Kamis, 10 September 2015

PERSATUAN? YA HARUS SATU

Retnowati Kusumawardani Masalah KEYAKINAN tidak bisa DIPAKSAKAN jadi masing masing saja yang penting sama2 hidup di Negara ini kita AKUR DAMAI ....

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

1. Saya tidak sedang membahas keyakinan tapi iman. Keyakinan itu suka
    menyesatkan karena tidak didasarkan pada bukti. Tapi iman itu didasarkan
    pada pembuktian.

    Contoh keyakinan; orang berani mencuri karena apa? Karena yakin tidak ketahuan.
    Tapi apakah benar tidak ketahuan? Nyatanya sebagian pencuri benjol. Keyakinan
    itu penuh spekulasi = berjudi. Itulah sebabnya Islam berkata: Insyaallah, sebab apa
    iya apa enggak, nggak jelas. Masuk sorga atau enggak, nggak jelas.

    Contoh lain dari keyakinan adalah mencurigai orang tanpa bukti.

    Berbeda dengan iman; iman itu membuktikan dari yang tidak tampak mata. Misalnya:
    tentang angin. Ada gerakannya tapi tak kelihatan ujudnya. Itu iman.

    Polisi itu kerjanya berdasarkan iman. Sebab ketika suatu peristiwa terjadi polisi
    tidak ada di tempat kejadian. Polisi tidak tahu bagaimana pencuri bisa masuk
    dan siapa yang melakukannya. Tapi berdasarkan bukti-bukti yang didapatkan
    polisi bisa membuat kronologis; jam berapa terjadinya, masuk dari mana dan
    siapa pelakunya. Ketika polisi menangkap pelaku, dia sudah siap dengan bukti.
    Tapi orang yang suka curiga pasti suka kecele, sebab tidak berdasarkan bukti.

     Itulah bedanya keyakinan dengan iman. Karena itu saya nggak mau dikasih
     keyakinan. Selera saya adalah iman.

2. Tentang persatuan itu harus satu, harus menyatu. Selama anda dengan saya berbeda,
     maka masih besar kemungkinan terjadinya perang. Antara suami-istri, orangtua-anak,
     kakak-adik, yang diikat dengan kekeluargaan saja bisa terjadi pertentangan. Kenapa?
     Sebab ada perbedaan. Dan perbedaan adalah awal dari peperangan.

     Anda suka soto, saya suka bakso saja bisa jadi pertengkaran antara pacar.

     Jika selama ini anda baik-baik saja dengan saya adalah karena belum adanya masalah.
     Setiap ketemu kita saling menyapa dan saling tersenyum. Tapi coba seandainya
     saya membuka warung, lalu anda membuka warung di sebelah saya, apa nggak
     saingan?! Atau, coba seandainya anda berutang pada saya dan nggak bayar, apa
     nggak berantem?!

     TNI berkata: Perbedaan itu indah. Dicontohkan pada warna merah, kuning, hijau
     dan biru. Sayang perkataan itu belum diuji secara laboratorium kebenarannya.
     Sebab kita ini makhluk hidup, bukan benda mati. Kalau mayat saya disandingkan
     dengan mayat anda, pasti akan ada kedamaian selamanya. Lihat saja kuburan;
     jangankan cekcok mulut, obrolan saja nggak ada. Sepi!

     Jadi, damai itu kuburan. Dunia ya berisik. Buktinya, sekalipun PBB berdiri nyatanya
     masih banyak negara-negara yang berperang. Ketika orang berseru: Damai, damai,
     nyatanya yang diasah pedangnya.

     Coba usul ke TNI yang berseru: Damai, damai, supaya mereka menjual seluruh
     persenjataannya untuk dibagikan ke fakir miskin. Mau nggak mereka?!

Tidak ada komentar: