Sabtu, 26 September 2015

MENGAPA PEREMPUAN TIDAK WAJIB SHOLAT JUM'AT?

Mengapa perempuan tidak diwajibkan sholat Jum'at? Itulah yang aneh dalam Islam. Sebab ibadah berjamaah dalam agama Yahudi maupun Kristen, ibadah itu adalah ibadah raya, ibadah besar mingguan. Kalau Yahudi setiap hari Sabtu keluarga-keluarga yang terdiri dari suami-istri dan anak-anak bersama-sama ke Sinagoge, sehingga mereka semuanya membentuk satu keluarga ALLAH. Maksudnya, setiap yang bernyawa, setiap insan wajib menghadap KHALIQ-nya. Dan di hadapan ALLAH, tidak ada beda antara laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Sebab semua adalah milikNYA. Jadi, mengapa di Islam perempuan disingkirkan dari jamaah?!

Juga mengapa kalau di mesjid antara laki-laki dengan perempuan dipisahkan lokasi sholatnya? Mengapa laki-laki dengan perempuan dipisah-pisahkan, justru dihadapan ALLAH yang mempersatukan laki-laki dengan perempuan sebagai pasangan suami-istri?! Masak pasangan suami-istri saja najis bersinggungan ketika sholat, sementara kalau di ranjang halal seorang laki-laki bersama dengan 4 perempuan?! Memangnya kalau di ranjang, ALLAH tidak bisa melihat perbuatan anda? Memangnya kesucian diri itu hanya untuk waktu-waktu sholat saja, bukan disepanjang hari, kapan saja dan dimana saja?!

Mengapa Islam begitu piciknya di dalam memaknai perbedaan kelamin, seolah-olah perbedaan itu harus dipisahkan? Padahal ALLAH itu mempersatukan keduanya dalam lembaga perkawinan. Yang dilarang itu adalah berzinah, yaitu berhubungan dengan yang bukan muhrimnya.

Memangnya kalau laki-laki dengan laki-laki tidak bisa homoseks? Memangnya kalau perempuan dengan perempuan aman dari lesbian?! Memangnya kalau laki-laki dengan perempuan[suami-istri] disatukan ketika sholat di mesjid mereka akan melakukan hubungan seks di situ?! Memangnya kalau ketika sholat, pikiran tidak bisa melayang membayangkan perempuan bugil?!

Memangnya suatu aturan itu bisa menghambat dosa?! Bukankah di dunia ini sudah penuh sesak dengan aturan? Ada aturan Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan lain-lainnya. Ada aturan pidana dan korupsi. Tapi nyatanya apa?!

Yang bisa meniadakan dosa itu adalah kesadaran, bukan peraturan. Sebab dosa itu lahir dari dalam pikiran manusia, bukan dari luar diri. Karena itu pengobatannya juga harus dari dalam diri manusia itu, yaitu: kesadaran - membuka kesadarannya, bukan diobati dari luar berupa peraturan-peraturan.

Kesadaran itu membutuhkan proses, sedangkan peraturan itu maunya seketika. Tapi kesadaran menghasilkan pertobatan sejati, sementara peraturan hanya menghasilkan perbuatan semu.

Tidak ada komentar: