Minggu, 25 Oktober 2015

Mengingat Niniwe di zaman nabi Yunus

 Mengingat Niniwe di zaman nabi Yunus;

Yunus
3:1Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:
3:2"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."
3:3Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.
3:4Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."
3:5Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:6Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
3:7Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
3:8Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.
3:9Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."
3:10Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dear All

Dari pada kita berbual ria, menurut saya perlu kita merenung dan merenung kepada Tuhan.

Teori terjadi api karena ada Oksigen + Material + Panas yang dicipta atau diatur oleh Tuhan tidak mungkin  kita dipersoalkan, sementara titik panas dari Matahari supaya terjadi kebakaran pada material belum mencapai titiknya.
Cuma karena kecerobohan dan kesengajaan manusia (kita?) yang membuat kebakaran hutan dan lahan tersebut berkobar.

Upaya berdoa untuk seluruh warga negara Indonesia mungkin perlu dilakukan, yang berdoa dimulai dari rumah, balai rt/rw, desa, mesjid, surau, gedung, gereja, kuil, vihara, pura, klenteng, lapangan, sampai di Istana memohon kepada-Nya supaya segera hujan turun.

Sebaiknya saat ini kita jangan saling menyalahkan, mari menyikapi dengan kepala dingin. Pemerintah diharapkan dapat menghimbau semua warga atau rakyat Indonesia, baik menghimbau melalui lembaga pemerintah seperti lembaga agama, lembaga sosial,  media massa, TV, sms dll agar melakukan doa Minta Kepada Tuhan Agar Segera Hujan Turun.

Mari berdoa dengan sungguh-sungguh, Saya percaya Hujan Pasti Turun, lalu kebakaran hutan akan reda dan padam.
Udara akan sejuk dan segar serta enak dihirup, hiduppun lebih baik.

Kebetulan ini hari Minggu saya baru dari Gereja, belum mengingat akan kebakaran hutan, bahkan belum mendoakannya.
Saya cuma dongkol membaca berita koran dihalaman pertama ada asap, lalu saya tulis email ini sebagai himbauan bagi kita semua.

Selanjutnya upaya-upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan terus dilakukan secara terperinci dengan aturan-aturan yang memadai, disamping menyediakan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang cukup juga diharuskan mempunyai manajemen yang baik dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan.

Terimakasih


Jonny Sinaga 

Tidak ada komentar: