Jumat, 28 Agustus 2015

REVOLUSI MENTAL ALA HAKEKAT

Karena saya menemukan kebenaran dari Alkitab, maka Alkitab saya jadikan landasan saya berpikir, berbicara dan bekerja. Dalam kaitan dengan isu revolusi mental hal yang menjadi pokok persoalan adalah mengapa bangsa ini telah menjadi jahat? Dan saya meyakini bahwa setiap perbuatan itu dikendalikan oleh pikiran kita. Ketika pikiran hendak ke sana, maka kaki akan bergerak ke sana. Ketika pikiran hendak mengambil piring, maka tangan akan bergerak mengambil piring. Ketika orang mencuri, itu adalah hasil keputusan bulat pikiran kita. Demikian pula ketika orang melakukan kebaikan adalah hasil pertimbangan pikiran kita.

Apa yang dominan dalam pikiran kita? Jika memori otak kita banyak diisi dengan ajaran-ajaran yang baik, maka kita akan menjadi orang yang baik. Tapi manakala lingkungan pergaulan kita dominan dengan orang-orang yang jahat, maka kita akan cenderung menjadi orang yang jahat. Itulah sebabnya kita membentuk kelompok atau kumpulan. Ada kelompok orang baik dan ada kelompok pemabuk. Orang baik takkan betah tinggal di antara pemabuk, demikian juga pemabuk takkan betah tinggal di lingkungan orang baik.

Jadi, perbuatan sangat bergantung dari pengetahuan kita. Apa yang kita tahu? Jika menghadapi sebuah persoalan, kita akan memecahkannya berdasarkan pengetahuan kita. Orang jahat akan memecahkan persoalannya secara jahat karena itulah perbendaharaan otaknya. Demikian pula dengan orang baik.
Nah, apa yang Alkitab terangkan tentang pengetahuan?

Amsal 1:7      Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh
                 menghina hikmat dan didikan.

Takut akan TUHAN harus merupakan dasar pengetahuan kita. Orang pintar matematika, pintar kimia, pintar komputer jika tidak dilandasi dengan takut akan TUHAN jadinya adalah orang-orang yang bermoral bejat. Sebab ilmu pengetahuan itu berbeda dengan moral. Ilmu pengetahuan itu untuk mengenal materi, sedangkan moral itu untuk mengenal apa yang baik dengan apa yang jahat, apa yang salah dengan apa yang benar. Dan kita sedang membicarakan masalah moral, bukan masalah ilmu pengetahuan. Kalau ilmu pengetahuan terkotak-kotak berdasarkan bidangnya, tapi moral harus meliputi semua orang. Sebab moral bersentuhan dengan hukum yang konsekwensinya hukuman, baik dunia maupun akherat.

Jika dasar moral adalah takut akan TUHAN, maka segala teori pikiran manusia yang tidak dikaitkan dengan TUHAN, akan sia-sia. Takkan berhasil!

Jika TUHAN itu seperti kamera CCTV yang mengintai perbuatan kita secara diam-diam, jika kita tak mengetahui kalau di ruangan itu ada kamera CCTV-nya, maka kita tak merasa takut untuk mencuri sebab kita yakin aman-aman saja. Berbeda dengan orang yang tahu seluk-beluk ruangan itu yang berkamera CCTV, pasti orang akan berhati-hati.

Karena itu yang perlu ditanamkan ke dalam pikiran orang adalah keberadaan TUHAN. Keberadaan TUHAN tidak boleh sekedar suatu keyakinan yang tidak jelas, melainkan harus sejelas-jelasnya dia ketahui. Kita harus sanggup membuat orang melihat TUHAN tanpa sosok TUHAN, seperti merasakan angin tanpa wujud angin.

Karena selama ini keberadaan TUHAN hanya diterima sebatas keyakinan, belum diterima secara logika, maka kita harus mendesak logika untuk menerima keberadaan TUHAN. Kita harus desak atau paksa orang untuk membuktikan ketidakberadaan TUHAN. Semua orang harus kita posisikan sebagai orang yang atheis yang tidak mempercayai keberadaan TUHAN. Kita harus ajukan pertanyaan kepadanya: buktikan menurutmu TUHAN itu tidak ada? Di sini dari seribu orang pasti akan timbul seribu pendapat. Nah, kita harus bisa menjawab semua pendapat orang itu dengan pembuktian TUHAN itu ada.

Kegagalan kita membuktikan keberadaan TUHAN, maka akan menggugurkan program-program kita yang berikutnya. Tapi jawaban yang rasional akan menepiskan keragu-raguan orang. Pada saat itu mulailah tertanam keyakinan rasionalnya bahwa TUHAN itu ada sekalipun tidak kelihatan.

Nah, hal ini adalah pekerjaan dan kewajiban saya dan saya sanggup menjawabnya. Karena itu jika disediakan biaya operasional, saya bisa melanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya. Untuk itu biarlah tulisan ini anda kaji dan anda uji lebih dahulu, apakah merupakan sebuah teori yang rasional atau tidak. Silahkan anda mengujinya ke saya: hakekathidupku@yahoo.co.id,

Tidak ada komentar: