Rabu, 02 September 2015

KEPENTINGAN UMUM DIATAS KEPENTINGAN PRIBADI?

Kita harus mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Ini adalah kalimat yang dicetuskan oleh Soeharto, presiden Orde Baru, dengan undang-undang yang berbunyi: jika negara membutuhkan sesuatu, itu harus kamu serahkan! Maka dengan kalimat ngawur itulah TNI dan Tommy Soeharto merampoki tanah-tanah di seantero negeri. Dengan alasan lokasi itu hendak dibangun sesuatu oleh "negara" maka disingkirkanlah para penghuninya tanpa ganti rugi sepeserpun. Tapi nyatanya juga tak dibangun apapun atau dibangun sesuatu tapi milik pribadi, bukan negara. Nggak jelas!

Kalau orang punya rumah dengan halaman yang luas, lalu halamannya dipotong sekian meter untuk pelebaran jalan, itu bukan masalah. Motto: mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi itu benar. Tapi kalau orang rumahnya pas-pasan, lalu dihabiskan untuk pelebaran jalan tanpa diberikan ganti rugi, lalu orang itu hendak tidur dimana? Pancasilanya dimana?

Jadi, motto: mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi itu tidak mesti benar. Harga BBM dinaikkan untuk membangun 1400 waduk dan toll laut benar-benar gagasan gila yang kejam sekali. Harus dibedakan antara orang kaya dengan orang miskin. Bagi orang kaya, sudah merupakan kewajibannya untuk berbagi dengan orang lain. Dia harus memikirkan kepentingan umum, kepentingan orang banyak. Tapi bagi orang miskin jelas tidak benar jika dia harus memikirkan kepentingan umum di saat kepentingannya sendiri masih berantakan, 'kan?!

Karena itu sangat menyakitkan sekali jika kenaikan harga BBM ini imbasnya ke masyarakat kecil. Memang ongkosan ojek naik. Tapi jika penumpangnya semakin sedikit sedangkan para pengangguran yang terjun di dunia ojek semakin banyak, maka apalah artinya kenaikan ongkosan itu? Begitu terima uang dibelikan rokok, dibelikan es dan gorengan. Tiba giliran bensinnya habis, bingunglah dia. Bukankah begitu potret kehidupan orang-orang kecil; tukang ojek, tukang becak, sopir angkot, sopir bus kota, dan konco-konconya?!

                              

Tidak ada komentar: