Kamis, 24 September 2015

BAGAIMANA MENGKRITISI KITAB SUCI - 2

Kalau kita mau mengkritisi kitab suci, itu harus di awal jangan di tengah jalan, sama seperti kita mempertimbangkan seseorang menjadi suami atau istri kita itu di saat masih pacaran kita menilai-menilainya, jangan menilai pasangan kita setelah memasuki perkawinan. Pada saat awal itulah kita boleh bertanya apa saja tentang KEALLAHAN dan itu halal, tidak dianggap berdosa. Tapi setelah kita melangkah pada percaya dan pengakuan DIA adalah PEMIMPIN/TUHAN kita, maka pada saat itulah kita menempatkan diri kita sebagai murid atau anak buah.

Kita manusia sejak semula dididik oleh ALLAH untuk dihadapkan dengan 2 perkara; yang baik dengan yang jahat, yang halal dengan yang haram, yang pantas dengan yang tidak pantas. Di antara ke-2 hal itulah akal pikiran kita harus bermain untuk menemukan kebenarannya.

Kejadian 3:22     Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi 
                     seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; 
                     maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan 
                     mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, 
                     sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Sebagai manusia kita memang hidup di dua alam; alam nyata dan alam tidak nyata, alam yang kelihatan dengan alam yang tidak kelihatan, jasmani dan rohani, antara logis dengan yang tidak logis, antara fakta dengan kepercayaan. 

TUHAN menuntut keimanan kita, yaitu mempercayai pada hal-hal yang masih berupa janji ALLAH, hal-hal yang masih belum berbukti nyata. Justru TUHAN menolak kita jika kita baru percaya setelah melihat;

Yohanes 20:29    Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka 
                        engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, 
                        namun percaya."

Dan kepercayaan itu berkaitan erat dengan masalah hubungan; seperti apakah hubungan kita dengan seseorang itu bisa dilihat dari seberapa kita mempercayainya. 

Bagaimana anda meminjamkan barang berharga anda, misalnya: mobil, jika kepada orangtua, saudara, anak, istri, sahabat dan teman dekat? Apakah perlu akta notaris? Tapi bagaimana jika yang hendak meminjam mobil itu orang yang barusan anda kenal?!

Bisa anda membayangkan betapa rumitnya hidup ini jika kita tak mempunyai rasa percaya pada siapapun? Orangtua tak kita percayai, istri dan anak-anakpun tidak. Seperti apakah hidup anda jika logika yang anda kenakan?! Tidakkah hidup akan lebih bebas dan berbahagia jika kita bisa mempercayai semua orang?! Pergi, rumah tak perlu dikunci?!

Jadi, naif sekali jika kita hendak memperlakukan ALLAH dengan pendekatan logika semata-mata. Kita bisa habisi Alkitab di ayat yang pertama-tamanya;

Kejadian 1:1    Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Mari kita gunakan nalar kita; kapan itu? Tanggal berapa? Siapa yang menyaksikannya? Adakah tercatat dalam literatur sejarah manusia? Apakah ada bukti arkeologis? Atas dasar apa kalimat itu dibuat?

Habislah Alkitab, Atheislah kita. Itu bukan masalah jika konsep berpikir kita itu benar. Tapi apakah benar konsep berpikir yang seperti itu? Sebab bagaimana kita hendak meminta kejelasan ALLAH, jika kita sendiri hidup dari ketidakjelasan?! Satu jam lagi kita akan menjadi apa, tak jelas! Bahkan, jangankan satu jam, satu menitpun kita tak berkuasa apa-apa?! 

Yesaya 45:9    Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak 
                     lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada 
                     pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah 
                     dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!"

Yeremia 2:29   Mengapakah kamu mau berbantah dengan Aku? Kamu sekalian 
                    telah mendurhaka kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.

Jadi, durhaka sekali jika kita hendak berbantah dengan TUHAN itu. Kita harus belajar rendah hati untuk mau menerima, bukan terus-menerus berupaya menolak. 

Tidak ada komentar: