Kamis, 27 Agustus 2015

OBAT ALKITABIAH

Hikmat ROH KUDUS yang disampaikan oleh raja Salomo mengatakan:

Amsal 17:22        Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang
                            patah mengeringkan tulang.

Obat yang manjur adalah hati yang gembira. Seperti apa kegembiraan?

Kita bisa gembira kalau mengerti, kalau paham, kalau menguasai, dan kalau menang. Kalau kita mengerti mengapa kita sakit, mengetahui penyebabnya, berarti kita telah mengetahui rahasianya. Dari sanalah kita akan memperoleh kesembuhannya. Kita sakit karena dosa? Ya, bertobatlah.

Tahu masalahnya, legalah hati kita, bukan?! Dari sini kita bisa mendapatkan kegembiraan. Kita mengerti rencana atau maksud TUHAN dengan penyakit itu, yaitu TUHAN menegur kita supaya kita meluruskan jalan hidup kita seturut FirmanNYA. Karena mengerti kalau diri kita dikasihi TUHAN, maka pasti gembiralah hati kita. Kalau kurang mengerti kita akan bersungut-sungut, tak bisa gembira.

Yang kedua, kita perlu memahami tentang kehendak TUHAN. Apa maksud TUHAN menciptakan kita?

Yesaya 43:7         semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk
                            kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"

Ternyata kita hidup bukanlah untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk kepentingan TUHAN. Untuk apa kita membuat pisau? Untuk keperluan kita atau untuk keperluan pisau itu? Untuk apa kita mempekerjakan karyawan? Untuk kepentingan kita atau untuk kepentingan orang itu? Karena itu kita tidak boleh menghidupkan keinginan diri kita. Keinginan diri harus kita matikan, keinginan TUHAN harus kita hidupkan. Kita harus mendharmabhaktikan diri kita untuk TUHAN. Harus menjadi hamba TUHAN, menjadi anak-anak yang taat.

Yohanes 3:30     Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

TUHAN harus ditinggikan, diri sendiri harus dikecilkan. Kita harus bersedia menempatkan diri pada kehinaan, TUHAN harus diagungkan. Kita menjadi sandal, biarlah TUHAN yang menjadi topi.

Kita tidak lagi berkata: Apa yang kusukai, tapi apa yang TUHAN sukai? Nah, kalau kita benar-benar paham akan hal ini, maka merendahkan diri menjadi kesukacitaan kita, bukan sebuah tekanan. Kita akan rela berkorban apa saja untuk kemuliaan TUHAN. Termasuk jika kita harus menanggung suatu penyakit.

Yang ketiga, kita harus menguasai; mengerti, memahami dan menguasai seluk-beluk hidup kita. Sudah tak ada yang merupakan misteri atau keanehan dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak lagi bertanya-tanya: mengapa TUHAN membuatku sakit? Hidup akan terasa ringan walau apapun yang terjadi, kita hidup wajar dari ketidakwajaran yang terjadi. Dari sini kita mendapatkan kegembiraan hati.

Yang keempat adalah kemenangan. Jika kita bisa menyelesaikan soal-soal ujian dengan baik, maka kita sudah lulus, sudah menang. Kita akan dilepaskan, dibebaskan dari sekolahan itu. Kita berhasil mengalahkan ujian sama dengan berhasil mengalahkan ALLAH. Kita harus masukkan ujian itu ke tong sampah. Bahwa penderitaan yang kita tanggung itu bukan apa-apa, bukan beban bagi kita, kita menganggapnya enteng, maka TUHAN kalah.

Ketika kita mengikuti suatu perlombaan atau pertandingan, sesungguhnya lawan kita adalah panitia yang menyediakan hadiah. Lawan kita bukanlah para peserta pertandingan. Tapi untuk mengalahkan panitia, yang harus kita kalahkan adalah para peserta pertandingan itu. Jadi, mengalahkan peserta pertandingan sama dengan mengalahkan panitia penyelenggara. Itulah sebabnya panitia akan membayar ke kita berupa: hadiah atau piala.

Kalahkan TUHAN seperti Yakub mengalahkan TUHAN;

Kejadian 32:24       Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat
                                dengan dia sampai fajar menyingsing.
                32:25       Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya,
                                ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal
                                paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
                32:26       Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah
                                menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan
                                engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."
                32:27       Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?"
                                Sahutnya: "Yakub."
                32:28       Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi
                                Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah
                                dan manusia, dan engkau menang."

Tahukah anda bagaimana seorang anak mengalahkan bapaknya? Dengan menangis tak henti-henti sehingga akhirnya sang bapak membelikan mainan menurut keinginannya.

Kalahkan ALLAH dengan ketekunan, bukan dengan kekurangajaran.

Tidak ada komentar: