Jumat, 14 Agustus 2015

PREMAN BARU - JOKOWI - 2

Pak Sonny:

Siapa bilang Amerika tdk menarik bea utk jaminan kesehatan?

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Di Amerika masuknya sebagai pajak, pak, bukan iuran. Kalau pajak itu dibayar oleh orang-orang tertentu, berdasarkan ketentuannya, sedangkan iuran itu dibayar oleh semua orang. Dengan melalui system pajak, maka negara telah bekerja menurut fungsinya, yaitu membentuk keseimbangan sosial. Yang kaya membantu yang miskin. Sejalan dengan konsep agama. Tapi iuran menyangkut semua orang yang menjadi peserta, baik kaya maupun miskin. Padahal tidak ada amanah dalam UUD 1945 supaya pemerintah menjamin kehidupan semua orang. UUD 1945 tidak menyuruh pemerintah menjamin kehidupan semua orang, melainkan hanya fakir-miskin dan rakyat terlantar saja, yang menurut Jokowi jumlahnya sebanyak 67 juta jiwa.

Nah, jika sasaran jaminan sosialnya sudah jelas untuk 67 juta orang itu, bukan untuk 250 juta orang penduduk Indonesia, mengapa harus ada BPJS sehingga harus ada iuran? Keberadaan BPJS membuat orang harus membaca kalau orang-orang miskin itu dikenai iuran, sekalipun pada prakteknya iurannya ditanggung oleh pemerintah. Tidakkah ini merupakan pemborosan APBN namanya? Seharusnya, jika jaminan sosial itu langsung ditangani oleh APBN, bukankah akan mengirit anggaran? Tapi dengan diserahkan ke perusahaan asuransi, sementara pemerintah harus membayar iuran untuk 67 juta orang, itu membuat asuransinya untung, pemerintahnya yang buntung. Tidakkah ini membuat otak kita berpikir pemerintah sengaja membuka peluang korupsi? Pemerintah memberikan untung ke asuransi, supaya asuransi memberikan imbalan kepada pejabat yang bersangkutan. Ini suatu bentuk korupsi yang terselubung, yang paling aman. Tapi ini namanya kekurangajaran Jokowi!

Semua orang harus menjadi anggota BPJS. Apa manfaatnya BPJS bagi orang kaya? Mana mau mereka di rawat di rumahsakit umum. Mana mau mereka masuk perusahaan asuransi kelas teri? Mereka sudah punya asuransi yang lebih bergengsi dan punya rumahsakit sendiri di Singapura. Jadi, mengapa mereka dipaksa masuk BPJS? Nyumbang istilahnya. Bayar iurannya tapi tak menikmati manfaatnya.

Sudah membayar iuran BPJS, namun jika sakit mengapa harus ke Puskesmas dahulu? Supaya si sakit itu semakin parah sakitnya? Mengapa tidak boleh langsung ke rumahsakit, melainkan harus berdasarkan rujukan dari Puskesmas?

Gimana coba, siapa yang bisa jawab?

Tidak ada komentar: