Rabu, 02 September 2015

PROBLEM UMUM DI KAMPUNG-KAMPUNG

Anda perlu tahu supaya jangan uang disia-siakan untuk pesta-pora, foya-foya, mabuk-mabukan, belanja yang tak perlu, boros-boros, bermewah-mewah, dan disalahgunakan untuk narkoba. Bahwa saudara sebangsamu yang bertebaran di kampung-kampung itu mencari uang susahnya setengah mati. Yang ada pekerjaannya saja belum tentu ada penghasilannya, lebih-lebih yang tak mempunyai pekerjaan. Dan jangan anda berprasangka semua pengangguran itu pemalas, selama orang yang bekerja saja banyak yang menganggur karena sepinya order atau pembeli.

Kondisi perekonomian bangsa ini maupun global saat ini seperti tanah longsor. Yang teratas, yang disokong oleh fasilitas yang canggih dengan dikelilingi tenaga ahli dan permodalan yang kuat saja bisa sempoyongan, apa lagi masyarakat lemah yang bodoh-bodoh. Pendek kata semua tingkatan mengalami kemerosotan. Tapi jangan katakan bahwa itu wajar dalam perdagangan, jika pengeluaran belanjanya justru berlomba-lomba naik. Harga BBM naik disalip oleh tarip listrik. Tarip listrik disalip oleh gas LPG. Gas LPG disalip oleh harga pupuk. Harga pupuk disalip oleh melejitnya nilai tukar dolar. Kenaikan harga seolah perlombaan lari yang masing-masing berambisi mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Dan presiden kita hanya menjadi penonton saja tak mampu berbuat apa-apa sekalipun punya kuasa. Maklum kuasa itu masih kredit, masih belum lunas. Dia masih nunggak di PDIP sehingga dia disebut petugas partai.

Coba pikir dampak dari tanah longsor itu terhadap masing-masing tingkatan ekonomi rakyat. Tingkatan ekonomi manakah yang paling terluka parah? Bukankah itu yang paling miskin? Sudah berat dibelanjaan sehari-hari, mereka masih menanggung budaya utang. Bukankah hal biasa jika setiap hari petugas koperasi simpan-pinjam itu berlalu-lalang di kampung-kampung untuk menjajahkan pinjaman dengan bunga selangit?! Maka botaklah rambut kepala, putihlah warnanya dan pusinglah kepalanya.

Pak dokter berkata: "Jangan banyak pikiran, bisa melemahkan tubuh." Benar juga kata-kata itu. Sebab tak lama kemudian sakitlah si botak dan repotlah keluarganya. Jibril membuka-buka buku catatan tugasnya. Rupanya hari ini dia ditugaskan untuk menggusur nyawa si botak, maka pecahlah suara tangis di keluarga itu. Istri dan anak-anaknya menangis kehilangan sang pahlawan keluarga.

Ooh, hanya gara-gara uang sebesar yang anda pergunakan untuk berfoya-foya itu saja nyawa si botak melayang. Uang yang bagi anda tak ada nilainya, bagi si botak begitu besar artinya. Karena itu jika anda tertawa di saat si botak sekarat, betapa kejam dan kejinya hati anda. Harusnya dengan uang lebih itu anda menolong si botak. Harusnya dengan kekayaan yang anda miliki itu anda semakin kaya dalam pengetahuan dan kedermawanan. Tapi mengapa kekayaan justru seringkali menghanguskan?
Mengapa tidak anda renungkan hal ini?! Renungkanlah!




Tidak ada komentar: