun bisa terbangun. Atau, bila kita esok pagi harus bangun pagi-pagi, pukul lima, misalnya, maka kitapun bisa bangun pada waktu yang sangat tepat. Atau, kalau ada seseorang yang sedang menghina kita melalui senyum nya, kitapun bisa mengerti arti senyumnya itu. Dan lain-lain.

MATA MELIHAT PERMUKAAN
Jika kita melihat seseorang maka yang bisa kita lihat adalah pakaiannya. Padahal pakaian itu bukanlah orangnya. Jika kita melihat seseorang itu cantik atau ganteng, itu adalah se batas permukaan kulit ari-nya, suatu kulit yang sangat tipis sekali. Dan wajah itu bukan lah orangnya. Sedangkan kalau kita melihat rumah, yang bisa kita lihat hanya catnya saja. Itu bukan tentang hakekat rumahnya. Begitu pula kalau kita melihat mobil, yang kita lihat hanyalah catnya, bukan hakekat mobilnya.
Jadi, begitu dangkal sekali apa yang bisa dilihat oleh mata kita. Sama sekali dan sedikit pun tidak menyentuh, tidak mengkait dengan hakekatnya. Masak orang yang terlihat pa
kaiannya ? Masak suatu pribadi yang terlihat hanya paras mukanya ? Masak sebuah ru mah itu hanya terepresentasikan oleh catnya ? Masak mobil itu hanya terlihat catnya saja ? Masak durian itu yang tampak hanya durinya saja ?
Bagaimana kita hendak melihat ALLAH dengan mata yang seperti ini  ? Sementara ALLAH sendiri adalah Suatu HAKEKAT ?!

MATA YANG TERBATAS
Kalau seseorang tersembunyi di balik tirai yang berwarna gelap kita sudah tidak sanggup melihatnya. Kalau seseorang berada dalam jarak yang jauh, kita sudah tidak bisa melihat
nya. Kita punya jantung, tapi kita sendiri belum pernah melihatnya. Untuk membaca tulis an yang kecil kita sudah harus dibantu dengan kacamata. Untuk melihat suatu bakteri/vi rus harus dengan mikroskop. Untuk melihat sesuatu yang jauh harus dibantu teleskop.
Masakan dengan modal mata yang seperti ini kita hendak menyombong untuk melihat ALLAH ? Dan lagi kalau kita hendak menonton sirkus, kita harus membeli karcis. Kalau kita hendak melamar kerjaan, syaratnya adalah KTP. Lebih-lebih untuk melihat ALLAH! Sudah pasti ada persyaratannya: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena ia akan melihat ALLAH.” – Kata Kitab Suci.
Nah, sudah sucikah hati anda ?

MATA YANG MENIPU
Mata kita itu ukurannya; panjangnya sekitar 2 cm, sedangkan lebarnya sekitar 1 cm. Na mun demikian sebuah bis yang ukurannya sekian meter kali sekian meter itu bisa masuk di mata kita. Apakah itu bukan suatu tipuan namanya ?
Yang kita inginkan sebenarnya buah durian, tapi yang mata berikan kepada kita adalah ku litnya yang berduri. Yang kita inginkan sebenarnya adalah melihat kepribadian si Anton, tapi yang mata informasikan ke kita adalah pakaiannya. Yang kita beli sebenarnya mesin mobilnya, tapi yang mata tunjukkan adalah warna catnya.
Berapa banyak orang yang telah dirugikan oleh penglihatan matanya ? Gara-gara melihat penampilannya yang keren, orangpun kena tipu. Gara-gara hanya melihat parasnya yang cantik, berapa banyak rumah-tangga yang diwarnai percekcokan hingga perceraian. Ha nya oleh sebab anak kita berada di dalam kamarnya, ketika temannya mencarinya kita bi lang tidak ada. Padahal ada di rumah !
Jadi karena itu kita jangan mudah percaya dengan mata kita yang suka menipu itu ! Se bab, jangan-jangan oleh karena ALLAH di sorga, kita katakan tidak ada. Padahal ada !

MATA BUKANLAH SEGALA-GALANYA
Saya bukan mengatakan bahwa mata itu tidak penting, mata itu penting sekali bagi kita. Kalau kita buta, sudah pasti kita akan sangat susah. Kita tidak mungkin bisa sebebasorang -orang yang bisa melihat dengan matanya. Kita pasti juga tidak bisa membaca koran, apa lagi Kitab Suci. Mungkin kita masih lebih suka bisu atau tuli daripada buta.
Jadi, sesungguhnya mata yang sehat itu sangat-sangat penting. Tapi, sekalipun demikian bukanlah segala-galanya. Kita tidak akan kiamat gara-gara tidak punya mata. Tidak ada orang yang mati gara-gara tidak bisa melihat. Bahkan orang-orang yang buta sanggup ber jalan berkilo-kilo meter dengan santainya, di jalanan yang ramai. Bahkan orang-orang yang buta masih sanggup untuk bekerja menghasilkan uang. Bahkan orang-orang yang buta bisa menikah dan punya anak. Mereka bisa mengenali orang maupun benda dengan cukup baik. Bahkan daya raba mereka bisa mengenali uang yang palsu, lebih canggih dari pada kita yang bermata sehat. Bahkan ada pula yang bisa menjadi artis penyanyi bertaraf internasional.
Jadi, sangat-sangat berlebihan jika orang sampai mengagung-agungkan penglihatan mata nya, dan ‘menantang’ untuk melihat ALLAH, lalu diambilnya kesimpulan: “ALLAH itu tidak ada, karena saya tidak melihatNYA !”
Seorang astronut kenamaan, dengan sombongnya mengatakan: “Saya sudah mencapai planet Bulan, saya sudah melintasi langit yang tinggi-tinggi, tetapi saya tidak melihat ada nya tanda-tanda adanya ALLAH ataupun sorga itu ! Maka, masihkah kita mempercayai segala takhyul keagamaan itu ?!”
Saudaraku, benar bahwa dia memang telah melintasi langit dan menjelajahi Bulan. Hanya sayang dia masih belum menjelajahi dirinya sendiri, yang sangat dekat darinya. Dia lupa bahwa dia punya otak, punya jantung, punya paru-paru, punya darah, punya tulang; ada kah itu semua sudah pernah dia lihat ? Sudahkah dia melihat punggungnya sendiri, ram but di kepalanya sendiri ?
Kalau yang begitu dekat saja tidak sanggup dia kenali, bagaimana mungkin dia hendak mengenali ALLAH yang jauh ? Apakah dia sudah punya peta tentang keberadaan ALLAH dan sorgaNYA ? Bagaimana dia bisa menemukannya kalau alamatnya salah ? Alamat ALLAH di jalan Sudirman, tetapi dia mencarinya di jalan Kartini; ya sudah pasti nggak ketemu,  bukan ?

MELIHAT DARI HAKEKATNYA
Bahwa apa yang ada belum tentu ada, sedangkan yang tidak ada belum tentu tidak ada.
Misalnya; anda mempunyai televisi yang rusak. Itu adalah konsep dari “ada tetapi yang ti dak ada.” Barangnya memang nyata-nyata ada, tetapi fungsinya yang tidak ada. Adakah hal yang demikian itu mempunyai arti bagi keberadaannya ? Tentu saja tidak ada artinya; percuma punya televisi, tapi yang rusak.
Nah, bagaimana dengan anak anda atau istri anda yang sedang bepergian ke luar kota; a pakah yang akan anda katakan tentang hal ini ? Ada atau tidak ada ? Sudah pasti itu ada lah ‘tidak ada tapi yang ada.’ Batang hidungnya memang tidak kelihatan, tapi mereka itu ada, masih hidup ! Masih berfungsi !
Bagaimana pula kalau yang ada di samping kita itu adalah sesosok mayat ? Apa yang hen dak kita katakan ? Batang hidungnya nyata-nyata ada, kita lihat, tapi fungsinya sudah ma ti. Bagaimana pula kalau kita melihat dedaunan yang bergerak-gerak atau debu yang be terbangan, apa yang hendak kita katakan ? Tentu saja itu perbuatan angin ! Tapi, angin kah yang kita lihat ? Bukan, melainkan pekerjaannya !
Atau, atas dasar apakah anda berkeyakinan bahwa si Tono ada di rumahnya atau tidak a-
da ? Bisakah itu anda dasarkan dari sepeda motornya atau sandalnya ? Atau, atas dasar a
pakah anda menuduh anak anda yang mencuri uang di dompet anda, yang anda tidak me lihatnya sendiri ? Atas dasar kebiasaan buruknyakah ?! Atau, atas dasar apakah anda me yakini bahwa ayah-ibu anda itu adalah orangtua kandung, bukan orangtua angkat ? Atas dasar apakah anda meyakini bahwa pernah terjadi Perang Dunia atau negeri kita pernah dijajah Belanda ? Atas dasar apakah anda meyakini bahwa Amrozi adalah pengebom Bali ? Atas dasar apakah anda meyakini terjadinya suatu kecelakaan kereta api ?
Apakah hal-hal di atas itu diyakini berdasarkan penglihatan mata kepala sendiri ? Apakah tingkatan kepercayaannya setingkat dengan anda mempercayai cerita Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, cerita Ramayana, cerita Sam Pek Ing Tai, cerita tentang bidadari, cerita tentang Tuyul, Jin, Gondoruwo, dan lain-lain ? Bisakah anda membedakan tingkatan kepercayaan nya ?
Jelas itu berbeda ! Yang satu kepercayaannya dibentuk berdasarkan “kenyataan” yang ti dak benar-benar nyata, sedangkan yang satunya dibentuk berdasarkan “perasaan” yang tidak benar-benar nyata. Persamaannya ada pada “tidak benar-benar nyata”, karena kese muanya memang tidak dilihat oleh mata kepala sendiri. Sedangkan perbedaannya ada pa da; “kenyataan”, karena itu memang kisah nyata, dan “perasaan” [Emosional], karena cerita-cerita itu dipopulerkan dari dongeng.
Adapun cerita-cerita yang dibentuk dari kenyataan mempunyai modal:
Ø  FUNGSI/PEKERJAANNYA:
Bahwa kalau fungsi atau pekerjaannya ada, itu pertanda ada.
Contohnya: Televisi atau angin.
Ø  CIRI-CIRI/KEBIASAANNYA:
Bahwa kalau ciri-ciri atau kebiasaannya terlihat, itu pertanda ada.
Contohnya: Sandalnya si Tono atau kebiasaan mencuri anak anda.
Ø  BUKTI:
Bahwa kalau buktinya ada, itu pertanda ada.
Contohnya: Amrozi atau Akte Kelahiran anda.
Ø  SAKSI:
Bahwa kalau saksinya ada, itu pertanda ada.
Contohnya: Wartawan yang menyaksikan kecelakaan atau saksi hidup da
ri sejarah perjuangan ’45.
Ø  NALURIAH:
Bahwa kalau naluri kita mengatakan ada, itu pertanda ada.
Contohnya: Seorang polisi yang terlatih pasti mempunyai kepekaan untuk mengenali orang-orang yang berniat jahat, sebelum kejahatan itu diperbu at.
Ø  KESAKSIAN ALAM:
Bahwa kalau alam memberikan kesaksian, itu pertanda ada.
Contohnya: Banjir dan tanah longsor adalah bukti dari adanya perusakan alam. Bila langit mendung, hujan pasti akan turun.
Ø  BUKTI TERTULIS:
Bahwa kalau ada bukti tertulisnya, itu pertanda ada.
Contohnya: Orang menemukan adanya Kerajaan Babilonia yang sudah musnah berdasarkan prasasti-prasastinya.
Ø  KESAKSIAN DARI LOGIKA:
Bahwa kalau masuk akal, itu pertanda ada.
Contohnya: Seorang polisi mencurigai si-A sebagai pelaku pembunuhan karena logikanya si-A itu pernah sakit hati.
Ø  RAMALAN YANG TERBUKTI:
Bahwa kalau kebenaran ramalannya terbukti, itu pertanda ada.
Contohnya: Kitab Primbon Jayabaya dipercayai karena ramalan-ramalan nya terbukti kebenarannya.

Sedangkan cerita-cerita yang dibentuk dari emosional, modalnya adalah:
Ø  MEMBIDIK PERASAAN:
Bahwa kalau menyentuh perasaan, itu seolah ada.
Contohnya: Cerita-cerita Sinetron menjadi sangat hidup karena membidik
perasaan manusia kita. Seolah-olah itu kisah nyata.
Ø  MEMBIDIK SELERA:
Bahwa kalau seleranya cocok, itu seolah ada.
Contohnya: Cerita-cerita Sinetron yang bersifat melankolis sangat laris un tuk masyarakat kita, karena masyarakat kita masih banyak yang menderita
sehingga itu menjadi pas dengan selera kita.
Ø  MEMBIDIK LOGIKA:
Bahwa kalau masuk akal, itu seolah ada.
Contohnya: Orang mencurigai orang sering kali hanya didasarkan pada lo gika. Padahal seharusnya disertai pembuktian juga, tidak cukup jika hanya berdasarkan logika saja.
Ø  MEMBIDIK SIFAT ALAMIAH MANUSIA:
Bahwa kalau mengenai sifat alamiah manusia, itu seolah ada.
Contohnya: Ilmu Jiwa sering dipergunakan untuk merumuskan kejiwaan seseorang, seolah setiap orang itu bisa disystematikakan.

Dari hal-hal di atas kita mendapati bahwa kepercayaan yang dibangun berdasarkan perasa an sulit dipertanggung-jawabkan keakuratannya. Sedangkan kepercayaan yang dibangun berdasarkan kenyataan sudah pasti lebih akurat.

MENGAPA ALLAH TIDAK MENYATAKAN DIRINYA ?
Menurut informasi yang kita dapati dari Kitab Suci, mengapa ALLAH tidak menyatakan diriNYA, adalah karena dosa. Bahwa oleh sebab dosa itulah maka hubungan antara kita dengan ALLAH menjadi terputus. Bahwa ALLAH yang MAHAKUDUS itu diriNYA tidak mau dibaurkan dengan kita yang sudah tidak kudus. DIA yang MAHAMULIA itu tidak ma u dipersekutukan dengan kita yang tidak mulia lagi.
Nah, informasi itu layak untuk kita buktikan kebenarannya. Benarkah bahwa kita ini makhluk yang berdosa ? Benarkah bahwa hal yang mulia itu tidak bisa dipersatukan de ngan yang kurang mulia ?
Ø  Bukankah kita mendapati kenyataan yang amat-amat nyata bahwa manu sia itu jahat ? Tidak peduli dia itu nenek moyang kita atau anak-anak kita,
tidak peduli orang zaman dahulu, lebih-lebih orang modern sekarang ini.
Tidak peduli dia itu raja atau hanya rakyat biasa. Tidak peduli dia itu poli si atau pencurinya. Tidak peduli orang kaya atau orang miskin. Tidak pedu li tokoh agama, lebih-lebih yang tidak beragama. Tidak peduli orang yang sudah beruban, atau orang yang bersemir biru rambutnya. Tidak peduli yang laki-laki atau yang perempuan. Tidak peduli orang desa, apalagi orang kota. Tidak peduli orang yang berpendidikan tinggi atau rendah. Ti dak peduli setannya, tidak peduli manusianya.
Ø  Bukankah kita mendapati kenyataan yang amat-amat nyata bahwa hal yang mulia itu tidak bisa disatukan dengan yang kurang mulia ? Bahwa si ang tidak mau dicampur dengan malam. Bahwa orang-orang sekarang ini tidak mau disebut orang kuno. Bahwa laki-laki tidak mau disebut perempu an atau perempuan disebut laki-laki. Bahwa orangtua tidak mau disama kan dengan orang muda. Bahwa polisi tidak mau disebut maling. Bahwa raja tidak mau disejajarkan dengan rakyat. Bahwa orang kaya tidak mau didampingkan dengan orang miskin. Bahwa orang benar tidak mau disama
kan dengan orang yang salah. Bahwa orang yang saling bermusuhan tidak mau didamaikan. Bahwa ada aku ada kamu. Ada sahabat ada musuh. Ada saudara ada teman. Ada sebangsa dan ada yang bukan sebangsa. Ada yang sejenis dan ada yang berlawanan jenis. Ada bersih dan ada kotor. Ada ba ik dan ada jahat. Ada kelas satu ada kelas dua. Ada yang tinggi dan ada yang rendah.

Jadi, oleh alasan itulah maka ALLAH membuat diriNYA terpisah dengan manusia.

KASIH ALLAH ADALAH PENDAMAI
Bahwa tidak selama-lamanya ALLAH itu meninggalkan kita, ciptaanNYA. Sebab ALLAH itu KASIH adanya. Maka oleh kekuatan KASIH itu DIA berkenan memanggil kita supaya kita berpaling dan beribadah kepadaNYA.
Yah, kalau ALLAH tidak merendahkan diriNYA, memanggil atau menyapa kita, sudah
pasti kita yang di dunia ini tidak tahu apa-apa tentang KEALLAHAN. Kita pasti tidak akan pernah tahu kalau DIA itu ada, PENCIPTA kita, dan kita mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah kepadaNYA.
Melalui Abraham-lah ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui bangsa Israel-lah ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui Musa-lah ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui para nabi yang diutusNYA ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui ANAKNYA; YESUS KRISTUS, ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui para rasul ALLAH menyatakan diriNYA. Melalui Kitab Suci, ALLAH menyatakan diriNYA.
Melalui berbagai macam cara itulah ALLAH memanggil kita. Dan kesemuanya itu terang kum di dalam Kitab Suci-NYA, sebagai suatu sejarah, bukan suatu legenda.
ALLAH sudah bekerja secara maksimal untuk memanggil kita melalui penyediaan Kitab SuciNYA. Betapa Kitab Suci itu kini sudah diproduksi 50 juta setiap tahunnya untuk selu ruh dunia. Betapa Kitab Suci itu kini sudah bisa dibeli dengan harga yang sangat terjang kau, bahkan bisa didapatkan secara gratis juga. Betapa ALLAH sudah menyediakan ber bagai macam sarana untuk menyebar-luaskan panggilanNYA: melalui Kitab Suci, melalui gereja-gereja yang tersebar di berbagai penjuru, melalui para Penginjil, melalui pesawat terbang untuk sarana transportasi yang cepat, melalui kendaraan darat dan laut, melalui traktat-traktat, melalui film-film, poster-poster, melalui majalah, radio, televisi, internet, dan lain-lain.
Sehingga rasa-rasanya untuk zaman sekarang ini tidak ada orang yang belum pernah men dengar tentang KEALLAHAN. Tetapi ALLAH sudah membuat semua telinga tertembus pe kabaranNYA. Hanya masalahnya ada pada kita masing-masing, apakah kita mau menin dak lanjuti panggilan awal ini, ataukah kita mengeraskan hati dengan menutup telinga ra pat-rapat, dan mengambil sikap untuk membenci semua hal yang berbau KEALLAHAN ?!
Tetapi orang yang mempunyai kebijaksanaan, akan segera tanggap. Apa sih susahnya me luangkan sedikit waktu saja untuk menguji kebenaran Kitab Suci itu ? Tokh, seandainya Kitab Suci itu tidak benar, kita paling hanya dirugikan sedikit. Sedangkan kalau Kitab Su ci itu benar, sudah pasti akan memberikan keuntungan yang sangat fantastis, bukan ?!
Bukankah anda suka memburu kupon-kupon undian yang hadiahnya belum mesti jatuh ke tangan anda ? Mengapa untuk yang itu anda buru sedemikian rupa ?
Pada dasarnya manusia itu memang enggan untuk beribadah kepada ALLAH. Bukan ha nya anda saja yang suka hidup Atheis, sayapun juga menyukai itu. Para nabi, yang juga manusia biasa seperti kita juga termasuk orang-orang yang sebenarnya enggan beribadah kepada ALLAH. Pendek kata semua manusia mempunyai kecenderungan sifat yang sama seperti anda. Mengapa ?
          - Karena semua orang sebenarnya tidak mau dikuasai oleh siapapun. Kita ingin me
             nguasai diri kita sendiri sepenuhnya, bahkan kalau bisa malah menguasai orang
             lain.
          - Karena semua orang ingin dirinya menjadi ‘bintang’, yang menerima kemuliaan,
            bukannya yang memberikan kemuliaan kepada yang lainnya.
          - Karena semua orang tidak mau terganggu atau terusik hidupnya; baik waktunya ,
             tenaganya maupun perhatiannya.
          - Karena semua orang tahu bahwa masuk ke agama itu banyak tidak enaknya daripa
             da enaknya. Banyak kebebasan kita yang dirampasnya oleh berbagai macam atur
             an dan larangannya.
          - Karena semua orang tahu bahwa masuk ke agama itu ujian-ujiannya semakin be
             rat.

Jadi, jelaslah bahwa keengganan beribadah kepada TUHAN itu meliputi semua orang. Itu sudah merupakan sifat mendasar dari seorang manusia. Kita tidak perlu merasa heran jika mendengar ada orang yang agamanya KTP, yang ibadahnya Senin-Kemis, yang kalau ti dak sengsara tidak mau ke tempat ibadah, dan lain-lain.
Karena itu kalau anda mendengar ada orang yang beribadah kepada ALLAH, itu adalah dikarenakan panggilan ALLAH, melalui sarana-sarana yang telah disediakan. Karena membaca traktat, mendengar dari teman/penginjil, dan lain-lain cara/pengalaman. Selalu ada yang menjadi pendorongnya orang itu beribadah kepada ALLAH, bukan datang dari kemauannya sendiri.

MEMBUKTIKAN KEBERADAAN ALLAH.
1. BUKTI DARI NALURIAH
    Kalau kita menyaksikan berbagai macamnya agama dan kepercayaan, baik agama yang
    KEALLAHAN, maupun agama berhala, maupun kepercayaan yang kepada dukun-du
    kun, menyatakan bahwa manusia secara naluriahnya selalu digerakkan seperti jarum
    kompas untuk mencari dan menemukan Sesuatu yang mahakuasa [ yang mempunyai ke
    kuasaan yang melebihi dirinya].
    Hanya karena tidak tahu caranya dan tidak mau benar-benar mengenalinya, maka se
     ringkali orang  lebih menyukai menggunakan jalan pikirannya sendiri, untuk mencipta
     kan cara-cara penyembahannya. Dan secara sembarangan [asal-asalan] me-medium-
     kan ‘allah’-nya. Yaitu; bilamana didapatinya suatu pepohonan ada kuasa gaibnya, ma   
     ka pohon itulah yang disembahnya. Atau, jika ada seseorang yang mempunyai daya su
     pranatural, maka orang itulah yang dia jadikan tokoh atau panutan. Sehingga apa-apa
     yang dikatakan atau diajarkan oleh orang itu, itulah yang dijadikannya ajaran.
     Mengenai hal ini, Kitab Suci memberikan informasinya, bahwa di dunia ini selain ada
     ALLAH PENCIPTA, juga ada yang namanya IBLIS/SETAN, yang berusaha menguasa
     i manusia, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai allah.
     Untuk informasi Kitab Suci ini, untuk sementara ini bisa kita abaikan dulu, sampai nan
     ti kita membuktikan kebenarannya, di bagian yang lain. Tapi sekarang ini, itu kita jadi
     kan informasi awalnya saja.
     Adanya keyakinan dari naluriah ini setidaknya merupakan suatu bukti ‘kecil’ adanya i
     katan batin antara ciptaan dengan Penciptanya, seperti ikatan batin antara seorang ibu
     dengan anaknya. Bahwa sesuatu yang mempunyai keterkaitan pasti menimbulkan ke
     terikatan. Atau istilah lainnya adalah daya magnetis !
     Dalam hal ini termasuk juga mereka yang menyatakan dirinya sebagai Atheis. Meski
     pun mereka tidak mau menerima/mengakui adanya ALLAH, namun pengakuan itu sen
     diri sebenarnya merupakan suatu petunjuk psikologis, yang menyatakan bahwa mereka
     pun mempunyai naluri itu. Gambarannya adalah seperti seorang gadis yang malu-malu
     kucing ketika dicintai seseorang; “mau, tapi pura-puranya tidak mau.” Secara naluri
     nya mengakui adanya kuasa allah, namun secara ekspresifnya menyatakan penyangkal
     annya. Istilah lainnya adalah berusaha membunuh hati nuraninya sendiri.
     Apa buktinya saya menyatakan demikian ?
     Jika mereka memang tidak mempunyai naluriah keallahan, seharusnya itu tidak perlu
     mereka ekspresikan ke dalam suatu wadah [organisasi]. Untuk apa diorganisasikan, un
     tuk apa itu diumumkan kepada orang lain, untuk apa mencari teman ? Ini menyatakan
     dirinya kurang yakin dengan dirinya sendiri, sehingga mencari teman/pendukung dan
     membutuhkan penguatan dalam bentuk formalnya: ATHEISME.
     Sama seperti perjalanan terciptanya geng-geng atau premanisme, yaitu merasa diri jago
     an, tapi karena kurang percaya diri, menyadari dirinya kurang kuat, maka berusahalah
     membentuk kelompok, sebagai aktualisasinya bahwa dia itu jagoan. Padahal sesungguh
     nya di dalam dirinya yang terjadi adalah pergumulan/pertentangan bathin !
     [Seorang Psikolog pasti mengerti hal ini].
     Jadi, dengan mengabaikan perihal ekspresinya, setiap manusia yang dilahirkan pasti
     mempunyai naluriah ini. Kecuali untuk bayi-bayi yang dilahirkan cacat mental/idiot !
     Bukti lainnya adalah menyangkut hal-hal yang asasi dari seorang manusia, misalnya:
     kelahiran, kematian, perkawinan, rejeki, nasib baik atau nasib buruk, dan lain-lain, se
     lalu dikaitkan dengan hal-hal yang gaib !

2. BUKTI DARI KETAKUTAN.
    Setiap orang pasti mempunyai perasaan ketakutan ! Entah apapun bentuk yang ditakut
    kannya; takut masa depan, takut kegagalan, takut kegelapan, takut mati, dan lain-lain
    nya. Ini semuanya menyatakan: kelemahan dirinya, kekurangpercayaan diri, kebutuhan
    akan unsur yang lebih kuat yang mengayominya, dan adanya sesuatu [misteri] yang ti
    dak dipahaminya.
    Kitab Suci menginformasikan tentang hal ini; bahwa ALLAH berfirman: “Takutlah a
    kan TUHAN, ALLAHmu !” Karena itulah maka kita mempunyai sifat ketakutan ini. Ta
    pi yang inipun kita abaikan dulu. Nanti kita buktikan kebenarannya; apakah benar fir
    man itu mempunyai keterkaitan dengan ketakutan kita.
    Yang jelas adalah ketakutan itu terjadi oleh sebab ketidakmengertiannya. Sedangkan ke
    beranian terjadi oleh pengetahuannya. Contohnya: Orang yang mengerti listrik berani
    memegang kabel yang beraliran listrik, tetapi orang yang awam pasti takut.
3. BUKTI DARI KEMACETAN ILMU PENGETAHUAN.
    Sekalipun dunia ilmu pengetahuan berkembang demikian pesat dan canggihnya, manu
    sia sudah mencapai Bulan dan planet-planet lainnya, sudah bisa membuat komputer
    dan jaringan yang menghubungkan seluruh dunia, sudah bisa meng-kloning manusia,
    dan lain-lainnya, namun janganlah dikira semuanya itu lancar-lancar saja.
    Bahwa di dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan itu selalu menyisakan suatu pertanya
    an yang tak berjawab ! Selalu ada faktor “X”-nya, yang menghantuinya, yang mereka
    [para ilmuwan] tidak berani menyentuhnya. Itulah wilayah ‘misteri !’ Dan dalih yang
     suka mereka lontarkan untuk mencoba menjawabnya, adalah: “Itu memang sudah de
     mikian secara alamnya.” Bukan TUHAN [yang hidup] yang mereka sebut, tetapi ‘alam’
     [yang benda mati] yang disebut.
     Misalnya:
     Jika ditanyakan: Dari mana asalnya minyak ? Mereka masih bisa menjawab: Dari da
     lam bumi. Dari bahan apa minyak itu ? Mereka masih bisa menjawab: Dari fosil yang
     berusia sekian juta tahun. Tapi cobalah tanyakan; bagaimana tanah/bumi itu bisa mem
     prosesnya demikian, sehingga itu bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi kita ?! Begi
     tu hebatkah ‘bumi’ itu [yang benda mati] bisa tahu dan bisa melayani kebutuhan manu
     sia yang hidup ? Adakah kita manusia yang mulia ini dilayani oleh yang mati ?! Semen
     tara manusia yang diajarkan filosofi untuk saling melayani di antara sesamanya saja
     begitu bodoh melakukan itu. Tetapi ‘bumi’ begitu pintarnya men-‘servis’ kita ?!
     Begitu pinternya buah-buahan itu bisa membuat vitamin C ? Begitu pinternya perut
     kambing itu mengelolah rumput menjadi daging sate ? Begitu pinternya langit itu bisa
     menciptakan hujan yang dibutuhkan petani ? Koq tahu, koq begitu tinggi pengertian
     mereka tentang kemanusiaan, melebihi manusia itu sendiri ?!
     Jadi, di dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan selalu dihantui oleh misteri faktor “X”
     yang menjadi suatu ketabuan untuk dibahas. Sedianya faktor “X” tersebut mereka beri
     kan tempat untuk posisi atau peranan ALLAH, namun konsep ilmu pengetahuan meng
     gariskan bahwa mereka hanya memikirkan, menyelidiki dan mengakui segala sesuatu
     yang kelihatan saja. Mengapa mereka bersikap begitu ?
     Karena untuk faktor “X” itu posisinya berada di persimpangan jalan; bisa diberikan un
     tuk ALLAH, tapi bisa pula untuk Iblis. Sebab kedua unsur itu sama-sama dianggap me
     miliki kuasa dan sama-sama tidak kelihatannya. Dan jika hal ini dibahas bisa menim
     bulkan perdebatan panjang, yang dianggap bertele-tele, yang bisa menyulut perpecahan
     di antara para pakar itu, yang akibatnya memacetkan ilmu pengetahuan. Maka oleh se
     bab itu dibuatlah kesepakatan untuk menyebutkan sebagai faktor “alam.”
     Contoh:
     Seorang petani menanam biji jagung. Mari kita pikirkan masalah ini ! Apa sebenarnya
     yang dikerjakan oleh petani itu ? Bukankah dia hanya menggali lubang, memasukkan
     biji jagung tersebut, lalu menimbunnya kembali dengan tanah ? Setelah itu mungkin
     yang dilakukannya adalah menaburi pupuk dan menyiraminya, lalu petani itupun pu
     lang ke rumahnya, nonton televisi, ngobrol dengan tetangganya, dan tidur pulas.
     Esok paginya, kembali dia ke sawahnya dan kembali menyiraminya, lalu kembali pu
     lang ke rumahnya, sebab sawahnya masih kosong seperti kemarin. Karena biji-biji itu
     belum bertunas.
     Baru pada esok harinyalah di sawahnya bermunculan tunas-tunas muda dari jagung
     yang ditanamnya beberapa hari yang lalu. Maka berseri-serilah wajah petani itu, kare
     na tanamannya bertunas semuanya.
     Esok harinya lagi tunas-tunas itu sudah semakin tinggi, dan setiap hari selalu bertam
     bah tinggi. Dia tambahkan pupuk dan secara rutin menyiraminya. Dan tanpa terasa se
     telah itu berlangsung selama 2 bulan, bermunculanlah bakal-bakal buah jagungnya.
     Maka ketika itu menginjak bulan yang ke-3, siaplah jagung itu untuk dipanen !
     Saudaraku, petani itu hanya memberi pupuk dan menyiram air. Tidak lebih dan tidak
     kurang dari pada itu. Tetapi sebuah saja biji jagung bisa bertumbuh sedikit demi sedikit
     , yang petani itu tak mengetahui pada saat mana dan dengan cara yang bagaimana biji
     itu berproses, yang akhirnya bisa menjadi sebatang buah jagung ?!
     Biji yang tidak pernah sekolah itu bisa tahu ke mana dia harus menumbuhkan tunas
     nya dan ke arah mana dia harus mengakar ke dalam tanah. Biji itu bisa tahu aturan hi
     dupnya, bahwa untuk tunas harus dihadapkan ke atas, sedangkan untuk akar harus di
     hadapkan ke dalam tanah. Sementara manusia yang lebih mulia daripada jagung itu
     sering tidak tahu aturan bagaimana dan di mana dia harus menempatkan dirinya.
     Nah, setelah jagung itu dipanen, maka kini petani itu mencoba untuk ganti menanam
     padi. Apa yang dia kerjakan masih tetap sama dengan ketika ia menanam jagung. Ta
     nahnya, ya tanah yang satu itu, pupuknya, ya pupuk yang satu itu, dan airnya juga air
     yang satu itu. Yang berbeda hanya pada biji yang ditanamkannya saja. Tetapi kenyata
     annya tanah itu sangat canggih sekali. Tanah itu tak pernah membeda-bedakan dari a
     pa yang ditanamkan kepadanya. Jika jagung, yang ia keluarkan juga jagung. Jika padi
     , yang ia keluarkan juga padi. Jika cabe, yang ia keluarkan juga cabe.
     Nah, jika tanah itu kita umpamakan seperti mesin produksi, kita patut bertanya; menga
     pa kita tidak bisa membuat suatu mesin yang serba guna seperti tanah itu ? Mengapa
     masin yang untuk mencetak plastik harus berbeda dengan mesin yang untuk mencetak
     logam, berbeda dengan mesin yang untuk mencetak roti ? Mengapa dalam sebuah pa
     brik saja harus memerlukan berbagai jenis mesin ?
     Mengapa pula jika 1 kilo bahan plastik yang dimasukkan ke dalam mesin itu, keluar
     nya juga 1 kilo, nggak pernah bisa lebih 1 ons-pun, malah sering kali harus susut ? Me
     ngapa itu berbeda dengan biji-bijian, yang jika ditanam 1 berkembangnya menjadi ribu
     an kali ?
     Tanahkah itu yang canggih ? Atau, bijikah itu yang canggih ? Atau, pupuknyakah, a-
     tau airnya, atau petaninyakah ? Manakah yang anda anggap canggih ? Atau, adakah
     persekongkolan antara tanah, biji, air, pupuk dan petani itukah yang bersama-sama
     menimbulkan kecanggihannya ?
     Selanjutnya, semenjak kapankah kecanggihan itu mulai muncul ? Apakah setelah dite
     mukannya system pertanian, atau setelah ditemukannya alat-alat pertanian, atau sete
     lah ditemukannya pupuk ?
     Sekarang, marilah kita buktikan bersama apakah tanah itu benar-benar canggih atau
     bodoh. Apakah kalau yang ditanamkan kepadanya itu bangkai, bisa tumbuh ? Apakah
     kalau besi, atau plastik atau kaca yang ditanamkan kepadanya bisa tumbuh ? Tidak, bu
     kan ?! > Jadi, hanya bahan-bahan tertentu saja yang bisa ditumbuhkannya. Tidak asal
     benda ! Ternyata tidak ada kesaktiannya pada tanah !
     Bagaimana dengan bijinya ?  Apakah kalau biji itu kita tanamkan pada pasir mau tum
     buh, apakah kalau pada tepung terigu mau tumbuh ? Tidak, bukan ?! Begitu pula de
     ngan pupuk; apakah kalau kaca yang kita kasih pupuk bisa tumbuh ? Begitu pula de
     ngan air; apakah kalau kaca yang kita sirami bisa tumbuh ? Begitu pula dengan petani
     nya; apakah dia bisa menumbuhkan kaca ?
     Apa yang bisa kita catat di sini ?
     Bahwa ternyata semua itu bekerja menurut system, menurut ketentuan, menurut hu-
     kum, menurut dalil atau ketentuannya. Atau istilah lainnya adalah: berdasarkan perin
     tah kerjanya > FIRMAN !
     Berarti ada yang mengatur, sehingga menghasilkan keteraturan. Jika tidak ada yang
     mengatur, maka hasilnya sudah pasti sembarangan > liar ! Jika tanah bisa menumbuh
     kan kaca atau yang lainnya itu namanya liar ! Tetapi jika ada yang bisa dan ada yang
     tidak bisa, itu tandanya beraturan !
     Kalau orang berkendaraan bisa berlalu-lalang seenaknya, itu tandanya liar !  Tetapi ka
     lau ada yang boleh dilalui dan ada yang tidak boleh dilalui, kalau ada rambu-rambu se
     topannya, itu tandanya beraturan !
     Contoh dari keliaran itu adalah: Rumput ! Dia itu bisa tumbuh disembarangan tempat.
     Dan tanpa kita kehendakipun dia tumbuh dengan sendirinya [disebut liarpun sebenar
     nya juga tidak tepat, karena rumput-pun tidak mau tumbuh kalau selain di tanah].
     Jadi, kepada siapakah kita hendak menuduhkan keteraturan itu ? Hanya ada 2 jawab
      an saja: ALLAH atau Iblis !
      Sekarang kita pastikan berdasarkan sifat-sifat pekerjaannya; bahwa jika pekerjaan itu
      bersifat positif [membangun], maka itu adalah pekerjaan ALLAH. Sedangkan jika pe
      kerjaan itu bersifat negatif [merusak], maka itu adalah pekerjaan Iblis. Koq, bisa begi
      tu saya menyimpulkannya ?
      Ya, sebab menurut ketentuannya, kata-kata “IBLIS” itu kita pergunakan untuk sesua
      tu yang jahat, sedangkan kata-kata “ALLAH” itu untuk sesuatu yang baik. Iblis-pun
      kalau dia baik pasti kita sebut ALLAH, dan ALLAH-pun kalau jahat pasti kita sebut I
      blis !
      Apa yang bisa kita simpulkan di sini ?
      Bahwa apa yang disebut ilmu pengetahuan itu ternyata hanyalah kebodohan. Sebab
      ternyata mereka tidak sanggup mendeteksi keberadaan ALLAH. Sebab kalau hanya
     masalah membuat pesawat terbang, membuat komputer, membuat satelit, ataupun ma
     salah terbang ke Bulan, itu adalah masalah yang sangat gampang. Semua orang pasti
     bisanya. Sayapun bisa membuat itu semua !
     Sombongkah pernyataan itu ? Tidak!
     Sebab saya “melihat suatu kenyataan” [bukan sekedar keyakinan], bahwa mereka-me
     reka itupun berkeadaan yang sama seperti saya; lahir sama-sama telanjangnya, ketika
     kanak-kanak sama-sama bodohnya, sama-sama terdiri dari darah dan dagingnya,  sa
     ma-sama mempunyai otaknya, dan jika kecerdasan otak itu pemberian/karunia TUHAN
     , TUHAN itupun TUHAN saya juga, jika faktor ekonomi ikut mendukungnya, maka ka
     lau keadaan ekonomi saya sama dengan mereka, jelas sayapun bisa seperti mereka, bah
     kan bisa lebih daripada mereka !
     Jadi, saudaraku, janganlah anda merasa minder jika keadaan kita sekarang ini tidak
     berkedudukan seperti mereka. Bukan karena kita tidak bisa seperti mereka, tetapi kare
     na kita tidak menempatkan diri kita sebagaimana mereka menempatkan diri mereka.
     Sebab merekapun tidak mungkin bisa menjadi seperti kita sekarang ini, karena mereka
     tidak menempatkan diri mereka seperti kita. Apapun profesi kita sekarang ini bagi mere
     ka adalah suatu kesulitan. Mengayuh becakpun, menjadi tukang bangunanpun, menja
     di tukang kayupun, bagi mereka adalah suatu kesulitan juga !
     Itu sama seperti polisi yang tidak mampu menangkap atau mengungkap otak pelaku ke
     jahatannya. Sebab kalau hanya menangkap pelakunya saja itu pekerjaan yang mudah,
     dan itu takkan pernah menyelesaikan masalah. Otak pelakulah yang harus bisa diung
     kapkan oleh seorang polisi !  Minimalnya diungkapkan, maksimalnya adalah menang
     kapnya.
     Demikian pula dengan para ilmuwan itu, jika mereka mengatakan bahwa “alam”-lah
     yang mengerjakan semua keajaiban itu. Sebab kita semua tahu bahwa alam adalah ben
     da mati. Dan setiap benda yang mati itu tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa mem
     buat apa-apa. Bahkan adalah menjadi suatu tamparan dan penghinaan jika kemampu
     an manusia, lebih-lebih sekumpulan pakar seluruh dunia, jika mereka tidak bisa meng
     ungguli kemampuan alam yang benda mati. Tidakkah menjadi suatu aib dan ejekan ji
     ka tanah bisa menciptakan kelipatan seribu setiap satuannya, sedangkan mesin buatan
     manusia malah bisanya menyusutkan ?!

STEMPEL ALLAH

Jika setiap barang buatan pabrik selalu diberi label merk oleh pabrik pembuatnya, atau ji

ka setiap surat yang dikeluarkan oleh pak lurah selalu diberi stempel kelurahan, demikian pula halnya dengan segala ciptaan ALLAH, pasti ada stempel ALLAH-nya.
Merk apakah yang telah di Hak Patent-kan sebagai buatan ALLAH ? Tidak lain adalah “Keajaiban.” Bahwa setiap barang yang mengandung unsur keajaiban pastilah itu buatan
ALLAH.
Kalau saja ALLAH hanya menciptakan daratan saja, pastilah kita akan katakan: “Hanya
daratan sajakah yang bisa dibuat olehNYA ?” Ternyata ALLAH melengkapinya dengan la
utan dan udara, bahkan angkasa !  Kalau  hanya daratan saja yang diisiNYA dengan bina
tang, pasti kitapun akan berkomentar: “Oh, bagaimana dengan yang lautannya ?” Ternya
ta ALLAH menjawabnya sebelum kita menanyakannya; diisiNYA baik lautan maupun uda ra. DIA bukan hanya membuat yang kecil-kecil saja, melainkan yang berkelas raksasapun
dibuatnya. DIA bukan hanya membuat benda mati saja, melainkan juga benda yang hidup, bahkan DIApun sanggup memberikan hidup kepada yang mati. DIApun membagikan sua
tu jenis menjadi berjenis-jenis; dari suatu bangsa dijadikannya suku-suku bangsa, dari sa
tu jenis kucing saja dijadikannya berjenis-jenis kucing. Dan kepada setiap ciptaanNYA di berinya daya guna, sehingga itu menjadi sesuatu yang dibutuhkan, bukan yang sia-sia sa
ja keberadaannya.
Dari yang kosong dibuatNYA menjadi ada dan dari yang ada dibuatNYA menjadi kosong
[Itulah rahim perempuan]. Dari yang tidak ada dibuatNYA menjadi ada dan dari yang ada dibuatNYA menjadi tidak ada [Itulah kita]. Dari yang kecil dibuatNYA besar dan dari yang besar dibuatNYA kecil [Itulah orangtua yang pikun]. Dari yang satu dibuatNYA seribu dan dari yang seribu dibuatNYA menjadi satu [Itulah anak beranak]. Dari yang mati dibuat NYA hidup dan dari yang hidup dibuatNYA mati [Itulah bangkai yang menjadi ulat atau
kayu yang menjadi ngengat]. Yang ada dibuatNYA tidak kelihatan dan yang kelihatan di buatNYA tidak ada {Itulah angin dan kematian kita]. Dari yang satu dibuatNYA dua dan dari yang dua dibuatNYA menjadi satu [Itulah perkawinan]. Dari yang pahit dibuatNYA
manis dan dari yang manis dibuatNYA menjadi pahit [Itulah buah-buahan]. Dari yang ka ya dibuatNYA miskin dan dari yang miskin dibuatNYA kaya [Itulah nasib]. Dari perempu an dijadikanNYA laki-laki dan dari laki-laki dibuatNYA perempuan [Itulah kita]. Dari a-
nak dijadikanNYA induk dan dari induk dijadikanNYA anak [Itulah kita]. Dari gelap dija dikanNYA terang dan dari terang dijadikanNYA gelap [Itulah siang dan malam]. Dari do sa dijadikanNYA suci dari yang suci dijadikanNYA dosa [Itulah keagamaan]. Dan lain-lain.

MELIHAT ALLAH BUKAN JAMINAN.
Kita memang ingin melihat ALLAH. Tapi sayangnya Kitab Suci memberikan kisah kenya taan bahwa melihat ALLAH bukanlah jaminan kita akan menjadi penyembah-penyembah
NYA. Apa yang kita sebut sebagai Iblis, itu dulunya adalah malaikat ALLAH yang suci.
Bahkan pimpinan Iblis yang sekarang ini; Lusifer, dulunya kedudukannya adalah juga pe mimpin para malaikat. Bukankah itu suatu derajat yang sangat tinggi, menjadi tangan ka
nan ALLAH ?
Ditinjau dari derajatnya, malaikat itu lebih tinggi setingkat dari manusia. Ditinjau dari ke dudukannya, itu sudah kedudukan yang tertinggi bagi seorang ciptaan. Ditinjau dari segi fasilitas hidupnya, itu adalah kehidupan yang sangat mulia. Sebab dia itu hidupnya di sor ga, bukan di Taman Eden, seperti Adam dan Hawa. Dan ditinjau dari segi hubungannya dengan ALLAH, dialah mungkin malaikat yang paling sering bertemu dengan ALLAH. Ta
pi yang demikian itupun nyatanya bisa mengkhianati ALLAH. Kitab Suci menceritakan bahwa sepertiga dari jumlah malaikat telah memberontak dan diusir  dari sorga.
Selanjutnya, bangsa Israel sendiri, yang ketika di dalam perjalanannya dari Mesir ke ta nah Palestina, dipimpin secara langsung oleh ALLAH [melalui tiang API], menyaksikan sendiri mujizat-mujizat besar yang ALLAH perbuat, mendengar sendiri suara ALLAH, me nyaksikan sendiri bagaimana ALLAH menghajar orang-orang Israel yang tidak taat, tapi tokh contoh-contoh penghukuman itu belum cukup untuk menjadi pelajaran bagi mereka. Sehingga merekapun yang pernah mengecap kebesaran ALLAH secara langsung harus ju ga mengalami dibinasakan di padang gurun. Dari 2 juta orang yang ke luar dari Mesir, ha nya tinggal 70 orang yang bisa memasuki tanah perjanjian Palestina, lainnya dibinasakan di tengah jalan !
Dari antara ke-12 murid YESUS, yang adalah murid-murid pilihan, yang mendapatkan ke sempatan hidup bersama YESUS dan menyaksikan kebesaran-kemuliaanNYA sebagai A NAK ALLAH, juga bisa mengkhianatiNYA, ketika IA disalibkan. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani mengakui bahwa mereka adalah muridNYA. Petrus bahkan sampai bersumpah 3 kali, sedangkan Yudas Iskariot justru dialah yang menjual TUHAN nya. > Lebih-lebih lagi kita ?!
Peribahasa sampai menyatakan: “Air susu dibalas dengan air tuba.” Ini menyatakan beta pa seringnya kita ini membalas kebaikan orang dengan kejahatan. Berapa banyak anak- anak yang tidak tahu berterimakasih dan mendurhaka terhadap orangtuanya. Berapa ba nyak orang yang hidupnya dimuliakan dengan jabatan yang tinggi, namun oleh sebab ke tamakannya, dia menjadi jatuh. Direktur-direktur, gubernur-gubernur bahkan menteri-menteri terpaksa harus menukarkan kantornya dengan penjara yang pengap.
Jadi, sekali lagi kita mendapati suatu bukti bahwa melihat itu bukanlah segala-galanya. I tu bukanlah jaminan bahwa kita akan hidup selaras dengan apa yang kita lihat. Sementara sebaliknya, orang yang tidak melihat belumlah tentu itu mempengaruhi imannya, menjadi lemah. Justru banyak juga orang-orang yang imannya lebih kuat daripada mereka yang melihatnya. Itulah yang ditunjukkan oleh para syuhada yang hidup di jaman kekuasaan Roma Katolik. Walaupun mereka belum pernah ketemu YESUS, melainkan hanya mende ngar ceritanya saja, dan walaupun mereka tidak menerima penglihatan-penglihatan Ilahi serta mendapatkan tekanan dari Roma Katolik, tokh mereka sanggup mempertahankan ke murnian iman mereka sampai mati oleh penganiayaan yang sangat kejam pada waktu itu.
Dan sejarah mencatat jumlah mereka adalah 68 juta jiwa, yang mati sebagai syuhada-syu hada bagi TUHAN mereka.
Karena itu yang perlu anda pikirkan adalah bukannya ‘bagaimana melihat ALLAH’, teta pi ‘bagaimana saya percaya kepadaNYA.’
   > Anda melihat ayah-ibu dan segala kebajikan mereka, sudahkah itu mendorong anda
      untuk menghormati mereka ?
   > Anda melihat gunung, sudahkah anda mendakinya ?
   > Anda melihat seorang yang celaka di tengah jalan, sudahkah anda menolongnya ?
    > Anda melihat kotoran di tengah jalan, sudahkah anda memungutnya dan menempat
       kannya ke tempatnya ?
    > Anda melihat ketidakadilan, sudahkah anda memperjuangkannya ?
    > Anda melihat suatu perbuatan dosa, sudahkah anda menghindarinya ?

Jadi, ternyata ada banyak hal yang sudah kita lihat di dunia ini dengan mata kepala sendi ri. Namun apakah penglihatan kita itu menunjukkan manfaatnya untuk melakukan sesua tu yang sesuai ?
Selanjutnya, …………….
Apakah kalau anda sudah melihat ALLAH itu akan membuat anda menjadi seorang yang beragama ? Apakah kalau anda sudah menjadi orang yang beragama itu akan membuat anda menjadi seorang yang saleh ? Apakah kalau anda sudah menjadi orang yang saleh itu akan membuat anda menjadi seorang yang baik dan suci ?
Apakah karena anda tidak ikut serta menjadi penyembah ALLAH itu menjadikan ALLAH kekurangan kemuliaanNYA, kekurangan kebesaranNYA, kekurangan orang yang menyem bahNYA ?
Jadi, jika seorang yang sudah dekat ALLAH saja belum merupakan jaminan bagi kesela matannya, maka betapa lebih jauhnya lagi anda jika untuk percaya saja juga belum ?!
      > Jika tidak semua anak kelas 6 SD itu lulus dan mendapatkan ijasah, maka betapa le
         bih mustahilnya kelulusan dan ijasah itu didapatkan oleh orang yang tidak berseko
         lah.
     > Betapa berbahagianya anak yang bersekolah walaupun baru kelas 1, daripada anak
        yang tidak bersekolah, sebab dia ada harapan untuk naik ke kelas 2. Betapa berbaha
        gianya anak yang sudah di kelas 2, daripada adiknya yang masih di kelas 1, karena ia
        mempunyai harapan untuk naik ke kelas 3…………..dst.

SULITKAH KESELAMATAN ITU ?
Janganlah anda terpaku pada penjenjangan seperti di atas. Sebab penjenjangan itu hanya saya pergunakan sebagai ilustrasi saja, bukan konsep yang sebenarnya. Sedangkan menge nai syarat keselamatan itu sesungguhnya bukanlah hal yang sulit, justru sebenarnya sa- ngat mudah sekali. Semua orang sangat dimungkinkan untuk menerimanya, sebabALLAH tidak membeda-bedakan orang, ALLAH tidak berusaha menghalangi atau mempersulit atau membatasi jumlahnya, justru ALLAH bermaksud memanggil yang sebanyak-banyak nya. Justru ALLAH yang berkemurahan itu lebih banyak dan lebih luas ambang toleransi nya daripada yang disyaratkanNYA.
Lebih jauh lagi, bahwasanya keselamatan itu tidak diposisikan kepada kita, tetapi menurut kasih karunia ALLAH. Itu tidak diperhitungkan dengan perbuatan kita dan itu bukanlah suatu hasil usaha kita. Sama sekali bukan di situ. Entah kita ini orang yang jahat atau o-rang yang baik, entah orang yang suci atau yang najis, bukan di situ letaknya. Tetapi dari pihak kita hanya dituntut kesungguh-sungguhan dan kesucian konsep berpikir kita, bukan kesucian perbuatan tangan kita. Serius, itulah rahasianya !
Yang penting bukan benarnya perbuatan kita, tetapi keinginan kita untuk benar itulah yang diperhitungkan ALLAH. Yang penting itu bukan baiknya perbuatan kita, tetapi  kei -nginan kita untuk baik itulah yang diperhitungkan ALLAH. Yang penting itu adalah kebe naran konsep berpikir kita, bukan hasilnya ! ALLAH melihat apa yang di dalam bukan a pa yang di luar. Isi, bukan kulit ! Jadi, kulit boleh kotor, yang penting isinya bersih.
Adapun yang menjadi kesalahan dari kebanyakan orang adalah lebih memperhatikan ku litnya dan mengabaikan isinya. Itulah kemunafikan, yang sangat dibenci ALLAH. Perbu atan baik yang dibuat-buat [dikondisikan], bukan yang alamiah ! Sebab ALLAH yang me lihat hati itu menjadi risih manakala melihat hati yang kotor, tak peduli dibungkus dengan sejuta kebaikan.
       > Betapa jengkelnya orang jika membeli durian yang busuk sekalipun kulitnya baik.
       > Betapa marahnya orang jika menerima kado sebiji permen, tapi bungkusnya besar
           sekali dan kertas kadonya indah sekali.

CONTOH KONSEP YANG BENAR DAN YANG SALAH
> Orang belum benar-benar diyakinkan tentang ALLAH tetapi ikut-ikutan orang lain ma
    suk ke agama. Ini adalah bentuk meremehkan keagamaan. Sebab keagamaan itu berda
    sarkan pilihan dan panggilan ALLAH. Jika tidak dipilih dan belum dipanggil ya jangan
    nyelonong sendiri. Agama itu milik ALLAH dan hakNYA !
     Kita memang wajib memberitakan keagamaan, tetapi bukan untuk mendesak orang
     yang belum siap. Sebab tidak semua orang menerima kasih karunia ALLAH, tetapi
     ALLAH sengaja menjadikannya sebagai penonton saja, bukan sebagai pemain.
> Kalau kita belum siap untuk sembahyang [berdoa], ya jangan sembahyang dulu. Tetapi
    persiapkanlah dulu. Sebab pikiran yang melayang-layang ketika kita sedang menghadap
    ALLAH, itu adalah perbuatan yang melecehkan ALLAH.
> Kalau kita belum siap datang ke gereja, ya jangan ke gereja. Tetapi persiapkanlah dulu.
    Sebab kalau kita datang ke gereja, lalu di gereja mengomongkan hal-hal yang tidak ada
    hubungannya dengan kemuliaan ALLAH, inilah yang menimbulkan murka ALLAH.
> Kalau kita tidak ada pengertian dan keikhlasan untuk memberikan persembahan, ya ja
    ngan memberikan persembahan. Sebab itu sama dengan anda menuduh ALLAH itu pe
    maksa [penodong].
> Kalau kita belum merasa menikmati kasih atau pemberian dari ALLAH, ya jangan kita
    ucapkan terimakasih kepadaNYA. Sebab tidak semua yang kita terima itu berasal dari
    ALLAH. Itu adalah penghinaan !
> Jika suatu musibah yang menimpa kita itu kita pandang sebagai sesuatu yang buruk, ya
    janganlah kita berucap: “Mengucap syukur !”  atau: “Haleluyah, Puji TUHAN !” Se
    bab yang demikian itu pujian di mulut saja, sementara di hatinya adalah persungutan. I
    tu sama dengan kita mengatakan: “ALLAH itu edan, wong orang sengsara koq disuruh
    mengucap syukur !”
> Kalau kita merasa ALLAH itu tidak terlalu besar, ya jangan kita katakan MAHABESAR.
    Itu melebih-lebihkan namanya !
> Kalau kita belum terlalu paham hal keagamaan [KEALLAHAN], ya janganlah kita ber
    sikap seolah-olah orang yang sudah paham. Itu sok pintar namanya !
> Kalau kita masih menyimpan suatu dosa yang belum kita selesaikan, seperti rasa permu
   suhan dengan seseorang, ya jangan kita berlaku seperti orang yang beragama, tetap saja
   rajin ke gereja. Itu munafik namanya. Wong masih tercatat sebagai orang jahat koq ma
   suk ke gereja ?!

Jadi, di sinilah letak masalahnya yang membuat tidak terjaminnya keselamatan orang yang beragama itu. Tetapi orang yang benar, yaitu orang yang realistis, sekalipun tangan nya masih kotor, dialah yang terjamin keselamatannya. Sebab tidak ada kepura-puraan di dalam dirinya. Tidak ada sesuatu yang dia sembunyikan di hadapan ALLAH yang MAHA TAHU. Tidak ada usaha untuk membohongi ALLAH !
Atau istilah lainnya adalah: jahat, jahatlah, tapi jangan berbuat jahat terhadap ALLAH !
ALLAH itu maklum kalau kita ini jahat adanya. ALLAH nggak heran kalau kita ini jahat.
Sebab kita jahat itu bukanlah kesalahan kita, itu adalah faktor keturunan, karena nenek moyang yang melahirkan kita [Adam-Hawa] adalah jahat. Atau, kalau ada harimau me nerkam mangsanya, itu sudah alamiahnya begitu. Bukannya harimau itu jahat ! Justru bu kan harimau kalau tidak jahat, itu kucing namanya !
Tapi, bukankah agama menghendaki kita menjadi orang baik ? Benar, agama memang me nyuruh kita berbuat yang baik. Itulah cita-cita agama dan cita-cita ALLAH, yaitu agar ki ta menjadi orang yang baik. Namun itu ada caranya ! ALLAH sudah mempunyai tehnik untuk mengubah harimau menjadi kucing, atau orang jahat menjadi orang baik, yaitu de ngan mengubah akal budinya yang diprioritaskan. Otak harimau itulah yang harus digan ti dengan otaknya kucing, bukan kulitnya !
Sebab kalau otaknya masih belum berubah, sekalipun pakaiannya pakaian kucing, tetap sa ja sifatnya masih harimau.

DARIMANAKAH ILMU PENGETAHUAN ?
Benarkah manusia mempunyai ilmu pengetahuan ? Mari kita buktikan !
> Seseorang dilahirkan dengan proses kelahiran yang sama; tidak ada yang merencana
   kannya, pada mulanya tidak ada, lahir sebagai bayi yang tidak punya apa-apa dan tidak
   tahu apa-apa.
> Tidak ada seorangtuapun yang bisa menentukan jalan hidup anaknya.
> Anak itu sendiripun tak pernah merencanakannya.
> Seringkali ‘nasib’ menempatkan profesinya berbeda dari latar-belakang pendidikannya.
> Anak itu sekalipun mempunyai suatu cita-cita, namun dia tak pernah tahu apakah itu bi
    sa dicapainya, atau apakah umurnya mencukupi untuk mencapainya.
> Pada suatu ketika tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya. Ada sesuatu yang menerangi
    pikirannya, bukan oleh sebab dia memikirkannya, tetapi secara tiba-tiba datang begitu
    saja, seakan ide itu dari langit !
> Bersamaan dengan ide itu, maka segala-sesuatu yang dibutuhkan untuk merealisasikan
    ide itu juga mengalir dengan lancarnya, seakan datang dengan sendirinya. Segala sesua
    tu menjadi tampak mudah dan lancar urusannya.
> Maka mulailah dia mewujudkan idenya; misalkan membuat sebuah mobil. Bayangkan i
   tu tentang mobil-mobil kuno. Nah, jadilah sebuah mobil yang sangat sederhana sebagai
   permulaan dari pekerjaannya.
> Setelah penciptaan itu selesai, matilah dia sebagai seorang Penemu !
> Lalu sepeninggalnya, muncullah seorang yang lainnya lagi, dengan idenya menyempur
    nakan mobil yang mula-mula itu. Maka meninggal pulalah orang ini.
> Lalu datang lagi orang selanjutnya, yang datang untuk lebih menyempurnakannya lagi.

Nah, apakah perjalanan ilmu pengetahuan yang seperti ini bisa kita sebut sebagai ilmu pe ngetahuan yang berasal dari manusia ? Padahal secara hakekatnya orang yang datang un
tuk menyempurnakan mobil itu seakan mengatakan bahwa pendahulunya itu kurang pin ter ?! Dan yang datang setelahnyapun seakan juga mengatakan hal yang sama ?!
Apakah itu bisa dikatakan dari manusia ?
Lahir tidak mempunyai pengetahuan, mati tidak membawa pengetahuannya, idepun tidak datang dari dirinya sendiri, malahan apa yang ia ciptakan itu membuka suatu tantangan baru dan menyediakannya untuk orang lain; apakah itu berasal dari manusia ?
Sementara bahan-bahan yang ia perlukan, ia mengambilnya dari alam, tidak ia ciptakan sendiri, dan alam menyediakan apa yang diperlukannya itu secara berlimpah. Maka pada bagian yang manakah itu yang bisa disebut berasal dari manusia ?
Yang lebih menggelikan lagi adalah mengapa dia menciptakan sesuatu yang tidak membe rikan manfaat bagi dirinya sendiri, misalnya mengapa dia tidak mengusahakan memikir
kan mengatasi kematiannya ? Mengapa bukan obat panjang umur yang ia ciptakan dan mengapa pula pengetahuannya itu ia bukakan bagi orang lain, tidak ia simpan sendiri, mi salnya dengan dibawa mati. Tetapi ciptaan itu untuk keperluan orang banyak dan pengeta huannya juga untuk orang banyak, tidak ada yang untuk dirinya sendiri. Tidakkah ini me nyatakan bahwa semua itu bukan miliknya sendiri ?! Tidakkah ini menyatakan bahwa di rinya hanyalah sekedar alat yang dipakai, dan ada majikan yang mengendalikannya ! Ada suatu tangan yang tak kelihatan, yang bekerja mengendalikan semua itu, yang tidak mem biarkan pengetahuannya itu diambil seorangpun.

DOA YANG DIKABULKAN DAN YANG TIDAK
> Secara konsep, ALLAH itu adalah ALLAH bagi semua orang, termasuk juga ALLAH me
    reka-mereka yang menyatakan dirinya Atheis. Karena itu bukanlah hal yang aneh bila
    ALLAH berkenan mendengarkan dan mengabulkan doa anda, sekalipun anda bukan
    lah umatNYA. Kasih ALLAH kepada kita tak pernah berubah sekalipun kasih kita kepa
    daNYA berubah-ubah !
> Sebelum seseorang diputuskan nyawanya dan sebelum dunia ini diakhiri, itu artinya
    ALLAH masih belum menutup diriNYA terhadap kita. Kesempatan masih terbuka untuk
    kita berkomunikasi denganNYA.
> Kita perlu tahu juga bahwa setiap orang yang belum menerima panggilan pribadi dari
    NYA, umumnya adalah segolongan orang yang Atheis, orang yang jahat, penyembah
    berhala, pergi ke dukun-dukun, dalam lingkar kehidupan yang gelap, jika beragama se
    kedar menjalankan kebiasaan nenek-moyang, agama KTP, agama Senin-Kemis, beraga
    ma kalau susah, dan lain-lain. Demikian pula dengan para nabi dan rasul. Musa mula
    nya juga mendapatkan pendidikan dari istana Firaun yang kafir, lalu dia hanya menjadi
    gembala domba biasa. Ke-12 rasul mulanya juga nelayan biasa, yang mungkin jarang
    sembahyang. Rasul Paulus mulanya justru penentang berat ajaran Kristen. Sedangkan
    saya mulanya termasuk agama laboratorium, yaitu beragama Kristen tetapi yang saya
    oplos [campur] dengan mantera dukun-dukun. > Jadi sebenarnya anda tidak sedang sen
    dirian !
> Lebih dari itu TUHAN itu melihat hati bukan melihat perbuatan. Sementara orang itu a
    da bermacam-macam  tabiatnya. Ada orang yang pikiran dan perbuatannya sama-sama
    jahatnya. Umumnya orang dengan type ini sudah ‘dibiarkan’ oleh ALLAH untuk hidup
    yang semau-maunya sendiri. Istilahnya; sudah diafkir dalam pandangan ALLAH !
    Ada pula orang yang jahat perbuatannya tetapi akal budinya  masih bisa dikelolah. Ini
    lah yang biasanya masuk dalam pengharapan ALLAH.  ALLAH menaruh perhatian
    yang besar terhadap orang-orang yang bertype seperti ini.
    Selanjutnya, ada orang yang akal budinya brengsek, sedangkan perbuatannya baik. Ini
    lah “Bulus.” Musuh besar ALLAH ! Contoh Alkitabnya adalah Daud !
    Suatu hari Daud mengintip perempuan yang sedang mandi; Batsyeba, istrinya Uria. Da
    ud menginginkan perempuan itu. Maka dirancanglah suatu skenario; Uria disuruhnya
    maju digaris depan pertempuran, agar cepat mati!
    Di sini bukankah posisi Daud bersih secara hukum ? Sebab sebagai raja, dia mempunya
     i kewenangan untuk memerintahkan Uria untuk melakukan apa saja menurut kehen
     daknya. Sampai di sini tidak ada masalah. Dan jika Uria mati di medan pertempuran, i
     tu juga bukanlah Daud yang membunuhnya, tetapi musuh. Sekali lagi Daud lolos dari
     jeratan hukum. Dan jika Batsyeba menjadi janda, lalu dia mengawininya, itu malah se
     suatu yang baik dan terpuji. Sebab hukum di Israel itu memberikan perhatian yang be
     sar terhadap janda-janda. Jadi kalau dilihat oleh manusia maka Daud itu raja yang ber
     sih dan budiman. Tetapi di sorga ada ALLAH yang mengetahui liku-liku pikiran Daud,
     dan karena ALLAH masih menyayangi Daud, maka ditegurnya Daud dan dihukumnya.
     Itu dikarenakan akal budi Daud sebenarnya baik dan mempunyai pengetahuan KE
     ALLAHAN yang baik.
     Jadi, kita jangan macam-macam dengan kelicinan-kelicinan yang seperti ini!
> Setiap orang yang pada mulanya tidak pernah berdoa, lalu tiba-tiba ia berdoa, ini adalah
    sebagian dari langkah-langkah iman dan pertobatan. Dan ALLAH sudah pasti meres
    pon dengan baik.
> Untuk doa yang dikabulkan, janganlah kita cepat menyimpulkan sebagai ALLAH yang
    mengabulkannya. Harus dilihat dulu apa doanya dan bagaimana konsep kerja ALLAH.
    Bahwa tidak semua hal itu ALLAH yang memperbuatnya, sekalipun kita berdoanya ke
    pada DIA.
    Ada banyak faktor yang membuat doa itu terkabul;  jika kita melakukan usaha-usaha
    dengan akal pikiran kita sendiri, dengan cara dukun-dukun, dengan strategi-strategi a
    tau rancangan-rancangan tertentu, lebih-lebih dengan cara pemaksaan kehendak, jelas
    sekali itu bukan ALLAH yang mengabulkannya !
    Saudaraku, bahwa baik jodoh, nasib, rejeki dan lain-lain yang sering kita alamatkan se
    bagai dari ALLAH itu, itu tidaklah mesti benar ! Sebab ada jodoh yang dijodohkan oleh
    hawa nafsu, oleh lokalisasi pelacuran, oleh orangtua, oleh tampang keren, oleh kekaya
    an atau kedudukan, oleh dukun maupun oleh Biro jodoh. Betapa kejinya jika itu dikata
    kan dari ALLAH ! 
    Sementara itu ada rejeki yang datangnya dari akal-akalan dan kecurangan kita, oleh
    dusta kita, oleh merampok, mencuri, menipu, korupsi, manipulasi, dukun, perjudian, ju
    al diri [melacur], oleh karena kepintaran kita, oleh karena kesarjanaan kita, oleh kare
    na kedudukan/posisi kita, oleh keberuntungan kita dan lain-lainnya, itu bukanlah dari
    ALLAH ! Nasibpun demikian, tidak mesti ALLAH yang membuatnya. Sekalipun dalam
    segala hal dan dalam berbagai hal ALLAH memang masih suka turut campur mengen
    dalikan dunia dan kita.
    Termasuk juga ALLAH bisa bekerja di lorong-lorong dosa kita. Jangan kita menafikan
    bahwa ALLAH itu hanya bekerja di ruang-ruang kesucian saja. Tetapi bisa saja DIA
    memberkati anda melalui profesi anda yang merampok atau mencuri. ALLAH koq begi
    tu ?!
    Kita perlu tahu bahwa baik suci maupun dosa itu adalah keadaan-keadaan yang Pencip
    tanya adalah ALLAH  sendiri. Bukan Oknum yang lainnya. Bukan Iblis! Tetapi ALLAH
    Sebab pada mulanya adalah tidak ada yang namanya dosa, kalau ALLAH tidak mene
    tapkan peraturan. Lihatlah pada alam kehidupan binatang; ada binatang yang sifatnya
    mencuri, merampok, serakah, sex bebas, merusak, dan lain-lain. Di sana apapun yang
    mereka lakukan adalah sah, karena tidak adanya peraturan dan ALLAH menciptakan
    sifat-sifat khas mereka.
    Tetapi ketika ALLAH mulai menetapkan peraturan, maka mulailah ada ruangan bagi
    yang namanya dosa itu. Yaitu siapa saja yang melanggar peraturan itu. Dan peraturan
    peraturan ini ditujukan untuk kita, sementara ALLAH sendiri tidak berada di dalamnya.
    Maka dari itu di dalam diri ALLAH itu tidak ada yang namanya dosa dan kejahatan. Se
    mua halnya adalah baik ! Termasuk seorang perampokpun adalah baik, karena sifat
    perampok itu  adalah ALLAH yang menanamkan ke dalam dirinya. Itulah sifat alamiah
    pribadinya yang ALLAH berikan kepadanya sebagai modal hidupnya.
    Tetapi karena di dalam diri manusia itu ALLAH menciptakan akal budi, maka akal budi
    itulah yang ALLAH harapkan untuk mengendalikan sifat-sifat alamiah pribadi kita.
    Bahwa apapun sifat alamiah kita, entah itu kelembutan atau kekasaran, harus diadu de
    ngan akal budi kita. ALLAH menginginkan setiap orang berperang melawan sifat-sifat
    alamiahnya sendiri-sendiri. > Menaklukkan diri sendiri !
    Jangan kita berprasangka bahwa orang yang lemah lembut itu orang yang baik. Di ma
     ta ALLAH kedua kutub adalah sama derajatnya; baik yang kasar maupun yang lemah
     lembut. Itu adalah  tentang ekstrem kanan dan ekstrem kiri, kutub utara dan kutub se
     latan, kutub positif dan kutub negatif. Karena itu bagi orang yang lemah lembut dia ha
     rus memolesnya dengan keseimbangan kekasaran, sedangkan bagi orang yang kasar
     agar mengimbanginya dengan kelemah-lembutan. Kita dituntut mencapai keseimbang
     an/kebijaksanaan. Kita dituntut untuk mengetahui kapan kita harus lemah-lembut dan
     kapan kita harus kasar, atau yang sebaliknya.
          > Sikap TUHAN YESUS-pun tidak selalu lemah-lembut, seringkali DIA harus kasar
             terhadap tokoh-tokoh agama, Iblis, orang-orang yang berjual-beli di Bait Suci,
             menghardik angin, menghina perempuan Kanaan dengan ‘anjing’, mengutuk po
             hon ara, menghardik Petrus, dan lain-lain.
     Sifat-sifat alamiah kita adalah musuh yang ALLAH tanamkan ke dalam diri kita, agar
     itulah yang kita lawan dan sempurnakan. Jadi, ALLAH tidak menghadapkan kita de
     ngan orang lain, tetapi dengan dirinya sendiri. Bahwa setiap orang diberinya Pekerjaan
     Rumah [PR] sendiri-sendiri. Diuji melalui dirinya sendiri.
     Karena itu bukanlah hal yang perlu diherankan jika ALLAH memberkati orang jahat
     melalui kejahatannya. Bukan hal yang mustahil ! Tapi juga tidak berarti ALLAH men
     dukungnya atau melestarikannya. Itu tergantung moment dan keperluannya, yang ha
     nya ALLAH saja yang tahu dan orang itu yang bisa merasakannya.
     Begitu pula dengan mengenai orang jujur, itu juga bukanlah hal yang mesti baiknya.
     Tergantung dari momentnya dan masalahnya. Sebab ada juga nasehat agar kita cerdik
     seperti ular dan tulus seperti merpati. Bahwa orang yang terlalu polos/lugupun tidaklah
     baik.
          > TUHAN YESUS-pun tidak selalu jujur, khususnya terhadap tokoh-tokoh agama.
             DIA selalu berbicara dengan perumpamaan atau melalui sindiran, bukan jujur-
             jujuran begitu saja.
     Dalam semua hal itu intinya adalah pada kebijaksanaan dan hikmat ROH KUDUS!
     [Harap berhati-hati di dalam menangkap perkataan dan ajaran saya ini].
> Selanjutnya kita perlu tahu tentang konsepnya doa, yang tidak lain adalah berupa suatu
    permintaan atau permohonan atau proposal. Bahwa doa bukanlah pistol yang kita to
    dongkan ke ALLAH. Doa bukanlah tombol atau sekakelar lampu, yang ALLAH harus
    menurutinya. Doa bukanlah alat kita mendekte ALLAH.
    Karena itu berilah tempat pada hak Prerogatif ALLAH. Jangan kita bersikap seperti to
    koh-tokoh politik kita yang kurang paham hukum; mereka tahu bahwa presiden mempu
    nyai hak prerogatif, namun merekapun berusaha untuk mencampuri, mempengaruhi,
    mempercakapkannya dan menggugatnya. Itu adalah suatu ketabuan dan suatu sikap
    yang menunjukkan kebodohannya, menyatakan ketidakpahamannya!
    Jadi kalau suatu doa dikabulkan atau tidak dikabulkan itu adalah pada tatanan yang se
    derajat. Kita harus bisa mensyukurinya sebagaimana ketika suatu doa dikabulkan.
> Di dalam berdoa kita harus mengerti selera ALLAH; kita harus menyesuaikan dengan
    seleraNYA. Hal apa dan hal yang bagaimana yang menyenangkan hati ALLAH. Perlu
    kita renungkan mungkinkah ALLAH berkenan mengabulkan suatu doa yang bertentang
    an dengan konsepNYA ?
    Bahwa sebagai orang Kristen posisi kita adalah sebagai Anak ALLAH. Bahwa sebagai
    Anak ALLAH sudah pasti hidup kita menjadi perhatian ALLAH [ALLAH tahu apa yang
    menjadi keperluan kita]. Bahwa sebagai Anak ALLAH kita adalah alat ALLAH untuk
    menyalurkan berkat kepada bangsa-bangsa. Bahwa kita adalah perantara berkat, bukan
    sasaran berkat. Ini yang perlu kita ketahui. Jadi bagaimana mungkin kita akan berdoa
    hanya melulu untuk memenuhi egoisme kita sendiri ?
    Mengapa masalah uang yang kita doakan, bukan masalah peperangan kita melawan do
    sa ? Mengapa bukan tetangga yang hidupnya kekurangan dan yang masih belum berada
    di wadah kebenaran yang kita doakan ? Mengapa bukan musuh kita yang kita doakan?
            > Kalau kita mengasihi diri kita sendiri atau mengasihi istri/anak-anak kita sendiri
               atau mengasihi teman-teman kita sendiri, itu adalah sesuatu yang kuno! Agama
               kafirpun punya ajaran yang segampang itu, nggak perlu menjadi Kristen. Tapi ka
               lau ada orang yang mengasihi musuhnya, itulah baru Anak ALLAH !
> Kita harus berhati-hati untuk tidak menyimpulkan bahwa ALLAH bekerja juga di gereja
    gereja yang palsu [di kandang-kandang yang lainnya]. Ini yang tidak mungkin. Tetapi
    ALLAH bekerja pada pribadi-pribadi dengan tidak membedakan denominasi, itulah
    yang mungkin.
    ALLAH memberkati umat tanpa membedakan gerejanya, itu bisa. Tapi ALLAH tidak
    mungkin memberkati pribadi-pribadi tokoh-tokoh agamanya, yang tidak sehaluan, kecu
    ali memakai mereka sebagai alatnya saja. Ini konsep penting yang harus kita ingat !
    Bahwa pendeta-pendeta yang tidak sehaluan dengan ALLAH, tidak mungkin menerima
    berkat dari ALLAH!
> Pengabulan doa bekerja secara terpisah dengan masalah keselamatan akhirat kita. Bah
    wa kalau masalah keselamatan itu ALLAH meletakkannya di telapak tangan kita. Kita
    lah yang menentukan selamat atau tidaknya kita, bukan ALLAH! ALLAH hanya memfa
    silitasi saja, yaitu melalui YESUS KRISTUS ! Sedangkan yang mengambil keputusan
    nya untuk menerima atau menolak adalah kita sendiri.
> Adapun doa yang tertinggi nilainya adalah yang berkaitan dengan keselamatan kita. Ini
    lah doa yang pasti dikabulkan dan dihormati ALLAH. Bahwa barangsiapa yang merin
    dukan kebenaran dan hikmat ROH KUDUS tidak akan ditolak dan tidak akan dipersu
    lit.
> Jika doa kita tidak dikabulkan, itu bukan berarti ALLAH tidak mendengar, bukan berar
    ti kita tidak dikenalNYA, tetapi ALLAH mempunyai pemikiran yang lain; mungkin me
    nguji anda, mungkin menuntut kesetiaan doa kita, mungkin menuntut kita mengkoreksi
    permintaan kita, dan lain-lain.
    Tapi bisa juga oleh karena DIA mengenal anda secara mendalam, bahwa anda bukan
    lah seorang yang bisa diharapkan menjadi penyembah-penyembahNYA yang benar. Si
    fat egoistis anda mungkin dinilai masih terlalu tinggi. Bahwa anda hanya membutuhkan
    berkat saja, tidak membutuhkan pribadi ALLAH-nya. Mana mau ALLAH melayani o-
    rang yang seperti ini ?
> Kita perlu berhati-hati di dalam menerima berkat, karena Iblis bisa dan diperkenankan
    untuk memalsukan pekerjaan ALLAH. Sehingga seolah-olah kita merasa dari ALLAH.
> Maaf, saya tidak bisa terlalu menjelaskan masalah berkat ini yang lebih jauh lagi. Sebab
   selanjutnya adalah kewenangan ROH KUDUS. DIA-lah Oknum yang ALLAH tunjuk un
   tuk memberikan hikmat dan menerangkan segala misteri KEALLAHAN, bukan saya!
   Karena itu saya yakin bahwa setiap orang yang berada di dalam DIA, pasti akan memper
   oleh pengetahuan yang sebaik-baiknya tentang berkat yang diterimanya.




Adalah seorang bapak dengan anaknya sedang menuntun keledainya, berpapasanlah de
ngan seseorang yang menggumam: “Percuma mereka punya keledai, kalau nggak ditung
gangi.”
Mendengar gumam demikian, segeralah bapak dan anak itu menunggangi keledainya. Ma
ka ketika lewat di suatu perkampungan, adalah beberapa orang yang memperhatikan mere ka dan membicarakan: “Kejam sekali mereka itu, masak seekor keledai ditunggangi 2 o-rang ?”
Setelah berpikir beberapa saat, maka turunlah bapak itu dari atas keledainya dan membiar kan anaknya saja yang menunggang keledai itu. “Kali ini pasti orang akan membenarkan kebijaksanaan saya.” Pikir bapak itu. Tapi begitu selesai dia berpikir demikian, ada juga orang yang mencelanya: “Waah, anak muda ini kurang ajar sekali. Masak bapaknya disu ruh berjalan, dianya yang enak-enakan di atas keledai ?”
Benar juga! Bapak itu merenungkannya; memang kurang pantas kalau orangtua yang ber jalan. Maka sekarang gantilah anaknya yang dia suruh turun dan dianya yang naik. Kali
ini pasti sudah pas! pikirnya.
Eh, ternyata ada orang lain lagi yang bergumam: “Bapak macam apa ini, tega amat anak
nya disuruh jalan ?!”
Putus-asalah bapak ini akhirnya. Keledai itu dia lepaskan dan merekapun berjalan kaki!

                           ??????????!!!!!!!                          

Tidak ada komentar: