Selasa, 25 Agustus 2015

UMUR PERKAWINAN MENURUT ALKITAB

Alkitab tidak menetapkan batasan usia perkawinan. Kira-kira mengapa TUHAN tidak mengatur batasan usia perkawinan?

1. Sebab secara alamiah TUHAN sudah memberikan batasan yang jelas antara anak-anak
    dengan anak menginjak dewasa; misalkan menstruasi.

     Tanda-tanda kedewasaan oleh TUHAN sudah dilekatkan dengan alat kelamin kita, seperti:
     tumbuhnya bulu kelamin, mimpi basah, timbulnya hawa nafsu maupun menstruasi.

     Secara kedokteran juga dinyatakan itu sebagai tanda permulaan kesiapan hubungan biologis.

     Pengalaman saya sendiri: seingat saya, ketika masih SD tak ada pikiran seksual sama sekali.
     Itu baru muncul ketika saya SMP, kira-kira bersamaan dengan tanda kedewasaan itu.
     Sedangkan saat tua sekarang ini kalau melihat gadis-gadis belia yang timbul adalah kasihan,
     bukan nafsu. Pikiran saya seperti terhadap anak-anak saya sendiri. Karena itu saya tak habis
     pikir jika mendengar ada orang yang bisa mengawini gadis yang selisih usianya banyak, lebih-
     lebih dengan kanak-kanak. Gila sekali itu!

     Dan ketidaknormalan itu terbukti dari pelaku-pelaku keanehan itu memang jenis orang-orang
     yang tidak normal. Perilaku hidupnya memang aneh. Itulah sebabnya dibuatkan istilah khusus,
     seperti: pedofil. Sebab kalau bukan pedofil tak mungkin mempunyai pikiran seperti itu.

2. Alkitab ditulis dalam kurun 1600 tahun dengan memuat ribuan kisah dosa umat manusia.
    Catatan tentang kejahatan seksual ada banyak, seperti sodomi, homoseks, poligami,
    maupun pemerkosaan. Namun tentang hubungan seks dengan anak dibawah umur rasanya
    koq tidak ada.

    Baiklah saya yakin bahwa sebenarnya ada kasusnya namun tidak dituliskan ke dalam
    Alkitab. Itu menyatakan bahwa ALLAH sengaja menandai kehadiran Muhammad.
    Alkitab sengaja dibersihkan dari kasus itu supaya tak ada bukti, supaya orang-orang
    Kristen mewaspadai kehadiran Muhammad, seorang nabi yang aneh.

    Nabi dari bangsa asing[Arab], nabi satu-satunya, buta huruf, berbicara tanpa bukti,
    bekerja tanpa saksi, nabi tanpa mukjizat, doyan perang, doyan kawin, doyan janda
    dan doyan anak-anak kecil. Masihkah ada orang yang mau ikut dan mempercayai
    nabi yang seperti ini? Betapa terlalunya.


Berdosakah mengawini anak-anak jika itu tidak ada peraturannya dalam Alkitab?

1. ALLAH sudah membuat perbedaan alamiah antara anak-anak dengan anak dewasa,
    tidakkah itu sudah merupakan isyarat antara mana yang diperbolehkan dengan mana
    yang tidak diperbolehkan?

2. Terbukti orang yang mengawini anak-anak itu sebagai suatu kelainan kejiwaan, suatu
    penyimpangan.

3. Tingkatan derajat Kekristenan itu di atas Keyahudian, yaitu: rohaniah, bukan lagi
    keduniawian. Orang Kristen adalah hamba ALLAH, bukan hamba seks.

4. Melalui kisah Rut, secara tersirat sudah masuk ke dalam tradisi Yahudi;

Rut mempunyai menantu perempuan bernama: Naomi. Suami Rut sudah meninggal, begitu pula dengan suami Naomi. Seandainya Rut mempunyai anak laki-laki yang lain, pasti itu akan diberikan kepada Naomi. Karena tidak punya maka Rut menyuruh Naomi pergi ke kampung halamannya supaya mencari suami di sana. Tapi Naomi tidak mau meninggalkan mertuanya itu. Maka Rut mengambil perumpamaan, seumpamanya dirinya hari ini kawin dan beranak laki-laki, masakan Naomi akan menunggu sampai anak itu dewasa? Itu perkawinan ipar yang merupakan tradisi Yahudi, merupakan perintah ALLAH. Bahwa kalau seorang istri kematian suaminya, maka adik suami itu wajib mengawini perempuan tersebut supaya bisa melestarikan nama keluarga tersebut.

Rut 1:12        Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk 
                 bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun 
                 malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan 
                 anak laki-laki,
      1:13        masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena 
                 itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya 
                 demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami 
                 dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"

Saya tidak mau berandai-andai. Karena itu saya tidak berani menyatakan itu berdosa atau tidak berdosa. Tapi yang jelas untuk diri saya sendiri, saya tidak berani berspekulasi untuk melakukannya. Jika saya butuh kawin, biarlah saya kawin yang tidak menimbulkan keanehan, yang tidak sampai membuat orang mengerutkan keningnya. Pak Hakekat kawin dengan gadis belia yang selisihnya banyak? Pak Hakekat kawin dengan anak dibawah umur? Hiiiiii...............!

Tidak ada komentar: