Rabu, 23 September 2015

ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

JAWABAN SAYA:

Saudara "yangsetiadanbenar" bermaksud menerangkan tentang kasih ALLAH ar rahman ar rahim, ALLAH Islam kepada dunia. Pengutusan Muhammad adalah wujud dari kasih ALLAH akan dunia ini. Tentu saja saya menjadi teringat pada catatan rasul Yohanes yang dituliskan lebih tua 500 tahun dari kelahiran Islam;

Yohanes 3:16       Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah 
                             mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang 
                             yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup 
                             yang kekal.

Itulah bunyi kasih YAHWEH, ALLAH Israel. Dan inilah bunyi kasih ALLAH Islam, ALLAH-nya Muhammad;

"Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia yang akan diaplikasikan dan direalisasikan olehnya dan pengikutnya dengan mengasih sayangi sesama manusia, terhadap sesama mahkluk serta alam sebagai penopang kehidupan ini."

Jika kasih YAHWEH tertulis dalam Alkitab, kasih ALLAHnya Muhammad ini dituliskan di luar Al Qur'an, alias nggak ada ayatnya.

DUA ALLAH; ALLAH Israel dengan ALLAH Arab, saling bersaing dalam mempromosikan kasih. Kita perlu menyaksikan dan menyimak manakah kasih yang sejati dan manakah kasih yang palsu. Seperti apakah kasih yang sejati itu dan seperti apakah kasih yang tiruan itu.

YAHWEH mengutus YESUS, sedangkan ALLAH mengutus Muhammad;
Siapakah YESUS sebelum dilahirkan ke dunia oleh Maria? YESUS adalah ANAK ALLAH yang berkedudukan di sorga. YESUS - ANAK ALLAH itu ketika diutus YAHWEH turun ke dunia, DIA melepaskan dan meletakkan seluruh kemuliaanNYA di sorga dan bersedia dijadikan KOSONG! Segala kemuliaannya rela dihanguskan, sehingga DIA bukan apa-apa lagi, melainkan seorang janin manusia lemah yang dititipkan di rahim Maria.

YESUS yang Mahasuci itu siap dicemari oleh segala dosa manusia. DIA memposisikan DiriNYA seperti magnet yang menarik logam-logam yang di sekitarnya, sehingga DiriNYA seluruhnya adalah DOSA. Nah, dosa yang dibawa YESUS itu dibersihkan dengan darahNYA. Darah itulah yang membersihkan dosa kita. Bukan kematianNYA. Kematian adalah tanda pencurahan darahnya secara sempurna atau totalitas. Bahwa YESUS mengucurkan darah bukan sekedar tangannya tergores paku, namun lebih dari itu yaitu menyerahkan seluruh hidupNYA.

Jadi, titik penebusan atau KEJURUSELAMATAN YESUS itu terletak pada pencurahan darahNYA, bukan pada kematianNYA. Kematian adalah tanda bagi pencurahan darahnya. Itulah sebabnya kita memperingati darahNYA dengan minuman anggur perjamuan;

Matius 26:28      Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi 
                            banyak orang untuk pengampunan dosa.

Ibrani 9:22        Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan 
                          darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. 

Jadi, kedatangan YESUS ke dunia sudah dirancang YAHWEH jauh-jauh hari dengan maksud dan tujuan yang jelas, yakni untuk menjadi JURUSELAMAT dunia.

Pada saat YESUS mati itulah seluruh dosa umat manusia, mulai dari Adam hingga manusia terakhir yang lahir di hari kiamat, dosa kita yang kemarin, yang sekarang, termasuk yang akan datang sudah dibersihkan. Dosa bangsa Israel, bangsa Arab, orang India, China, Negro, dosa anda dan dosa saya sudah dibersihkan pada saat itu, 2.000 tahun yang lalu. Jadi, YESUS tidak membersihkan dosa kita secara berkali-kali, tetapi sekali untuk seluruhnya dan semuanya.

Oh, apakah berarti saya sudah suci? Tidak! Dosa saya masih ada lengkap mulai dari bayi hingga tua sekarang ini masih tetap menempel ke diri saya dan masih akan bertambah dari waktu ke waktunya. Begitu pula dengan dosa setiap orang masih ada pada masing-masing orangnya. Tapi semua orang sudah dalam keadaan siap diselamatkan sekalipun dosanya semerah kain kirmizi. Pada saat kita mati itulah kita akan dinilai apakah layak diselamatkan ataukah tidak layak. Jika dianggap tidak layak, maka seluruh dosa kita masih tetap utuh tak ada pengurangan sedikitpun. 

Dalam konsep Kristen, dosa itu ada dan nyata, bukan disemukan sebagaimana konsep Islam. Kalau Islam, jika kita berdosa, minta ampun, maka dosa kita dihilangkan. Dosa menjadi fiktif keberadaannya. Tapi dosa Kristen itu berujud YESUS KRISTUS! Ada ujudnya dosa. Jadi, kalau kita ditanya: Apakah dosa itu? Maka kita tinggal menunjuk pada kematian YESUS. "Itulah dosa!" YESUS itulah dosa! Sebagaimana ada tertulis: 

Galatia 3:13     Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
                         menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang
                         yang digantung pada kayu salib!"

Kasih ALLAH pada kita itu nyata, bukan fiktif, bahwa YAHWEH telah memberikan PUTERA terbaikNYA; YESUS KRISTUS kepada kita. Yang YAHWEH berikan adalah Seorang Terkemuka di dunia dan di akherat, Seorang yang sempurna, Seorang yang Mahasuci, bukan seorang manusia biasa, bukan seorang manusia hasil perkawinan suami-istri, bukan seorang yang buta huruf, juga bukan seorang yang mengumbar nafsu syahwatnya, bukan seorang yang 27 kali memimpin perang dan melakukan rampasan perang baik harta maupun jandanya. Tapi Seorang YESUS KRISTUS yang Luarbiasa!

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Dari: yangsetiadanbenar@gmail.com;

☆Kenapa wajib menjadi " ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN " ? ☆
Audzubillahi minasyaitan nirrajim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wal'ashr. Innal- nsaana lafii khusr illaalladziina aamanuu wa'amiluu shshaalihaati watawaasaw bilhaqqi watawaasaw bishshabr (Al-'Ashr)
Islam (Arab: al-islām, الإسلام  "berserah diri kepada Allah")
Islam berasal dari kata Arab "aslama-yuslimu-islaman" yang secara kebahasaan berarti "menyelamatkan", misal teks "assalamu alaikum" yang berarti "semoga keselamatan menyertai kalian semuanya" atau kedamaian,  Islam atau Islaman adalah masdar (kata benda) sebagai bahasa penunjuk darifi'il (kata kerja" bermakna telah selamat (kala lampau) dan "yuslimu" bermakna "menyelamatkan" (past continous tense).
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS Ali Imran: 110)
Rahmatan lil Alamin.
105. Dan sungguh telah Kami tulis didalam Kitab terdahulu,  sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.
106. Sesungguhnya ini adalah, benar-benar menjadi peringatan/pengingat bagi hamba-hamba Allah.
107. “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta”(QS. Al Anbiya: 105- 107)
Secara bahasa, rahmat artinya ar-rifqu wath-tha’athuf; yang artinya adalah kasih, kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia yang akan diaplikasikan dan direalisasikan olehnya dan pengikutnya dengan mengasih sayangi sesama manusia, terhadap sesama mahkluk serta alam sebagai penopang kehidupan ini.
Jika Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta ini, maka:
Maka pantaskah,  jika ada oknum-oknum, golongan-golongan atau yang sejenisnya  yang mengaku-ngaku pengikut Nabi Muhammad dan mengaku beragama Islam tetapi keberadaan mereka justru menjadi Laknat bagi alam semesta yang dalam kehidupannya mereka hanya gemar membuat kerusakan-kerusakan dan pertumpahan darah sesama manusia dimuka bumi ini?
Sebab pilihannya hanya ada dua yaitu:
1. Apakah keberadaan kita menjadi rahmat yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Tunggal/Satu/Sendiri tanpa sekutu dan rasul-rasulNya serta berbuat kebajikan-kebajikan dan mengadakan perbaikan-perbaikan dan menyambung silaturahim dan menjaga serta  menghargai kehidupan ini, dll.
2. Atau  Apakah keberadaan kita justru menjadi laknat dan perusak" hama" yaitu hanya membuat keonaran dan kerusakan-kerusakan dimuka bumi ini. Baik itu kerusakan moral, akidah, ibadah, silaturahim, keturunan, lingkungan, dll serta membuat teror, dll, Hingga pertumpahan darah antar sesama manusia.
Jawabannya,  tentu tidak, setiap orang-orang yang membuat kerusakan-kerusakan dan pertumpahan darah dimuka bumi ini, tanpa alasan yang diridhai oleh Allah dan tidak mau bertaubat, sesungguhnya mereka bukan pengikut Nabi Muhammad dan bukan hamba-hamba Allah dan bukan berada dijalan Islam Rahmatan lil Alamin "beragama Islam", mereka  hanya mengaku-ngaku saja atau pecundang, musuh dalam selimut bagi Islam, merusak nama baik, demi kepentingan dan kekuasaan individu atau golongan, dan bersifat kepentingan2 nafsu duniawi saja.
Sesungguhnya ibadah-ibadah ritual itu semua harusnya membentuk karakter yang terpuji yang membuahkan kasihsayang bagi sesama. bukan justru menimbulkan perselisihan atau pertikaian antar sesama umat Islam, dll.
Sebab secara tidak langsung sesungguhnya setiap diri siapa saja yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad dan beragama Islam, mereka itu adalah  hamba-hamba Allah yang diutus atau duta-duta, pewaris Al Qur'an yang  mengemban misi untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, sebab setiap diri adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban dari setiap perbuatan-perbuatannya dan akan diberi balasan oleh Allah.
Makna Rahmatan Lil Alamin itu bukan hanya untuk Nabi Muhammad Saw saja tetapi juga diwariskan dan wajib dimiliki oleh pengikut-pengikutnya, sebagai pengemban Risalah Rahmatan lil Alamin. Sebab siapa saja yang tidak mau menjadi Rahmat bagi sesama maka otomatis tentu dia akan menjadi laknat dan musibah bagi sesama dan alam ini. Maka laknat Allah dan seluruh makhluk pun akan tercurah atasnya.
– Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)
Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri (Zholimun linafsih )  dan di antara mereka ada yang punya maksud tertentu (Muqtashid ), dan di antara mereka ada (pula) yang berpacu dalam berbuat kebaikan  ( Saabiqu’m bi’l khairat ) dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.(Q.S.35/Al-Fathir : 32 )
3 (Tiga) Golongan pewaris Al Qur’an.
1. Golongan yang dhalim. Golongan ini adalah golongan yang menganiaya diri dan orang lain. Mereka beranggapan bahwa Al Qur’an tidak lagi sesuai dengan zaman modern, sehingga mereka meninggalkan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Mereka selalu berbuat kemungkaran.
2. Golongan kedua adalah golongan yang diam. Mereka menjadikan Al Qur’an hanya sebagai nyanyian, hiburan dan bahan olok-olokan, dibaca hanya sebatas tenggorokan tetapi hatinya tidak mengerti dan memahami apa yang dibaca/ucapkannya, dan padahal Al Qur'an itu wajib untuk dipahami guna sebagai pedoman dalam pengamalan-pengamalan yang menyelamatkan dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain juga,  dalam meniti rentang waktu hidup yang dijatahkan kepadanya.
Dan dalam kehidupannya mereka juga acuh tak acuh terhadap kejahatan yang terjadi. Mereka beranggapan bahwa yang berbuat jahat kan bukan saya, tapi mereka. Jika kedua golongan ini diibaratkan dalam sebuah perahu besar, maka golongan 1 adalah mereka yang melubangi perahu, sementara golongan yang mendiamkan atau yang (ke-2) ini adalah golongan yang tidak mencegah golongan (ke-)1 melubangi perahu. Akibatnya, mereka sama-sama tenggelam.
3.Golongan ketiga adalah golongan yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya, dan mereka mengajak kepada kebenaran/kebaikan dan mereka mencegah kemungkaran sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Perumpamaan Al Qur'an itu adalah "Rumah besar yang Terang"  bagi Umat Islam dan Umat Manusia dan Sunnah Nabi seumpama Perahu, maka berlayarlah menggunakan perahu itu menuju dan masuk kedalam "Rumah besar" itu
Maka barang siapa yang didalam hatinya memahami dan mengamalkan Firman Allah dalam Al Qur'an sesungguhnya mereka telah ada dan berada didalam "Rumah besar nan Terang"  itu, Namun bagi mereka yang tidak mengerti dan memahaminya sesungguhnya mereka berada diluar "Rumah besar" itu!  Mereka berada dalam kegelapan, kepanikan, hidup sempit, menderita, dll dan Pastilah mereka akan senantiasa berada dalam ketakutan dan berduka cita.
1.   Firman Allah “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tentu tidak akan ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita”  (QS Al Baqarah 2 : 38).
2.    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in (orang-orang yang menyimpang dari ajaran nabi-nabi dahulu), barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal salih, mereka akan menerima pahala di hadirat Rabb mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka dan tidak (pula) berduka cita. (QS Al Baqarah 2 : 62).
 Syarat bagi empat golongan tersebut ialah,  bila  mereka  beriman  kepada  Nabi Muhammad saw. dan melaksanakan ajarannya. Perhatikan  “Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja(diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” QS  Al  Maidah  5 : 69).
3.      Sebenarnyalah, siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang  dia  berbuat  kebaikan  maka  baginya pahala pada hadirat Rabbnya,  dan  tidak  ada  ketakutan atas mereka dan mereka tidak berduka cita (QS Al Baqarah 2 : 112).
4.      Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (QS Al An’am 6 : 48).
5.      Orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, kemudian tidak diiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberian dan yang menyakiti hati, mereka diberi pahala dari hadirat Rabb mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak berduka cita  (S Al Baqarah 2 : 262).
6.      Orang-orang yang menafkahkan hartanya pada waktu malam dan siang, dengan tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat ganjaran dari Rabb mereka, dan mereka tidak takut dan mereka tidak berduka cita  (S Al Baqarah 2 : 274).
7.      Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, mereka memperoleh pahala dari hadirat Rabb mereka, dan tidak ada ketakutan terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita  (S Al Baqarah 2 : 277).    
8.      Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di hadirat Rabb mereka diberi rizki, mereka bergembira dengan karunia Allah yang Dia limpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa mereka tidak merasa takut dan mereka tidak berduka cita (S  Ali ‘Imran  3 : 169 – 170).
9.      Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak berduka cita. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka adalah  orang-orang  yang  berbakti, Bagi  mereka kegembiraan  di dalam  kehidupan  dunia  dan  di  akhirat.  Tidak  ada  perubahan bagi kalimat-kalimat  Allah. Yang  demikian  itu  kemenangan yang besar (QS Yunus 10 : 62 – 64).
10.  Hai  hamba-hamba-Ku, tiada ketakutan bagi kamu hari ini dan tiada (pula) kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang berserah diri.  (QS Az Zukhruf 43 : 68 – 69).
11.  Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb~Tuan~Pemilik kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqamah (konsisten), maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) berduka cita.  (QS  Al Ahqaf  46 : 13).
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan bakti, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan berbaktilah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Ma’idah : 2).
Banda Aceh, 23 September 2015.
Oleh: hamba Allah.

Tidak ada komentar: