Kamis, 27 Agustus 2015

TENTANG KOTA TARAKAN

Jokowi berkata tentang kota Tarakan:

Namun ada sebuah kisah lokal yg sukses terjadi di Tarakan Kalimantan Utara
Sebuah pulau kecil di tengah laut salah satu batas paling utara Indonesia.
Meski terpencil dan terluar, Tarakan mampu menyediakan fasilitas dan infrastruktur yg baik tanpa banyak dibantu Pemerintah Pusat.
Puskesmas bersertifikat internasional lengkap dengan fasilitasnya.
Begitu pula dengan listrik yg mengalir 24 jam, bahkan rakyat rela membayar lebih tinggi untuk listrik tersebut.

Nah, semangat Tarakan ini harus menjadi contoh bagi daerah lain,
dan Negara wajib mendukung inspirasi dari Tarakan ini!!!!


Tapi lihat dulu, seperti apa kondisi kota Tarakan itu?

https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan

Kota Tarakan adalah kota terbesar di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia dan juga merupakan kota terkaya ke-17 di Indonesia.

http://tarakankota.go.id/in/Sekilas_Tarakan.php?op=detil&mkode=pertumbuhanekonomi

 Berdasarkan tahun dasar 2000, pada periode tahun 2001 � 2004 pertumbuhan ekonomi Kota Tarakan tanpa Migas berturut-turut adalah 10,72%, 8,65%, 12,71%, 7,87%, jadi selama 4 tahun terakhir Kota Tarakan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 8,98% pertahunnya.
Struktur perekonomian Kota Tarakan berdasarkan nilai PDRB atas dasar harga yang berlaku pada tahun 2004 masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (42,16%), dan sektor industri pengolahan (15,59%). Sementara kontribusi sektor lain secara berturut-turut berasal dari sektor pengangkutan dan komunikasi (8,73%), keuangan, persewaan, jasa perusahaan dan perikanan (9,77%), bangunan (5,27%), pertambangan dan galian (5,98%). Dari struktur perekonomian terlihat jelas bahwa Kota Tarakan merupakan kota jasa.

Adapun nilai PDRB Kota Tarakan yang memperlihatkan nilai tambah dari seluruh barang dan jasa yang tercipta di Kota Tarakan dari aktivitas ekonomi selama satu tahun, pada tahun 2004 sudah mencapai Rp.2,4 trilyun, yang mengalami peningkatan sangat berarti hampir dua kali lipat dari tahun 2000 yang baru mencapai Rp.1,25 trilyun.


Kota terkaya ke-17 di Indonesia adalah bukti kemakmuran kota tersebut. Bagaimana hendak ditiru oleh kota-kota lainnya yang miskin, yang penduduknya sengsara oleh kebijaksanaan Jokowi menaikkan harga BBM?

Kalau mau menaikkan harga BBM, bikin kaya dulu rakyatnya, supaya kenaikan itu tidak memberatkan dan tidak menimbulkan kepanikan masyarakat. Jangan ngawur kayak orang buta atau orang idiot.

Jadi, revolusi mental mandiri secara lokal meski minim dukungan pusat ini, hampir mustahil untuk diterapkan secara menyeluruh ke seluruh Indonesia selama kemiskinan semakin ditambah-tambah.

Tidak ada komentar: