Jumat, 14 Agustus 2015

MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG PALING BENAR - 2

Pak Sonny:

Tuhan Zaman sekarang datang kepada anak zamannya. Dulu datang kepada kaum pemberontak yang gak suka Romawi Jajah Israel. Kalau sekarang? 

Tuhan akan datang menyerupai manusia (BPJS). Tapi dunia menolaknya... hahahahaha

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Hua..ha..ha........ TUHAN itu dari Sorga bukan dari Lebak Bulus. Karena itu TUHAN tak mungkin menggunakan akal bulus penuh tipu muslihat terhadap umatNYA. DIA menolong tanpa iuran tapi menuntut pertobatan kita, berbeda dengan Jokowi menolong dengan iuran, KPK dirobohkan supaya koruptor bisa tetap membayar iuran BPJS.

Saya telah memberikan contoh kepada anda bagaimana menghadapi masalah. Ketika saya dihadapkan dengan persoalan pelik seperti anda dan bagaimana hasil perhitungan tetap mengarah kepada TUHAN seperti jarum kompas yang selalu mengarah ke utara. Bahwa jika segala usaha manusia di dunia ini masih bergantung pada TUHAN, mengapa kita tidak mengambil jalan pintas untuk langsung pada TUHAN saja? Mengapa harus lewat "calo" dokter atau herbal, kecuali dokter dan herbal itu berani memberikan jaminan 100% sembuh, sehingga sesuai dengan biaya besar yang kita keluarkan?!

Ingat presenter "Dahsyat" - Olga Syahputra? Sakit, dibawa ke rumahsakit internasional di Singapura, habis biaya puluhan milyar, memakan waktu setahun, tokh akhirnya mati. Lha, kalau untuk mati saja mengapa harus di rumahsakit? Mengapa harus di Singapura? Mengapa harus setahun? Mengapa harus puluhan milyar biayanya? Apa nggak bisa dibuat jalan toll supaya bisa cepat mati? Suruh Tiongkok yang dipercayai banget oleh Jokowi untuk membuat toll laut dan 24 pelabuhan, pasti akan dibuatkan jalan toll ke kuburan.

BPJS?! Apakah anda senang sakit sekalipun dibiayai BPJS? Kalau saya mikirnya lebih baik sehat sekalipun tidak menjadi pesertanya BPJS. Lebih baik kaya dari pada dikasih kartu miskin dan beras miskinnya Jokowi. Di Indonesia ini usahakan jangan jadi fakir miskin, sengsara banget, malah dijadikan objek para pejabat. Kita semakin miskin pejabat semakin kaya gara-gara kita miskin. Jadi, kemiskinan kita adalah kekayaan para pejabat.

Tidak ada komentar: