Kamis, 24 September 2015

SEHARUSNYA ALLAH

Kaum Muslim jika memahami KEALLAHAN, seharusnya menghormati ALLAH-nya dengan cara tidak mencampuri FirmanNYA, yaitu Al Qur'an. Tapi mereka itu suka merasa dirinya lebih pintar dari ALLAH-nya, sehingga Firman ALLAH-nya selalu ditambah-tambahi dan diarahkan semau-mau mereka seperti anak-anak memainkan layang-layangnya. Dalam memberikan keterangan saja ada bermacam-macam; ada yang bertanda kurung - (.........), ada yang bernomor, ada pula yang menyodorkan hadist, serta keterangan menurut pendapat masing-masing. Tanpa disadari mereka sedang memberitahukan adanya sesuatu yang tidak beres dengan ayat-ayat Al Qur'an-nya.

Dan sebagai "ALLAH" harusnya ALLAH itu pandai berbicara, lebih pandai dari Soekarno kalau berpidato. Harusnya fasih berbahasa melebihi sastrawan HB. Yassin. Harusnya pandai berdiplomasi melebihi seorang diplomat. Maksudnya, supaya ketika IA berkata-kata, kata-katanya itu sudah tepat benar, sudah sempurna, sehingga tidak perlu diterangkan orang lagi. Contohnya: buku novel, mana ada kalimat dalam sebuah novel yang perlu ditambahi dengan tanda kurung atau nomor keterangan seperti yang terdapat pada Al Qur'an. Begitu pula dengan surat kabar, mana ada tanda kurungnya?! Padahal itu karya tulis manusia. Tapi Al Qur'an yang katanya Firman ALLAH, nyatanya hampir separuh isinya adalah keterangan-keterangan tambahan, yang kalau disebut merubah, mereka akan marah-marah. Kalau dibilang tidak asli, goloknya diacungkan. Padahal itu adalah fakta yang amat-amat nyata, yang bisa dilihat dengan mata telanjang tanpa perlu kacamata.

Alasan kaum Muslim; itu 'kan Al Qur'an terjemahannya? Maka saya tanya: apa beda Al Qur'an teks Arab dengan terjemahannya bagi saya yang membutuhkan terjemahannya? Justru saya nggak memerlukan yang teks Arabnya, sebab saya bukan orang Arab. Bagi saya, Al Qur'an ya yang terjemahan itulah. Tapi ya yang menurut teks aslinya jangan ditambah-tambahi, lebih-lebih dengan keterangan yang sulit dipertanggungjawabkan.

Tidak ada komentar: