Rabu, 04 November 2015

Apa Yang membuat Umat Islam Terbelakang?

http://pangeran-kalijaga.blogspot.co.id/2011/06/apa-yang-membuat-umat-islam-terbelakang.html

Apa Yang Membuat Umat Islam Terbelakang?
Oleh : Mursidi Ali Rysad Arrasyd

A.       Pendahuluan
Sebagaimana Hassan Hanafi ketika meluncurkan Jurnal al-Yasar al-Islami, tulisan singkat inipun berasal dari kegelisahan yang nyaris sama. Keterbelakangan umat Islam, disorientasi masyarakat, dan dobrakan-obrakan pembaharuan yang belum menampakkan hasil maksimalnya. Yang sudah barang tentu, dengan latar belakang sosiologis-historis yang berbeda. Pertanyaan besar yang selalu muncul dibenak penulis adalah mengapa Umat Islam terkesan santai dengan keterbelakangannya? Mengapa Umat Islam bersikap masa bodoh terhadap realitas sekitar mereka? (asal kebutuhan pribadi tercukupi, tak perlu ambil pusing dengan kesengsaraan orang lain)
Tulisan ini pun penulis mulai dengan meneliti sebuah diskusi terbuka di Jagat Facebook.[1] Diskusi ini berjudul, “Mengapa Umat Islam Terbelakang?”—penulis kira sangat relevan dengan tema Hassan hanafi yang sedang kita bahas. Arifin mufti[2] dalam sebuah diskusi terbuka di Facebook menulis bahwa dalam penelitian yang dia ketahui—yang dilakukan di lebih dari 50 negara—ada 4 hal yang mempengaruhi kemajuan atau bahkan kemunduran suatu bangsa. Pertama, Kultur suatu bangsa. Kedua, The Leaders, para pemimpin. Termasuk di dalamnya umara, ulama, cendikiawan. Ketiga, sistem yang tegas. Dan yang ke empat, perspektif genetika atau keturunan. Meski banyak faktor lain yang mempengaruhi, ke-empat aspek diatas dinilai paling dominan memmpengaruhi maju-mundurnya suatu negara atau bahkan peradaban.
Nah, dari sedikit temuan ini, saya ingin mengkomparasikan dengan apa yang sudah dikemukakan Hassan hanafi. Juga dengan gagasan Kiri Islam yang sedang Ia gulirkan ke kalangan Intelektual.
B.       Mengapa Umat Islam terbelakang?
Beberapa bagian yang penulis sarikan dari diskusi ini, ada beberapa hal yang menyebabkan umat Islam cenderung berada di level bawah. Penulis kemudian membaginya menjadi 3 bagian, yaitu latarbelakang Doktrin Teologis, kondisi Sosiologis, dan SDM.
Saya mulai dari yang pertama, Latar Belakang Doktrin Teologis. Paham Fatalistik menjadi bagian dominan dalam ‘menumbuh-suburkan’ kemandegan kreativitas masyarakat Islam. Bagaimanapun juga, Doktrin menjadi bagian penting dalam Islam—kalau tidak bisa disebut sebagai bagian terpenting. Umumnya, kita ber-Islam atas dasar doktrin yang sudah kita terima sejak kecil—bahkan konon ketika masih dalam kandungan, kita sudah diajari Ngaji Qur’an. Rekan Irsan Yanuar, seorang berkebangsaan Jerman, ketika berdiskusi dengannya mengatakan bahwa Agama Islam itu terlalu banyak Larangan yang menumpulkan dorongan bagi kemajuan.[3] Tidak melatih umatnya untuk berpikir dan bertindak bebas. Penulis kira, ini juga senada dengan apa yang diungkapkan Hassan Hanafi terkait dengan Teologi Asy’ariah yang cenderung pasif dan “nerimo ing pandum” terhadap apa yang digariskan Tuhan padanya. Agama hanya dipandang sebatas ubudiyahnya saja. Tanpa memperhatikan bagaimana seorang muslim musti bertindak salam satu lingkungan sosiologis tertentu (bagian ini nanti akan kita bahas di belakang).
Tentang Teologi yang sudah dikultuskan, Arifin Mufti punya contoh yang lebih parah lagi.[4] Sejumlah Ponpes di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ada doktrin yang meyakini bahwa bumi itu datar dan umurnya 6 x 50.000 tahun. Ini, kata mereka, adalah Firman Allah dalam Al-Qur’an yang wajib dipahami dan diimani. Jika ‘melawan’ berarti Anda kafir.
Contoh lain, yang sering dilontarkan juga oleh Hassan Hanafi adalah penyikapan terhadap Turats/ Tradisi. Doktrin yang banyak kita terima beranggapan bahwa Islam yang paling kaffah adalah Islam yang diamalkan Oleh Rasulullah pada masa Rasulullah (Abad ke-7-an). Sehingga muncul keinginan untuk ‘meniru’ (secara lahiriah) pola keberagamaan yang seperti Rasulullah lakukan.
Bagian kedua yang menjadi penghambat kemajuan Umat Islam adalah ketika dilihat dari sisi sosiologis—penulis membatasi pada Indonesia, khususnya, dan beberapa negara timur tengah yang sering menjadi rujukan Pola keberagamaan umat Islam. Contoh sederhana dan unik yang dikemukan Arifin Mufti adalah tentang ibu-ibu pengajian di satu RT yang saling tidak bertegur sapa hanya karena beda pandangan tentang TAHLILAN. Betapa masih sempitnya pola keberagamaan yang diwariskan kepada kita dari lingkungan sekitar. Kultur ke-Islam-islam-an hanya dipandang sebatas Jilbab, Jenggot, jubah, dan semacamnya. Tidak jarang ada yang membid’ahkan satu-sama lain.
Kondisi lain yang masih dominan di dunia Islam secara umum adalah budaya Patriarki, dimana selalu menempatkan perempuan di kelas dua. Di Saudi—seperti disebutkan kembali oleh Arifin—wanita dilarang mengendarai mobil sendirian. Nasab juga diarahkan ke Bapak, bukan Ibu, dan lain sebagainya.
Warisan sosiologis lain yang patut kita jadikan ‘contoh buruk’ adalah budaya kekerasan/perang/bunuh-bunuhan. Sejak Rasulullah wafat, perbedaan menjadi sebuah kemestian yang harus dihadapi oleh kaum Muslim. Ketika perbedaan itu sudah menyangkut kepentingan golongan, maka “perang” menjadi salah satu alternatif penyelesaian. Budaya ini yang—menurut saya—masih berkembang. Ketika ada satu golongan yang dianggap nyeleweng, langsung main Hantam tanpa tahu aturan dan hukum.
Dan bagian terpenting, yang paling menghambat kemajuan adalah Manusianya itu sendiri. Umat Islam masih ke-enakan dengan paham ‘kepasrahan’ kepada Allah yang kemudian dibarengi dengan sikap pasif, menunggu turunnya hidangan dari langit. Tidak atau kurang adanya semnagat untuk mengkaji ilmu pengetahuan juga menjadi bagian penting di dalamnya.
Dalam pandangan Islam, jika dilihat dari perspektif Manajemen, maka bisa dibagi menjadi dua dimensi penting; pertama, Filosofis strategis, misalnya ketauhidan, Ibadah mahdhoh, dan sejenisnya. Kedua, Tataran Operasional, meliputi etika, moral, dan ilmu pengetahuan. Umat Islam kurang peka terhadap perkembangan lingkungannya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa Islam hanya di Ilmu Agama-nya saja, tetapi Amal-nya non-sense.[5]

C.        Tawaran Solusi
Dalam Konteks Hassan Hanafi, menyikapi kondisi masyarakat yang kian terbelakang, Ia memberi Solusi dengan Kiri Islamnya. Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam, dan kesatuan umat.[6] Pilar pertama adalah revitalisasi khasanah Islam klasik.[7] Hassan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme, karena rasionalisme merupakan keniscayaan untuk kemajuan dan kesejahteraan Muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menentang peradaban Barat.[8] Hassan Hanafi mengingatkan bahaya imperalisme kultural Barat, dan dia mengusulkan “Oksidentalisme” sebagai tawaran ideologisnya. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia  (termasuk Islam).[9] Ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu dalam melihat realitas dunia kontemporer. Jadi, ada tiga pilar atau agenda, yaitu : revitalisasi khasanak klasik (sikap kita terhadap tradisi lama), menentang peradaban Barat (sikap kita terhadap tradisi Barat), dan analisis atas realitas (sikap kita terhadap realitas atau “teori intepretasi”).
Sedangkan dalam konteks diskusi terbuka Facebook diatas, ada beberapa tawaran menarik—yang menurut saya—patut juga kita jadikan pegangan/ mengambil sikap terhadap kemunduran umat Islam.
1.      Mengembangkan Kultur positif di masyarakat
2.      Leader yang Amanah terhadap yang dipimpinnya
3.      Sistem yang dijalankan secara konsekuen
4.      Pengelolaan SDM
5.      Pengembagan IPTEK
6.      Menghilangkan sikap fatalistik
7.      Menghindari sikap konservatisme ekstrem
8.      dll

Tidak ada komentar: