Kamis, 27 Agustus 2015

PANDUAN REVOLUSI MENTAL

http://revo-mental.blogspot.com/2014/07/pengertian-revolusi-mental.html














Seiring dengan kemenangan Bapak Joko Widdodo dan Yusuf Kalla dalam pilpres 9 Juli 2014, maka tampaknya kita akan memasuki era perubahan yang siknifikan (semoga) melalui kosep REVOLUSI MENTAL yang dicanangkan oleh Presiden Baru periode 2014-2019 itu. Perubahan yang siknifikan tersebut sebaiknya kita sikapi dengan kesiapan untuk berubah dari kita masing-masing agar tidak menjadi korban perubahan.

Tapi, apa sih sebenarnya Revolusi Mental itu?


Yep, Revolusi Mental teridiri atas 2 kata yakni Revolusi dan Mental. 


Revolusi (dari bahasa latin revolutio, yang berarti "berputar arah") adalah perubahan fundamental (mendasar) dalam struktur kekuatan atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Kata kuncinya adalah Perubahan dalam Waktu Singkat.

Aristoteles menggambarkan pada dasarnya ada 2 jenis revolusi yakni:



  1. Perubahan sepenuhnya dari satu aturan ke yang lainnya
  2. Modifikasi terhadap aturan yang ada.
Revolusi telah banyak terjadi dalam sejarah umat manusia dan bervariasi dalam berbagai metoda, durasi, dan ideologi motivasi. Hasilnya telah terjadi perubahan besar dalam budaya, ekonomi, dan institusi sosio-politik.

Sedangkan Mental atau tepatnya Mentalitas adalah cara berpikir atau kemampuan untuk berpikir, belajar dan merespons terhadap suatu situasi atau kondisi. Contohnya, jika seseorang mengatakan anda mempunyai mentalitas anak TK, maka itu sih oke-oke saja kalau anda memang murid TK, tetapi jika anda anak SMA, itu berarti anda dianggap tidak dewasa (sematang semestinya anak SMA). Tidak lucu kan, anak SMA bermental anak TK...??


Contoh lain, Mental Priyayi, artinya orang yang cara berpikir, bersikap dan merspons sesuatu seperti priyayi (bangsawan), maunya diladeni, tak mau kerja keras/kotor, mintanya selalu dihormati, duduk harus didepan, menjaga jarak dengan kaum miskin, maunya yang mahal-mahal dst... Tentu orang seperti ini tidak bisa diajak berjuang, bekerja keras dan maunya dapat hasilnya saja.

Jelas bahwa kata asal mentalitas adalah mental, yang berarti 'pikiran'

Bagaimana pikiran anda bekerja itulah mentalitas anda, yaitu cara anda berpikir tentang sesuatu. Cara berpikir (mentalitas) dibentuk dari pengalaman, hasil belajar, atau pengaruh lingkungan. Contohnya, anda mungkin memiliki mentalitas kompetitif (berebutan) kalau ada makanan, karena di keluarga anda, saat makan anda semeja dan harus berbagi dengan 9 saudara. 

Jadi, Revolusi Mental dapat diartikan dengan perubahan yang relatif cepat dalam cara berpikir kita dalam merespon, bertindak dan bekerja.


Memangnya kenapa harus dirubah? Apa ada yang salah?

Banyak...., bahkan banyak sekali!

Kita sekarang telah hidup di Era Informasi yang membuat globalisasi dunia dengan pradigmanya sendiri, sementara kita masih banyak... bahkan banyak sekali terperangkap dalam paradigma atau pola pikir lama, Era Industrial maupun era agrikultural, yang sudah jauh tertingal dan banyak bertolak belakang dengan era informasi yang meng-global itu.


Juga mentalitas yang terbentuk akibat penjajahan selama 350 tahun! Ada mental penjilat, mental budak, dan berbagai pola pikir tidak produktif lainnya.

Apa saja sikap mental, paradigma atau cara berpikir yang sudah usang itu dan harus dirubah dalam waktu relatif singkat dan bagaimana merubahnya,




Mandiri Secara Lokal Meski Minim Dukungan Pusat

- Contoh Revolusi Mental 1-
Banyak yg bicara negara sering absen dari masalah rakyatnya.
Kantor pelayanan administrasi berdiri megah tapi pelayanannya penuh pungli.
Rumah sakit begitu banyak tapi pelayanannya tebang pilih,
Transportasi umum, hmmmm ... tidak usah ditanyakan lagi...

Jika di kota besar dengan anggaran yang besar saja negara absen,
Bagaimana dengan daerah kecil...
Bagaimana dengan daerah terluar yg berbatasan langsung dengan negara lain...
Hampir dipstikan kondisinya lebih parah!
Padahal daerah ini semestinya menjadi etalase Indonesia di mata negara lain.


Namun ada sebuah kisah lokal yg sukses terjadi di Tarakan Kalimantan Utara
Sebuah pulau kecil di tengah laut salah satu batas paling utara Indonesia.
Meski terpencil dan terluar, Tarakan mampu menyediakan fasilitas dan infrastruktur yg baik tanpa banyak dibantu Pemerintah Pusat.
Puskesmas bersertifikat internasional lengkap dengan fasilitasnya.
Begitu pula dengan listrik yg mengalir 24 jam, bahkan rakyat rela membayar lebih tinggi untuk listrik tersebut.

Nah, semangat Tarakan ini harus menjadi contoh bagi daerah lain,
dan Negara wajib mendukung inspirasi dari Tarakan ini!!!!



Semangat Kemandirian: Produksi Pangan di Lahan Gersang

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 2 -

Selain kisah tentang ketahanan energi (lihat disini), ada cerita lain dari Yogyakarta kali ini tentang Ketahanan Pangan.
Anak-anak bangsa kita telah berhasil menanam berbagai tanaman di atas pasir.
Dengan menggunakan teknologi sendiri mereka menggunakan garis pantai sebagai medium tanam yang subur.
Disana padi, bawang, jagung, tomat sampai tanaman industri tidak tumbuh diatas tanah, tapi di... PASIR!
Ya... pasir pun memberikan kehidupan... Kurang subur apalagi Indonesia ini...!


Nah... semangat kemandirian dari daerah-daerah ini perlu kita pelihara dan besarkan. Sementara ketergantungan harus dihilangkan!





Semangat Kebhinekaan Masih Ada

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 3 -

Ada alasan kenapa kita punya semnoyan Bhineka Tunggal Ika karena memang pada kenyataannya kita berbeda etnis, agama dan suku.
Tapi justru itulah yg menjadi panji kekuatan kita.
Namun akhir-akhir ini perbedaan kerap menjadi penyulut masalah.
Kita saling mengucilkan, saling jegal, bahkan baku hantam hanya karena perbedaan.
Masihkah Bhineka Tunggal Ika punya tempat di Indonesia?


Sebuah sekolah di kota Medan mengingatkan kita kembali tentang keragaman.
Di tempat yg dikenal sebagai sekolah pembauran ini anak-anak dari latar belakang berbeda baik suku, agama, ataupun ras menyatu dan belajar bersama.
Perbedaan fisik dan keyakinan tidak lagi menjadi masalah.
Mereka tersenyum dan saling berpegangan tangan.
Tersenyum dan bangga di bawah kibaran bendera Merah Putih.

Anak-anak dan sekolah ini adalah inspirasi bagi kita bahwa sebagai bangsa kita tidaklah berbeda!


Dari Desa Menggemgam Dunia

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 4 -

Di Indonesia semua orang ingin jadi orang kota, ingin kaya, ingin canggih, akses yang cepat, yang semuanya itu katanya tidak bisa didapat di desa.
Anak muda hari ini pun beramai-ramai berangkat ke kota sehingga para petani dan nelayan hari ini diisi oleh orang-orang tua yang jumlahnya makin surut.
Padahal sebagai negara maritim dan agraris, pusat-pusat ekonomi Indonesia harusnya berada di pundak petani dan nelayan yang tinggal di desa.


Ternyata tidak semanya tinggal di desa berarti ketinggalan!
Di kampung Taman Jogjakarta dan sebuah sekolah alternatif di Salatiga Jawa Tengah, orang desa pun bisa menggenggam dunia.

Para penghuni desa ini sudah melek internet sehingga desanya mendapat julukan kampung cyberg.
Dengan fasilitas yang ada di tempatnya anak-anak tersebut mampu berprestasi tidak hanya di tingkat nasional yapi juga di tingkat internasional.
Uniknya lagi mereka tidak punya keinginan menjadi orang kota.
Mereka masih bercita-cita menjadi petani
Namun petani yang siap bersaing di tingkat dunia kemampuan informasi dan wawasan luas yg dimiliki.



Koperasi Mampu Menjadi Pilar Ekonomi

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 5 -

Kita kadang lupa bahwa pendiri bangsa kita yaitu Bung Hatta telah meninggalkan model ekonomi yg pro rakyat bernama Koperasi.
Daripada meributkan tentang ekonomi rakyat dan ekonomi liberal sebenarnya kita sudah punya blue print ekonomi yang jelas-jelas berpihak kepada rakyat.

Sebuah koperasi di daerah Pangalengan Bandung berhasil membuktikan bahwa kekuatan ekonomi koperasi mampu menyejahterakan lebih banyak orang.
Bahkan sampai puluhan ribu anggota masyarakat.


Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPDS) ini mampu bersaing, bahkan mampu membuat industri-industri besar tergantung pada mereka.

Tidak dapat dielakkan lagi bahwa ini adalah bukti kekuatan rakyat bisa menandingi kepemilikan modal yang besar yang dimiliki para petinggi industri bahkan tingkat multi nasional.

Meeka adalah inspirasi bagi ekonomi yang kuat dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat!


TKI Berkualitas dan Bermartabat, Bukan Budak!

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 6 -

Di dalam negeri cari kerja susah, di luar negeri cari kerja malah bertarung nyawa.
Dan negara kita sering telat menangani kasus ini,
Kalau sudah jatuh korban baru bertindak.
Sementara bukan itu inti permasalahannya.

TKI kita buth dilindungi, itu pasti!
Tapi alangkah lebih baik kita melindungi mereka dengan persiapan dan pelatihan yg cukup,
sehingga TKI kita memiliki daya tawar yang kuat dan tak lagi rentan.


Inspirasi dalam hal ini bisa kita temui di sebuah akademi keperawatan di Kolaka Sulawesi Tenggara.
TKI yg diberangkatkan adalah mereka yang sudah terampil dan terlatih, memiliki kemampuan dan profesional yang memang dibutuhkan masyarakat internasional.
Pelatihan dan pemberian keterampilan profesional membuat mereka memiliki daya tawar untuk mendapatkan penghargaan atas pekerjaan mereka.

Jika inspirasi Kolaka ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia, maka saat itulah pahlawan devisa negara tak perlu lagi pulang bersimbah darah dan air mata




Bangsa Berprestasi, Bukan Sekedar Penonton

- CONTOH REVOLUSI MENTAL 7 -

Sepakbola, sebagai olahraga yg paling populer hanya mampu menjadikan kita bangsa penonton.
Stadion selalu penuh terisi, tayangan sepakbola internasional ramai ditonton disana-sini.
Tapi, kok lemari prestasi kita minim diisi...?

Namun, harapan mulai dinyalakan.
Sekelompok anak muda yang dikumpulkan dengan cara tak biasa, lalu dilatih dengan disiplin dan cara yang inovatif. Tim Nasional U 19 mampu membuat kita kembali menegakkan kepala. Meski saat ini masih di tingkat regional tapi siapa tahu kedepannya akan berbicara secara internasional.


Ini adalah inspirasi bagi kita semua!
Bahwa suatu saat nanti kita bukan bangsa penonton.
Bahwa prestasi negara kita bisa sejajar dengan negara-negara yang biasanya hanya kita tonton saja.

Tidak ada komentar: