Minggu, 22 November 2015

AKHIRNYA SELINGKUH ITU INDAH

Apa saja, entah yang baik, entah yang tidak baik, memulai langkah pertama itu yang paling berat. Sebab kita ini manusia pemalas yang maunya bekerja seperti mesin, melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Ini harus kita sadari supaya kita menguatkan semangat dalam mencoba sesuatu yang baru.

Saya ambil contoh memulai langkah minum minuman keras, mencoba-coba narkoba, mencoba-coba berzinah atau mencuri. Pasti rasa takut oleh perasaan salah dan dosa merupakan penghalang terbesar, sehingga harus dikondisikan "terpaksa" barulah langkah pertama itu anda lakukan. Misalnya terpaksa atas ajakan teman atau dipaksa oleh keadaan. Maka jadilah langkah pertama.

Dari langkah pertama ke langkah kedua, rasa takut tadi sudah berkurang 50 persen, sehingga ketika melangkah untuk yang ketiga kalinya hanya tinggal 25 persennya saja. Langkah keempat rasa takut tersebut sudah habis. Langkah kelima sudah jadilah: "selingkuh itu indah."

Langkah-langkah berikutnya adalah langkah-langkah kebiasaan yang semakin lama semakin mengikat. Semakin mengikat semakin sulit untuk ditinggalkan. Jika kebiasaan itu anda turunkan atau ajarkan ke anak cucu, maka jadilah itu yang namanya tradisi. Dan tradisi yang meluas ke suatu masyarakat jadilah yang namanya budaya.

Jangan anda pikir bahwa budaya itu mesti baiknya. Sebab budaya di kota-kota Sumatera Selatan, seperti kota: Kayu Agung dan Sekayu, budaya mereka adalah menjadi perampok di luar negeri. Rata-rata masyarakat asli di sana itu seperti itu. Mereka tidak mau berbuat jahat di dalam negeri. Sementara itu budaya di kota Lahat, Sumatera Selatan juga, hampir serupa. Mereka itu selalu merusakkan jalanan dengan bahan kimia supaya mobil berjalan lambat dan mereka akan merampokinya.

Jadi, suatu budaya itu dilahirkan dari langkah mencoba-coba, langkah iseng-iseng. Karena itu berhati-hatilah jika langkah itu langkah yang tidak benar. Tapi jika itu langkah yang benar, yang positif, misalnya pertobatan, itu perlu diberi tekanan semangat.

Jika sesuatu sudah menjadi keharusan, maka itu sudah agama namanya. Misalnya agama mabuk; kalau nggak pergi ke kumpulan pemabuk rasanya ada yang nggak benar. Kalau malam minggu nggak jalan-jalan ke mall rasanya nggak enak. Kalau nggak kumpul-kumpul nggak enak, dan lain-lainnya.

Dalam tradisi-tradisi kesukuan, jika tradisi nenek-moyang itu tidak dilakukan anda akan diusir, akan dikucilkan, Melanggar adat-istiadat menjadi suatu dosa yang mengerikan. Gara-gara adat, hubungan mesra orangtua-anak bisa berubah menjadi musuhan. Lebih dahsyat lagi jika adat-istiadat itu dirangkaikan dengan agama kebenaran. Ajaran-ajaran Alkitab yang benar digeser oleh masuknya adat-istiadat.

Mat. 15:3Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

Tidak ada komentar: