Selasa, 29 September 2015

2.737.500 KALI

Sehari 5 kali, setahun 365 hari, maka 1.500 tahun dari sejak Muhammad, melalui speaker TOA kita telah dijejali untuk mendengarkan ajaran yang salah sebanyak 2.737.500 kali. Tepat seperti kata menteri propaganda Nazi, jika suatu kesalahan diajarkan secara terus-menerus maka itu akan dianggap sebagai kebenaran. Dan seperti buah mangga yang sudah terlanjur menjadi pohon, demikianlah kesalahan yang dianggap kebenaran itu sukar dicabut seperti penyakit kanker stadium 4, kaum Muslimpun berkata: "Gue cinta mati pada Muhammad."

BAGAIMANA KEBOHONGAN DIJADIKAN KEBENARAN?

Al Qur'an tidak mengatakan bahwa semua orang Islam pembohong, tapi tidak menutup kemungkinan adanya orang Islam yang bohong. Dulu ketika saya masih kecil, banyak orang Arab WNI yang berbisnis dan bisa mengimbangi bisnis WNI keturunan China. Mereka berkecimpung dibidang tenun, batik, toko bahan bangunan, toko buku agama, toko minyak wangi, dan lain-lainnya. Namun coba lihat sekarang dimana orang-orang Arab itu berada? Kini mereka tersisihkan. Dan jika kita berjalan-jalan di mall-mall, nyaris tak kita jumpai orang Arab, seperti telah musnah ditelan bumi. Kenapa? Sebab mereka terkenal pembohong!

Dulu toko-toko China paling enggan berhubungan dengan haji-haji Muslim. Kenapa? Sebab jika mereka berutang bayarannya hanya: "insyaallah." Syukurlah sekarang zaman sudah berubah. Pribumi saat ini sudah mulai bisa mengejar ketertinggalannya. Banyak yang sudah sukses sehingga mereka bisa lebih jujur dan kini bisa menjadi seperti keluarga bagi WNI China. Tapi, jangan lupa bahwa korupsi pejabat-pejabatnya begitu merajalela, sehingga menteri agamapun sampai mendekam di penjara. Benarlah kata Al Qur'an bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” - QS. 24:11. Maksudnya, jangan takabur merasa diri sebagai yang terhebat. 

Menteri Propaganda Nazi pada zaman Hitler, mengatakan: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. 

Rupanya, tidak semua "kebenaran" itu benar. Ada kebenaran palsu yang berasal dari kebohongan yang ditanamkan secara berulang-ulang. Contohnya? Pernah mendengar nama Aristoteles? 

Cerita-cerita dongeng dengan mudah diterima sebagai kebenaran bila hal itu telah lama berada di antara kita. Misalkan saja laba-laba. Sekitar tahun 350 S.M., Aristoteles, filsuf Yunani, mengelompokkan laba-laba itu sebagai serangga berkaki enam. Sejak itu, selama 20 abad, orang mempercayai bahwa laba-laba berkaki enam. Tak seorang pun yang peduli untuk menghitungnya. Lebih daripada itu, siapa yang mau menantang Aristoteles yang hebat itu?
Datanglah Lamarck, seorang ahli ilmu hayat dan pencinta alam. Ia menghitung dengan teliti kaki laba-laba. Cobalah terka, berapakan jumlah kaki laba-laba. Tepatnya adalah delapan! Cerita dongeng yang selama ini sudah diajarkan sebagai kebenaran untuk berabad-abad lamanya diruntuhkan karena Lamarck mau menghitungnya.
Dari sini kita diajarkan untuk mengejar bukti, bukan menerima begitu saja hal-hal yang tidak berdasarkan bukti yang nyata. Dalam setiap mendengar perkataan orang harus kita tanyakan: "Dasarannya?" Lalu, siapa yang mengatakannya? Orang biasa atau nabi? Manusia atau TUHAN?

Dan seorang pakar Islam membukakan kebohongan-kebohongan dalam hadist yang dianggap shahih;

Meninjau Kembali Kisah Isra Miraj Rasulullah

http://kanzunqalam.com/2011/10/09/meninjau-kembali-kisah-isra-miraj-rasulullah/


Umumnya para penceramah menerangkan hikmah dari peristiwa Isra’ Miraj adalah turunnya perintah sholat 5 waktu. Hal tersebut berdasarkan sebuah hadits isinya cukup panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 234 dari jalan Anas bin Malik.
Namun benarkah demikian ?
Melalui penelaahan hadits, secara riwayat adalah shahih karena terdiri dari para perawi yang tsiqoh(dipercaya). Akan tetapi secara matan (isinya) sebagian bertentangan dengan Al Quran dan hadits lainnya yang shahih.
Dengan demikian kedudukan hadits tersebut adalah dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita – cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil, yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka, serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.
Selengkapnya bisa dibaca disini:
http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2015/08/huahaha-wajib-baca-nih.html

Tidak ada komentar: