Rabu, 02 September 2015

SEBAB PRESIDENMU GENDENG

KSPSI Minta Pemerintah Kurangi Pajak Perusahaan agar Tak Banyak PHK

http://nasional.kompas.com/read/2015/09/02/08202761/KSPSI.Minta.Pemerintah.Kurangi.Pajak.Perusahaan.agar.Tak.Banyak.PHK?utm_source=megapolitan&utm_medium=cpc&utm_campaign=artbox

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani meminta pemerintah mengurangi beban pajak yang diwajibkan kepada perusahaan yang banyak menyerap tenaga buruh. Kebijakan pajak yang tinggi dinilai membuat perusahaan kesulitan dalam memberikan upah buruh hingga berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Saya marah dengan kebijakan pajak. Ketika perusahaan yang sedang kesusahan dengan kondisi ekonomi lalu dipaksa membayar pajak yang tinggi," ujar Andi, saat ditemui di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2015).

Menurut Andi, beban pajak yang terlalu tinggi menjadi salah satu penyebab banyaknya pemutusan hubungan kerja. Perusahaan memilih untuk mengurangi beban pembiayaan yang salah satunya terkait pemberian upah kerja pegawai. Ia menyayangkan kebijakan fasilitas pajak atau "tax allowance"pnya  hanya diberikan untuk perusahaan baru yang melakukan investasi di Indonesia.

Kebijakan itu dianggapnya tidak adil bagi perusahaan lama yang telah banyak menyerap tenaga kerja.

"Perusahaan yang dibangun dengan modal kecil, lalu mati-matian berkembang, sekarang dipaksa membayar pajak tinggi. Sedangkan perusahaan baru malah dibebaskan pajak," kata Andi.

Pengusaha Tempe Tahu Menjerit

http://www.radarsampit.net/artikel-1182-pengusaha-tempe-tahu-menjerit.html

SAMPIT – Kenaikan harga kedelai impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak langsung pada industri tempe tahu khususnya di Kota Sampit. Pasalnya, melemahnya rupiah memengaruhi harga bahan baku kedelai impor yang sebelumnya Rp 7 per kilogram meningkat menjadi Rp 8 per kilogram. Imbasnya keuntungan pelaku usaha menjadi berkurang.
”Sudah tiga hari ini harga kedelai naik sampai seribu rupiah per kilogram. Kalau harga kedelai naik terus bisa enggak dapat untung kami?,” keluh pelaku usaha tempe tahu, Suhari, Jumat (28/8).
Menurutnya, sejak tiga hari ini keuntungan yang didapatnya berkurang hingga 10 persen. Biasanya dengan modal mencapai Rp 5 juta, dia mampu memperoleh keuntungan hingga 25 persen, namun saat ini hanya mencapai 15 persen. Meski harga bahan baku membuat tempe tahu mengalami kenaikan, namun Suhari mengaku belum berani menaikkan harga.
”Aduh nanti kalau harga dinaikkan enggak ada yang beli, pelanggan jadi berkurang. Enggak apa-apa untung sedikit yang penting dagangan laku,” ujar pria yang telah memulai usahanya selama 15 tahun ini.
Tak hanya memilih untuk tidak menaikkan harga saja, ukuran tempe tahu juga tak dikuranginya. Ini dilakukan Suhari agar pelanggannya tidak memilih untuk membeli ketempat pelaku industri lainnya. Setiap harinya, Suhari menghabiskan sekitar empat ton kedelai untuk produksi tempe tehu dengan jumlah pekerja 13 orang.
”Sejauh ini kami masih bekerja seperti biasanya. Selain melayani pelanggan yang mengambil langsung, kami juga mengantar ke pasar,” katanya.
Suhari berharap kenaikan harga kedelai ini tidak berlangsung lama dan dapat segera stabil, karena sepanjang tahun 2015 saja, setidaknya sudah dua kali harga bahan baku untuk membuat tempe tahu ini naik. Sehingga tidak terlalu memengaruhi keuntungan yang didapatnya, apalagi jika sampai harus merugi.
”Harga kedelai ini kan berubah-ubah mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar. Makanya kalau rupiah melemah, kami bingung juga. Mudah-mudahan bisa stabil lagi,” harapnya.
Seperti diketahui, dampak terpuruknya rupiah terhadap dolar mulai terasa terhadap beberapa komuditas. Salah satunya kedelai yang menjadi bahan baku untuk membuat tempe dan tahu. Komoditas ini memang sangat bergantung terhadap nasib nilai tukar mata uang rupiah. Lantaran hingga saat ini kedelai sebagai bahan baku utamanya sebagian besar masih diimpor. (tha/fin)

Tidak ada komentar: