Selasa, 01 September 2015

Kereta Cepat, Mainan Baru Pejabat

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/27/095100426/Kereta.Cepat.Mainan.Baru.Pejabat?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Di luar dugaan pemerintah, cerita tentang proyek kereta cepat alias high speed railway (HSR) Jakarta–Bandung meluap ke mana-mana. Tak terbendung. Seolah-olah proyek ini akan terlaksana dalam waktu dekat.
Proyek senilai 6,7 miliar dollar AS ini pun seperti kereta yang tergelincir dari rel, bergerak tanpa kendali. Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli berujar, proyek ini sarat permainan. Kata dia, ada pihak tertentu di balik pejabat yang ingin mengambil keuntungan bisnis.
Faktanya, proyek HSR memang terdapat di dalam road map pengembangan jalur kereta api, yaitu Jakarta–Bandung 140 kilometer (km) dan Jakarta–Surabaya sepanjang 700 km. Fakta lainnya, memang ada yang janggal dengan proyek ini, terutama kemunculan China yang muncul secara tiba-tiba.
Mendadak ChinaSumber yang terlibat dalam pengerjaan proyek HSR menuturkan, kehadiran China muncul berkat Rini Soemarno, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Rini menyampaikan ke pihak China bahkan tanpa sepengetahuan menteri lainnya,” ujar sumberKontan.
Rini tak mengingkari bahwa dirinya yang mendorong China masuk dan bekerjasama dengan konsorsium pimpinan PT Wijaya Karya Tbk. “Itu BUMN yang menjadi perusahaan di bawah Kementerian BUMN,” ujarnya.
Yang Yong, General Manager Asia China Railway Corporation pun menegaskan, BUMN Indonesia minta China menggelar studi kelayakan. “Tak ada permintaan dari pemerintah Indonesia. Permintaan datang dari BUMN Indonesia,” kata Yang.
Yang juga menegaskan, bukan China atau pihak Jepang yang mengajukan proposal. Pihak Indonesia meminta BUMN China mengadakan studi kelayakan karena pemerintah Indonesia ingin memiliki kereta cepat. “Maka, tidak ada yang namanya beauty contest,” tutur dia.
Minister Kedutaan Jepang di Indonesia Kijima Yoshiko juga berpendapatan senada. Tiga tahun lalu, ujar dia, pemerintah Indonesia datang ke Jepang meminta pemerintah Negeri Sakura melakukan studi kelayakan untuk proyek kereta cepat. “Dua tahun terakhir kami terus membahas tentang proyek ini. Namun tiba-tiba muncul China. Saya juga tidak tahu kenapa,” imbuh Kijima.
China dan Jepang memang terkesan saling bersaing dengan laporan hasil studi kelayakan yang disampaikannya ke Indonesia. Keduanya, menurut pejabat Indonesia yang enggan disebut namanya, sempat mengubah kajian, terutama skema pembiayaan proyek. Namun, Rini menampik kabar itu. “Tidak, laporan baru sekali diberikan,” ujar Rini ke Kontan, Kamis (20/8/2015).
Apa pun itu, proyek kereta cepat Jakarta–Bandung adalah rencana pemerintah. Pertanyaannya, seberapa besar keberadaan kereta cepat memenuhi kebutuhan masyarakat di kedua kota? Apalagi, harga tiketnya sekitar Rp 200.000 per orang. Lebih mahal dari tiket bus, travel, atau mobil pribadi.
Nah, jika tak laku dan default, pemerintah juga yang bakal menanggung akibatnya, bukan? Terlebih lagi jika pernyataan Rizal itu benar. Ter–la–lu, kata Rhoma Irama. (Andri Indradie, Silvana Maya Pratiwi , Tedy Gumilar)

Emil Salim Nilai Proyek KA Cepat Hanya Mengalirkan Dollar AS ke Luar Negeri

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/01/172435026/Emil.Salim.Nilai.Proyek.KA.Cepat.Hanya.Mengalirkan.Dollar.AS.ke.Luar.Negeri?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Emil Salim mempertanyakan urgensi pengembangan proyek kereta api cepat di tengah sulitnya perekonomian nasional. Menurut Emil, proyek tersebut hanya mengalirkan dollar AS ke luar negeri meskipun digarap melalui kerja sama dengan investor negara lain.
"Betul tidak memakai dana pemerintah, tetapi tetap ada dollar out flow (mengalir ke luar), dollar ini kan harus untuk dibeli mesin itu. Yang membeli betul bukan pemerintah, tetapi kan dollar tetap ke luar walaupun namanya swasta atau konsorsium, dollar tetap ke luar," kata Emil di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (1/9/2015).
Mengalirnya dollar AS dinilainya hanya memukul nilai tukarrupiah. Menurut Emil, sedianya pemerintah berupaya untuk memasukkan dollar AS ke dalam negeri dan menghemat dollar AS.
Pemerintah perlu mengencangkan ikat pinggang dengan mengedepankan proyek yang patut menjadi prioritas. Menurut dia, proyek kereta api cepat tidak sepenting proyek pembangunan tol laut.
"Apa tidak lebih baik jalan tolnya ke laut dibangun? Jadi prioritas strategi. Orang terpesona oleh karena (proyek kereta api cepat) ini dibiayai dari luar. Ya, tetapi dari luar itu pemerintah tidak bayar, tetapi dollarnya tetap akan mengalir ke luar untuk membelikan. Dalam keadaan kita kekurangan, irit keinginan supaya dollar jangan keluar, kita justru dolar keluar, apa konsisten itu?" kata dia.
Di samping itu, Emil khawatir kereta api cepat nantinya bisa mengganggu sistem perkeretaapian yang dibangun PT Kereta Api Indonesia selama ini.
Emil hari ini menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menyampaikan masukannya mengenai dinamika kependudukan dan pembangunan berkelanjutan.
Masukan ini diharapkan bisa menjadi bekal bagi Kalla dalam memimin delegasi Indonesia mengikuti pertemuan di New York yang membahas program pembangunan berkelanjutan pada September ini.
Emil mendampingi perwakilan United Nations Population Fund di Indonesia Jose Ferraris. Dalam pertemuannya dengan Kalla tadi, Emil mengaku tidak menyinggung proyek kereta api cepat.
Sebelumnya, Emil mengkritik proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya. Menurut dia, proyek tersebut justru memperbesar ketimpangan sosial. Daripada membangun proyek kereta api cepat di Jawa, Emil menilai, pemerintah lebih baik membangun transportasi di Papua dan daerah Indonesia timur lainnya. 

Proyek Kereta Api Cepat Perbesar Ketimpangan

http://nasional.kompas.com/read/2015/08/27/13215291/Emil.Salim.Nilai.Proyek.Kereta.Api.Cepat.Perbesar.Ketimpangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom yang juga mantan Menteri Perhubungan Emil Salim mengkritik proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya yang digagas pemerintah. Menurut Emil, proyek tersebut justru memperbesar ketimpangan sosial.
Daripada membangun proyek kereta api cepat di Jawa, Emil menilai, pemerintah lebih baik membangun transportasi di Papua dan daerah Indonesia timur lainnya.
"Saya bekas Menhub. Kereta api itu seluruh investasi kepada rel, telekomunikasi, keselamatan, jembatan, keretanya, listrik dan sebagainya. It's heavy investement. Untuk apa itu? Apakah ini high priority? Kenapa bukan tol laut ke timur yang mengurangi ketimpangan, kenapa proyek ini yang memperbesar ketimpangan?" kata Emil dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (27/8/2015).
Emil menyampaikan bahwa pembangunan di Indonesia belum mewujudkan keadilan sosial. Ketimpangan antardaerah dapat tercermin dari perbandingan pendapatan domestik bruto (PDB). (baca: Di Depan Utusan PM Jepang, Rizal Ramli Sebut Tak Peduli Beking Proyek KA Cepat)
Menurut Emil, 82 persen PDB nasional dihasilkan dari Jawa, Sumatera dan Bali. Sementara itu, Papua hanya menyumbang 2 persen PDB dan sisanya adalah daerah lain seperti Kalimantan serta Sulawesi.
Atas dasar ketimpangan sosial yang terjadi ini, Emil menyambut baik gagasan pemerintah untuk membangun tol laut yang mempersatukan Indonesia dari Aceh hingga Papua. Namun, ia menyayangkan karena di tengah-tengah rencana pembangunan tol laut itu justru muncul gagasan proyek kereta api cepat. (baca:Kereta Cepat, Mainan Baru Pejabat)
"Di tengah-tengah tol laut, muncul kereta api cepat Jakarta-Bandung, Jakarta-Surabaya yang dibangun di Jawa. di Jawa yang punya jalur Priangan yang cepat, yang punya tol road, kenapa ada lagi kereta api cepat?" ucap dia.
Emil juga menilai bahwa kereta api cepat tidak tepat untuk perjalanan jarak pendek seperti Jakarta-Bandung. Ia menduga Tiongkok dan Jepang berlomba-lomba untuk mendapatkan pengerjaan proyek ini karena mempertimbangkan peluang lebih besar untuk digandeng dalam menggarap proyek Jakarta-Surabaya. (baca: Tak Mau Kalah dari Tiongkok, Jepang Kembali Ajukan Proposal Baru Kereta Cepat)
"Dan mana suara-suara partai-partai? tidak ada suara partai yang mempersoalkan kereta api cepat," ucap dia.

Tidak ada komentar: