Rabu, 02 September 2015

PRESIDEN 1 RAKYAT JUGA 1

Kalau dari segi jumlah, presiden memang 1 orang saja sedangkan rakyat ada 250 juta orang. Tapi karena di sini rakyat di sana juga rakyat, di Sabang rakyat di Merauke juga rakyat, maka sesungguhnya rakyat juga hanya ada 1 saja. Karena itu rakyat yang di Jatigede yang digusur itu adalah kita juga. Rakyat yang di Kampung Pulo yang digusur Ahok itu adalah kita juga. Rakyat penjual asongan, pedagang kakilima, dan lain-lainnya itu adalah kita juga. Masalahnya 'kan kebetulan kita tak tinggal di sana. Tapi coba lihat ketika polisi atau Satpol PP mendapatkan tugas penertiban, ke manakah arah langkah mereka? Ke istana presiden atau ke pasar Tanah Abang? Siapa yang mereka cari atau buru? Presiden atau rakyat?

Karena itu kalau kita mengerti ini, kita akan bersatu padu menghadapi presiden yang memusuhi dan merugikan rakyatnya. Kita adalah satu tubuh. Jika anda kepala, saya adalah kakinya. Jika anda telinga, saya adalah matanya. Jika anda hidung, saya adalah mulutnya. Satu rakyat disakiti harusnya kita merasakannya juga.

Jokowi bisa begitu cepat meroket popularitasnya apa sebab? Sebab dia memainkan drama: "pro rakyat." Jokowi ingin disatukan dengan rakyat, sekalipun dia presiden. - Presiden yang merakyat! Dia tidak mau seperti presiden-presiden terdahulu yang berseberangan dengan rakyat. Dia tidak mau dianggap musuh rakyat, tapi sahabat rakyat. TAPI APAKAH DALAM KENYATAANNYA BETUL?

Kenyataannya Jokowi adalah serigala berbulu domba. Serigala yang menyamar sebagai domba dan tinggal di tengah-tengah domba. Padahal sesungguhnya dia adalah presiden musuh dan penindas rakyat!

Tidak ada komentar: