Sabtu, 15 Agustus 2015

Tiga Sinyalemen Jokowi Ingin Berangus Kebebasan Pers

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/08/15/nt3tm7349-tiga-sinyalemen-jokowi-ingin-berangus-kebebasan-pers

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk tidak main-main dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi warga negara. Karena itu, AJI menyampaikan tiga sinyalemen yang memperlihatkan kecenderungan Jokowi akan mengekang kebebasan berpendapat serta kebebasan pers

Ketua Umum AJI Suwarjono menyatakan, pertama, melalui draf rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang akan diajukan pemerintah ke Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan menghidupkan lagi pasal penghinaan kepala negara yang sudah dihapus melalui keputusan Mahkamah Konstitusi.

“Korban pertama bila pasal tersebut kembali diberlakukan adalah pers. Pasal penghinaan kepala negara ini lentur dan bisa ditafsirkan dengan sesuai keinginan. Bila ada narasumber atau media kritis, dengan mudah penguasa membungkam,” kata Suwarjono, Sabtu (15/8).

Jono sapa akrabnya, mengatakan, atas upaya pemerintah memasukkan kembali pasal penghinaan kepala negara ini,  AJI prihatin dan mendesak agar DPR dan pemerintah tidak membahasnya. Bila tetap dibahas, ini merupakan langkah mundur dan bisa berakibat buruk bagi kelangsungan demokrasi.

Sinyalemen kedua, kata Jono, pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika, juga tidak berupaya menghapus kriminalisasi atas kebebasan berpendapat di ranah Internet. Draf revisi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang disusun Kemenkominfo masih memuat ancaman pemidanaan terhadap kebebasan berpendapat, tidak menghapuskan seperti yang didesakkan oleh masyarakat sipil.

“Pasal pidana sebaiknya disinkronkan dengan Rancangan KUHP yang akan dibahas DPR, sehingga semua materi di UU yang terkait pidana, cukup di KUHP,”kata Suwarjono.

Sinyalemen ketiga,  Jono melanjutkan, dari upaya Jokowi membelenggu kebebasan berpendapat adalah seperti disinggung dalam pidatonya  di depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Jumat 14 Agustus 2015. Presiden  Jokowi berpidato “Lebih-lebih, saat ini ada kecenderungan semua orang merasa bebas, sebebas-bebasnya, dalam berperilaku dan menyuarakan kepentingan. Keadaan ini menjadi semakin kurang produktif ketika media juga hanya mengejar rating dibandingkan memandu publik untuk meneguhkan nilai-nilai keutamaan dan budaya kerja produktif.”

Meski tidak eksplisit, kata Jono, Jokowi menempatkan dua pernyataan tendensius dalam satu paragraf yang sama.  Sehingga mengesankan semua media, termasuk yang sungguh-sungguh bekerja melayani publik, sebagai kambing hitam.


AJI: Jokowi Anugerahi Media yang Jadi Musuh Besar Pers

 http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/08/15/nt3vv4349-aji-jokowi-anugerahi-media-yang-jadi-musuh-besar-pers

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Suwarjono menilai Presiden Jokowi bersikap hipokrit dengan pernyataannya yang diucapkan terkait pemberitaan media. Sebab sehari sebelum Jokowi berpidato, ia telah menganugerahkan penghargaan Bintang Mahaputra Utama kepada Surya Paloh, pemilik stasiun televisi MetroTV.

Padahal, lanjut Suwarjono, tahun 2014 lalu AJI mengumumkan bahwa penanggung jawab redaksi stasiun televisi Metro TV yang dimiliki Surya Paloh itu sebagai Musuh Kebebasan Pers. Menurut AJI, pemilihan Surya Paloh menjadi preseden buruk atas sikap negara terhadap kebebasan pers dan independensi ruang redaksi di Indonesia.
Surya Paloh turut mewarnai wajah buram keberpihakan media saat pemilihan umum 2014.

Tidak ada komentar: