Minggu, 23 Agustus 2015

Prihatin: Mendukung Palestina Tapi Berencana Beli Drone Israel

http://chirpstory.com/li/214885

Sudah jelas bhw Jokowi menyebut dukungan Palestina hny sbg kamuflase saja. Karena, rencananya ia akan membeli Drone/ UAV Heron buatan Israel lewat TW

Jokowi Siap Beli Drone Global Hawk

http://jakartagreater.com/jokowi-siap-beli-drone-global-hawk/

UAV RQ-4 Global Hawk (photo : USAF)

Jakarta — Presiden terpilih Joko Widodo dinilai telah memahami konsep pertahanan negara kuat yang harus diterapkan di negara maritim seperti Indonesia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi wilayah laut dan udara Indonesia ialah dengan memiliki pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle-UAV) atau drone.
“Generasi perang mendatang dibutuhkan integrated power, beliau (Jokowi) sudah paham soal perlunya powerful defence,” kata pengamat militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia: Dari Negara Kepulauan Menuju Negara Maritim di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), (9/10/2014).
Connie mengaku, beberapa waktu lalu, ia sempat berbincang dengan Jokowi soal rencana pembelian pesawat drone tersebut. Kepada dirinya, Jokowi mengaku hendak membeli tiga unit drone sejenis Global Hawk, yang dibuat Amerika Serikat.
Ia menuturkan, harga satu unit drone tersebut terbilang cukup fantastis, mencapai Rp 4,3 triliun. Karena itu, dibutuhkan anggaran sebesar Rp 12 triliun sampai Rp 13 triliun untuk membeli ketiga drone tersebut.
“Harga itu tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh karena bisa melindungi potensi kerugian Rp 300 triliun atas aksi pencurian ikan dan sumber daya alam yang terjadi di negara kita,” kata Connie menirukan pernyataan Jokowi. (Kompas.com).
IMI: Ide Jokowi Beli Drone Triliunan Menipu Rakyat
http://politik.rmol.co/read/2014/09/01/170170/IMI:-Ide-Jokowi-Beli-Drone-Triliunan-Menipu-Rakyat-

RMOL. Rencana calon presiden terpilih, Joko Widodo membeli tiga unit drone atau pesawat tanpa awak seharga Rp 4,5 triliun untuk menjaga keamanan laut Indonesia dkritik. 

Jokowi menjelaskan, pencurian ikan di wilayah maritim Indonesia telah merugikan keuangan negara Rp 300 triliun per tahun. Sebab itulah fungsi drone untuk mengatasi ilegal logging.  

Pakar maritim Indonesia, Y Paonganan menyebut keinginan Jokowi itu cara menipu rakyat dengan embel-embel teknologi canggih.

"Penggunaan drone dalam memberantas illegal fishingmenunjukkan bahwa Jokowi tidak paham permasalahan illegal fishingyang kian marak," ujar Direktur  Indonesia Maritime Institute (IMI), Y Paonganan kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 1/9).

Menurut Paonganan, solusi masalahillegal fishing bukan semata dengan memata-matai kapal ilegal yang beroperasi di lautan NKRI, tapi harus mencari tahu penyebabnya. Berdasarkan catatan IMI, kerugian negara akibat illegal fishing sekitar 218 triliun per tahun, sebagian besar akibat illegal license danunreported fishing.

"Umumnya kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di laut NKRI memiliki izin, tapi banyak yang izinya double, seperti satu izin bisa dipakai hingga sepuluh kapal, selain itu banyak hasil tangkapan yang tidak dilaporkan ke pelabuhan-pelabuhan perikanan, akhirnya aset negara terbawa ke luar negeri tanpa laporan," beber Y Paonganan.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin drone bisa mengidentifikasi kapal yang berizin dengan tidak? Bagaimana pula tindakan selanjutnya setelah drone itu berhasil mengidentifikasi kapal ilegal, apa mau ditembak langsung atau dilaporkan ke kapal patroli atau KRI untuk dikejar?

"Ini cara berpikir praktis yang mau menyelesaikan masalah dengan cepat tapi tidak paham permasalahan sesungguhnya," sergah Direktur IMI yang akrab disapa Ongen.

Ongen pun menegaskan bahwa IMI menolak keras rencana Jokowi membeli drone. Ada baiknya, saran Ongen, Jokowi membenahi dulu sistem perizinan kapal dengan membuat aturan yang lebih ketat juga sanksinya serta menyiapkan infrastruktur pendukung. Jika hal ini sudah dilakukan baru berpikir untuk menggunakan teknologi canggih seperti drone untuk mengawasi laut NKRI.

"Jokowi itu tidak paham laut, seharusnya sebelum merencanakan sesuatu untuk menyelesaikan curat marut maritim, ya harus dipelajari dahulu segala sesuatunya, jangan pakai gaya tiba-tiba dan tidak masuk akal. Apalagi harga drone yang triliunan rupiah itu tambah tidak masuk akal lagi," ujar Y Paonganan.

Untuk diketahui, beber Ongen, harga drone termahal saat ini adalah produk Israel yang dijual dengan harga Rp 38 miliar per unit dengan menggunakan satelit. Sementara Indonesia sendiri belum punya satelit untuk mengoperasikan drone. Hal ini sangat rawan kebocoran karena data dapat masuk ke pemilik teknologi.[wid]

Northrop Grumman RQ-4 Global Hawk

https://id.wikipedia.org/wiki/Northrop_Grumman_RQ-4_Global_Hawk

Northrop Grumman (sebelumnya Ryan Aeronautical ) RQ-4 global Hawk (dikenal sebagai Tier II + selama pengembangan) adalah kendaraan udara tak berawak (UAV) pengintai (reconnaissance aircraft) sayap rendah (low wing) yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat dan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Jerman sebagai pesawat pengintai .

Deskripsi

Luftwaffe 99-01 RQ-4B EuroHawk ILA 2012 1.jpg


RQ-4 Global Hawk.jpg

Global Hawk adalah pesawat tanpa awak yang terbesar dan tercanggih di dunia saat ini. RQ-4 Global Hawk adalah pesawat tanpa awak pertama yang mem[eroleh sertifikasi dari FAA (badan penerbangan Amerika) untuk terbang dan mendarat di bandara sipil secara otomatis. Karena keunggulannya ini, Global Hawak diharapkan dapat menjadi perintis pesawat penumpang dengan pilot otomatis dimasa mendatang. Pada saat pengujian, Global Hawk mampu terbang dari Amerika Serikat menuju Australia pulang pergi dengan membawa sejulah alat pengintai. Untuk keperluan militer, pesawat ini dapat dipergunakan untuk melakukan pengintaian, pengawasan dan survey intelejen pada daerah yang luas dan dalam jangka waktu yang lama. Northrop Grumman Global Hawk
Pertama terbang pada tanggal 28 Februari 1998 dari pangkalan udara Angkatan Udara AS di California. Global Hawk perangkat pertama dipindahkan ke angkatan laut Amerika Serikat di 2004 dan memulai misi tempur Maret 2006 .
Unit ini dapat patroli selama 30 jam pada ketinggian 18.000 meter. Dikembangkan oleh perusahaan AS Teledyne Ryan Aeronautical , anak perusahaan Northrop Grumman .

UAV Heron, Apa Kabarmu Saat Ini?

http://www.indomiliter.com/uav-heron-apa-kabarmu-saat-ini/

iaf-uav

Perkembangan teknologi industri militer akhirnya menghantarkan kita pada alutista tak berawak yang dikendalikan dari jauh. Namun, unmanned aerial vehicle (UAV) atau lebih populer dengan istilah drone sendiri bukan barang baru di catatan sejarah. Menurut wikipedia, Konsep drone dapat ditelusuri sampai pertengahan abad ke-19, ketika Austria mengirim balon bom tanpa awak untuk menyerang Venesia.
Pada tahun 2012, tercatat Angkatan Udara Amerika Serikat mendayagunakan 7.494 UAV dan UCAV (unmanned combat aerial vehicle), berarti hampir 1 dari 3 pesawat Angkatan Udara AS adalah UAV. Memasuki abad ke 21 peran UAV di militer sudah lebih dari IRS (inteligence, reconnaissance, and surveillance) dengan merambah sebagai unit serang udara ke darat. Pada era Perang Dingin, untuk mengurangi resiko jatuhnya pilot di teritori lawan Amerika Serikat secara intensif mengembangkan teknologi drone.
Bagaimana dengan Indonesia? UAV sendiri bakal dikerahkan untuk menjaga perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan, termasuk patroli hingga ke Kepulauan Natuna. Hal ini sejalan dengan konsep penggunaan drone yang dicanangkan Presiden Jokowi saat kampanye. UAV digunakan untuk memantau perbatasan karena menggunakan tenaga manusia untuk mengawasi perbatasan dibutuhkan ribuan orang, bahkan jika menggunakan pesawat biasa memiliki keterbatasan dari sisi bahan bakar, sehingga pengawasan di wilayah perbatasan tidak dapat maksimal. Drone dianggap lebih efisien dan hemat.
Heron TP
Heron TP
Teknisi AU Israel sedang memeriksa mesin Heron.
Teknisi AU Israel sedang memeriksa mesin Heron.
Sejak 2012 lalu, tersiar kabar bahwa Indonesia akan membeli 4 unit Heron UAV buatan Israel untuk menjadi ‘teman’ bagi pesawat tanpa awak jenis wulung. Namun sampai saat ini belum jelas juntrungannya soal penggunaan Heron oleh Indonesia. Wulung sendiri sudah diserahterimakan, namun sampai detik ini belum operasional secara penuh.

Wulung UAV: Pesawat Tanpa Awak Pengawal Perbatasan RI

http://www.indomiliter.com/wulung-uav-pesawat-tanpa-awak-pengawal-perbatasan-ri/

202598_puna-wulung_663_382

Kepadatan lalu lintas penerbangan di lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, boleh jadi bakal meningkat. Pasalnya di pangkalan udara yang landasannya juga digunakan bersama PT. Angkasa Pura untuk melayani penerbangan sipil, sebentar lagi akan ketempatan skadron pesawat baru. Saat ini, lanud Supadio bisa disebut sebagai pangkalan strategis TNI AU, karena wilayahnya relatif dekat dengan perbatasan RI – Malaysia, hingga lanud Supadio dipercaya sebagai home base dari Skadron Udara 1 yang berisi jet tempur Hawk 100/200.
Nah, bila tak ada aral melintang, jadwalnya pada kisaran awal tahun ini akan ditempatkan satu skadron baru di lanud Supadio. Dan, skadron baru ini terbilang unik, dan belum ada tandingannya di Indonesia, yakni skadron Pesawat Udara Nirawak (PUNA) atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Kepastian akan hadirnya skadron UAV merupakan jawaban yang cukup lama, setelah ide pembentukannya dicetuskan pada tahun 2000-an
Meski belum diketahui label resmi skadron UAV TNI AU ini, tapi disebutkan skadron ini akan dilengkapi pesawat dengan komposit, yakni terdiri dari dua tipe. Berbeda dengan skadron tempur TNI AU, yang umumnya tiap skadron menggunakan satu jenis pesawat. Maka skadron UAV TNI AU nantinya akan diperkuat pesawat tipe Wulung dan Heron. Yang jadi andalan utama di skadron ini adalah Heron. UAV buatan Malat, divisi dari IAI (Israel Aerospace Industries) ini tergolong canggih, Heron dapat terbang sejauh 350 km dan mampu terbang terus menerus hingga 52 jam. Dengan kecepatan maksimum 207 km/jam, Heron dengan ketinggian terbang hingga 10.000 meter memang layak menjadi spy plane. Rencananya, TNI AU akan memboyong 4 unit Heron ke lanud Supadio.
n00226703-b
PUNA-Wulung
Lain halnya dengan Wulung, UAV ini teknologinya jangan disamakan dengan Heron yang telah dipakai oleh banyak negara. Wulung tidak lain adalah buatan Dalam Negeri yang dibangun secara gotong royong oleh PT. Dirgantara Indonesia, LEN (Lembaga Elektronik Nasional), dan BPPT. Dalam proyek Wulung, PT DI bertanggung jawab atas produksi pesawat dan Lembaga Elektronik Nasional (LEN) yang mengerjakan sistem komunikasi dan elektroniknya.
Secara teknologi, LEN menyiapkan Wulung untuk misi pemantau untuk obyek permukaan, termasuk di dalamnya kelengkapan GPS dan kamera/video intai. Untuk sistem kendalinya, LEN menempatkan moda auto pilot surveillance danon board system untuk kendali terbang. Dengan jarak jelajah hingga 200 km, Wulung akan di dukung oleh mobile ground station, sehingga data yang sedang diamati dapat terpantau secara real time.
timthumb
wulung_kompas
Setelah resmi hadir di Indonesia, besar kemungkinan Heron dan Wulung belum diberi beban untuk misi patroli yang berbau tempur, alias hadir tanpa senjata. Kedua UAV ini lebih dikedepankan untuk misi pengamatan wilayah di perbatasan, penanganan kebakaran hutan, dan pembuatan hujan buatan. Tapi tetap ada peluang jika suatu waktu dibutuhkan, UAV ini berubah menjadi UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle), seperti halnya Northrop Grumman Global Hawk dan General Atomics MQ-9 Reaper yang wara wiri melepaskan rudal memburu Al Qaeda dan Taliban di Afghanistan – Pakistan. Peluang terbesar untuk menjadi UCAV di kemudian hari jelas ada di Heron, pesawat buatan Israel ini pasalnya dapat menggotong ‘sesuatu’ hingga bobot 250 kg. Sementara si Wulung hanya bisa menggotong beban 20 – 25 kg.
Penggunaan UAV untuk jangka pendek, lebih ditekankan sebagai langkah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam memantau wilayah-wilayah di perbatasan. Bandingkan dengan pola pengawasan perbatasan selama ini yang mengandalkan tenaga ribuan personel. Sedangkan jika menggunakan pesawat reguler, tetap membutuhkan konsumsi bahan bakar yang tidak sedikit, alhasil pengawasan tidak maksimal. Merujuk pada kemampuan Heron yang bisa mengudara 52 jam non stop sambil mengintai, tentu ini merupakan suatu solusi. Sebagai perbandingan, Wulung bisa mengudara non stop selama 4 jam.

Tidak ada komentar: