Kamis, 03 September 2015

TINGGAL YANG MENENDANG BELUM TERTENDANG

'Kemelut' di Malam yang Menentukan Bagi Budi Waseso

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150904090959-12-76589/kemelut-di-malam-yang-menentukan-bagi-budi-waseso/

JakartaCNN Indonesia -- Tak terdengar nada kecewa dari Komisaris Jenderal Budi Waseso, Jumat (4/9). Suaranya riang dan bersemangat. Buwas –julukan Budi Waseso– menerima tugas barunya dengan sepenuh hati. Ia kini mesti melepas jabatan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri karena ditunjuk sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional.

Menurut Buwas, istilah ‘pencopotan’ jabatan sama sekali tak tepat baginya, sebab ia bukan sekadar dicopot, tapi justru dipromosikan. Eselon naik, tunjangan pun naik. “Mobil dinas saya pun nanti ada tulisan ‘RI’-nya,” ujar Buwas kepada CNN Indonesia sembari tergelak.

Buwas bercerita, ia resmi diberi tahu secara lisan tentang penugasan barunya di BNN pukul 23.10 WIB. Semalam adalah malam yang menentukan baginya. Malam penuh ‘kemelut’ itu terlihat jelas di Kantor Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Bakda Isya, Luhut menggelar rapat tertutup di kantornya. Ia memanggil Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Saud Usman Nasution, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, dan Asisten Operasi Polri Irjen Unggung Cahyono.

Luhut mengatakan, ia memanggil ketiga perwira tinggi Polri itu untuk membahas deradikalisasi kelompok ekstremis. Kebetulan Saud dan Tito merupakan dua di antara sejumlah nama yang disebut-sebut menjadi kandidat Kabareskrim pengganti Buwas.

Sejak awal pekan, Buwas telah santer dikabarkan bakal digeser dari Kabareskrim. Ia diproyeksikan dimutasi ke BNN atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. (Baca Budi Waseso: Jadi Kepala BNPT Itu Prestasi)

Siang hari sebelum Luhut memanggil Saud, Tito, dan Unggung, ia telah lebih dulu mengumpulkan anggota Komisi Kepolisian Nasional. Pertemuan itu, ujar Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, membahas mutasi perwira tinggi Polri –mereka yang menyandang tanda pangkat bintang dua dan tiga. (Baca: Luhut Pimpin Rapat Kompolnas Bahas Mutasi Perwira Polri

Mejelang hari berganti, isu pergantian Kabareskrim makin kuat. Kepala BNN Komjen Anang Iskandar disebut telah ditunjuk menggantikan Buwas, sedangkan Buwas diminta mengambil tugas Anang sebagai Kepala BNN.

Saat itu staf BNN pun belum tahu persis soal pergantian pimpinan mereka. “Kami belum menerima informasi apapun sampai sekarang. Pak Anang sedang perjalanan dinas sejak hari Minggu ke Taiwan untuk bertemu tenaga kerja Indonesia di sana. Sekarang di Fiji untuk acara penandatanganan nota kesepahaman,” kata Kepala Divisi Humas BNN Slamet Pribadi.

Namun, ujar Slamet, Komjen Anang dijadwalkan mendarat di tanah air Jumat siang.

Meski belum ada pengumuman resmi soal pertukaran jabatan kedua perwira tinggi Polri itu, di kalangan media telah beredar Surat Telegram Kapolri perihal Pemberhentian dan Pengangkatan Jabatan di Lingkungan Polri dengan tembusan antara lain ke Menkopolhukam, Menteri Hukum dan HAM, Kepala BIN, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, dan Kepala BNN.

Nama Buwas dan Anang ada di urutan dua teratas pada surat itu. “Satu. Komjen Pol Drs. Budi Waseso, Kabareskrim Polri, dimutasikan sebagai perwira tinggi Bareskrim Polri. Penugasan sebagai Kepala BNN.”

“Dua. Komjen Pol Drs. Anang Iskandar SH MH, perwira tinggi pelayanan markas Polri (penugasan sebagai Kepala BNN), diangkat dalam jabatan baru sebagai Kabareskrim Polri.” (Baca: Anang Iskandar, Tukang Cukur yang Jadi Kabareskrim)

Lewat tengah malam, Jumat dini hari, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengkonfirmasi pertukaran jabatan di antara dua perwira tingginya itu. “Pak Anang tukar posisi dengan Kabareskrim,” ujarnya melalui pesan tertulis.

Pagi ini, Budi Waseso tak sungkan lagi bicara soal jabatan barunya. Terlepas dari apapun alasan Kapolri memindahkannya dari Bareskrim, Buwas melihatnya dari sisi positif. (Baca juga:Lingkaran Badai Budi Waseso)

“Secara struktur, saya masuk jajaran kementerian. Saya akan bertugas langsung di bawah Presiden. Yang melantik saya nanti juga Presiden,” kata Buwas.

Rabu (2/9), Buwas sesungguhnya telah bersiap menerima keputusan apapun atasnya. “Saya prajurit Bhayangkara. Di mana pun, jabatan itu amanah yang harus dijalankan sebaik mungkin. Kalau dianggap sudah cukup di Bareskrim, ya cukup,” kata dia.

Hari ini, kata Buwas, dia masih berperan sebagai Kabareskrim karena belum secara resmi dilantik Presiden sebagai Kepala BNN. Maka ia pun tetap berangkat ke kantornya di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Matahari belum lagi terbit ketika Buwas menjejakkan kaki di Bareskrim. “Saya sudah datang sejak tadi dong,” kata dia, terdengar antusias. 

Lewat pukul 07.00 WIB, Buwas keluar dari ruangannya, menyambut mentari, siap menyongsong tugas baru yang tak lama lagi ia emban.

Ada Intervensi Istana Terkait Pencopotan Buwas

http://news.okezone.com/read/2015/09/04/337/1208167/ada-intervensi-istana-terkait-pencopotan-buwas

JAKARTA - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Anang Iskandar diproyeksikan mengantikan jabatan Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri yang selama ini dipegang oleh Komjen Pol Budi Waseso (Buwas). Diduga pengantian itu disinyalir ada campur tangan pihak Istana.
Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaidi Mahesa menegaskan, pertukaran tempat antara Anang Iskandar dengan Buwas bukalah perturakan biasa. Dia menuding ada capur tangan dari pemerintah, lantaran Buwas telah berhasil mengungkap dugaan korupsi di PT Pelindo II.
"Dalam proses hari ini kan nyata sekali ada intervensi Istana terhadap kepolisian," ujar Desmon saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Jumat (4/9/2015).
Ketua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga mengaku aneh Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti yang tak berdaya terhadap campur tangan dari pemerintah tersebut. Harusnya mantan Kapolda Banten itu harus ada di barisan depan untuk membela anak buahnya, lantaran berhasil membongkar dugaan korupsi yang didalam tubuh PT Pelindo II.
"Kok Kapolri diam tidak belain anak buahnya. Jadi itu komandan macam apa. Alat negara yang seharusnya melindungi warga negara dan menegakkan hukum sekarang malah diintervensi Istana malah diam," tegasnya.
(MSR)

Tidak ada komentar: