Kamis, 29 Oktober 2015

CARA MEMBACA YANG BENAR

Saya menulis kata: "Bunga." Jika tulisan tersebut dibaca oleh orang Inggris, kira-kira apa yang akan timbul di benaknya? Dan kalau orang Jepang? Atau, apa yang terbayang di benak anda ketika membaca tulisan asing ini: "Kvetina."

Saya yakin masing-masing orang memiliki asumsi sendiri-sendiri. Ada yang membayangkan roti atau buah atau cewek atau apalah. Jika asumsi-asumsi itu mungkin jauh dari kebenarannya, maka apa saran anda supaya tulisan tersebut bisa diartikan secara tepat?

Bung Ifan mengangkat tangan dan menjawab: "Harus dibaca oleh pemilik bahasanya sendiri."

Betul sekali, saya membenarkan jawaban bung Ifan tersebut.

Nah, sejak zaman dahulu baiknya kita yakini ada orang yang sakit. Alkitab mencatat salah satu penyakit orang adalah kusta. TUHAN membuat peraturan tentang orang yang terkena penyakit kusta supaya diperiksakan ke imam. Imam itu akan menetapkan putusan apakah orang itu harus dinyatakan najis atau tidak. Itulah penanganan penyakit di zaman keimaman Lewi, Perjanjian Lama.

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang bukan bangsa Israel, di saat belum adanya ilmu kedokteran? Kayaknya orang akan memeriksakan penyakitnya ke dukun-dukun, dan dukun biasanya mengaitkannya dengan guna-guna atau tenung atau santet. Ada musuh yang menyerang orang itu melalui kuasa kegelapan. Itu kata dukun.

Kini dengan adanya ilmu kedokteran, semua orang yang sakit perginya ke dokter, dan dokter mendiagnosanya sebagai ada bibit penyakit yang menyerang orang itu.

Di sini terjadi pergeseran dari analisa spiritual ke analisa ilmu pengetahuan. Perkataan-perkataan yang disebut sebagai Firman TUHAN-pun sudah mulai tidak lagi didengar, termasuk oleh orang Kristen yang mengaku beriman. Orang sakit dipastikan karena penyakit, bukan lagi oleh pekerjaan TUHAN. Kayaknya TUHAN sudah pensiun, sudah tidak menghukum orang-orang yang berdosa. Penyakit adalah karena kesalahan pola makan dan pola hidup, bukan pola tabiat.

Berbuat dosalah, asal menjaga kesehatan dengan pola makan yang sehat dan bergizi, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, dan lain-lainnya.

Maka tak ayal lagi logika "sebab-akibat"-pun berjalan: "Karena dosa diberikan peluang untuk berkembang, akibatnya membludaklah orang-orang kurangajar."

Tanpa rasa bersalah orangpun tangan kirinya memegang kitab suci, tangan kanannya memegang golok. Tangan kirinya memegang TUHAN, tangan kanannya memegang gambar porno. Ya bertuhan, ya merampok. Antara kejahatan dengan kebaikan sudah kehilangan garis pemisah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Apa yang ditanam kemarin sudah terlupakan di esok harinya. Padahal benih itu bertumbuh terus dari waktu ke waktu, sampai akhirnya harus berbuah menurut waktunya. Kesukaran demi kesukaran berdatangan, pukulan demi pukulan berdatangan, persoalan demi persoalan semakin rumit, damai sejahtera dan segala kesenangan telah menjadi penyakit. Namun karena "lupa" dengan hari-hari yang telah berlalu, maka semua persoalan itu dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar, sesuatu yang sudah semestinya begitu. Tak ada pertobatan, tak ada penyesalan, karena lupa.


Tidak ada komentar: