Sabtu, 15 Agustus 2015

MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG PALING BENAR - 3

Pak Sonny:

Hahahahaha....BPJS itu berangkat darii asumsi dari 10 orang hanya 2 yg sakit. Maka iuran 8 orang membantu 2 orang yg sakit. Ini dtg dari spirit memecah-mecahkan roti....

Kenapa ke dokter? Krn Paulus jg menyarankan kdp Timotius-murid yg paling dia sayyangi- agar minum anggur- utk sembuh.

Nah, anggur skrg mahal pak. Bth urunan huahahahahaha....

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Gagasan BPJS gagasan yang baik dan cerdas untuk dunia bisnis, seperti Multi Level Marketing atau aplikasi Gojek. Tapi menjadi gagasan yang buruk bin brengsek jika pemerintah ikut-ikutan mengajak fakir miskinnya berbisnis - arisan. Sebab amanah Alkitab untuk pemerintah adalah sebagai wakil TUHAN. Jadi pemerintah harus memposisikan dirinya sebagai TUHAN atau sebagai orangtua yang mengayomi semua anak-anaknya. Anak yang punya roti yang banyak diminta sebagian untuk diberikan kepada anak lain yang tak punya roti, sehingga semuanya kenyang. Ada yang kaya dan ada yang miskin, boleh, tapi semuanya bisa makan kenyang. Ada yang makan daging dan ada yang makan sayur, tak masalah, asalkan sama-sama kenyang. Itulah tugas pemerintahan.

Coba lihat cara pemerintahan Soeharto yang berlatar-belakang militer/politik. Saya tidak mengatakan Soeharto baik, tapi metodenya benar. Soeharto memberikan subsidi BBM kepada masyarakat. Tapi Jokowi yang berlatar belakang pengusaha, cara pemerintahannya bersystem bisnis. Pemerintah harus menjadi konglomerat. Karena itu subsidi BBM dicabut, para pejabat dilarang mengadakan rapat di hotel, pemakaian anggaran APBN dihemat-hemat. Jokowi tidak sadar bahwa kebijaksanaan tersebut berakibat pada semakin buruknya perekonomian. Harga barang-barang naik, usaha perhotelan gonjang-ganjing, dan peredaran uang di masyarakat menjadi macet seperti engsel yang kering tidak diberi minyak/oli.

Sepintas lalu orang melihat Jokowi itu baik, tapi akibat kesalahan tersebut membuat masyarakat menjerit kesakitan dan menilainya jahat. Jokowi seperti orang baik yang sedang menolong orang membantu mengangkat meja tapi tanpa sadar kakinya menginjak kaki orang. Bagi orang yang ditolong, Jokowi itu baik. Tapi bagi yang kakinya terinjak, Jokowi itu brengsek - anjing gila!

Hanya erek-erek - tandatangan di atas dokumen yang belum dibacanya, esok harinya harga barang-barang guncang. Hanya gara-gara Jokowi buta huruf saja, 250 juta penduduk Indonesia sengsara.

Saya bukan membenci Jokowi. Kalau pak Sonny tanya pada saya: apakah Jokowi itu baik? Saya jawab: "Iya, Jokowi adalah orang yang baik." Tapi dia berada di tempat yang salah. Seharusnya dia melamar kerjaan menjadi malaikat, bukan menjadi presiden. Akibatnya selalu terjadi salah urus.
The right man on the right place. Jokowi the right man on the wrong place. Jokowi orang yang kesasar.

Pak Sonny, jika Jokowi tidak salah hitung atau bermental korupsi, seharusnya dia tahu bahwa menanggung kesehatan fakir miskin dari APBN itu lebih murah atau lebih hemat daripada menanggung iuran BPJS. Sebab 67 juta orang miskin itu tidak mungkin sakit semuanya, tapi mengapa pemerintah harus mengeluarkan biaya iuran untuk 67 juta orang semuanya?

Mari hitung: 67 juta x Rp. 25.000,- = ....................... itu baru impas jika ada 67 juta orang yang sakit flu yang biaya berobatnya Rp. 25.000,- Tapi apakah mungkin terjadi semua orang sakit secara bersamaan dalam waktu sebulan? Bagaimana jika yang sakit flu itu hanya 10 juta orang? Bukankah pemerintah membayar untuk yang 57 juta orang yang sehat juga?

Itu hitungan bisnisnya. Bagaimana dengan hitungan UUD 1945-nya? Jika pemerintah menyerahkan masalah kesehatan fakir miskin dari rakyat untuk rakyat, lalu apa kebaikan pemerintah untuk kesehatan fakir miskin? Jelas terlihat pemerintah lepas tangan terhadap kewajibannya. Uang APBN tak ada yang dikeluarkan untuk fakir miskin karena sudah terjadi swadaya masyarakat melalui BPJS. Kita lihat faktanya seluruh APBN dihabiskan oleh Jokowi untuk membangun infrastruktur. Jokowi maunya infrastruktur, sedangkan urusan kesehatan masyarakat dilemparkan ke masyarakat kembali. Ini moral pemerintahan macam apa?! Lihat saja sampai-sampai mantan presiden SBY menegur Jokowi: "APBN jangan dihabiskan untuk infrastruktur, tapi berikan porsi yang besar untuk kesejahteraan rakyat."

Cara pemerintahan yang salah urus inilah yang membuat saya geram sekali terhadap Jokowi. Bukan seperti itu caranya mengatur negara itu!

Tidak ada komentar: